Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 106 - Sebuah Kebanggaan


__ADS_3

Xin Xia hanya bisa menangis tanpa suara, air matanya mulai mengering dan kini dadanya terasa sakit untuk bernapas. Xin Chen mematung di kursi sebelah ranjang Xin Xia. Mulai berpikir apa yang harus dikatakannya tentang kematian Lan An. Semuanya membuat kepala pemuda itu kacau. Tangis Xin Xia berhenti, menghadirkan keheningan yang cukup lama.


Waktu berlalu, Xin Xia mulai bisa menenangkan dirinya sendiri. Tapi tetap saja saat dia bertanya tentang Lan An, air matanya kembali jatuh.


"Apa ... Kau di sana ketika dia gugur?"


"Aku melihatnya."


"Apakah dia tersenyum? Apa dia mati dengan terhormat?"


Mata yang penuh akan air mata itu tak bisa Xin Chen hindari lagi, dia menatap Xin Xia sambil berkata, "Dia gugur dengan terhormat. Dia tersenyum bangga."


Tak dapat menguasai dirinya, lagi-lagi Xin Xia terisak seraya menutup mulutnya. Bahunya bergetar, sementara masih banyak yang ingin dia tanyakan pada Xin Chen. Suaranya serak terputus-putus, meski demikian Xin Xia memaksa berbicara.


"Sebenarnya apa yang terjadi di sana?"


Pertanyaan yang paling Xin Chen takutkan akhirnya keluar. Dia tak menjawab langsung, hanya mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menyesali segala sesuatu yang akan keluar dari mulutnya. Karena apa pun yang nantinya akan Xin Xia dengar, tetap akan melukai hati wanita itu.


Ragu-ragu dia menjawab, "Saat itu pertarungan antara aku dan ayah semakin sulit. Aku kehilangan tenaga dan tak berdaya. Dan di situasi itu ... Nyawaku dalam bahaya."


Pelan tapi pasti, Xin Xia dapat menebak ke mana arah pembicaraan Xin Chen selanjutnya.


"Paman Lan datang dalam keadaan tubuhnya yang masih terluka parah. Aku tahu dia sudah tak mampu bertarung, tapi paman bersikeras ingin tetap berada di sana ..."


Suaranya berhenti sebentar, Xin Chen mengingat jelas bagaimana laki-laki itu berbicara padanya seperti baru kemarin.

__ADS_1


Saat itu, dia dan Xin Zhan benar-benar sendirian. Menghadapi perang mematikan tanpa seorang pun kawan yang mau menolong.


"Katanya, semua orang berlindung ketakutan dari perang dan hanya kami bertarung mati-matian tanpa seorang pun yang menolong. Dia mengkhawatirkan kami seperti ayah kami sendiri."


Kebaikan hati Lan An memang tak bisa ditukar dengan apa pun. Sejak dirinya masih kecil, laki-laki itu selalu membelanya dan mengatakan bahwa dirinya sangat kuat ketika yang lain meremehkan dan mengejeknya lemah. Lan An menghabiskan banyak waktunya untuk melatih Xin Chen meski dia selalu gagal dalam mempelajari ilmu yang Lan An berikan.


Sekarang, bahkan jasad Lan An sendiri tak dapat mereka sentuh. Telah habis dibakar Api Keabadian.


"Sebelum kepergiannya, Paman Lan An menceritakan mimpinya padaku. Mimpi di mana dia melihat aku dan Kakak Zhan bertarung di sana, tak ada pertolongan dari Kekaisaran. Dia melihatku ditusuk sampai mati oleh Ayah."


"Mungkin karena mimpi itu Paman datang. Dan situasi yang sama seperti mimpinya benar-benar datang. Ayah hampir menikamku, satu serangan itu bisa langsung menghabisi tubuhku sekaligus jiwa."


Xin Xia menyimak penjelasan Xin Chen, menahan tangis agar berhenti. Dia menunggu Xin Chen melanjutkan.


Dan masih banyak lagi kata 'seharusnya' yang ingin dia katakan, hanya saja tiba-tiba bibir Xin Chen kelu. Dia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan penyesalan di dalam dadanya.


Penyesalan bertubi-tubi tampak jelas di wajah Xin Chen. "Ini semua kesalahanku," tandasnya kemudian. Tak berani mengangkat wajah untuk menghadapi tatapan Xin Xia.


Wanita itu pasti akan marah. Lebih dari kemarahan Xin Zhan. Xin Chen siap menerima konsekuensi omongannya.


Namun tak terdengar bentakan atau protes dari mulut Xin Xia. Wanita itu tak lebih dari sekedar menangis, matanya semakin sembap dari menit ke menit. Detik itu Xin Chen masih belum suara dan menunggu respon Xin Xia bagaimana.


"Aku selalu bangga padanya," lirihnya sembari menghapus air mata di kedua pipinya. Dia berusaha untuk tegar, tapi di sisi lain dia memang bangga akan suaminya sendiri.


"Dia selalu mengutamakan orang lain di atas dirinya. Dia mengkhawatirkan orang lain dan membantunya meski taruhannya adalah nyawanya sendiri. Bisa-bisanya aku jatuh cinta pada orang sebaik dirinya."

__ADS_1


Terdengar tawa kecil dari wanita itu ketika dia menoleh ke arah Xin Chen, "katanya, orang baik tak akan hidup lama. Sepertinya itu benar adanya."


Kelapangan hati Xin Xia membuat Xin Chen takjub, dia tak yakin dapat melihat wanita setegar Xin Xia di tempat lain. Suaminya telah pergi. Dia menangis dan merelakannya dengan sakit yang tak terkira.


"Aku selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Jika dengan kepergiannya adalah jalan terbaik untuknya, maka aku akan merelakan dia." Xin Xia menarik napas dalam-dalam, kedua bahunya naik bersamaan. Dia mencoba tersenyum.


"Dia hanya ingin melindungimu, Chen. Dia orang yang seperti itu, mengkhawatirkan orang lain setiap dia termenung. Jika kau mati dan dia hanya duduk diam saja, mungkin sekarang dia akan bunuh diri karena rasa bersalahnya," jelas Xin Xia. Dan sekarang Xin Chen yang harus menanggung rasa bersalah itu. Dan terpaksa menjalani hidupnya dengan berhutang nyawa pada Lan An.


"Hiduplah dengan mengingat nama pamanmu. Kau itu berharga, Xin Chen. Lebih dari apa pun baginya. Dia selalu membanggakanmu setiap kali kami berbicara." Xin Xia sendiri tahu bahwa suaminya itu memiliki ikatan yang erat dengan putra kedua sahabatnya, layaknya teman seumuran. Bercanda, berlatih dan saling mengejek. Jika mereka bertemu, pasti heboh satu Kota Renwu mereka buat. Masa-masa indah itu telah berlalu, dan kini Lan An telah tiada.


Susah payah menahan air mata, akhirnya Xin Chen meneteskan air mata, dia berpaling muka agar Xin Xia tak melihatnya karena takut wanita itu semakin sedih. Laki-laki bernama Lan An itu membuat hatinya benar-benar sakit akan kepergiannya.


"Dan sekarang, aku berjanji akan menjagamu dan memastikan tidak ada yang menyakiti mu. Sama seperti yang suamiku lakukan. Kau tetaplah anak kecil nakal yang harus selalu diperhatikan. Bukankah begitu?"


"Jaga bayimu lebih dulu, bibi. Dia akan membutuhkan kasih sayang lebih darimu. Aku tidak apa-apa. Tapi terima kasih sudah menjagaku dari kecil. Aku tidak sempat berterima kasih pada paman."


"Tidak ada yang tertinggal darinya di medan perang?" tanyanya dengan penuh harapan.


"Tidak. Semuanya hangus bersama tanah," balasnya. Xin Xia mencoba memakluminya. Sedikitnya dia berharap masih ada yang tertinggal agar bisa dia makamkan.


"Lalu bagaimana dengan keadaan Kakakku? Dia sudah sadar sepenuhnya, kan?"


Anggukan Xin Chen menjawab kekhawatiran Xin Xia. "Tubuhnya berhasil lepas dari kendali Kutukan dan obat yang diberikan Kekaisaran Qing. Mungkin ayah sedang mengurus beberapa hal sebelum datang ke sini. Bibi istirahat dulu, kesehatanmu yang paling penting sekarang."


"Aku tahu itu."

__ADS_1


__ADS_2