
Fu Hua hanya terkena sebagian serangan mematikan itu, tubuh Xin Chen melindunginya tepat waktu sebelum gadis itu dilenyapkan menjadi butiran debu.
Namun sebagai gantinya Xin Chen kehilangan seluruh kekuatan dan tubuhnya terkena langsung cahaya ledakan tersebut.
Xin Chen juga tidak tahu mengapa tetap melakukan hal itu meski nyawanya terancam. Tubuhnya bergerak sendiri. Saat dia menoleh ke samping dan melihat gadis itu mungkin masih berada di alam mimpi indahnya, Xin Chen hanya bisa tersenyum tipis.
Takdir berlaku kejam untuk mereka.
Xin Chen berbicara pelan, "Aku sudah berjanji akan melindungimu," sesaat angin berhembus kencang menerbangkan anak rambut Fu Hua. Begitu tenang dan damai.
Mungkin ini yang dirasakan Fu Hua saat melihat dirinya sekarat oleh penyakit. Xin Chen tak pernah menyadarinya, gadis itu bertarung mati-matian untuknya meski dia sendiri ketakutan.
Fu Hua berani mengkhianati Qin Yujin dan membunuh Kakaknya yang telah dipermainkan lelaki itu demi berdiri di sisinya tanpa dia minta.
Xin Chen merasakan tubuhnya terbakar, napasnya hanya tersisa beberapa lagi.
"Aku akan selalu melindungimu, di mana pun.. Kapan pun... Meski suatu saat nanti aku sudah tidak ada," bisiknya, setetes air mata turun. Xin Chen tersenyum, "Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu, Peri Kecil."
Hal sekecil itu membuatnya sedikit terhibur. Fu Hua memang seperti Peri Kecil dalam dongeng yang dibacakan ibunya dulu setiap malam. Peri Kecil yang sangat baik dan juga pemberani, dia tertawa kecil.
Di sisi lain akibat serangan terakhir Qin Yujin, matahari hancur seperempat. Bebatuan asing terbakar dan jatuh di seluruh penjuru bumi, kiamat telah dekat. Gempa bumi terjadi di mana-mana, ombak raksasa menenggelamkan pemukiman, satu detik saja telah menyapu ribuan nyawa sekaligus. Semua akan hancur, saat itu tiba semua akan berakhir.
Keduanya terbaring di atas bebatuan, Xin Chen masih menatap langit merah darah, sesaat terdengar suaranya semakin parau, darah telah memenuhi tenggorokannya, Xin Chen mengingat rasa itu, ketika dia di ambang sekarat dan berada di ujung pintu kematian.
Sepertinya Malaikat pencabut nyawa tak lagi membencinya.
"Iblis ini telah lumpuh." Masih tertawa tipis, tubuhnya yang hampir seluruhnya mati rasa berusaha bergerak. Tangannya perlahan mendekati tangan kiri Fu Hua yang tergeletak di dekatnya.
"Tangan dan kakinya telah dipatahkan, dia tidak bisa merangkak kabur lagi dari kuburnya. Dia telah gagal menyelesaikan tugasnya," saat itu kesedihan merayap di dalam hatinya, Fu Hua mungkin akan semakin membenci Qin Yujin setelah hari ini jika dia dan seisi bumi ini masih ada.
"Tapi iblis ini berhasil menepati satu janjinya." Jari kelingkingnya bertaut dengan kelingking Fu Hua, bibirnya bergetar menahan sakit yang mendera.
"Dia berhasil melindungimu hingga akhir hayatnya."
Tetesan air mata turun dari mata Fu Hua, namun Xin Chen tak melihatnya. Pandangannya buram, tak mampu lagi melihat jelas.
"Siapa pun laki-laki yang hidup bersamamu pasti akan sangat bahagia. Sama seperti Ayah yang sangat bahagia bisa memiliki ibu." Xin Chen tidak peduli meski dia hanya berbicara sendiri, ada begitu banyak hal yang ingin dia katakan.
"Aku sangat iri dengan laki-laki itu," gumamnya.
Mungkin waktunya telah tiba, Xin Chen menutup matanya perlahan.
__ADS_1
"Qin Yujin, aku tak akan pernah memaafkanmu meski telah menjadi bangkai tengkorak sekali pun. Sekali lagi kau melukainya ... Aku tak akan segan-segan turun dari langit untuk membunuhmu."
Rasa sakit mulai menjalar di sekujur tubuhnya, Xin Chen tersenyum di detik terakhir.
"Selamat tinggal, Fu Hua." Darah keluar dari mulutnya, sesuatu seperti ditarik paksa dari rongga tubuhnya. Dia kembali berbisik.
"Aku titipkan Peri Kecil ini pada bumi yang akan menjaganya dan langit yang selalu mengawasinya. Aku akan selalu memperhatikan langkahmu, Fu Hua."
Lalu perlahan napasnya berhenti, jari kelingking yang mengikat kelingking Fu Hua melemah hingga akhirnya terlepas. Semua telah berakhir.
Qin Yujin mendekat, matanya masih meneteskan air mata. Dia sempat berpikir Fu Hua tewas. Namun sebaliknya, gadis itu bertahan hidup dan masih bernapas. Xin Chen telah menjaganya sebaik mungkin.
"Kau bertarung mati-matian untuk menyelamatkannya..."
Matanya menatap sayu, Xin Chen babak belur, dia kehilangan seluruh kekuatannya dan jantungnya tak lagi berdetak akibat serangan maut terakhir yang merenggut nyawanya.
"Sekarang aku tahu siapa yang lebih pantas untuk menjagamu, Hua'er. Tapi sayangnya ... sayangnya akulah orang paling jahat yang telah membunuh semua orang yang kau sayangi."
Qin Yujin berlutut, tersedu. "... Maafkan aku."
*
Fu Hua menjerit di sebuah ruang kosong yang bergema, teriakannya masih terus terdengar hingga berulang kali.
Sesosok yang mengatakan akan tetap berada di sisinya ketika seisi dunia membencinya melangkah pergi, dia takut sekali untuk kehilangan. Hanya sosok itu yang tersisa, Fu Hua berteriak sangat kencang, tangisannya tak terbendung lagi
"Jangan tinggalkan aku! Kau berjanji untuk terus di sini, kau sudah berjanji ... Kau pembohong! Katakan sesuatu, kumohon."
Air matanya mengalir semakin deras, sosok itu tak membalikkan badan. Namun tiba-tiba dia terjatuh, berlumuran darah. Fu Hua mengejarnya, mencoba menyentuh tubuh yang terasa sangat dingin itu. Meski dia tahu semua ini bukanlah kenyataan namun sesuatu membisikkan sesuatu padanya.
"Selamat tinggal, Fu Hua."
"Tidak, tidak mungkin. Jangan pernah katakan selamat tinggal. Bukan itu yang ingin kudengar darimu.."
Percuma saja, tubuh itu memudar dan menghilang dalam sekejap. Saat Fu Hua menyadari bahwa dia telah kehilangan, dia langsung berteriak sambil terus terisak. Tak ada yang bisa diperbuatnya, semua orang yang ditemuinya pasti akan menemui ajal hanya untuk menyelamatkannya.
Kesialan dalam dirinya telah membunuh semua orang yang dia sayangi. Fu Hua menjerit semakin kencang sampai suaranya serak terputus-putus, kewarasannya telah pergi. Fu Hua ingin membunuh dirinya sendiri saat itu.
Namun tiba-tiba sekitarnya berubah. Dia berada di satu tempat yang mirip dengan Lembah Para Dewa. Tiba-tiba seseorang mencekiknya, Fu Hua menatap sosok tersebut.
Begitu mirip dengan Xin Chen, hanya saja matanya bersinar cokelat keemasan dan jauh lebih tua.
__ADS_1
Semua ini sangat mirip dengan yang terjadi saat perang di Lembah Para Dewa. Xin Fai kehilangan ingatan dan hampir membunuh Xin Chen.
Benar saja, dengan ekor matanya Fu Hua melihat Xin Chen terbaring sekarat di tempat lain. Fu Hua berusaha mengendurkan cekikan tangan Xin Fai agar dia bisa berteriak.
"Kumohon selamatkan Xin Chen, dengan Kekuatanmu sekarang, dia mungkin sedang sekarat dan membutuhkan pertolonganmu!"
Cengkraman itu terasa sangat nyata, Fu Hua tersengal-sengal, dia tak akan berhenti sebelum Xin Fai mendengarnya.
"Kau mendengarku, Pedang Iblis?! Anakmu berada dalam bahaya, lihatlah! Kumohon, ambil nyawaku saja. Selamatkan dia, apa pun yang terjadi! Hanya dia yang mampu menghentikan Qin Yujin."
Suaranya memekik kian meninggi.
"Tuan Pedang Iblis kau harus mendengarku!"
Berulang kali Fu Hua berteriak semua tetap sama saja, dia sedang berada di masa lalu. Namun sesuatu mendorongnya, dia yakin semua ini memiliki alasan. Mengapa tiba-tiba dirinya berada di sana.
"Jika kau tidak menyelamatkannya maka semua ini akan berakhir! Bunuh aku jika kau mau, jika bisa menukarnya aku ingin kau menyelamatkan Xin Chen sekali saja!!" Napas Fu Hua tercekat. Cengkraman itu semakin kuat, hingga akhirnya tiba-tiba mengendur.
Pedang Iblis yang dilihatnya dulu di Lembah Para Dewa dengan kekuatan iblis berubah menjadi Xin Fai Pilar Kekaisaran Pertama. Lelaki itu melepasnya dan berbalik badan, berlari ke arah di mana Xin Chen terbaring sekarat.
Fu Hua tiba di sisi Xin Chen, melihat Xin Fai berusaha menggendong Xin Chen. Namun sekitarnya telah berubah menjadi sebuah tempat yang tidak Fu Hua kenali. Lalu setelah Xin Fai memeriksa tubuh Xin Chen, laki-laki itu mengamuk dengan emosi yang begitu dahsyat.
Kekuatan sesungguhnya milik Pedang Iblis keluar. Tidak ada Ayah yang bisa tenang setelah melihat anaknya tewas di tangan seorang berengsek seperti Qin Yujin. Meski telah melewati beribu pertarungan dan masih tetap mampu menenangkan diri, kali ini Xin Fai tak bisa menahannya sama sekali. Sebelum pandangan Fu Hua gelap, dia melihat Xin Fai bertarung satu lawan satu melawan Qin Yujin. Air mata turun membasahi kedua pipinya. Xin Chen terbaring, pemuda itu babak belur.
Suaranya bergetar saat mengucapkan, "Jangan pernah mengatakan selamat tinggal."
Dia mengulurkan tangan, sebelum semuanya kembali berubah dan Xin Chen menghilang dari pandangannya, gadis itu berkata.
"Meski tangan dan kakimu lumpuh, masih ada tanganku agar kau bisa bangkit dari neraka itu. Bertahanlah, tugasmu belum selesai. Kita selesaikan semuanya di sini, jangan berani-beraninya kau pergi atau..."
Dia kembali menangis. Xin Chen telah menghilang dari pandangannya, Fu Hua kembali ke ruang kosong hampa.
"Aku akan membunuh diriku jika itu terjadi."
**
authornya emg minta digedik, habis ini pasti perang dunia shinobi di kolom komentar.
menurut kalian happy/sad ending nih?
🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️
__ADS_1