
Kelap-kelip malam dihiasi cahaya lilin di berbagai tempat, jamuan makan malam disenggelarakan di ruang terbuka. Berukuran sangat luas, meja dan kursi disusun rapi. Ada beberapa meja khusus di mana makanan dan minuman disediakan. Tamu-tamu mulai datang, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang penting Kekaisaran Shang. Dimulai dari Sepuluh Pilar yang menjabat saat ini. Penasehat, beberapa keluarga bangsawan sampai dewan-dewan lainnya. Tak terhitung berapa orang yang datang, mungkin bisa menyentuh angka tiga ratusan orang.
Huo Rong dan Shui masuk ke dalam halaman yang berubah menjadi tempat makan malam raksasa itu. Para tamu dari kalangan atas melemparkan tatapan pada mereka. Sebagian besar sinis dan risih. Shui tak begitu menghiraukan, tapi Huo Rong yang mudah terbakar emosinya langsung menyolot.
"Apa-apaan kalian melihatku begitu?"
Lelaki berusia tiga puluh tahun di depannya menyadari Huo Rong tengah menyinggungnya. Dia menarik seculas senyum miring, pelan menatap Huo Rong sambil berkata congkak.
"Binatang pun ikut makan di sini? Apa Yang Mulia ingin menyamakan kami dengan binatang hina seperti mereka?"
Kalimat pedas itu ditelannya bulat-bulat. Sungguh menyakitkan. Huo Rong sering menjumpai orang seperti lawan bicaranya ini. Tapi melihat begitu banyak orang mendengar ucapan laki-laki tersebut dan mereka tertawa diam-diam membuat hati Huo Rong sakit.
Langsung saja dia mencengkram baju yang dibuat dengan benang sutra tersebut. Istri lelaki itu langsung memanggil penjaga.
"Woo ... woo ... Santai, santai. Jangan bawa-bawa sikap binatangmu ke sini jika kau tak ingin membuat Yang Mulia malu karena telah mengundang kalian." Dia mengangkat kedua tangan di depan dada, membiarkan kedua kakinya menggantung di udara. Sama sekali tidak takut akan gertakan Huo Rong.
Shui berusaha menarik Huo Rong agar tak terlibat masalah lebih jauh lagi.
"Mahluk rendahan sepertimu lebih pantas mengorek sampah daripada makan di meja," ucapnya setengah berbisik. Hanya Huo Rong yang dapat mendengar sementara laki-laki itu tertawa. Menjengkelkan sampai-sampai Huo Rong tanpa berpikir panjang melempar tubuh orang itu.
Kegaduhan langsung terjadi. Teriakan dari istri pejabat itu melengking tinggi, suaminya mengeluarkan darah dari mulut. Tiba-tiba saja gerak-geriknya berbeda, lelaki tersebut mundur menempel ke meja sambil menunjuk Huo Rong ketakutan.
"Mo-monster! Siluman itu monster, Yang Mulia! Selamat aku!"
Puncak kegaduhan terjadi ketika tiba-tiba laki-laki itu pingsan. Memang terdapat luka di tubuhnya tapi menurut Huo Rong manusia tak akan pingsan semudah itu hanya karena dilempar tak sampai lima meter.
Tatapan menyalahkan dan ketakutan menyerbu Huo Rong. Beberapa pengawal datang menarik senjata ke arah leher Huo Rong. Shui menepuk jidat, dia mendengkus kesal. Memang dia sudah mewanti-wanti hal ini akan terjadi. Tapi masalahnya sekarang terlalu awal untuk mendapatkan masalah. Keduanya diseret oleh lima pengawal secara paksa. Namun suara seseorang menginterupsi mereka.
"Apa yang kalian lakukan?"
__ADS_1
Itu Xin Chen. Shui menatapnya nanar. Seperti seorang anak yang baru saja ditangkap penculik dan berharap dilepaskan. Huo Rong memalingkan muka.
"Kami menangkap mereka karena telah membuat keributan selama acara."
"Lepaskan saja. Namanya juga Siluman. Kau mau samakan mereka dengan tingkah laku manusia?"
Hati Huo Rong sedikit tersinggung mendengar pembelaan Xin Chen yang terdengar menyakitkan.
"Mengatur manusia saja belum tentu kalian bisa. Lagi pula dua curut ini tak akan menyerang kalau tidak ada yang mengganggu mereka."
Huo Rong menatap ke arahnya. Sedikit berkaca-kaca.
"Lepaskan mereka, aku punya sedikit urusan dengan duo kadal naga ini. Ayo ke sini anak-anak."
Lima pengawal tersebut saling menatap kebingungan, bertanya satu sama lain hingga akhirnya mereka melepas Shui dan Huo Rong.
"Untung saja." Shui menarik napas lega ketika lima orang tersebut menjauh dari pandangan. Mukanya berubah garang beberapa detik kemudian.
"Nah, perang dimulai." Xin Chen bersiap menutup telinga, pengang pasti mendengar Shui merepet-repet. Apalagi lawan bicaranya Huo Rong. Tak terbayangkan seberapa ributnya dua siluman itu. Tapi sebelum perang dimulai mereka dialihkan oleh seorang gadis yang melewati ketiganya.
Aroma harum semerbak, jubah merah muda dengan ukiran bunga indah dan rambut yang diikat menggunakan tusuk rambut yang berwarna senada dengan baju miliknya.
Xin Chen mengenali siapa gadis itu. Tapi dia agak segan untuk menyapanya. Pembawaan Fu Yu yang sangat berubah dari yang selama ini dikenalnya. Sifat kekanak-kanakan Fu Yu telah berubah drastis menjadikan dirinya sebagai sesosok gadis anggun. Matanya menatap lurus ke depan. Tak peduli akan ratusan pasang mata yang menatap takjub kepadanya. Termasuk putri-putri klan bangsawan yang merasa tersaingi akan hadirnya Fu Yu.
Dari semua tatapan yang menuju ke arahnya, Fu Yu hanya menyadari satu orang yang sedari tadi menatapnya.
Mata mereka bertemu.
Shui hendak menarik Huo Rong jauh-jauh, tak ingin mengacau pertemuan dua orang itu. Tapi apa yang dia harapkan dari Xin Chen, mahluk super tidak peka itu justru hanya menatap lama-lama tanpa berniat menyapa atau berbasa-basi.
__ADS_1
"Cuih, bisa-bisanya kau diam seperti orang bodoh begitu!" Shui mengumpat ketika melihat Fu Yu menjauh, mengikuti pengawal yang menunjukkan tempat kursinya berada.
"Apalagi salahku?"
"Kau ini mengerti dengan yang namanya cinta tidak? Sebuah keajaiban yang hanya dimiliki manusia-"
"Jangan terlalu berlebihan. Aku harus kembali ke tempatku. Pulang dari sini aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian, aku pergi dulu," pamitnya langsung bergerak ke tempat di mana Xin Fai dan Xin Zhan duduk. Ren Yuan tidak ikut dan dijaga di rumah, karena keadaannya tidak terlalu sehat.
Kaisar menyampaikan banyak hal, lebih ke arah sukacita dan perencanaan perayaan yang akan mereka gelar dalam waktu beberapa hari lagi. Semua orang bersuka cita dan berpesta ria.
Tapi, itu bukanlah hal yang Xin Chen harapkan. Satu jam lebih hanya berisi hura-hura, sementara dirinya butuh penjelasan atas banyak hal. Xin Zhan juga merasakan hal yang sama; ketidakadilan. Ada banyak pihak di tempat ini. Termasuk dari beberapa orang yang ikut dalam perang di Lembah Para Dewa. Tapi yang lebih antusias merayakan kemenangan ini hanyalah mereka yang selama perang duduk di dalam rumah sambil menghabiskan harta rakyat.
Andai saja mereka kalah dalam perang itu. Keadaan pasti berbalik. Mayat mereka akan dikutuk, dihina dan dicemooh. Sikap orang-orang elit Kekaisaran Shang kadang memang semenyebalkan itu.
Xin Zhan bangkit dari kursinya. Menekankan suara agar semuanya dapat mendengar.
"Aku datang ke sini bukan untuk mendengar ocehan kalian. Jelaskan padaku, atas dasar apa kalian mengirimkan pasukan untuk membunuh Pedang Iblis?"
Pilar ke-tiga, seorang wanita yang sibuk menenggak arak dalam cawan kecil menyumbangkan suara. Terdengar sedikit sombong. "Untuk menjaga nyawa seluruh penduduk Kekaisaran ini. Jika Pedang Iblis bisa melindungi seisi Kekaisaran ini, dia juga memiliki peluang untuk menghancurkan Kekaisaran kita yang tercinta ini."
"Setelah pengabdiannya bertahun-tahun, kalian memusuhinya hanya karena hal ini?" intonasi Xin Zhan meninggi, lama dia menahan murka yang bergemuruh di dalam dadanya, akhirnya pemuda itu tak sanggup lagi berpura-pura sopan di hadapan semua orang.
Xin Fai mencoba menenangkannya. Hiruk-pikuk di halaman semakin tak terkendali. Para elit sibuk menentang. Dan mereka yang setuju dengan Xin Zhan hanya bisa diam.
Karena yang berkuasa adalah mereka yang memiliki harta, kuasa dan pengaruh di tempat ini.
Kaisar Qin menjawab dengan pembawaan tenang, "Aku akan menjelaskannya, bisakah kau menunggu acara ini selesai?"
"Tidak."
__ADS_1
Xin Zhan terkejut, seseorang ikut menolak permintaan Kaisar Qin.