Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 119 - Penghormatan yang Adil


__ADS_3

Setelah melewati diskusi dan rapat yang panjang, akhirnya keputusan Kaisar Qin tak dapat diubah lagi. Pilar lama yang menjabat selama krisis di Kekaisaran Shang akan kembali diturunkan, karena pada hakikatnya mereka adalah pengganti 'sementara'. Dalam artian lain, mereka tidaklah resmi selain memenuhi tempat-tempat yang kosong.


Kebijakan dari Kaisar Qin membuat konflik internal, memang hal itu memang tak bisa terhindarkan.


Hari ini adalah penentuan segalanya. Kaisar Qin berdiri di sebuah menara di mana dia dapat melihat seluruh penduduknya yang datang dari berbagai tempat berkumpul dengan gegap gempita. Tak disangka perayaan ini begitu meriah, orang-orang memenuhi setiap ruas jalan, bersorak dalam sukacita.


Dia menatap seluruh rakyatnya. Bangga sekaligus bahagia. Sama seperti pertama kali dirinya melihat sang Ayah berdiri di depan semua orang, sayangnya laki-laki itu sudah tidak ada untuk melihatnya berdiri di sini.


Laki-laki di sebelahnya berteriak, menyuruh semua orang diam agar Kaisar Qin bisa berbicara dengan leluasa.


"Bencana dan marabahaya telah berlalu, tidak ada salahnya bersukacita setelah melewati masa-masa sulit. Bersoraklah, berteriaklah, para pelindung kita telah sampai ke rumah. Meski sebagiannya memilih menjadi bagian dari Lembah Para Dewa ... Mereka mati dengan terhormat. Ini adalah kemenangan terbesar kita!"


Tak terkira suara yang menyambutnya setelah itu, menggema keras penuh euforia. Tanpa sadar Kaisar Qin tertawa lepas. Tawa yang sudah lama tak pernah terlihat di wajahnya. Barangkali krisis di Kekaisaran Shang telah merenggut senyuman di wajah laki-laki itu. Dia menarik napas dalam. Hatinya terasa lega.


Kaisar Qin berbisik sebentar ke lelaki tinggi besar di sampingnya. Selanjutnya laki-laki itu mengambil alih, membacakan selembar surat yang diikat dengan tali emas. Suaranya bahkan terdengar dari jarak jauh.


"Tidak peduli dengan isu-isu yang muncul saat ini, perayaan kemenangan rasanya tak lengkap tanpa kehadiran para pahlawan yang bertempur di medan perang untuk Kekaisaran ini."


Mereka yang selamat dari pertarungan di Lembah Para Dewa dipanggil satu per satu secara terhormat. Termasuk para anggota Empat Unit Pengintai. Satu panggung luas telah penuh oleh pahlawan yang kini disegani oleh seluruh masyarakat. Mereka mengangkat wajah, tersenyum bangga. Termasuk dua putra Klan Xin yang berdiri di bagian paling depan.


Rangkaian acara berjalan meriah. Sampai akhirnya mereka tiba di bagian terpenting di mana Kaisar Qin kembali berdiri di depan masyarakatnya.


Wajahnya takjub. Matahari sudah naik di atas kepala, panas membakar seisi jalan Kota Fanlu. Namun antusias masih sama seperti pagi tadi.


Lelaki itu menyampaikan beberapa hal dengan singkat. "Tanpa berbasa-basi lagi, aku ingin mengumumkan bahwa kini sudah saatnya kita memilih Para Pilar Kekaisaran baru untuk negeri ini!"

__ADS_1


Para lelaki mengepalkan tangan ke atas, berseru setuju sekeras-kerasnya. Kaisar Qin telah menetapkan semua ini sejak lama, hanya saja terjadi permainan politik yang kejam.


Para bangsawan yang berdiri tak jauh darinya memasang wajah tak senang, termasuk para petinggi dan orang-orang penting Kekaisaran.


"Merekalah orang yang kelak akan menjadi pahlawan-pahlawan terhormat Kekaisaran ini!"


Kian detik situasi semakin memanas. Tapi semua itu meredam saat satu suara menarik atensi semua orang, suara itu berasal dari Xin Chen.


"Maafkan aku Yang Mulia, memotong pembicaraanmu."


Kaisar Qin memasang wajah bingung, menatap lamat-lamat wajah pemuda bermata biru itu. Tak bisa menebak apa gerangan yang hendak dia sampaikan. Beberapa orang di samping Kaisar Qin memelototi Xin Chen seram, seakan memberikan peringatan kalau-kalau Xin Chen membuat kegaduhan di tengah acara penting ini.


Xin Chen menarik napas.


"Aku rasa ada seseorang yang lebih pantas menerima penghargaan ini. Seorang ayah dan seorang suami yang bertarung hingga titik darah penghabisan untuk Kekaisaran ini."


"Aku menginginkan sebuah penghormatan dan penghargaan untuk orang ini, Bai Huang. Dan untuk semua orang yang telah bertarung mati-matian di sana." Xin Chen memberikan penekanan, "Bukan hanya mereka yang selamat dari perang tersebut."


Ucapan Xin Chen berhasil menimbulkan keheningan berkepanjangan. Suasana yang sebelumnya ramai dan meriah tiba-tiba sunyi.


"Katakanlah, penghormatan seperti apa yang kau inginkan?"


Diberikan kesempatan, Xin Chen merasa menang dari para elit yang menatap tak suka padanya. Dia tersenyum, menatap ke depan di mana semua orang menunggunya berbicara.


"Sebelum itu aku ingin menceritakan tentang Bai Huang. Seorang Pilar Kekaisaran yang ternistakan."

__ADS_1


Terlihat di sana, wajah-wajah yang mulai panik ketika Xin Chen hendak mengungkap kebenarannya.


"Mantan Pilar Kekaisaran ketiga yang bertarung siang-malam demi kekaisaran kita, melindungi tanpa mengharapkan upah. Tapi dihina dan diolok-olok selayaknya sampah. Sementara sampah, dipuja-puja seperti Tuhan."


Kaisar Qin mengerutkan alisnya. Topik ini mungkin tergolong sensitif, takut akan menimbulkan pertikaian. Sejumlah pengawal dan Pejuang mulai siap siaga, takut-takut keadaan tak terduga datang.


Tak ada yang berani menghentikan Xin Chen, pemuda itu melanjutkan.


"Dia dituduh meski tak bersalah. Dilengserkan dari kursinya dengan diarak bertelanjang dada, dan mereka meninggalkan dua luka yang berbekas padanya. Luka bakar di punggungnya dan luka di hatinya. Ketulusannya terhadap Kekaisaran Shang telah terlukai. Tapi apa?"


Xin Chen mengingat jelas saat dia bertemu dengan Bai Huang pertama kali setelah bertahun-tahun. Bajunya yang selalu rapi dan megah berubah menjadi pakaian lusuh dan penuh lumpur. Dia mulai melupakan tentang pertarungan, memulai kehidupan normal. Membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia. Mungkin luka lama telah membuatnya begitu membenci seorang pendekar dan pedang.


"Setelah semua penghinaan yang diterimanya. Dia mengiyakan permintaan ku untuk kembali bertarung demi Kekaisaran ini. Bertarung di Lembah Para Dewa dan membuktikan bahwa dirinyalah seorang pahlawan terhormat!" Xin Chen meninggikan suaranya.


Semua orang tampak bingung. Kebenaran terungkap. Bai Huang bukanlah pembunuh, mereka tak percaya keluarga bangsawan yang menuduhnya tega melakukan itu kepada seorang Pilar Kekaisaran.


Benar saja, kegaduhan dimulai. Protes Xin Chen menarik kericuhan. Semua orang mulai bersorak untuk keadilan Bai Huang.


"Penghormatan yang kuinginkan untuk Senior Bai adalah lepaskan julukan pembunuh yang sempat di berikan padanya. Dan untuk mereka yang gugur di Lembah Para Dewa, buatkan tugu berisikan nama-nama mereka. Hanya itu."


Xin Chen mundur setelah menyampaikannya. Hatinya terasa lebih tenang, setidaknya semua orang tahu siapa orang busuk yang melemparkan kotoran ke nama Pilar Ke-tiga yang telah tiada.


Dua menit berlangsung dengan kegaduhan yang kian tak terkontrol. Hingga Kaisar Qin mengangkat sebelah tangan, membuat situasi kembali tenang hanya dalam hitungan detik.


"Aku juga berpikir demikian." Dia melemparkan pandangan pada seluruh rakyatnya. "Mereka berhak mendapatkan penghormatan yang layak. Aku akan membuatkan sebuah tugu megah dengan ukiran nama-nama mereka. Sehingga keluarga atau sanak saudara yang telah berpulang bisa mendatangi tempat tersebut untuk mengenang mereka."

__ADS_1


Tentu saja keputusan itu adalah hal yang amat dinantikan semua orang. Beruntungnya Xin Chen meminta langsung pada Kaisar Qin. Bahkan di saat-saat penuh sorak itu terlihat beberapa menangis penuh haru. Itulah yang mereka butuhkan untuk mengenang keluarga mereka yang telah tiada.


"Langsung saja. Tanpa berlama-lama, aku sendiri yang akan menunjuk Pilar Kekaisaran baru kita."


__ADS_2