Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 225 - Perlindungan Awan, Pulau Seizu


__ADS_3

Kekuatan roh dan kekuatan petir saling bertubrukan, sementara kedua pemiliknya masih berdiam di tempat. Rubah Petir tak berpikir untuk melukai Xin Chen tapi jika mengharuskan dia tak mempunyai pilihan lain. Xin Chen diambang kesadarannya, tahu apa yang dilakukannya salah namun gejolak aneh di dalam hatinya memaksanya demikian.


Di tengah-tengah kedua seseorang datang, dengan seragam khas Pejuang Kota, celingak-celinguk sambil bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.


"Bukankah Anda Tuan Muda Xin kedua?"


Xin Chen perlahan-lahan mengubah perhatiannya pada sesosok laki-laki yang tampak masih begitu muda, sedikit gentar saat mata biru tersebut menatap matanya.


"Apakah Anda sedang mencari keluarga Anda?"


"Benar."


Rubah Petir membatalkan kekuatannya, mendekati lelaki itu kemudian.


"Di mana mereka?"


Tanya sang Rubah.


"Ah, aku lupa mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat kota Fanlu dievakuasi di Perlindungan Awan," jelasnya sembari menatap Rubah Petir, dia pasti tahu siapa siluman itu dan tak asing lagi jika keluarga Xin banyak memelihara siluman. Xin Chen terkejut, matanya kembali menatap sesosok mayat yang terbaring di rumahnya yang telah hangus.


"Apakah ibuku selamat?"


"Tentu saja, Tuan Muda! Kaisar Qin begitu tanggap dalam menghadapi permasalahan ini, dia mengambil sejumlah tindakan serius sepergian Anda ke Kekaisaran Wei. Dan sekarang seluruh keluarga anda berada di tempat paling aman di Pulau Seizu. Ikutlah denganku jika Tuan Muda berkenan."


Seakan tak percaya, Xin Chen bertanya kembali, "Aku menemukan jasad seorang wanita yang begitu mirip dengan ibuku, aku kira dia sudah tiada," katanya, ada rasa lega di dalam hatinya. Di saat bersamaan dia menatap rubah yang sudah jengkel setengah mati padanya.


"Sepuluh cambukan ranting untuk masalah ini," kesal Rubah Petir. Xin Chen bergidik ngeri, "Hei, aku yakin wanita itu ibuku dan-"


"Aku mau memberitahu sesuatu kalau mayat itu sebenarnya adalah terinfeksi yang mati terbakar tapi kau sudah lebih dulu mengamuk seperti orang gila." Rubah Petir mengomel, "hei manusia, apa di Perlindungan Awan ada tempat penampungan orang sakit jiwa?"


Lelaki Pejuang Kota tersebut tertawa canggung, "Ahhaha aku kira tidak ada," Dia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, Xin Chen menanggapinya dengan muka masam.


"Paling tidak kau tidak jadi mengamuk, akhir-akhir ini amukanmu bisa menghancurkan satu kota. Berhati-hati dalam menggunakan kekuatan mu," ucap Rubah Petir sedikit memberikan peringatan, "Kau tak tahu kapan kekuatan itu bisa melukai Orang-orang terdekatmu."


Terjadi jeda sejenak, Xin Chen menggendong tubuh Fu Hua. Sementara Ye Long memaksa Feng Yong bangun dengan mengguncang tubuhnya. Lelaki itu terbangun setengah kaget, tak sempat berkata-kata karena Rubah Petir dan Xin Chen sudah pergi jauh mengikuti seorang lelaki. Mereka melalui jalur khusus yang dibuat untuk menghindari keramaian terinfeksi. Hingga sampai di pelabuhan di mana tempat itu dijaga ketat oleh prajurit dan bahkan Pilar ke tiga, Yue Ling'er.

__ADS_1


Wanita dengan racun iblis itu melemparkan pandangan kepada Xin Chen, "Iblis telah kembali. Kau sangat terlambat, malapetaka sudah menyebar sejauh ini."


Sesaat Xin Chen menghentikan langkahnya sebelum memasuki kapal, melirik ke arah Yue Ling'er yang memang sedari tadi menatapnya.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"


"Pikirkan itu sebagai seorang Pilar Ketiga," balas Xin Chen tak kalah sinis. "Aku akan mengerjakan tugasku. Pastikan kau mengerjakan bagianmu karena jika tidak nasibmu akan sama seperti Jiang Cho."


Xin Chen berlalu, meninggalkan Yue Ling'er yang semakin tertarik. Senyum di wajahnya melebar beberapa detik. Tanpa membalikkan badan dia bersuara.


"Aku khawatir kau tak akan mampu menghadapinya."


Xin Chen lagi-lagi menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu?"


"Air Mata Iblis."


Yue Ling'er tak menjelaskan apa pun lagi selain menghilang secara tiba-tiba. Xin Chen tak tahu mengapa, namun jika Yue Ling'er yang memperingatinya demikian maka Air Mata Iblis tentunya bukan sesuatu yang bisa diremehkan.


Angin kencang dari laut sama sekali tak menepiskan rasa cemas di hatinya. Xin Chen menatap langit yang begitu mendung, sisa hujan tak kunjung beranjak dari atas sana. Matahari telah menghilang beberapa hari di Kota Fanlu. Hingga akhirnya jangkar kapal diturunkan dan mereka sampai di sebuah pulau yang terletak di ujung barat, Pulau Seizu. Sebuah pulau-atau lebih tepatnya pemukiman yang terletak di tengah-tengah lautan dengan sebuah gunung dan beberapa rumah yang dibangun di atas air.


Feng Yong mengiyakan tanpa banyak tanya, Rubah Petir tertinggal di belakang begitu saja sejak Xin Chen masuk ke dalam keramaian. Dia berputar ke sana-kemari.


Bertanya buru-buru kepada beberapa penduduk di sana hingga satu wanita pedagang mengantarkannya pada sebuah rumah kecil yang terletak tepat di pinggir pantai.


Langkah Xin Chen melambat, dia teringat akan mayat di rumahnya beberapa jam yang lalu. Membuatnya sulit untuk melangkah.


Membatunya dia di sana selama beberapa menit membuat beberapa orang heran.


"Hei, bukankah dia Tuan Muda Xin kedua?"


"Tidak ... Dia kembali? Bukankah dia telah membunuh Kaisar Shi?"


"Benar, andai Kaisar Shi yang lama masih hidup masalah ini tak akan membesar sampai ke Kekaisaran kita..."


Teman mereka yang lain menimpali sambil berbisik, "diamlah dia akan mendengarmu."

__ADS_1


Ketiga wanita itu buru-buru pergi sambil membawa barang cucian mereka. Xin Chen mengepalkan tangan,


"Andai aku tak membunuhnya ini juga tetap akan terjadi di masa depan."


Namun percuma tak ada yang bisa mendengarnya.


Matanya terkunci pada sesosok pemuda lainnya yang sangat mirip dengannya. Hanya saja matanya hitam pekat, dia memakai jubah abu-abu yang terlihat usang. Baru selesai mengambil air bersih. Sosok itu menatapnya juga dan seketika menghardiknya.


"Adik bodoh sialan ini baru kembali!"


Xin Chen awalnya khawatir Xin Zhan akan membencinya atas semua yang telah terjadi, seperti tiga wanita tadi. Namun yang justru saudara kembarnya itu lakukan adalah merangkulnya.


"Kau akhirnya pulang, nakal sekali, asli. Pulang sehari pergi setahun."


"Hahaha, kalau aku pergi memang kau merindukanku?" Xin Chen membalas dengan ejekan.


"Menjijikkan sekali, mau kuhantam kepalamu di pohon kelapa?"


Xin Chen tertawa, "Tapi mana ibu?"


"Sedang memasak sesuatu. Mungkin sebentar lagi Ayah juga pulang, masuklah." Xin Zhan mengajaknya ke dalam, di mana di belakangnya Xin Chen nyaris tak percaya. Dia selamat dari omelan dan pukulan kakaknya yang terkenal garang itu.


"Syukurlah hari ini tidak kena tamparan maut kakak Zhan."


"Ulangi sekali lagi." Xin Zhan mulai gemas.


"Aku cuma bicara dengan batu tadi."


Xin Chen mulai melihat seorang wanita yang tengah meniup api dengan bambu, dapur rumah itu terletak di luar rumah tepatnya di halaman belakang yang langsung berhadapan dengan bibir pantai.


Itu benar-benar Ren Yuan.


"Chen'er?"


Ren Yuan tiba-tiba menghentikan aktifitasnya, melihat putra keduanya pulang. Dia lantas berlari dan memeluknya, tubuh anak keduanya itu selalu saja dingin, seperti biasa.

__ADS_1


"Aku pulang."


__ADS_2