Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 196 - Harapan yang Padam


__ADS_3

"Kita harus bergerak lebih cepat dan menemukan Qin Yujin, sebelum mereka menciptakan hal buruk. Kita tak akan bisa menghentikannya lagi jika itu sudah terjadi."


Dia memaksa kakinya berdiri, tak berpikir soal penyakit dan segala hal menyebalkan yang terus mencoba membunuhnya. Dia hanya berpikir tentang Qin Yujin dan wabah besar yang kemungkinan besar akan melanda Kekaisaran Shang jika dirinya tak menghentikan laki-laki itu.


"Sebelum itu ... Bagaimana cara kita keluar dari kota ini?"


Rubah Petir menatap ke depan di mana seluruh jalan tak memungkinkan untuk dilalui, dia bisa saja menggunakan kekuatannya untuk membersihkan jalan. Rubah mengangkat kedua tangannya, hingga dalam detik berikutnya aliran listriknya yang amat kencang menggetarkan seisi kota. Mendung menghiasi langit, disertai petir yang terus bergemuruh hebat.


Jika Xin Chen tak bisa menangani hal ini, Rubah Petir akan turun tangan langsung. Xin Chen menyesali mengapa tubuhnya itu sangatlah lemah, serba salah baginya bertarung melawan terinfeksi. Memakai tubuh roh kekuatan itu langsung mengamuk, memakai wujud manusia penyakit gila sedang mencoba membunuh otaknya.


Fu Hua memapah Xin Chen, melihat jauh ke depan di mana petir yang amat dahsyat jatuh ke bumi bertubi-tubi. Aliran listrik tersebut menyambar genangan air, menyetrum ratusan dari mereka. Lalu kunang-kunang bercahaya berterbangan di seluruh kota. Ledakan demi ledakan bertalu-talu, cipratan darah tak hentinya membasahi jalan yang dikerumuni oleh kawanan tersebut. Ketika terinfeksi itu sedang berhenti, dia segera berteriak. "Sekarang, lari!"


Fu Hua berlari memapah Xin Chen, mengikuti Rubah Petir dari belakang tanpa berani melihat ke belakang di mana satu per satu terinfeksi yang melihat mereka mulai mengejar dengan beringas. Xin Chen masih kehilangan sebagian kendali atas tubuhnya dan hanya bisa berlari sebisanya.


Rubah Petir menunggu Fu Hua masuk ke dalam pintu belakang sebuah rumah dengan tembok batu. Menutup pintu rumah tersebut ketika segerombolan terinfeksi datang mengejar mereka. Ketiganya menarik napas berat. Namun belum sempat melangkah lebih jauh, satu mahluk lainnya muncul menandai bau mereka. Langsung mengejar dengan suara berisik yang terus bersusulan.


Xin Chen melepaskan tangannya dari Fu Hua, melepaskan kekuatan roh yang dengan cepat membungkus tubuh mayat tersebut. Beberapa detik kekuatan roh mengamuk sampai kegelapan kembali ke tubuh Xin Chen. Tak menyisakan seujung jari pun dari mayat terinfeksi tadi.


Xin Chen dapat merasakan sesuatu mengalir dalam tubuhnya, denyut nadinya tak pernah berhenti menyalurkan rasa sakit tiada ampun. Namun setidaknya kini mereka aman, para terinfeksi itu tak akan mungkin bisa masuk dari pintu besi tebal.


Ada keganjilan yang terlihat ketika mereka melewati lorong rumah tersebut. Tak seperti rumah terbengkalai yang telah ditinggalkan bertahun-tahun, Xin Chen melihat beberapa jejak kaki yang masih tercetak jelas. Bekas noda lumpur yang mengatakan bahwa seseorang baru-baru ini juga masuk ke rumah yang sama.


"Ada orang di sini." Xin Chen menyentuh dinding batu, darah menempel di telunjuknya.


"Sebaiknya berhati-hati," timpal Fu Hua. Menyadari banyak tanda-tanda kehidupan di rumah yang telah kosong tersebut. Setiap bagian ruangannya tak diisi apa pun, benar-benar kosong melompong. Berjalan tak begitu jauh, mereka tiba di pintu depan. Rubah menyelutuk, "Jalan di depan, kena pintu depannya malah ke belakang. Yang membuat rumah ini pasti telah kehilangan kewarasannya."


Dia membuka pintu, terkejut oleh suara manusia yang sejak tadi didengarnya ternyata bukan suara dari terinfeksi. Melainkan benar-benar manusia hidup. Tapi Rubah Petir tak bisa langsung percaya dengan siapa pun, di situasi kritis seperti ini manusia bisa lebih beringas dari binatang.


"Mundur."


Rubah itu menahan Xin Chen yang terus berjalan maju.


Tempat itu sendiri seperti sebuah tempat persembunyian yang khusus dibuat untuk mempertahankan diri dari serangan terinfeksi. Bagian depan rumah yang mereka lewati adalah pintu gerbang untuk masuk ke pengungsian tersebut. Di mana setiap rumah saling dihubungkan membentuk satu lingkaran. Dipagari oleh kayu, seng, besi dan apa pun dengan tinggi sekitar empat meter. Membentengi mereka dari serangan luar dan juga menyembunyikan mereka jika sewaktu-waktu prajurit Kekaisaran datang.


"Chen ..."


"Akhirnya aku menemukan kalian." Xin Chen menahan tangan rubah yang saat itu kebingungan, tapi mungkin dari gelagatnya dia yakin Xin Chen mengenal siapa-siapa orang di pengungsian tersebut. Keadaan mereka tak bisa dibilang baik.


Para lansia sekarat di salah satu rumah, kelaparan dan juga penyakitan. Mereka yang muda-entah itu laki atau perempuan penuh luka dan darah. Duduk saling diam merenungi nasib yang semakin memburuk. Sejauh apa pun berjalan, perjuangan yang mereka lakukan untuk mengejar setiap kemungkinan kecil selalu berakhir sia-sia.

__ADS_1


Di antara mereka, salah seorang remaja datang dan langsung memeluk Xin Chen. Ian, anak remaja laki-laki yang ketika pembantaian terjadi di Perkemahan Tenggara memotong lidah sendiri dengan menggigitnya.


Hanya dia anak yang selamat. Karena dianggap sudah cacat, Ian tak diambil para peneliti.


Dia menangis, meracau sesuatu yang tak bisa dipahami. Tapi Xin Chen tahu apa yang terjadi pada orang-orang Perkemahan Tenggara.


"Ke mana anak-anak kecil?"


Yu menahan isak tangisnya, di antara semua orang dia adalah wanita yang kuat. Tapi keadaan saat ini sudah jauh di luar kuasanya. Suara wanita itu bergetar saat menjawab. "Dijadikan bahan percobaan. Mereka dibawa ke laboratorium baru. Mereka mengembangkan virus baru dan kami tak bisa menghentikan mereka selain berlari terbirit-birit seperti pecundang ..."


Baju Yu penuh dengan darah, tubuhnya sendiri trluka parah. Bibirnya kering dan pucat, matanya menyimpan kehancuran yang begitu mendalam. Perkemahan Tenggara yang telah lama dijaganya, hidup damai dan aman di bawah perintahnya seketika hancur dalam satu malam ketika puluhan prajurit yang membawa dua peneliti datang. Mengambil anak-anak kecil tak bersalah, merenggut sang buah hati dari ibu mereka.


Sudah jelas nasib anak kecil itu seperti apa. Mereka hanya akan berujung kematian. Sebelum menikmati indahnya kehidupan yang sebenarnya, tanpa perang, wabah dan penyakit. Xin Chen berjongkok menghadap Ian.


"Tak apa, aku di sini. Aku tak akan membiarkan kalian berjuang sendirian ..."


"Kita salah mempercayainya!"


teriak salah satu wanita, dia adalah seorang ibu yang telah kehilangan anaknya, wajahnya kalap memandang Xin Chen kala itu.


"Seharusnya kita membunuh laki-laki biadab itu, bukan malah memberinya kepercayaan untuk memimpin. Sekarang aku justru berpikir Kaisar Shi sebelumnya lebih baik hati daripada yang sekarang ..."


"Ini salahku. Aku mempercayai Shi Long Xu, berpikir dia adalah orang yang tepat untuk mengembalikan keadilan dan keselamatan Kekaisaran Wei. Aku membantunya menjadi seorang pemimpin. Dan inilah yang terjadi."


Yu mendekat, "Tidak, ini bukan salahmu. Semua orang di luar sentral juga berpikiran sama sepertimu. Kami memercayainya sampai-sampai berita dia menjadi Kaisar adalah satu-satunya berita baik yang pernah kami dengar dalam tujuh tahun terakhir ...."


Lian memeluk lututnya sendiri di dekat api unggun yang hanya tersisa kayu dan abu. "Aku mulai berpikir tak ada pemimpin yang bisa dipercayai di Kekaisaran ini." Dia menatap Xin Chen, "Aku juga khawatir suatu saat kau akan berkhianat pada kami. Lalu ... Siapa yang mau membela kami? Apa seharusnya takdir kami memang mati saja? Untuk apa berjuang susah payah-"


"Itu tidak benar!" Fu Hua tiba-tiba berteriak. Napasnya memburu, dia menatap semua orang-orang Perkemahan Tenggara sedih. "Kalian tidak boleh menyerah semudah itu. Kalian semua berhak untuk hidup. Kita hanya perlu berjuang untuk merebut kembali apa yang telah mereka ambil."


"Berhak hidup sebagai hewan ternak maksudmu?" Shuo dari kejauhan melemparkan pisaunya ke bidikan berupa jerami yang dipasangkan seragam prajurit Kekaisaran Wei. Dia selalu melakukan hal yang sama semenjak belakangan ini.


"Tiga sudah tidak ada, aku yakin kau bertemu dengannya di luar." Shuo mendekati Xin Chen, memberikan tatapan tajam.


"Pesan terakhirnya adalah untuk menjaga orang yang tersisa dari kami. Tapi sekarang kami kelaparan. Tidak ada makanan apa pun di kota ini. Dan kau lihat sendiri di luar sana?"


"Apa yang terjadi di luar? Jumlah mereka sangat banyak." Rubah Petir bertanya, Shuo melirik ke arahnya sebelum menjawab.


"Tahu Labirin Kematian? Di situ tempat ratusan ribu terinfeksi dibuang. Terakhir kali jumlahnya tak lebih dari dua ratus ribu. Data terakhir mengatakan mereka bertambah jadi tiga ratus ribu." Shuo menarik ujung bibirnya, miris. "Muatan itu terlalu besar. Lalu sebagian dari terinfeksi itu dilepaskan membanjiri jalan kota. Kota ini adalah kota yang diasingkan. Anggap saja, itu Labirin Kematian. Maka ini adalah Kota Kematian. Kau tak akan mencapai kota yang lebih aman tanpa melalui jembatan."

__ADS_1


Shuo menjelaskan dengan rinci. Kota tempat mereka berada dipisahkan oleh satu sungai besar yang dihubungkan lewat jembatan. Jembatan itu telah diangkat oleh petugas yang menjaganya. Tak ada kesempatan menyebrangi sungai tersebut, perahu pun tidak ada.


Sedangkan kota sebelum ini sama berbahayanya dengan yang mereka tempati. Mereka terjebak, bisa dibilang begitu. Kini Xin Chen baru tahu bahwa mungkin saja Shi Long Xu yang memberikan perintah untuk melepaskan terinfeksi itu. Dia sudah gila, akalnya mungkin telah hancur sejak kematian ayahnya.


Xin Chen ingin tahu, apa yang dipikirkan laki-laki itu. Bukankah dia telah melihat semua yang terjadi di Kekaisaran Wei? Harusnya dia merasakan kesedihan seperti yang orang luar sentral lakukan.


Dan semua pembodohan yang dilakukan Shi Long Xu selama ini sangat lihai.


"Tapi setidaknya bukan hanya kita yang merasakan krisis ini. Orang di dalam sentral juga merasakan hal yang sama. Jika kau datang ke tempat itu, aku yakin kau tak akan melihat perbedaan antara dalam sentral atau luar sentral. Setidaknya sekarang lebih adil. Kami menderita, maka mereka harus menderita."


"Keadaan Kekaisaran ini semakin memburuk dari hari ke hari."


Xin Chen tak habis pikir. Kembali menyesali apa yang telah terjadi.


"Lalu mengapa kau kembali jika kau tahu ini akan bertambah makin parah?"


Xin Chen menanggapi pertanyaan Yu, ada kemarahan yang tersirat di dalamnya. "Untuk membunuh Shi Long Xu, dia telah mengkhianati semua orang. Aku yang telah membantunya naik ke atas awan, maka aku pula yang akan membantingnya ke dasar bumi."


Yu bangkit, "Kau serius?"


"Teman-temanku di sini juga datang untuk membunuh otak lain yang akan menciptakan kesengsaraan lebih besar. Qin Yujin."


Yu meninju bahunya. "Kalau begitu, sebaiknya kita bersatu dengan para pembelot. Mereka memiliki persenjataan yang lebih lengkap. Tapi kami terpisah, mereka berada jauh dari sini."


"Kau ingin membawa orang-orang ini ke tempat mereka?" Rubah Petir menyangsikan hal itu. Yu yang tak begitu tahu siapa sosok siluman di balik tudung jubah abu-abu itu menjawab kikuk. Kemarin Xin Chen membawa Lang, seekor serigala dan sekarang telah berganti menjadi seekor rubah.


Dan kelihatannya lebih judes dari siluman sebelumnya.


"Apakah ada pilihan lain? Kita tak bisa bertahan hidup tanpa makanan dan minuman."


"Tapi ini adalah tempat yang aman dari serangan terinfeksi ..." Fu Hua ikut menguatkan argumen sang rubah.


Xin Chen membuang napas perlahan, tak mungkin menempatkan para lansia dan orang yang sudah terluka dalam situasi berbahaya. Mereka hanya akan berkurang banyak.


"Beritahu aku tempatnya, aku akan mencari dan membawa mereka ke sini. Tempat ini cukup besar untuk menampung orang banyak."


"Lalu bagaimana dengan persediaan makanan?" Pertanyaan lain menyusul. Xin Chen menjawab. "Tidak perlu khawatir, aku akan mencarinya. Selagi itu sembuhkan luka kalian dan perbaiki markas ini. Ada beberapa titik dengan pertahanan yang lemah."


Keputusan yang cukup sulit. Yu tak memiliki pilihan lain dan hanya bisa percaya dengan Xin Chen. "Baiklah. Tapi ini sudah hampir malam. Sebaiknya tunggu pagi datang, kami masih memiliki sedikit persediaan makanan. Istirahatlah dan makan dulu."

__ADS_1


__ADS_2