Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 197 - Ketidakmungkinan


__ADS_3

Pagi buta yang begitu dingin. Uap dingin sampai muncul di dalam tong berisi air hujan yang ditampung. Beberapa laki-laki tidur di halaman hanya beralaskan kain tipis. Alis dan bulu mata mereka membeku oleh dinginnya malam. Xin Chen, Shuo, Lian dan Rubah Petir memilih berjaga. Takut jika sewaktu-waktu serangan datang.


Keheningan melanda, tak ada satupun yang berbicara sejak satu jam terakhir. Shuo sibuk menajamkan pisau berkarat di tangannya, Lian mengutak-atik barang antik yang ditemukannya saat menjarah. Rubah Petir sendiri hanya duduk diam memejamkan mata. Di antara mereka hanya Xin Chen yang melamin dalam diam.


Memikirkan apa yang terjadi pada Kekaisaran Wei saat ini sampai membuat kepalanya pusing. Semuanya terjadi begitu begitu cepat. Dia khawatir Shi Long Xu dan Qin Yujin bekerjasama. Mengingat bagaimana dia menyuruh laki-laki itu meminta kotak yang diambil Qin Yujin, membayangkan bagaimana mereka bersekongkol dan membodohinya.


Sangat menyebalkan. Tapi kekesalannya tertahan sebab terdengar suara yang menggema di seluruh penjuru. Xin Chen menengadahkan kepalanya, begitu pun dengan Shuo dan Lian.


"Jangan heran. Itu hanya suara terinfeksi nakal."


"Tapi kenapa suaranya begitu banyak?"


Xin Chen bisa mendengarnya, jumlah mereka mungkin bukan lagi ratusan dan letaknya pun terbilang jauh. Mungkin juga sedang bergerak ke tempat mereka.


"Apalagi kalau bukan ulah pusat. Mereka mau membersihkan sentral dan melimpahkan para terinfeksi itu ke tempat lain. Misalnya seperti kota ini." Lian mendecak setelahnya, "Manusia sekarang sudah lebih dari gila."


"Memang tidak ada cara memusnahkan mereka?"


Lian menatapnya cukup lama sebelum menjawab, "tidak semudah itu. Kau bayangkan saja, sudah lebih dari setengah manusia kekaisaran ini menjadi terinfeksi. Butuh biaya yang sangat besar untuk memproduksi senjata dan waktu yang lama membunuh mereka."


"Ketidakmungkinan," sambut Shuo sambil mendengkus. Sudah berada di titik di mana dia tak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekitarnya selain bertahan hidup.


"Tapi bagaimana cara mereka membawa terinfeksi itu ke kota lain?"


"Kau akan melihatnya besok. Kusarankan aku dan Lian ikut bersamamu. Kami tahu beberapa tempat yang masih memiliki persediaan makanan. Hanya saja kalau hanya kami berdua, kami tak bisa melewatinya sendirian."


Xin Chen mengiyakannya. Sambil terus mendengar suara-suara dari kejauhan. Padahal dia baru pergi dari Kekaisaran ini tak lebih dari sebulan, tapi entah mengapa begitu banyak yang terjadi selama Shi Long Xu berkuasa. Dan seharusnya Shi Long Xu masih begitu cepat untuk ditunjuk sebagai seorang Kaisar. Xin Chen tak tahu apa yang terjadi di dalam Kekaisaran ini sampai-sampai semua berjalan di luar kendali.


Saat pagi datang dan matahari telah bersinar terang, Xin Chen membangunkan Shuo dan Lian sendiri yang sudah lebih dulu bangun darinya.


Lian mengeluarkan sebotol cairan yang telah berdebu sampai benang laba-laba pun masih melekat di sana. Melemparkannya ke arah Xin Chen dengan sengaja.


"Apa ini?" Xin Chen mencium baunya bahkan lebih busuk dari bangkai tikus.


"Obat untuk keselamatan bersama."


Shuo mencuci muka sebentar, selagi itu Lian dan Xin Chen menunggu di pintu keluar. Menyaksikan jumlah terinfeksi semakin banyak dari kemarin.


"Demi apa ... ini sudah bukan banjir lagi, malah seperti tsunami." Lian mengintip di balik celah-celah kawat, merinding melihat keluar yang sangat ramai. Pantas saja Pelindung Malam yang tersisa dalam kelompok mereka tak pernah kembali lagi sejak mencari pasokan makanan untuk mereka. Termasuk Tiga. Mereka terpaksa menghadapi maut untuk menghidupkan orang-orang yang tersisa.


"Kuharap aku masih bisa melihat matahari besok."


Lian tampak putus asa.


"Apa yang kau harapkan dari matahari yang berdebu?" Shuo baru selesai mencuci muka, bergabung dengan mereka. Memang cuaca terang hari ini terang, tapi kabut tebal yang mengisi kota ini membuatnya seperti bersinar redup.


Lian sudah menyiapkan beberapa senjata dan tas, Shuo memasang ancang-ancang dengan tingkat kayu bergerigi besi di kedua tangan. Xin Chen diam sampai beberapa menit berlalu. Kedua pemuda di sebelahnya keheranan.


"Apalagi yang kita tunggu? Sedang menyamar menjadi patung?" Kini Shuo agak tak sabaran.

__ADS_1


"Sebentar lagi, suara itu akan muncul."


Baik Shuo atau pun Lian tak mengerti apa yang diucapkan Xin Chen. Sementara di belakang mereka penjaga pintu mulai waspada. Saat mereka bertiga keluar dia harus segera menutupinya agar orang-orang di dalam persembunyian selamat.


Dari kejauhan, gelombang suara mulai terdengar. Sayup-sayup kian membesar hingga para terinfeksi di depan mereka terdiam, perhatian mereka tertuju pada suara tersebut.


"Sekarang!"


Lian dan Shuo buru-buru mengejar langkah Xin Chen yang langsung bergerak ke arah tangga kecil. Tak beruntungnya salah satu dari mereka menyadari pergerakan ketiganya dan berteriak, memberikan sinyal kepada yang lain untuk mengejar. Xin Chen membiarkan Shuo dan Lian naik lebih dulu, berlari secepatnya. Melihat ke belakang di mana anak tangga mulai berderak tak karuan. Puluhan dari terinfeksi naik, membuat besi yang sudah berkaratan hancur.


Dia menggunakan kekuatan Api Keabadian untuk memotong anak tangga di belakangnya, api itu memotong besi dengan cepat. Membuat terinfeksi di bawah jatuh bersamaan dengan tangga besi.


"Woah, senjata apa itu tadi? Bisa memotong besi seperti memotong kertas!" Mata Lian berbinar-binar, sampai melupakan bahwa dia harus tetap berlari.


Shuo menariknya, "Itu namanya kekuatan, kau yang cuma taunya terinfeksi lebih baik diam saja!"


"Eh tapi aku juga pernah melihat orang sepertinya dengan kekuatan sebelumnya. Yang ini lebih keren-"


"Lian, cepat naik atau tangga ini akan roboh," kata Xin Chen terburu-buru.


Lian dan Shuo langsung naik ke atap, menjulurkan tangan untuk menarik Xin Chen sebelum tangga tersebut jatuh menimpa mayat hidup di bawah mereka.


Mereka bertiga selamat. Tak lebih dari tiga menit, Lian sudah hampir pingsan dibuatnya. Dia menopang kedua tangan di lutut, menarik napas yang hanya tersisa beberapa. Xin Chen melemparkan pandangan ke bawah, khawatir mahkluk-mahkluk itu melakukan hal mengerikan seperti sebelumnya. Membuat piramida mematikan yang takkan memberikan mereka kesempatan untuk kabur.


"Kau khawatir mahluk jelek itu akan membentuk piramida besar untuk menangkap kita?" Shuo bertanya tepat sasaran.


"Kau tahu soal itu juga?"


"Tenanglah, bukannya aku sudah memberimu obat untuk keselamatan? Bau busuk itu akan menutupi aroma tubuhmu. Mereka sangat suka bau manusia." Lian menimbrungi, mengeluarkan satu botol lagi. "Kalau kau masih khawatir pakai satu lagi."


"Tidak terima kasih."


Dia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi datar Xin Chen. "Ayolah, ini tidak akan membuat lubang hidungmu kuncup."


"Heh, berhenti mengganggunya dengan barang temuanmu yang aneh itu." Shuo memperingati jengkel, "Fokus dengan yang di depan kita."


"Baik. Jadi Ketua Perburuan, ke mana kita bergerak sekarang?" Lian melemparkan pertanyaan sambil bertolak pinggang, menanti keputusan Xin Chen yang sebenarnya juga belum bisa memutuskan harus ke mana. Bangunan itu berdiri sendiri, tak ada akses penghubung agar mereka bisa melalui atap.


Xin Chen berjongkok, "Aku pernah melihat di peta tentang jalan bawah tanah di kota ini. Tapi sepertinya sulit menemukan jalan masuknya."


"Jalan masuknya ... Maksudmu di sana?" Lian menunjuk ke satu tempat dengan teropong di tangan, Xin Chen dapat melihatnya jelas. Seperti sebuah got yang ditutupi besi dengan banyak lubang udara.


"Sulit untuk mencapai tempat itu," respon Shuo setelah mengamati lewat teropong Lian.


"Tapi itu jalan yang paling aman," kata Lian.


"Kau bisa menjamin di bawah sana tidak ada terinfeksi?" Xin Chen memastikan, Lian mengangguk. "Seharusnya tidak ada. Tak ada jalan masuk ke sana, kecuali jika sengaja dibuka."


"Benar kata Lian. Jalur bawah sangat berbahaya. Antara lewat atap atau bawah tanah, hanya itu satu-satunya pilihan kita."

__ADS_1


Shuo menopang dagunya dengan sebelah tangan, tampak berpikir keras. Tapi kelihatannya dia tak begitu setuju dengan usulan tersebut sebab tempat di mana mereka berada sekarang terbilang jauh dari lokasi tersebut. Sementara jalanan penuh dengan terinfeksi, ini cukup beresiko baginya.


"Jadi apa rencanamu untuk melewati mereka?"


Sekarang giliran Xin Chen yang berpikir. Dia tak bisa menggunakan kekuatan terlalu banyak, kecuali untuk situasi terdesak.


"Kita pikirkan kalau sudah di bawah. Ikut aku."


Dia berjalan memimpin di depan, mendengarkan baik-baik setiap pergerakan dan mencari tempat yang memungkinkan untuk dilewati. Terdapat beberapa terinfeksi yang terjebak dalam bangunan itu, Xin Chen menyuruh mereka berdua agar tak mengeluarkan suara. Hingga mereka tiba di lantai dasar di mana pintunya terkunci rapat dengan gembok.


"Sepertinya pemilik toko mengunci toko ini dari dalam."


Lian memerhatikan kunci besar dengan rantai yang melilitnya. Pantas tak begitu banyak terinfeksi berada di dalam.


Xin Chen berbalik badan ketika merasakan sesuatu akan datang.


"Orang yang kau baru bilang sepertinya sudah datang."


Terinfeksi berbaju biru dengan sebagian rahangnya telah hancur muncul, mendesis mencium aroma yang menarik tubuhnya ke sumber bau. Shuo mengeluarkan pisau kecil, menancap tepat di kepala mayat hidup itu. Tapi dia tidak tumbang dan justru mengejar mereka.


Lian tampak panik. "Beri aku waktu untuk membuka pintu ini."


"Aku akan menanganinya." Kedua Xin Chen mengeluarkan dua jenis kekuatan berbeda, satu lingkaran biru terang menyatu bersama kekuatan petir. Benda itu bergerak, melesat tajam menghantam kening terinfeksi itu.


Shuo menutup wajahnya dengan lengan ketika cipratan darah bercampur otak melebur ke mana-mana. Lian baru saja selesai membuka pintu, menyadari punggungnya telah penuh berhambur darah kotor. Dia meringis jijik,


"Tidak bisakah membunuhnya dengan lebih rapi? Ew."


Xin Chen menanggapi. "Darah itu akan menyembunyikan keberadaanmu."


"Aku bisa pingsan begini caranya."


"Obat untuk keselamatan bersama," kata Xin Chen membalikkan ucapan Lian sebelumnya, remaja itu memasang tampang masam. Tak menyangka harus menelan kata-katanya sendiri.


"Ini tidak bagus. Mereka mendengar suara itu dan mulai bergerak kemari."


Menyadari keadaan mulai memburuk, Shuo siaga dengan senjatanya. Dia berpaling pada Xin Chen meminta penjelasan.


"Jadi Chen, apa rencana kita selanjutnya?"


Terlanjur sudah terinfeksi itu telah melihat mereka. Xin Chen membuka pintu, mengambil ancang-ancang.


"Rencananya adalah-"


Teriakan makin membuat jantung mereka berpacu.


"Lari!"


Shuo dan Lian sama-sama kaget dan refleks mengejar Xin Chen dari belakang.

__ADS_1


"Ibuuu!" teriak Lian, terinfeksi berada tepat di belakangnya dan sekarang dari samping tangan-tangan mereka mulai menarik tubuhnya.


__ADS_2