Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 78 - Apa yang Kau Sesali?


__ADS_3

Pertarungan yang tak pernah diharapkan terjadi, Xin Chen yang biasanya masih memiliki harapan untuk bertahan dari lelaki itu hampir tak berdaya. Antara memang perbandingan kekuatan di antaranya keduanya terlalu besar, kekuatannya hampir habis dan hatinya masih berduka atas kematian Lan An.


Untuk kesebelas kalinya, serangan tajam dari tusukan pedang roh menembus dadanya. Lalu menyerap begitu banyak kekuatan Xin Chen. Roh Dewa Perang kembali melemah dan mengakibatkan dia sering kali jatuh dalam pertempuran melawan Naga Kegelapan. Bahkan kini roh itu lebih memilih untuk terus menghindar daripada memberikan serangan. Karena takut sisa kekuatan Xin Chen tak akan bertahan jauh lebih lama jika dia terus-menerus menggunakannya.


Di antara semua itu, Huo Rong baru saja berhasil menemukan Dewi Api yang kini melayang di atasnya tak begitu jauh. Dia berteriak memaki.


"Apa yang kau lakukan, perempuan sialan?!"


"Oh-apa? Kau tidak lihat sebuah perpisahan yang begitu mengharukan?"

__ADS_1


"Wanita berengsek! Kau masih sama saja, tidak punya hati. Aku tahu kau yang menahan Xin Chen agar tidak bisa menyelamatkan pamannya."


Dewi Api mendesis sinis, binar terang api di matanya sebentar berkilat penuh hawa pembunuh lalu tak lama setelahnya dia kembali tenang seperti biasa. "Luka itu membuat manusia lebih kuat, asal kau tahu."


"Kau justru ingin membunuhnya!".


"Apakah terlalu kelihatan? Hahahaha!" Nyaring suara cekikikan dari wanita itu seolah-olah membakar kedua telinga Huo Rong, wajahnya padam akan amarah yang mungkin akan meledak dalam hitungan detik lagi. Benar saja, dalam beberapa saat kemudian siluman itu berhasil mengubah kedua kakinya menjadi kaki siluman dan memungkinkannya untuk meloncat tinggi.


Tapi apa yang Huo Rong dapat justru menempatkannya dalam masalah.

__ADS_1


Dengan tinju api, wanita itu menghempaskan tubuh Huo Rong hingga tertimbun dalam tanah. Retak bebatuan bergerak ketika Huo Rong berniat keluar dari sana, tapi segera sebelum dia benar-benar bisa berdiri tegak, Dewi Api telah menapak di tanah. Bahkan ketika dia benar-benar menyentuh bumi, langsung saja api merah miliknya menyebar ke segala penjuru. Seperti halnya akar tanaman merambat, bergerak ke segala arah membentuk cabang-cabang.


Lalu di sana, Huo Rong terperangkap dalam penjara api dan wanita dengan mata yang menyala-nyala oleh kobaran api pula.


"Sepertinya sudah saatnya aku menghabisimu dan mencari pengganti untuk kekuatan api ini. Kau tahu, kau terlalu lemah untuk itu. Bukankah lebih bagus naga ini yang memilikinya? Tubuhnya jauh lebih tahan, dan kekuatannya jauh di atasmu."


Dewi Api mengangkat sebelah tangannya, menciptakan sebuah api di sana sambil tersenyum miring. "Sepertinya kau terlalu terlena dengan kekuatan yang kuberikan. Dia sudah mencabutnya darimu, lalu untuk apa kau masih hidup? Bahkan singa yang sudah kehilangan taringnya akan malu meneruskan hidupnya. Kekuatan adalah harga diri bagi kalian, bukan? Lalu apakah kau tidak punya rasa malu sehingga ingin meneruskan hidupmu yang menyedihkan itu?"


Gelang api telah melilit leher Huo Rong, Huo Rong menarik gelang itu dan mulai merasakan sakit yang telah lama tak pernah dirasakannya. Rasa sakit ketika segaris api saja dapat membuatnya kesakitan luar biasa.

__ADS_1


"Apa yang kau sesali? Dan bukankah kau sudah bersumpah pada dirimu sendiri tak akan turun tangan lagi terhadap manusia? Apa kau sedang menjilati ludahmu sendiri?"


Wanita itu terus berbicara. "Kau adalah makhluk paling menyedihkan di bumi ini."


__ADS_2