Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 95 - Hawa-hawa Panas


__ADS_3

Dalam perang yang mengubah Kota Renwu menjadi lautan berdarah. Xin Chen pernah kehilangan Xin Fai. Dia berusaha mengejar ketika Qin Yujin membawa laki-laki itu pergi bersama Naga Kegelapan. Apa yang didapatkannya hanyalah tangisan dan kehancuran. Hingga dirinya berakhir mengurung diri dalam lautan api yang begitu panas.


Hawa-hawa panas di jalan yang begitu luas membuyarkan lamunan Xin Chen. Dia takut untuk mengejar, dan berakhir sama seperti sebelumnya.


Namun perkataan Ye Long kala itu tiba-tiba terngiang di telinganya.


"Ayahmu pasti bisa diselamatkan. Jangan pernah lepaskan dia lagi. Berjanji padaku. Rasa kehilangan itu menyakitkan."


Xin Chen memberanikan diri untuk melangkah, selangkah, dua langkah hingga dia berlari semakin cepat. Ketakutannya hilang ketika matanya menangkap sesosok naga hitam ikut berlari di sampingnya.


"Ye Long?"


"Aku tak akan membiarkanmu berjuang sendirian, majikan! Rrraghh!"


Xin Fai yang masih berjalan dikagetkan akan bunyi langkah kaki yang semakin mendekat. Saat dia berpaling wajah, seekor naga telah meloncat di atas. Bayangan tubuh besar Ye Long menutup wajah Xin Fai. Hingga akhirnya naga itu menabrak tubuh Xin Fai hingga jatuh terguling di tanah. Tak sampai di situ saja, kini giliran Xin Chen yang meloncat dari atas.


Xin Fai segera menyingkir sebelum anaknya itu mengunci pergerakannya. Selangkah mundur ke belakang, lalu berdiri tegap.


Keduanya saling berhadapan sekarang. Xin Chen berucap dengan tatapan yang tajam. "Bertarung sendirian tak akan membuatmu terlihat hebat. Justru orang-orang akan percaya kepadamu jika kau ada saat mereka membutuhkanmu, jika kau bertarung di sisi mereka!"


"Kau tidak mengerti. Aku mendengar semua rencana Qin Yujin. Dan satu keputusan terakhir ku, adalah menyembunyikan pedang ini."


"Hancurkan saja pedang itu." Dia memberikan opsi yang hanya berakhir dengan penolakan mentah-mentah.


"Pusaka ini adalah satu-satunya senjata yang dapat menerangi sesuatu di luar jangkauan manusia. Seperti Naga Kegelapan dan Naga Es. Jika musuh seperti itu datang suatu saat nanti, apa kau kira kita akan menang melawannya dengan tangan kosong?"


Memang benar. Pemikiran Xin Fai ada benarnya. Tapi keputusannya lah yang salah. Xin Chen tahu, sejak kecil lagi lelaki berjulukan Pedang Iblis ini tak ubahnya dirinya sendiri. Keras kepala dan akan teguh pada pendiriannya sendiri.


Tapi untuk sekali ini saja, Xin Chen amat berharap kepala batu itu dapat menangkap maksudnya.


"Bagaimana jika suatu saat perang datang ke tanah kita. Merenggut rumah kita. Bagaimana jika nyawa ibu dan Kakak Zhan dipertaruhkan dan kau tidak ada di sana?" Jeda sebentar sebelum dirinya kembali berujar, "Tidakkah kau menyesal telah membuang anak istrimu sendiri?"


"Aku tidak membuang kalian, aku hanya-"


"Aku tak ingin bertarung denganmu ayah." Xin Chen mencengkram erat pedang lainnya yang dia miliki. Pedang yang telah retak sedikit dan berisi bahan pusaka Baja Phoenix.

__ADS_1


"Aku juga tak akan memerangi anakku sendiri. Mundurlah. Dengan begitu kita tidak perlu bertarung."


"Tentu saja."


Xin Fai tak dapat melihat jelas wajah anaknya itu. Tapi kelihatannya ucapannya bertolak belakang dengan gerak-geriknya.


"Tentu saja aku akan membangkang!"


Xin Fai tak ingin mengangkat pedang untuk membunuh anaknya sendiri, meski sebelumnya dia melakukannya ketika berada di bawah kendali kutukan. Dan ditambah lagi sekarang, Xin Chen memaksanya untuk menghadapi dirinya.


"Pulang. Hanya itu yang kuminta. Aku sudah berjanji pada Ibu untuk membawamu! Utuh atau babak belur, aku sudah tidak peduli."


Xin Chen hendak mengeluarkan pedang Baja Phoenix. Tidak diduga laki-laki itu segera memukul gagang pedang itu hingga terlempar jauh.


"Keputusan ku sudah bulat," tegas Xin Fai tanpa menunjukkan keramahannya lagi. Serius dan penuh penekanan. Tapi yang namanya Xin Chen, dia tak pernah peduli akan kemarahan ayahnya itu. Karena sejak dulu, meski Xin Chen membakar satu rumah karena keusilannya, Xin Fai tak pernah main tangan langsung.


"Kalau begitu biar aku membuatnya jadi kotak."


Tinju mentah melayang, Xin Fai menangkap tangan Xin Chen dengan sebelah tangan. Wajahnya menunjukkan keterkejutan.


Tapi dalam hatinya, Xin Fai tak akan sanggup mencelakainya.


Satu per satu tinju dan tendangan berhasil dihalaunya. Xin Fai mengunci kedua tangan Xin Chen, memaksanya telungkup di tanah agar tak menyerang lagi. Namun Xin Chen tiba-tiba saja menghilang, menggunakan tubuh roh yang sudah lama tak digunakannya.


Xin Fai dengan tiba-tiba ambruk, wajahnya menyentuh tanah hitam pekat. Kaget, laki-laki itu mencoba menoleh ke belakang di mana sekarang keadaan berbalik dalam hitungan detik. Xin Chen mengunci kedua pergelangan tangan di belakang punggungnya. Tak menunjukkan toleransi lagi.


"Kembali."


"Aku tahu kau dapat mengerti hal ini."


"Otak ku sudah lama hilang semenjak kau meninggalkan Kota Renwu. Kembali, atau aku akan menghapus marga Xin dari namaku. Dan jangan pernah berharap aku akan pulang ke rumah. Jika itu terjadi, Ayah tahu betul siapa yang akan jatuh sakit."


Xin Chen mengeratkan pegangannya pada tangan ayahnya.


"Qin Yujin sudah memiliki anak buah di Kekaisaran Wei dan telah menandatangani kontrak kerjasama dengan pihak mereka. Dengan kekuatan Dua Kekaisaran di belakangnya, Kekaisaran Shang semakin dekat dengan kehancuran," terangnya agar semua jelas di mata Xin Chen. Apa yang berkecamuk di otaknya dan semua keputusan terbaik yang akan diambilnya bukan tanpa landasan.

__ADS_1


"Kekuatan dari Pedang Iblis dan Pedang Kaisar Langit yang kau lihat mungkin tak sampai setengahnya."


"Sekarang giliranku menjelaskan apa yang ku ketahui. Kekaisaran Shang hancur secara moral dan politik. Sebab Pedang Iblis yang merupakan Pilar terbesarnya runtuh. Dan orang-orang yang berlindung di bawah pilar itu menjerit ketakutan ketika musuh-musuh mulai menghancurkan mereka."


"Dan Pilar Kekaisaran lainnya tak ubahnya para saudagar kaya yang kerjanya ongkang-ongkang kaki. Ketika maling masuk ke rumahnya pun, mereka memilih lari dan menyuruh orang untuk menghadapi. Pilar Kekaisaran telah tak ada lagi. Paman Lan An sudah tak ada. Satu-satunya harapan hanya Ayah dan Xin Zhan."


"Kau pantas untuk menjadi Pilar, Chen'er."


"Aku sudah punya Organisasi yang harus ku utamakan. Satu lagi, tanah Kekaisaran Shang telah didominasi oleh kelompok aliran hitam. Mereka membakar satu tempat dan menjajahnya. Membuat penduduk lokal terpaksa pindah. Dan itu terus terjadi tanpa ada yang mengusir mereka. Aku berani bertaruh, saat kau kembali nanti Kekaisaran Shang tak akan lebih dari hanya sebuah pulau kecil."


"Aku harus pergi sekarang. Sebelum Qin Yujin datang dan mengetahui pedang ini."


Semua yang Xin Chen jelaskan sepertinya sia-sia. Dia tersenyum pahit. Melepaskan Xin Fai, laki-laki itu berdiri.


"Lupakan soal keluarga. Aku sudah tak punya keluarga lagi." Xin Chen membuang satu-satunya identitas yang dia miliki sebagai anak dari Pedang Iblis. Yaitu nama Xin.


"Kau mau pergi, bukan? Silakan. Dan jangan pernah panggil aku lagi sebagai anakmu."


Xin Fai belum sempat bereaksi. Dan sekarang justru Xin Chen lah yang pergi. Tanpa sedikitpun melihat ke belakang.


Xin Zhan yang sedang disibukkan oleh pekerjaannya dibuat kaget saat mendengar dari Shui apa yang telah terjadi. Dia berlari cepat ke arah Xin Chen dan menarik pundaknya ke belakang. Begitupun yang dilakukan Ye Long sejak beberapa menit lalu, menyeret majikannya untuk kembali. Tapi sayangnya pemuda itu juga ikutan keras kepala dan terus melangkah maju.


"Kau selalu pandai mengancam ku, Chen'er."


Kalimat itu terdengar sayup-sayup. Xin Zhan menoleh ke belakang, menatap ayahnya penuh harap. Karena saat ini Xin Chen juga kepalang kesal. Kakaknya itu tahu adiknya mati-matian berperang hanya untuk mengembalikan Pedang Iblis pada Kekaisaran Shang. Dan saat tahu laki-laki itu justru ingin pergi, kekecewaan besar sudah pasti menghancurkan dirinya.


Meski tak menoleh Xin Chen berhenti melangkah.


Xin Fai tak akan sanggup jika dirinya harus kehilangan putranya itu.


"Ancaman mu tak pernah berubah. Sejak dulu, mengancam akan membuang nama klan Xin."


Xin Chen dapat mendengar langkah kaki mendekat. Tanpa siapa pun ketahui, Xin Chen justru tersenyum usil.


"Kau selalu berhasil, Nak."

__ADS_1


__ADS_2