Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 136 - Tumbal dan Neraka


__ADS_3

"Bunyi?"


Xin Chen berpikir sejenak. "Aku akan memikirkan caranya, sebaiknya kita menyusul Lang lebih dulu."


Keduanya bergerak segera mengejar Lang, serigala itu tengah melawan puluhan mayat hidup sendirian. Cabikan dan cakarannya lebih cepat menumbangkan kawanan mayat itu dibandingkan manusia.


Xin Chen berteriak cepat, "Lang, kita kembali ke tengah!"


"Tengah labirin yang penuh dengan siluman itu?"


"Kita harus ke sana!" paksanya. Lang mulai plin-plan antara maju atau mundur, dia akhirnya memilih mundur dan berlari ke tempat di mana pintu raksasa tersebut berada dengan membawa Luo Li bersamanya.


Ketika langkahnya dan Xin Chen sejajar, Lang bertanya. "Apa rencanamu?"


"Suara, Luo Li membutuhkan gelombang suara agar bisa melihat labirin ini. Semakin keras suaranya semakin luas penglihatannya."


Lang tak meragukan kemampuan Luo Li, kalau tidak bagaimana pemuda itu bisa tetap bertarung meskipun dia buta. Penglihatannya memang berbeda dengan orang lain, tapi dia mampu melihat sekitarnya melalui pantulan suara.


Pintu raksasa yang mereka lihat telah ambruk, rusak oleh para siluman. Sekitar sembilan ekor masih berada di dalam, bertarung satu sama lain. Manusia tumpah ruah di dalamnya, sangat mustahil masuk ke sana.


Lang mempelajari situasi di depannya dengan cepat, "Aku bisa memancing mereka."


"Kau yakin?"


"Tidak ada waktu untuk ragu. Percayakan kepadaku."


Xin Chen memberikan sebuah petasan, Lang menggigitnya di mulut. Membiarkan api di ujung benda itu mulai melukai mulutnya.


Seketika perhatian teralih pada Lang. Xin Chen dan Luo Li bersembunyi di tempat yang agak jauh dan bersih dari kawanan mayat hidup.


Jumlah mereka berkurang banyak, ini kesempatan yang Xin Chen tunggu-tunggu. Untuk masuk ke dalam sana. Dia bergegas disusul Luo Li. Menciptakan bola Api Keabadian di tangan kanan dan kekuatan petir di tangan kiri. Tekanan dari kekuatan petir ditingkatkannya ke level paling terakhir. Memacu api di dalamnya.


Listrik dari kekuatan petir itu bertemu dengan Api Keabadian, perlahan-lahan bergesekan dan menimbulkan percikan.


Hingga akhirnya kekuatan petir itu bersatu dengan kekuatan api Keabadian. Dua kekuatan itu tak bisa saling menerima, reaksi aneh terlihat di tangan Xin Chen.


Pemuda itu melepaskannya. Berusaha membawa Luo Li sejauh mungkin. Menciptakan perisai petir sebelum akhirnya ledakan dalam skala besar terdengar. Begitu keras sampai-sampai kembali memancing keributan dari lorong paling jauh. Xin Chen bisa memastikan mereka tak akan aman setelah ini, mereka telah menarik perhatian terlalu banyak.


"Kau melihatnya?"

__ADS_1


Luo Li tak segera memberikan tanggapan. Xin Chen panik saat apa yang ditakutinya benar-benar terjadi.


"Luo Li? Cepat-"


Luo Li mengangkat tangan. "berikan aku waktu dan jangan berbicara. Pantulan suara itu masih bergerak."


Xin Chen terlanjur dikerubungi. Dia menyebarkan Api Keabadian di sekeliling mereka. Api Keabadian setinggi tiga meter itu tak akan bisa ditembus para mayat itu.


Kecuali satu hal.


Satu terkaman nyaris merobek tubuh Luo Li, Xin Chen menghalaunya nyaris tipis sebelum cakar tersebut melukai tabib muda itu.


"Tidak ada, tidak ada."


Wajah Luo Li semakin buruk. "Semua dinding di labirin ini kosong." Dia memperjelas dengan nada gemetar. "Aku sudah mendengar ke tempat yang paling jauh, semua dinding di buat oleh besi tebal, jika ada satu ruangan kosong sudah pasti aku akan menangkapnya. Ini tidak ada ..."


"Cari lagi!"


Xin Chen melemparkan tubuh siluman di depannya ke dinding, Luo Li tersentak.


"Ruang bawah tanah!"


Xin Chen sudah terdesak, tiga siluman datang bersama lautan mayat hidup. Kobaran Api Keabadian semakin membesar. Di balik api tersebut Xin Chen melihat Lang berlari, melompat tinggi dan memasuki lingkaran api Keabadian bersama keduanya.


"Di bawah kaki kita!"


Lang hendak menggali tanah itu, tapi Xin Chen lebih dulu menyuruh mereka menjauh.


Dia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, menyatukan kekuatan api dan petirnya menjadi sebuah ledakan. Meski lebih lemah dari sebelumnya, tapi cukup untuk menewaskan siluman di sekitarnya.


"Sekarang!"


Luo Li segera masuk disusul Xin Chen dan Lang, memasuki sebuah jalan rahasia yang telah tertimbun tanah. Ledakan selanjutnya terdengar kembali, Xin Chen sengaja melakukannya untuk menutup jalan agar mayat hidup itu tak bisa masuk.


Jantung Luo Li masih berdetak kencang.


Dia menyandarkan tubuhnya di dinding tanah, napas berantakan. Sama halnya seperti Xin Chen.


"Seumur hidup, sepertinya malam ini adalah malam paling mengerikan yang prnah ku lalui."

__ADS_1


"Lebih dari malam di Lembah Para Dewa?"


Luo Li menyahut, Xin Chen mengangguk sambil tersenyum pahit.


"Jangan sampai tergigit. Ayah bilang begitu. Itu sangat sulit kulakukan. Bertarung tanpa kekuatan roh dan tak boleh tersentuh oleh mereka." Pemuda itu menggelengkan kepala, tak percaya dirinya baru saja melewati neraka yang selalu dikatakan Xin Fai dan Xin Zhan


"Aku terlalu menganggap enteng omongan mereka. Sial."


"Kenapa, kau merasa tak berdaya? Ada saatnya kau harus kembali ke dirimu yang asli, kau juga manusia. Bayangkan kau bertahan hidup seperti ini."


Kata-kata Lang menusuk batinnya, selama ini dia selalu merasa aman dengan kekuatan roh. Tapi sekarang, menggunakan kekuatan itu hanya akan membawa malapetaka untuk dirinya sendiri.


Xin Chen berjalan paling depan, menyingkirkan reruntuhan yang menghalangi jalan mereka dibantu Luo Li dan Lang. Lang memiliki kemampuan unik semenjak berpetualang sendirian ke Kekaisaran Wei, dia bisa menggali tanah seperti serangga. Dengan cakarnya yang panjang dan kecepatan geraknya hanya dalam beberapa menit lubang terbuka.


Cukup lama mereka berjalan, sampai udara menjadi lebih panas dari sebelumnya. Itu menandakan hari sudah siang di luar sana. Sesekali Xin Chen merasakan getaran di atas sana. Mereka pasti sedang melalui lorong yang semalam hampir membuatnya trauma dengan labirin.


Luo Li sendiri tak mengetahui ke mana jalan ini akan membawa mereka. Sesaat bunyi dentuman di atas langit-langit tanah masuk dalam telinganya. Mereka tiba di satu tempat yang lebih tenang, suara jeritan dan langkah kaki telah menjauh.


"Benar-benar ada ruangan di atas kita-"


Luo Li berhenti melangkah. Memfokuskan indera pendengarannya sekali lagi. "Tidak ada orang."


Xin Chen samar-samar bisa mendengar suara di atas, tak ada manusia.


"Tapi ada satu makhluk," ralat Xin Chen kemudian. Dia memusatkan kekuatan petir di tangan kirinya, membentuk sebuah benda tajam. Xin Chen menyerang langit-langit terowongan, membuat sebuah lubang seukuran tubuh manusia dewasa.


Dia membantu Luo Li naik ke atas, Lang ikut menyusul setelahnya.


Xin Chen memutar badan. Menemukan mereka telah sampai di satu ruangan dengan satu kamar yang telah kosong.


Di pojok ruangan, satu mayat mati terduduk, dinding dipenuhi oleh jejak telapak tangan berdarah. Lalu di lantai tempat mayat itu terbaring terdapat dua tulisan yang tampaknya telah mengering sejak satu tahun yang lalu.


Tumbal dan neraka.


"Tumbal adalah manusia-manusia yang mereka jadikan kelinci percobaan, dan neraka menggambar Kekaisaran ini sendiri."


"Aku tak pernah menyangka keadaan di Kekaisaran Wei akan separah ini."


"Kau pernah melihat neraka?" Lang menyelutuk, Xin Chen membalasnya dengan menggeleng.

__ADS_1


"Kau baru tahu neraka itu ada setelah kau melihatnya. Dia berada di tempat yang tak diketahui."


__ADS_2