Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 166 - Diapit Kematian


__ADS_3

Timbunan kayu dan besi tajam melukai tubuh Lang, bahkan salah satu menancap di pahanya. Serigala itu bangkit segera, menyadari situasi memburuk di sekitar. Tetesan air hujan di atasnya membasahi ruang tamu rumah tersebut. Tikus-tikus mulai berjalan ke arahnya, pintu yang setengah terbuka tak jauh dari sana telah hancur. Para terinfeksi masuk belangsak, mengejar Lang. Serigala itu merunduk, bersiap berlari dengan kecepatan terkuatnya menerjang para kawanan terinfeksi itu.


Tapi baru beberapa langkah berlari, Lang langsung mundur melihat Terinfeksi Tipe S yang menjadi mimpi buruknya justru turun dari atap dan hendak memburunya. Perkara pelik, Lang bahkan tak yakin bisa selamat.


Keadaannya kian terjepit, Lang mundur sampai tak ada tempat lagi untuk mundur. Dia bahkan mulai menyinggung kawasan tikus yang langsung menyerbunya tanpa ampun. Lang melawan balik, menggigit para tikus sampai mulutnya penuh oleh darah busuk. Marabahaya mendekat, Lang bahkan tak sempat melihat ke depan karena terus digigit oleh tikus tersebut.


Tangan lengket terinfeksi itu mulai mengincar leher Lang, serigala itu meraung kesakitan. Tikus yang menyerangnya makin mengganas, jika tetap begini Lang yakin dalam hitungan jam tubuhnya hanya akan tersisa tulang belulang.


Sebuah tali tipis serupa benang biru menyebar cepat, jumlahnya begitu banyak. Benang-benang itu membentuk satu tangan raksasa, mencengkram puluhan terinfeksi dalam satu genggaman dan meremukkan mereka sekaligus.


Darah dan potongan tubuh pecah ruah, Lang menyadari para tikus itu terbakar oleh api yang mulai membakar lantai rumah tersebut. Lang tahu api itu tak akan melukainya. Tapi tetap saja ketika sebuah penjara api mengelilingi tubuhnya, Lang tak bisa tenang.


Dari balik kobaran api tersebut, Lang dapat melihat kekuatan Api Keabadian sekaligus kekuatan petir bertubrukan di dalam tubuh para terinfeksi. Mereka meledak satu per satu, menampakkan pemandangan mengerikan yang seumur-umur tak pernah Lang lihat.


Ratusan manusia itu meledak dengan kekuatan Xin Chen, beberapa dari mereka dicabik-cabik oleh tangan api raksasa. Xin Chen menyelamatkan Lang secepatnya. Sampai Lang dapat naik kembali ke atap mereka melanjutkan perjalanan sampai ke atap menara paling tinggi di desa itu. Lang menyerang dua terinfeksi yang entah bagaimana cara ada di sana. Menendang mereka sampai jatuh ke bawah.


Para terinfeksi di bawah sana telah kehilangan jejak mereka, hujan masih terus turun bahkan bertambah kuat semenjak beberapa menit terakhir. Xin Chen baru bisa menarik napas lega, tapi di sisi lain matanya mulai buram.


Melihat wajah Xin Chen begitu pucat, Lang langsung mengeluarkan obat pemberian Luo Mei. Memberikannya pada Xin Chen secepat mungkin sebelum pemuda itu mulai berulah.


"Kau tak apa?"


"Sepertinya ..."


Lang menarik napas lega, tapi lanjutan dari Xin Chen membuatnya kesal.


"Sepertinya tidak."


"Sebenarnya kau tahu kapan perilaku abnormal itu keluar? Aku curiga, saat kau kelelahan atau terlalu banyak pikiran, kau akan kehilangan kendali."


"Tidak tahu, tapi tadi aku menggunakan kekuatan secara berlebihan dan merasa tidak bisa bernapas."


Xin Chen memperhatikan tangannya, masih normal. Beruntung Lang sigap memberikannya obat. Dia berdiri dengan menopang tangannya di atas lutut, menyapu pandangan ke seluruh penjuru desa yang tampak suram. Sepanjang pendengarannya, Xin Chen hanya mendengar bunyi decitan tikus, suara lalat tengah menggerayangi mayat dan para terinfeksi serta siluman percobaan yang memenuhi tiap ruas jalan.


Xin Chen memerhatikan lebih jauh, ke arah di mana seharusnya Laboratorium A-3 berada. Tapi tampaknya ditutup oleh bangunan besar dan perumahan. Xin Chen tak menemukan apa pun. Dari peta yang didapatkannya pun, letak Laboratorium A-3 sama sekali tak tertulis.


Lang mendengus, mata emasnya berpusat pada ramainya jalanan di bawah sana.


"Kita tak akan bisa turun jika terinfeksi tingkat tinggi itu masih ada di sana."


Xin Chen juga menangkap hal yang sama. Dia mengeluarkan panah petir, mengalirkan lebih banyak kekuatan tersebut daripada Api Keabadian di ujung panah. Dari jarak yang terbilang jauh, panah itu menancap tepat di dahi terinfeksi tersebut.


Mahkluk itu mencari-cari, tak menemukan apa pun. Panah tersebut meledakkan kepalanya, menghancurkan bagian muka sampai tulang rahangnya terlihat. Dia masih berdiri. Xin Chen mencari tempat paling strategis untuk membidik, melepaskan anak panah yang melesat kencang menghantam area batang hidungnya sampai kepala belakang.


Ledakan kedua menumbangkan terinfeksi itu langsung, tubuhnya ambruk dipijak terinfeksi lain. Xin Chen mencari Terinfeksi Tipe A yang sempat mengejar mereka dan membuat keduanya langsung diserang oleh mereka. Berhasil menemukan posisinya, Xin Chen mengarahkan anak panah.


Dia mencoba membidik di tempat yang sama seperti sebelumnya, area batang hitung. Tembakan itu berakhir dengan ledakan yang memecahkan seisi otak terinfeksi itu. Dan benar saja, dia langsung tumbang.


Kini Xin Chen tahu kelemahan mereka. Setelah sebelumnya Api Keabadian pun membutuhkan waktu sampai puluhan menit untuk membakar satu saja, sekarang gabungan kekuatan petir dan api Keabadian dapat membunuh mereka hanya dengan satu atau dua tembakan.


Xin Chen mendapatkan ide itu dari sebuah senjata yang mekanisme hampir sama dengan panah tersebut. Ledakan yang menghancurkan secara langsung di satu titik. Jika membakar mereka, bagian otak mayat itu masih mampu bertahan dari panas dan membutuhkan waktu yang terbilang lama.


"Mendapatkan senjata baru yang bagus, eh?" Lang merapat ke ujung, berdiri di sisi Xin Chen sembari membuang pandangan jauh.


Mungkin kiamat sudah datang lebih cepat di tanah ini, sehingga para manusia di dalamnya mati mengenaskan. Atau ini adalah hukuman atas perbuatan mereka sendiri, Lang tak mampu menebak dari mana asal muasal penderitaan mereka. Hanya saja sudah tentu dalang di balik ini semua adalah manusia yang sudah terlampau pintar sampai kebengisannya jauh melebihi binatang yang menciptakan penyakit mematikan.

__ADS_1


Apa pun dalang di balik ini semua, Lang masih yakin Kekaisaran ini akan membaik-suatu saat nanti, dia memalingkan pandangannya ke Xin Chen yang sama sepertinya sedang memerhatikan jauh. Tak tega melihat banyak manusia tak bersalah menjadi korban.


Hujan baru mau berhenti ketika tiba di perempatan malam, awalnya Lang menolak sebab Xin Chen ingin langsung bergerak. Peluang bahaya makin besar, Xin Chen sudah tahu itu, tapi mereka hanya punya waktu dua hari untuk menemukan Taring Rusa Keledai yang dimaksud Luo Mei.


Sampai detik di mana Xin Chen benar-benar turun, Lang yang tak bisa mencegahnya hanya bisa ikut. Seperti yang dikatakannya, dia sudah terlalu tua untuk berdebat dengan manusia kepala batu sejenis Xin Chen.


Suara bising di desa yang telah tak berpenghuni ini seakan-akan tak berjeda. Xin Chen tiba di salah satu rumah yang lebih mirip seperti rumah pemotongan daging. Banyak sisa bangkai kambing dan sapi digantung di dalamnya. Tapi di antara tempat lain, hanya rumah itu yang paling bersih dari terinfeksi.


Mereka masuk, berjalan hati-hati sampai mendadak langkah keduanya tertahan. Xin Chen mundur begitupun dengan Lang, hanya beberapa puluh meter di depan yang terhubung dengan tempat penangkaran hewan, beberapa pria berzirah berkumpul. Mereka memiliki jalur aman tersendiri yang memisahkan dari jalur para terinfeksi. Jumlahnya sekitar empat orang.


Mereka menggeret sebuah gerobak berisi mayat manusia, membuangnya di dalam rumah luas tanpa perabotan di dalamnya. Lalu pergi begitu saja.


Xin Chen tetap melihat ke dalam walau hidungnya serasa ditusuk oleh bau bangkai yang menyengatnya makin menjadi-jadi. Menyaksikan kepunahan manusia sekaligus kebrutalan wabah di Kekaisaran Wei.


Banyak laki-laki, perempuan bahkan sampai balita dibuang di sana hingga tempat itu nyaris penuh oleh tumpukan mayat. Ulat dari tempat itu bergerak-gerak di bawah kakinya, sangat banyak. Tengkorak dan tulang tenggelam oleh lautan darah yang cukup dalam. Bercampur aroma daging busuk dan amis, udara di desa itu mungkin sudah tidak layak lagi dihirup.


Ketika Xin Chen hendak membalikkan badan, dia dikagetkan oleh suara seorang anak kecil. Meraung-raung meminta pertolongan, tangannya mengais darah dan daging yang terbengkalai di tempatnya dibuang. Sesekali terdengar tangisan pilu menyayat hati.


Lang mendekati sumber suara, tingginya darah dan timbunan membuatnya seolah-olah hampir tenggelam. Xin Chen bergerak ke arah yang sama, berpikir dapat menyelamatkan satu orang dari ribuan manusia malang di pembuangan itu.


Dia menemukan seorang anak laki-laki kecil, berusia sekitar delapan tahun dan bahkan belum bisa berbicara dengan benar. Menangis dan menjerit semakin kuat ketika melihat ada seseorang yang datang.


"Tolong ... Tolong selamatkan aku ... Aku tidak sakit. Kumohon, tuan, atau siapa pun di sana ...! Keluarkan aku dari sini!"


Erangan sekarat itu semakin membuat hatinya berdenyut sakit, Xin Chen tak bisa melakukan apa pun. Anak kecil itu merangkak sebisanya untuk mendekatinya. Isakan tangis berderai kencang, anak kecil itu begitu takut akan kematiannya sendiri.


Tangan Xin Chen terulur, dia mengangkat tubuh yang hanya tersisa setengah itu. Menatap mata penuh darah sang anak kecil, tangisan ketakutannya telah berhenti.


"Kau aman bersamaku. Jangan menangis."


Suara anak kecil itu melemah, dia memuntahkan darah sangat banyak, air mata darah turun deras membasahi kedua pipinya.


"Ayah ... ada di mana? Apakah dia selamat ...? Kau melihatnya, Tuan? Di-dia mungkin masih selamat di antara tumpukan it-"


Belum menyelesaikan omongannya, anak kecil itu kembali muntah.


Xin Chen tak bisa melakukan apa pun, dia tak bisa menyelamatkannya meski sangat ingin. Salah satu korban akibat kejahatan manusia itu harus menelan pahitnya penderitaan. Dia bernapas tak karuan, ajalnya mendekat tapi anak kecil itu berusaha bertahan meski tak tahu apa yang terjadi.


"Tu-tuan, tolong selamatkan aku ..."


Tubuhnya yang sudah mati rasa mulai membawa rasa sakit yang dahsyat.


"I-ini sakit ..."


"Aku akan membawamu ke sebuah tempat, kau tidak akan sakit. Di sana ada taman bunga yang bermekaran. Kau tak perlu ketakutan lagi. Kau mau ke sana?"


Mata penuh darah itu melebar, sisa tangisnya terdengar. Dia sesenggukan menjawab. "Mau ...."


"Tapi kau harus menahan sakit beberapa detik. Aku hitung, ya. Satu, dua ..."


Xin Chen melihat kepolosan di mata itu, mulai ragu untuk melakukannya. Dia membakar tubuh yang hanya tersisa sampai sepinggang itu. Menyelesaikan penderitaan anak kecil tersebut. Sekitar lima detik, tubuh tersebut telah menghilang dari tangannya.


Lang juga tak tahan akan tragisnya keadaan di desa ini, mungkin bukan hanya anak kecil itu saja yang mengalami hal demikian.


"Pastikan kau tak tertular penyakit apa pun di tanganmu."

__ADS_1


Darah anak kecil di tangannya telah hilang tak bersisa. Xin Chen dan Lang melewati genangan darah itu, mendekati satu rumah yang langsung terhubung dengan tebing yang tak begitu tinggi.


Keduanya berhenti ketika melihat pemandangan alam lepas di depan sana. Hamparan tanah dengan rumput selutut, beberapa rumah kayu dan sisa tombak terbuang di sana.


Tapi alam lepas yang ada di depan mereka bukanlah sebuah pemandangan indah dengan bunga-bungaan atau hewan yang berlarian ke sana kemari.


Tetapi sebuah pembuangan mayat berskala besar, ratusan kali lipat lebih banyak daripada rumah sebelumnya. Dan di antara mayat itu, banyak ditemukan siluman terinfeksi kelaparan yang sibuk menyerang mayat hidup. Di tambah lagi banyak terinfeksi tipe A berkeliaran di sana.


Ketika mengingat lagi ternyata sumber suara lalat yang mendengung bahkan dari kejauhan serta bau busuk itu berpusat dari tempat ini, Lang sampai ragu apakah mereka benar-benar menempuh jalur tersebut.


Tapi dia melihat sebuah tempat serba putih sangat berbeda dibandingkan pemukiman kumuh di tempat tersebut, menandakan bahwa mereka sudah dekat dengan tujuan.


Laboratorium A-3 sama seperti yang dikatakan Luo Mei, dikelilingi banyak terinfeksi. Keadaannya semakin parah dari tahun ke tahun, para mayat dari seluruh penjuru Kekaisaran Wei dibuang ke sana.


Bukannya menyelesaikan masalah, tindakan itu malah membawa penyakit baru. Xin Chen tak heran lagi mengapa muncul begitu banyak penyakit usai satu wabah keluar. Cara mereka mengatasi mayat ini saja sudah mengundang masalah lainnya.


Ketika itu gerimis datang saat langit pagi masih begitu gelap. Sudah hari kedua sejak kepergian mereka dari Kuil Hujan. Itu artinya Xin Chen tak memiliki waktu banyak lagi.


"Kita terobos?" Xin Chen bertanya padanya.


"Terobos sajalah." Lang kini mulai bersiap, kilau emas di matanya berkilap terang. Kekuatan cahaya dari tubuh serigala itu keluar, dia jarang memakainya kecuali jika diperlukan. Cakar serigala itu memanjang tajam, satu cakaran saja mampu membuat kepala manusia lepas. Sementara itu, Xin Chen menyiapkan serangan kejutan.


Target mereka adalah pintu masuk Laboratorium A-3, pintu itu setengah terbuka. Jika pun ada terinfeksi di dalamnya, setidaknya mereka tidak harus berhadapan dengan ribuan makhluk mengerikan itu di luar Laboratorium.


Kekuatan petir muncul, bersama awan hujan yang mulai mendunh yang telah mendominasi langit semenjak malam. Hujan Petir mulai mengintai ribuan terinfeksi di bawah.


Tepat ketika Xin Chen melangkahkan kakinya, Hujan Petir jatuh menyetrum para terinfeksi di sepanjang jalan. Lang menyerang buas, membunuh lima Terinfeksi hanya dengan satu tendangan biasa. Serigala itu bergerak maju di depan Xin Chen, mengigit leher mayat tersebut dan melemparkannya. Dia mencakar yang lain, membukakan jalan agar Xin Chen bisa masuk.


Jantungnya seperti dipacu cepat ketika para terinfeksi tipe B ke atas mulai mengincarnya dari berbagai sisi. Pintu laboratorium msih jauh dari jangkauannya. Xin Chen menyalurkan kekuatan petir disusul oleh kobaran api yang mulai bergerak membakar tanah di sekitar.


Para Terinfeksi telah berada di depan mereka, Lang tak memiliki pilihan untuk mundur. Xin Chen tiba-tiba berteriak, "Merunduk!"


Dan dua detik setelahnya, hujan darah turun. Lang merinding ketika satu bola mata terlempar di mukanya. Tubuh tersebut berceceran, sampai akhirnya mereka sampai ke Laboratorium A-3 sebelum terinfeksi lainnya mendekat.


Xin Chen menutup pintu secepat mungkin, menarik napas sedalam-dalamnya dan berusaha menstabilkan detak jantungnya. Dia menjernihkan pikiran sebisa mungkin lalu memulihkan beberapa bagian tubuh yang terluka.


Mimpi buruk kalau berhadapan dengan terinfeksi itu. Mereka jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah Xin Chen temui. Kalau disuruh berhadapan dengan ratusan ribu prajurit Kekaisaran Qing atau satu terinfeksi Tipe S. Dia memilih menghadapi para prajurit. Terinfeksi itu tak ada ampun, sekali dia tergigit habis sudah. Seperti sekarang ini, kadang-kadang dirinya kehilangan kendali.


Saat sekiranya sudah tenang, baru Xin Chen mengangkat wajah.


Dan seperti disambar petir, Xin Chen hanya bisa terpaku ngeri dengan keadaan si dalam Laboratorium A-3. Tak kalah buruk dengan di luar.


Kini antara mereka dengan lautan terinfeksi itu hanya dibatasi oleh satu kaca.


Retakan menjalar sedikit demi sedikit, wajah-wajah mengerikan itu kembali membuatnya panik. Xin Chen bagai dikepung di kedua sisi. Di balik pintu atau di depannya, para terinfeksi itu sama-sama menghimpitnya dalam satu ruangan kecil.


***


🙎‍♂️🙎🏻‍♀️: Thor kok update-nya satu doang sih?


Itu per chapternya kadang bisa 1500 sampe 2300 kata lebih, sama kayak 2 chapter tapi digabung hhe. Kadang thor up banyak2 mumpung mood q.q biasa tengah malam nulis, klo kebablasan bisa sampe subuh


*Akhirnya jadi sakit pinggang gara2 kelamaan duduk, biasa faktor U😆


Kasih tau obat sakit pinggang lah we, syedih atuh aowkaowk(༎ຶ ෴ ༎ຶ)

__ADS_1


__ADS_2