
Pertarungan antara Huo Rong dan lelaki misterius tampak semakin sengit. Tapi terlihat jelas perbedaan kekuatan di antara keduanya. Huo Rong babak belur. Bahunya terkoyak dalam akibat sabetan panjang yang bersarang di daging tubuhnya. Selain itu wajahnya juga nyaris tak berbentuk, lawannya selalu mengenai wajahnya telak. Baik tendangan atau tinju, Huo Rong nyaris tak bisa mengikuti gerakan musuh dan membuat dirinya terpojokkan seperti itu.
Satu tendangan keras menghantam perut Huo Rong. Dia terpental jauh menabrak tiga orang prajurit. Huo Rong segera bangkit walaupun tubuhnya berulang kali terhuyung, gigi-giginya menyatu rapat. Siluman itu menggeram sambil membuang napas dari mulut. Di antara sela-sela giginya muncul asap putih.
"Kau menguji kesabaran ku."
Saat Huo Rong membuka mata, netra matanya yang semula bulat berubah menjadi garis-garis dengan corak hitam merah. Angin bertiup kencang dari sekitarnya, gelang-gelang di kaki Huo Rong berbunyi keras.
Lelaki yang tak memperkenalkan dirinya tadi mengernyit waspada. Lalu terbentuk satu senyuman tertantang di wajahnya.
Dia tahu hal ini akan terjadi.
Dalam sekejap mata, wujud asli Siluman Penguasa Api keluar. Begitu besar hingga menyentuh awan. Kabut-kabut putih berkejaran mengelilingi tubuh Huo Rong yajy sudah memasuki wujud Siluman Penguasa Api asli. Sebelumnya Huo Rong hanya menggunakan lima puluh persen kekuatannya sehingga wujud yang dihasilkan tidak sebegitu besar.
Tapi kali ini, siluman itu benar-benar akan mengamuk.
Shui yang masih berada dalam tubuh manusianya terpana. Melihat Huo Rong sudah terbawa emosi lantas dia bergumam.
"Cih, kalau urusan muka langsung saja mengamuk. Bukannya ada gadis yang suka dengan mukamu itu."
"Apa kau bilang?!" Huo Rong masih sempat mendengar celotehan Shui.
Shui lantas panik, padahal dia yakin suaranya tidak akan terdengar sampai ke atas sana. "Ti-tidak ada, sahabatku!"
Shui berteriak takut. Kalau Huo Rong menamparnya sekarang yakin dia langsung pindah alam. Huo Rong masih memperhatikan gerak-geriknya dengan hidung terus mengeluarkan asap. Dia marah. Tapi Shui tak bisa menahan rasa geli di perutnya.
"Buahahah! Hei, dibanding wajah bonyokmu versi manusia rupanya rupa siluman bonyokmu jauh lebih lucu. Seperti kertas buku diremas-remas sampai penyek. Haha-"
Kali ini Huo Rong yang tertawa habis-habisan. Dia baru saja menggeplak tubuh Shui seperti lalat.
"Sekarang siapa yang lebih penyek?"
"Sialan ..." Shui menopang tubuhnya yang terasa remuk dengan kedua tangan, dia berdiri sambil mengepalkan tangannya dengan amarah. Rambut biru Shui yang panjang berterbangan ke sana kemari. Tiga detik kemudian, seekor Naga Air telah berada tepat di atas kepala manusia.
Mereka yang menyaksikan wujud sebesar itu hanya bisa melongo tak mampu berkata-kata. Shui dan Huo Rong saling bertatapan kesal.
"Cari masalah, Tuan?" Shui menajamkan sirip-sirip di tubuhnya. Jika pertarungan di mulai dia pasti akan mengoyak Salamander itu sampai mampus.
"Oh tentu. Biasanya masalah yang suka sekali mencariku. Hari ini kebetulan tidak ada, jadi aku yang mencarinya."
"Hoo berani sekali mengataiku masalah. Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa, kadal pendek?"
"Memangnya kau siapa sampai harus ditakuti?"
"Mari kita selesaikan di sini saja. Maumu apa? Akan kuladeni."
"Pikirmu aku takut."
Kedua siluman itu tampaknya akan bertarung satu sama lain. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Jika pertarungan betul-betul akan dimulai entah seberapa banyak manusia yang akan tewas akibat pertengkaran tersebut.
Lelaki yang sebelumnya bertarung melawan Huo Rong hanya bisa keheranan.
"Sebenarnya kadal pendek ini sedang bertarung dengan siapa?"
"Jangan ikut-ikutan menyebutku kadal pendek!"
Lalu emosi meletup-letup Huo Rong kembali kambuh. Hanya dalam hitungan menit hampir seperempat dari Lembah Para Dewa terbakar oleh api Siluman tersebut.
__ADS_1
*
Peperangan tampaknya telah memasuki babak baru, getaran bumi terjadi tak henti-henti. Disertai angin kencang yang mampu mencabut pohon dari akarnya.
Xin Chen tahu ini ulah siapa. Angin kencang yang berasal dari laut ini pasti adalah ulah Shui. Hanya siluman itu yang mampu mengendalikan cuaca sekitar laut. Sementara itu asap-asap kebakaran ini hanya Huo Rong yang menjadi penyebabnya. Dalam kata lain, situasi di luar sana semakin tak terkendali. Xin Chen harus segera kembali sebelum terjadi sesuatu hal yang merugikan pihaknya. Saat dirinya hendak beranjak, Li Baixuan berdiri persis di depan menghalangi jalan.
"Mau lari ke mana?"
Kedua bilah pedang saling beradu cukup lama, Li Baixuan menekan kekuatannya hingga membuat lawannya termundur.
"Kau panik karena kata-kata ku sebelumnya?"
Xin Chen tak mengelak. Tapi benar adanya, tentang sosok yang jauh lebih mengerikan dari Li Baixuan. Dia tak bisa menebak siapa. Apakah lawan yang menjadi dalang perang ini, musuh sebelumnya yang membuat Kota Renwu terbakar.
"Perang ini akan berakhir. Aku mencium darah dari pasukanmu."
Mata Li Baixuan terbuka lebar. Lantas dia melepaskan serangannya dan kabur begitu saja.
Tepat saat Xin Chen mengatakan itu dia mendengar suara terompet yang berisi pesan. Pasukan mereka mundur.
Li Baixuan melompat cepat hingga akhirnya dia tiba di sebuah dahan pohon paling tinggi. Di sana dia melihat untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Kekalahan.
Prajurit-prajurit Kekaisaran Qing jatuh dikejar-kejar musuh. Beberapa yang meringkuk ditikam langsung di tanah sampai mati. Siluman burung pembawa racun terus menumpahkan cairan tersebut hingga tewas semua orang yang berada di bawahnya. Ledakan-ledakan yang berasal dari pemanah yang melemparkan anak panah berisi api peledak.
"Tidak mungkin ..."
Corak-corak awan mendung mulai menghilang, angin menyingkirkan awan tersebut sehingga cahaya matahari keluar dari celah-celah. Menyinari area perang yang telah tumpah oleh darah. Hanya sedikit dari mereka yang masih hidup. Hanya tujuh puluh ribu dari pihaknya yang masih bertahan. Sementara itu pihak lawan masih memiliki empat puluh ribu pasukan.
Perbandingan yang tumpang tindih. Yang awalnya tiga ratus ribu melawan seratus ribu.
Li Baixuan melihat dua ekor siluman besar di ujung sana. Mereka ikut memegang andil yang banyak dalam perang ini. Jumlah pasukannya berkurang banyak akibat semburan api dan hantaman ekor Shui.
Dengan gagah berani laki-laki itu mengejar ke arah keduanya, pedang di tangannya dia cengram sedemikian kuat. Menumbangkan salah satu dari Siluman itu bukanlah hal berat baginya.
Di lain sisi Xin Chen kehilangan jejak Li Baixuan dan menemukan dirinya telah berada di satu pusaran pertarungan antara Xin Zhan dan Zhaohuo. lingkaran api yang mengelilingi tanah itu bagaikan akar tanaman yang merambat dan merenggut nyawa siapa pun di atasnya. Tapi pertarungan itu telah mencapai akhir di mana Zhaohuo kehilangan seluruh energi kekuatannya. Xin Zhan mendekat, menghunuskan pedang di depan mata Zhaohuo.
Lalu dalam sepersekian detik setelahnya, dia melayangkan satu ayunan pedang yang langsung memotong leher laki-laki itu.
Zhaohuo tewas. Para pendeta yang sebelumnya bertarung untuknya memberhentikan perlawanan dan mengelilingi tubuh Zhaohuo. Beberapa bahkan bersujud. Xin Zhan terkejut akan hawa kehadiran yang tak asing, saat dia menengok ke belakang tak ada siapapun di sana selain Bai Huang yang tengah mengangkat tangannya.
"Kemenangan kita akan tiba sebentar lagi!"
Jika bukan karena jenderal-jenderal pemberani yang diutus Kaisar Qin dalam peperangan, mungkin akan lebih banyak prajurit yang terkalahkan. Mereka solid dan kompak. Semangat bertempur mereka layak untuk diapresiasi. Begitu pun dengan pasukan gabungan dari Empat Unit Pengintai. Meski dalam pertarungan mereka dapat dihitung sebagai amatir, tapi banyak yang masih bertahan.
Karena pada dasarnya orang-orang itu adalah pendekar. Kemampuan bertarung mereka juga tak bisa diragukan. Mengalahkan ratusan ribu prajurit Kekaisaran Qing yang sebagian diambil dari masyarakat biasa yang baru tahu cara memegang pedang bukanlah hal sulit. Mereka menang dalam hal jumlah.
Rasa bahagia Bai Huang seketika dihancurkan saat melihat tubuh besar Shui terlempar akibat satu pukulan yang tak masuk akal. Tak terbayangkan seberapa hebat guncangan di permukaan bumi ketika Naga Air menghantam ke bawah.
Huo Rong bersiaga, dia berniat menghindari serangan tapi pikirannya dikecohkan oleh Li Baixuan yang tiba-tiba sudah berada di belakang. Tanpa ampun satu tembakan cahaya mengenai kepala belakang siluman tersebut. Terdengar jeritan kesakitan yang menggema berulang kali, Huo Rong terjatuh begitu saja. Apa pun yang berada di bawahnya hancur, rata dengan tanah.
Shui masih bertahan, dia melakukan serangan balik menggunakan ekor. Meski berusaha sebaik mungkin tak satupun dari terjangan mampu menjangkau Satu Terkuat itu. Justru dirinya mendapatkan lebih banyak luka sebelum dapat menyerang Li Baixuan.
Shui sempat menoleh ke arah Huo Rong yang sudah terkapar kembali ke wujud manusia. Dia harus memulihkan diri, karena secara tak langsung serangan Li Baixuan tadi menyerang tepat ke bagian permata silumannya yang mulai retak.
"Cih, benar katamu. Aku tak yakin ada manusia normal yang mampu mengimbangi orang seperti dia. Beruntung Xin Chen manusia abnormal."
Lalu satu tinju besar berisi kekuatan yang amat dahsyat berhasil mengenai dagu Shui. Terdengar retakan yang begitu jelas. Lalu dalam detik berikutnya Shui terlempar ke atas.
__ADS_1
Li Baixuan mendarat di atas bebatuan yang langsung hancur ke dalam membentuk lubang besar. Ototnya terlihat semakin besar dari pertama kali peperangan dimulai. Entah sampai tingkat mana laki-laki itu akan berhenti bertambah kuat. Tidak ada yang mengetahui secara pasti, bahkan Sepuluh Terkuat sekali pun.
"Kemenangan adalah milik kita! Siapa yang menyuruh kalian untuk mundur sebelum memegang kemenangan tersebut?!" Dia berteriak amat keras hingga urat-urat di lehernya bermunculan. Dalam jarak ratusan meter orang-orang bahkan masih mendengar suaranya dengan jelas.
"Aku masih di sini! Tidak ada kekalahan sebelum nyawaku habis! Bertarung lah untukku! Jayalah nama kita!!"
Tanpa diduga, para prajurit Kekaisaran Qing yang sempat mundur kembali bangkit saat melihat sosok Li Baixuan berdiri di depan mereka. Mengumandangkan sorak-sorai peperangan. Semua prajurit mengangkat senjata berulang kali sambil meneriakkan nama Li Baixuan. Dua menit berlalu hingga akhirnya Li Baixuan memulai aksinya; membantai jenderal dari Kekaisaran Shang satu per satu.
Dalam waktu cepat keadaan berbanding terbalik. Kehadiran Li Baixuan adalah kunci kemenangan Kekaisaran Qing. Hal itu tak bisa dielakkan lagi. Tak disangka-sangka, dalam waktu sekejap mata ratusan nyawa terbunuh cepat dan paling banyak berjatuhan dari Kekaisaran Shang.
Dua kubu saling menghabisi satu sama lain. Xin Zhan tak membiarkan pihaknya mundur, dia ikut meneriakkan semangat berperang dan berdiri di barisan terdepan. Bersama pemimpin-pemimpin lainnya, kali ini perang dimulai kembali dari dua arah yang akan saling bertabrakan.
"Sepertinya ini akan menjadi penentuan."
Lan An tanpa diduga telah berdiri di samping Xin Zhan, dia penuh luka darah. Sebelumnya sempat diselamatkan meski nyawanya nyaris melayang. Tapi meski dapat berdiri tegak, Xin Zhan tahu benar batas kemampuan Lan An. Dia tak akan mampu bertahan lebih lama sebelum perang selesai. Apalagi, Li Baixuan masih hidup. Lan An akan menjadi target pertama yang akan dihabisinya.
"Aku akan mengambil alih perang ini, Paman Lan. Ada baiknya mundur sejenak."
"Sayangnya kakiku tak mampu mundur. Hal itu terlalu memalukan bagi ku."
"Tolong pikirkan keluargamu."
Bibir Lan An bergetar hebat, dia membuka mulut sejenak lalu terdengar napasnya yang tak beraturan.
"Jika ayahmu di sini, dia pasti akan menatapku dengan kecewa. Melihatku meninggalkan anak-anaknya bertarung sendirian. Sahabat macam apa aku?" Hanya desis kesakitan keluar setelahnya. Sekilas, Xin Zhan dapat mendengar suara laki-laki itu bergetar.
"Sampai sumpahku pada Xiaxia terpenuhi, aku tak keberatan mengorbankan nyawaku untuk itu. Menyelamatkan ayahmu."
****
A/N:
Maafkan author atas segala kekurangan di buku ini, author yakin bisa lebih maksimal dr ini, tapi ada aja yg menghalangi.
Terutama waktu. Rasanya mau menangis di pojokan. Gimana ya, rasanya menulis tanpa beban kayak dulu. Gak ada hal yang harus dikerjain selain menulis menulis dan menulis. Rasanya lebih fokus dan enjoy dengan alur cerita yang dibuat.
Apa lagi yang namanya hobi suka lupa waktu. Author pernah menulis 12 ribu kata dalam satu hari (dan itu yang paling banyak) yaitu pas awal2 rilis PPI 1. Jangan tanya, author menulis buku itu semaksimal mungkin. Satu chapter bahkan sampai sepuluh kali revisi. Demi merevisi plot hole, typo, perubahan alur, penambahan scene dan rembuk revisi lainnya yang membuat ceritanya semakin maksimal.
Tapi sekarang baru ngetik sebaris aja udh ada kerjaan yg menunggu:))) Andai bisa kayak dulu lagi ...
Akhir-akhir ini author merasa minder. Apa yg pembaca pikirkan setelah membaca buku ini? Apa mereka kecewa? Tidak puas? Atau kesal? Author selalu berpikir ingin berhenti daripada terus berpikiran buruk dan merasa bersalah. Di sisi lain author selalu berharap suatu saat dapat menamatkan cerita ini.
Bagus atau tidaknya author tidak berharap banyak dapat memenuhi ekspektasi semua pembaca. Minimal dapat menghibur pembaca aja udh senang. Saat merenungkan itu selalu teringat dgn pembaca2 yg tetap memberikan dukungan. Yang sering nongol di kolom komentar atau hanya silent readers. Keinginan untuk hiatus langsung ku tepis jauh2 krn hal itu hanya akan membuat pembaca setia author tambah kecewa.
Jadi dengan segala kekurangan ini, author minta maaf sebesar-besarnya thdp pembaca. Dan akan tetap melanjutkannya sebaik mgkin hingga tamat.
Meskipun harus menerima komentar negatif dan segala hal lainnya yang membuat semangat author patah. Tapi berkat itu author berkembang menjadi penulis. Meski msih terhitung sbg penulis pemula.
Dan author tetap memegang prinsip
"Tidak ada buku yang sempurna. Yang ada hanyalah buku yang tamat."
Terima kasih sudah menyempatkan membaca cerita ini (+baca curhatku juga wkwk)
Lope-lope buat kalian<3💗🤍🥰🙇🏻♀️ lima kebon!!
"Rrragghh!!!" -suara naga hitam jelek yang gak kebagian scene di PPI 3
__ADS_1