Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 178 - Kedatangan Prajurit


__ADS_3

Terjadi keributan sejak pagi tadi, Rubah Petir masih menghukum Xin Fai.


Sementara Xin Chen memastikan keadaan Ren Yuan yang tampaknya sudah pulih. Dia sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Untuk pelayan rumah sendiri kali ini Xin Fai sudah menyewa satu orang pelayan dan lima penjaga yang selalu bersiaga. Dirinya tak bisa meremehkan musuh yang sepertinya memang sedang mengincar nyawa Ren Yuan. Sebab itu, sampai detik itu pun Xin Fai masih menyelidiki siapa dalang di balik ini semua.


Di sisi lain, Lang pergi menyelesaikan tugas. Seperti sebelumnya, Lang mulai menjalankan misi khusus. Meski tak bersama Xin Fai, kali ini dia sudah mengerti mengapa Pedang Iblis tak selalu bisa bersamanya.


Ren Yuan baru selesai memasak, memanggil Xin Fai dan Rubah Petir yang masih sibuk sendiri.


"Nah, makan dulu. Kau tidak bisa mengoceh dengan perut kelaparan seperti itu-aduh duh," ringisnya. Rubah Petir berhenti sejenak, mengikuti permintaan Ren Yuan untuk duduk di meja makan.


Xin Chen datang bersama Ye Long yang datang grasak-grusuk sampai tiba di meja. Tentu saja setelah menyenggol barang hingga pecah.


"Kau sudah mendengar besok akan ada rapat di istana? Kau harus ikut." Xin Fai keluar dengan penampilan yang kacau balau, seperti baru diputar angin topan. Dia duduk dengan seperempat nyawa tersisa, bahkan Rubah Petir masih menyipitkan mata ke arahnya.


"Sudah. Karena itu aku pulang lebih cepat."


"Baguslah."


Xin Chen mengambil makanan, baru berpaling satu detik Ye Long memakan habis sekalian piringnya. Dia menarik napas, meningkatkan kesabaran agar tak mengumpat. Sebenarnya kalau sudah di Kekaisaran Shang dia juga tak apa kalau tak makan. Karena tubuh roh tak akan merasakan kelaparan. Tapi kali ini karena sudah terbiasa, dan Ye Long memakan sup kesukaannya tanpa ampun.


Xin Chen sebenarnya tak mau membahas soal Ren Su di hadapan Ren Yuan, karena seperti yang Ayahnya juga tahu ikatan persaudaraan di antara mereka cukup erat. Ren Yuan tak sampai hati menuduh saudaranya itu sebagai orang yang hampir membunuhnya.


Tapi ketika mengingat-ingat lagi dari cerita yang pernah Ren Yuan katakan beberapa tahun lalu, rasanya Ren Yuan dan Ren Su tak memiliki ikatan persaudaraan apa pun.


Xin Chen tampak bimbang saat mengutarakan isi pikirannya, "Soal Bibi Ren Su, dia itu saudara ibu?"


Ren Yuan yang sedang menuangkan minuman untuk Xin Fai berhenti sejenak, kemudian menjawab. "Iya. Ada apa?"


"Tapi bukankah ibu pernah bilang kalau ibu adalah anak satu-satunya?"


Baik Xin Fai dan Ren Yuan sama-sama terdiam, hingga beberapa saat barulah Ren Yuan menjawab. "Kalau kau ingin tahu, Ren Su adalah anak angkat tapi nenek dan kakekmu sangat sayang padanya. Sampai dewasa, dia tinggal terpisah dan belajar di perguruan yang jauh untuk mendalami ilmu medis. Setelah menikah dan tinggal bersama suaminya kami jadi lebih sering bertemu. Dia orang yang baik, Chen'er."


Kalimat terakhir Ren Yuan membuat Xin Chen sangsi.


Mana mungkin iblis betina yang selalu menghina dan memakinya itu disebut orang baik. Tapi mengingat bagaimana Ren Su bertingkah di depan Ren Yuan yang kadang terkesan menjilat membuat Xin Chen paham. Dia sudah cukup muak dengan bibinya yang satu itu, kalau bisa memilih dia akan meminta untuk tidak bertemu lagi dengannya. Sebegitu kesalnya dengan Ren Su.


Xin Fai mengalihkan pembicaraan merasa suasana berubah canggung, "Selesaikan makanmu. Sebentar lagi Xin Zhan pulang, jangan lupa dia pasti mengamuk kalau melihat piring dan vas yang pecah itu." Xin Fai menunjuk barang yang dimaksudnya telah berserakan di lantai.


Usai makan, Ren Yuan sibuk dengan taman obatnya. Xin Fai sendiri mengobrol bersama Rubah Petir. Ye Long entah ke mana perginya.

__ADS_1


Baru kali ini rasanya dia tak punya kerjaan. Sampai bingung harus ke mana. Pemuda itu duduk di bangku yang terletak di bawah pohon. Mengalunkan irama seruling yang tenang dan damai.


"Terlalu damai rupanya menakutkan," gumamnya di sela-sela memainkan suling. Akhir-akhir ini selalu berkejaran dengan masalah dan masalah sampai dia lupa cara bernapas dengan tenang. Semuanya berlalu begitu cepat.


Tapi setidaknya hasil kerja kerasnya membuahkan hasil. Keadaan Kekaisaran Shang telah kembali ke titik terbaik seperti sebelumnya. Di mana damai dan aman lestari di tempatnya. Tidak ada jeritan sekarat atau wajah ketakutan.


Semenjak pikirannya kembali kepada Kekaisaran Wei. Akhir-akhir ini dia tak bisa berhenti berpikir tentang nasib orang-orang di sana. Memang Shi Long Xu bisa dipercaya untuk mengembalikan kedamaian di tanahnya. Namun di sisi lain dia masih merasakan hal buruk akan terjadi di sana, entah mungkin hanya firasat yang tak berdasar. Dia juga berharap begitu.


Seekor burung hitam bercorak kuning yang ukurannya terbilang besar datang, meluncur ke arah Xin Chen. Dia mengangkat lengan agar burung itu bisa mendarat, melihat sebuah kertas diikat di kaki burung itu. Dia tahu ada pesan yang dibawakan untuknya, tapi tak tahu asal muasal burung tersebut dari mana.


Bentuk dan coraknya saja mungkin tak akan bisa ditemukan di Kekaisaran Shang.


Benar dugaannya, burung itu berasal dari Kekaisaran Wei. Usai mengambil kertas tersebut, burung itu terbang jauh. Kertas yang digulung dia buka hati-hati, membaca sebuah surat formal dengan cap dan tanda tangan milik Shi Long Xu.


Di dalamnya berisi pesan yang cukup panjang, tapi langsung ke intinya. Dalam surat tersebut, Shi Long Xu menjelaskan bahwa keadaan di Kekaisaran Wei mulai stabil secara perlahan. Tapi pencarian terhadap pembunuh Kaisar masih terus dilakukan.


Akhir-akhir pencarian mulai menyebar hingga ke Kekaisaran Qing dan Kekaisaran Shang. Ciri-ciri yang dimiliki Xin Chen harus tetap terjaga. Xin Chen tak boleh lengah, dia masih diincar meski sejauh apa pun kakinya berlari. Dan Shi Long Xu menekankan kalau sudah di Kekaisaran lain dia tak bisa memastikan identitasnya aman atau tidak.


Terlebih lagi ini menyangkut dirinya juga. Andai Xin Chen tertangkap dan rencana mereka terungkap maka bukan hanya Xin Chen yang berada dalam masalah. Melainkan dirinya sendiri. Keduanya dipastikan akan mendapatkan hukuman mati yang paling hina di Kekaisaran Wei. Yaitu dimasukkan dalam bejana besi yang dibakar oleh api yang panas. Dibiarkan meleleh hingga ke tulang-belulang.


Shi Long Xu sama sekali tak menginginkan kematian yang hina itu, sepanjang generasi namanya akan terus ternodai oleh perbuatannya. Meski semua ini dia juga yang merencanakan. Tapi Shi Long Xu tak punya pilihan lain jika ingin perubahan.


"Jujur padaku. Kau telah membunuh Kaisar Shi?" Xin Zhan langsung tepat ke intinya, menatap bola mata Xin Chen dalam-dalam. Berharap adiknya itu tak mengatakan kebohongan.


"Iya."


Jawabn yang membuatnya harus menarik napas begitu berat. Ini permasalahan serius. Dia tak punya waktu untuk membuat pertikaian sekarang.


Pengumuman dan sayembara mulai dikumandangkan di Kota Fanlu dan kota lain di Kekaisaran Shang untuk menangkap sang pembunuh Kaisar Shi. Tentu ini adalah hal buruk, mengingat di Kekaisaran ini satu-satunya orang yang memiliki mata biru hanyalah Xin Chen.


Jantung Xin Zhan berpacu lebih cepat ketika serombongan prajurit dengan zirah khas Kekaisaran Wei turun ke jalanan, derap langkah berat di sertai keributan mulai membanjiri jalanan. Mereka tentu sudah mendapatkan izin dari Kekaisaran untuk melakukan pencarian meski membutuhkan jalan yang rumit.


Bukan tanpa sebab Xin Zhan sepanik itu, ketakutannya akhirnya benar-benar terjadi.


Ketukan di pintu mulai terdengar, disahuti oleh suara laki-laki bersenjata lengkap. Mereka menunggu dengan sabar di luar.


Xin Fai datang dari halaman belakang, melihat kedua putranya hanya terdiam saling menatap di ruang tengah. Dia mengernyitkan dahi, merasa ganjil. Ketukan semakin keras di pintu rumah, Xin Zhan membawa adiknya ke belakang rumah.


"Sembunyi."

__ADS_1


"Tidak perlu kau suruh juga aku tahu."


"Di bawah meja," perintah kakaknya, terlihat tak mau didebat. Xin Chen menolak mentah-mentah, "Mereka tak bisa melihat wujud rohku."


Di luar Xin Fai sudah membuka pintu dan berbicara dengan mereka. Beberapa saat Xin Zhan menyimak samar-samar isi perbincangan hingga kemudian terdengar Xin Fai hanya mengizinkan dua orang dari mereka masuk untuk memeriksa.


Dia melirik ke Xin Chen, menyuruhnya segera sembunyi.


Dua orang itu mengecek ke sana kemari dengan teliti, Ren Yuan kebingungan melihat orang asing masuk. Mereka memang masih sopan dan tak sembarangan bertingkah.


Setelah merasa cukup menyelidiki salah satu di antara mereka bercakap, "Ku dengar Pedang Iblis memiliki dua anak, ke mana yang satunya lagi?"


Xin Fai hendak memanggil Xin Chen, tapi Xin Zhan lebih dulu menyahut.


"Orangnya sedang memenuhi panggilan alam."


Keduanya saling menatap.


"Oh, bisa kami tunggu? Kurasa kami masih punya cukup waktu."


"Ah, bisa sampai seminggu dia tidak selesai-selesai. Kalau kalian sanggup tak apa."


Xin Fai menimbrungi, "Kalian mencurigai putraku? Itu menyakitkan. Mana mungkin putraku berbuat kriminal, itu tidak mungkin."


Xin Chen yang mendengarnya di kamar lain memejamkan mata. Tak bisa membayangkan seberapa kecewa ayahnya itu saat mendengar kebenaran yang ada. Bahwa dirinya telah menjadi buronan satu Kekaisaran Wei dan sekarang kepalanya sudah diincar sampai Kekaisaran Shang.


Merasa tak enak akhirnya kedua orang itu pamit dan segera mengecek di rumah lain, mereka masih ramai di jalanan.


Di Kekaisaran ini sepertinya tak banyak yang tahu tentang sosok dengan mata biru dan jubah seperti yang ditulis dalam pengumuman. Karena Xin Chen sendiri jarang bertemu dengan mereka.


Kecuali saat pengangkatan Pilar Kekaisaran. Itu bisa menjadi ancaman untuknya.


Saat sekiranya keadaan sudah aman, Xin Zhan baru menghampiri kamar Xin Chen. Menatap adiknya itu sungguh kecewa.


"Aku tak akan menanyakan alasan mu melakukannya."


Xin Zhan duduk di sebelah Xin Chen. "Tapi kau harus menyelesaikan apa yang kau perbuat."


Sebagai kakak, Xin Zhan tak selamanya memarahi adiknya ketika berbuat salah. Terlebih dia tahu Xin Chen melakukan apa pun pasti karena suatu alasan. Tangannya menepuk pelan pundak adiknya.

__ADS_1


"Jika terjadi sesuatu, aku akan melindungimu."


__ADS_2