
"Jika Yang Mulia memang telah dibutakan oleh kekuasaan. Maka seseorang akan datang membunuh Anda. Seseorang yang akan menghakimi kalian semua, dia akan datang dan menghancurkan istana ini! Kalian semua pengkhianat busuk, penjilat bangkai-!"
Jantungnya bocor saat peluru tembus, berkali-kali tubuhnya dihujani tembakan bertubi-tubi. Yu berteriak hingga gema suaranya terdengar di aula.
"Kalian semua akan mati!" Sumpah serapah wanita itu diakhiri dengan satu tembakan terakhir sampai tubuhnya ambruk ke lantai. Genangan darah mulai muncul di bawah tubuhnya.
Kata-kata terakhir wanita itu membuat wajah yang semula angkuh itu mulai berkerut. Merasakan sesuatu akan datang. Suara pertarungan terdengar kian mendekat. Satu tubuh penjaga terjatuh di muka pintu. Lalu sesosok yang tampak samar berjalan masuk. Matanya melebar saat melihat siapa yang tergeletak tak bernyawa di hadapan Shi Long Xu.
"Shi Long Xu ... Kukira kita kawan. Nyatanya kau adalah lawan."
Xin Chen mengepalkan tangan, wujudnya yang terlihat samar perlahan tampak nyata. Derap kakinya mulai terdengar. Pemuda itu berjongkok di depan mayat Yu, dia terlambat. Nyawa wanita itu tak tertolong lagi. Tapi dari matanya yang masih melotot marah, Xin Chen tahu terjadi sesuatu yang membuat Yu begitu emosi. Xin Chen menggendongnya, meletakkannya ke pojok di belakangnya dan mulai menghadap Shi Long Xu.
"Kau baru menyadari semua ini? Hatimu terlalu polos, aku sudah melihat banyak hal di dunia ini." Nada bicaranya meninggi, dia telah menunggu kedatangan Xin Chen dan benar saja pemuda itu datang. Kawan-kawannya telah tumbang sebagian. Shi Long Xu yakin dia akan kehilangan kesabarannya.
"Kenapa kau melakukan ini semua? Tidak adakah tersisa sedikit pun dari ucapanmu waktu itu? Apa itu semua kebohongan? Berarti kau sama saja seperti Ayahmu. Bukankah kau sendiri yang mengatakan, orang-orang sepertinya yang memberikan janji manis di awal untuk Kekaisaran ini, tapi sampai sekarang pun tak terlihat hasil kerjanya bukanlah seorang pemimpin. Tapi hanya seorang pemimpi yang hobi membual."
Terlihat senyum tersungging di wajah Shi Long Xu, dia dipaksa menelan kata-katanya sendiri. "Kau tampaknya sangat kecewa dikhianati, kawanku? Bukankah aku sudah melakukan apa yang aku katakan? Pemberontakan besar-besaran. Benar ... Ini semua untuk membuat dunia ini kembali seimbang."
"Kukira aku tak akan mampu mengelabuimu, tapi Qin Yujin mengatakan namamu dan mulai membuat ku tertarik untuk memanfaatkan sedikit kekuatanmu. Dengan memanfaatkan tanganmu semua rencana kami akan berjalan mulus. Hanya namamu yang dicurigai, malangnya kau mengorbankan namamu untuk sesuatu yang semu. Aku tak pernah melihat seseorang berbuat baik sejauh ini. Kau hanya berakhir dikhianati. Harusnya kau paham soal itu."
Xin Chen saja tak percaya dia sedang dinasehati oleh orang yang telah mengkhianatinya.
"Lalu tentang kotak itu? Qin Yujin juga sudah menyiapkannya untuk menjebakku?"
"Menurutmu?"
Xin Chen tak tahu harus marah seperti apa, semua itu selalu bermuara pada satu orang. Qin Yujin. Lelaki yang entah di mana sekarang, dia ingin sekali membunuhnya sekarang juga.
Shi Long Xu memasang paras yang dilalap ketamakan, "Kau menyadarinya juga, bukan? Ketidakseimbangan di dunia ini telah mengubah para manusia. Menciptakan pertumpahan darah di mana-mana. Pusaka Langit legendaris dikuasai oleh Kekaisaran Shang dan Kekaisaran Qing memiliki ratusan ribu prajurit, keduanya mampu menciptakan perang dan menjadi pemenang. Sementara kami? Hanya sekumpulan manusia kurang gizi yang kebetulan memiliki otak di atas rata-rata. Kita harus segera mengakhirinya. Kalau bukan kita tak ada yang peduli. Dengan pengetahuan ..., ya! Itu!"
Dia menunjuk Xin Chen berapi-api.
"Dengan pengetahuan kita bisa menciptakan sebuah perubahan! Mengeliminasi manusia-manusia tak berguna, menciptakan dunia dengan aturan yang lebih baik. Sama rata. Tak ada perebutan senjata, dominasi kuasa atau peperangan. Kita akan berdamai di bawah bendera baru dengan aku dan Qin Yujin sebagai pemimpin kalian!"
"Kau sudah gila."
"Dunia ini membutuhkan beberapa orang yang sedikit gila untuk menciptakan perubahan ini. Aku yakin Qin Yujin sudah datang untuk mengajakmu, sayangnya kau membuatnya terluka. Dan aku menunggumu di sini untuk membalasmu."
"Membalasku? Kau hanya membalas luka yang dialami oleh satu orang. Sementara aku di sini untuk membalas derita yang kau torehkan terhadap jutaan rakyatmu."
Shi Long Xu terbahak-bahak, "Orang-orang itu mudah sekali terperdaya. Mereka begitu putus asa sampai ketika melihat seorang yang membawa harapan, langsung memujanya seperti Tuhan. Aku tak berniat menolong mereka, aku yakin kau juga sudah tahu soal ini ..."
Xin Chen teralihkan ke satu lukisan pegunungan yang sama seperti yang dilihatnya di kastil tua waktu itu. Tiga Bukit dengan matahari merah, dibuat menggunakan kaca berwarna-warni yang memantulkan cahaya. Matanya kembali bergulir menatap Shi Long Xu.
"Mereka tak akan bisa diselamatkan. Dan jika virus ini menyebar, maka hanya mereka yang beruntung saja mampu bertahan."
"Tak ada yang bisa diubah dari pemikiran busukmu, jika itu yang kau inginkan maka aku tak akan sudi menyebutmu sebagai rekanku. Kau hanyalah musuh yang lebih pantas mati daripada duduk di kursi megah itu."
__ADS_1
**
Sebilah pedang berkilau terang di saat matahari pagi mulai terlihat di ufuk timur, tangan seseorang menggenggamnya erat. Ada dendam yang mengalir di setiap tarikan napasnya, darah bercucuran dari kening dan tangannya. Hingga dia sampai di titik itu, menemukan satu orang yang menjadi alasan mengapa dia masih hidup sampai sekarang. Setelah membunuh saudari kandungnya sendiri.
Antara dia atau musuhnya yang mati, Fu Hua tak peduli akan hal itu. Bara di kedua bola mata safirnya tak akan berubah menjadi abu sebelum semua itu dituntaskan. Lalu ke sana dia menghadap, pada sebuah menara kembar yang terhubung oleh satu jembatan di antaranya.
Fu Hua tak lagi mengendap-endap, dia bertarung langsung dengan puluhan penjaga di sana. Sayatan dan tusukan mulai membuat tubuhnya melemah. Gadis itu terus menyerang, meledakkan tong minyak dan menimbulkan kekacauan besar di tempat yang letaknya hanya berseberangan dengan Sentral Pusat.
"Aku akan membunuhmu, Qin Yujin ..." geramannya ketika tubuhnya jatuh terjerembab, kepalanya membentur batu. Fu Hua berbalik dan melompat segera berdiri. Menghentakkan gagang pedang ke kepala lawannya, menyepak salah satu yang hendak mengunci tubuhnya lalu membunuh yang lain dengan pisau rahasia.
Pertarungan satu lawan sepuluh itu diselesaikannya dengan babak belur, Fu Hua berjalan terpincang-pincang. Merapatkan gigi-giginya saat ngilu menjalar, tetesan darah terus berjatuhan. Dia kehilangan semakin banyak darah. Ditambah dua luka bekas tembak masih basah dan mulai terbuka, matanya berair menahan sakit itu.
Namun sepertinya, semenjak kepergian Fu Qinshan, Fu Hua lupa tentang rasa takut akan kematian. Ini adalah saat-saat yang ditunggunya, pembalasan ini begitu berarti baginya. Meski Fu Hua harus pergi sendirian. Karena dia yakin orang seperti Qin Yujin tak akan membiarkan dirinya terjebak dalam lingkaran musuh. Dia akan melarikan diri lagi dan bersembunyi, Fu Hua tak akan menemukannya lagi jika tidak membunuhnya sekarang juga.
Langkahnya gemetar saat menaiki tangga yang begitu banyak, napasnya semakin berat. Kepalanya terus menengadah, hingga dia tiba di lantai teratas. Jantungnya melemah, Fu Hua bahkan tak bisa menarik napasnya dengan benar. Gadis itu memilih bersandar di dinding. Menarik napas sedalam mungkin, menekan pendarahan di lengan dan kakinya dengan melilitkan kain.
"Pada akhirnya kau datang juga."
Sesaat ketika Fu Hua berjalan di jembatan besi yang menghubungkan kedua menara tinggi, sesosok laki-laki dengan tubuh yang mengerikan tengah menunggu sembari menatap ke arah matahari terbit di Kekaisaran Wei. Tak menoleh padanya, tapi dia tahu gadis itu akan datang untuk mengambil kepalanya.
"Kau baj*ngan!" Matanya melotot, akhirnya tiba di saat dia memiliki kesempatan untuk membunuh laki-laki itu. Fu Hua mengeluarkan pedangnya. Menghunus dengan menggenggamnya di kedua tangan, tak melepaskan sorotannya dari Qin Yujin.
Benar. Semua kebencian di dalam dadanya berasal dari lelaki itu.
"Setiap manusia memiliki sisi gelapnya sendiri. Ada satu ruang kosong yang timbul ... Tanpa kau sadari, dia tumbuh dan menghancurkanmu."
"Aku?" Qin Yujin yang semula menatap arah lain mulai menghadap ke arah Fu Hua di ujung jembatan. "Kau yang membunuhnya, Hua'er. Kau menusuknya, dia mati di tanganmu sendiri."
Air mata menetes di matanya, Fu Hua membentak sambil mengacungkan pedang. "Aku kehilangan kakakku yang selalu peduli padaku, ketika kau datang ke hidup kami. Mengubahnya menjadi monster. Dia mampu membunuhku jika itu adalah perintahmu, kau bilang, dia masih orang yang sama?!"
Fu Hua sampai kehilangan suaranya akibat menahan tangis, jika tentang wanita itu semua kenangan indah mulai terlintas hingga membuatnya tak bisa menerima kenyataan bahwa Fu Qinshan telah tiada. "Aku kehilangannya semenjak kau masuk ke hidup kami!"
"Kau membiarkan ruang kosong itu membesar, Hua'er. Kau akan sama sepertiku ... Balas dendam itu tak akan membuatmu merasa cukup ..."
"Aku tidak peduli soal itu!" Fu Hua begitu marah, wajah Qin Yujin saat ini sangat ingin dia cabik hingga tak menyisakan daging.
Mata Qin Yujin menatap padanya, gadis itu hanya melihat seorang monster yang berusaha menenggelamkannya di dalam air, menurunkannya ke misi berbahaya dan menghukum kakaknya sampai berdarah-darah. Tak ada kebaikan di mata itu.
"Namun ... Saat semua orang membuang kalian. Satu-satunya yang menerimamu dan kakakku hanyalah aku."
Fu Hua diam, jarinya kian gemetar. Terkadang dia begitu membenci Qin Yujin, lelaki itu tak memiliki hati. Namun kebencian meluapkan beberapa hal yang pernah dilakukan Qin Yujin kepadanya.
"Aku menganggap kalian seperti anakku."
Ketika itu, Fu Hua mengingat ketika malam bersalju, dia dan kakaknya yang kumal kelaparan bersembunyi di dalam jerami yang bersebelahan dengan kandang kuda. Angin badai begitu dingin kala itu, kakaknya berusaha memeluknya. Menenangkan dirinya karena mereka pasti bisa makan esok hari. Lalu lelaki itu datang, menawarkan sebuah rumah yang hangat.
Matanya yang semula penuh akan kebencian mulai berubah.
__ADS_1
"Ingatkan kau? Saat aku membawamu ke acara festival? Kau begitu menyukai bunga. Dan kakakmu ... Dia menerima semua barang yang kubeli. Bahkan hingga kematiannya, semua benda itu masih tersimpan baik di kamarnya."
"Kau memperlakukan kami seperti binatang ..." Gumamnya berusaha tak goyah, dia telah datang ke sini untuk membunuh Qin Yujin. Seharusnya jika Qin Yujin ingin membunuhnya, tak perlu mengelabuinya seperti ini. Fu Hua mulai bertanya-tanya, mengapa Qin Yujin tiba-tiba membahas ini semua.
"Aku memang menguncimu di kamar. Seharian dalam gelap, kau pasti takut, bukan?" Qin Yujin tertawa pahit. "Ketika itu sekelompok pembunuh datang ke rumah kita. Aku tahu kau mudah ketakutan dan menguncimu. Mereka tak akan melukaimu. Dan kakakmu yang begitu kuat, dia bisa menghadapi mereka bahkan tanpa aku memintanya."
"Tidak mungkin, itu tidak benar."
"Misi berbahaya itu? Hukuman biadabmu? Dan semua hal buruk yang pernah kau lakukan kepada kami? Kau mengubah kakakku menjadi monster!"
"Kau tidak tahu, Fu Hua. Keadaan bisa mengubah seseorang menjadi sangat-sangat buruk. Seperti dirimu saat ini ... Kau dulunya adalah gadis yang anggun, sikapmu lembut dan tatapan matamu sangat polos." Qin Yujin menggeleng, "Namun yang kulihat sekarang, kau sama seperti kakakmu. Bertarung dan penuh akan kebencian, untuk hal-hal yang membuatmu buta. Ruang kosong di hatimu itu, telah mengubah mu menjadi iblis."
Fu Hua tanpa sadar melepaskan pedangnya, sementara Qin Yujin mendekat. Dia tak melakukan serangan apa pun, menepikan semua amarah yang sempat membakar hati dan pikirannya untuk menghabisi gadis itu. Adik dari tangan kanan yang amat dipercayainya.
"Karena bagi ku, kalian adalah keluargaku."
Jemari lelaki itu mengangkat dagu Fu Hua, mengelap air mata yang terus membasahi pipinya. "Aku telah dibuang oleh keluargaku, mencoreng namaku sendiri dan dipermalukan begitu hina. Hanya karena sebuah kesalahan, mereka tak memberikan ruang untuk kita melakukan apa pun selain menerima kenyataan bahwa kita adalah orang yang jahat.."
Mata keruhnya juga ikut basah, Fu Hua dapat melihat kesedihan yang begitu nyata di mata Qin Yujin. Lelaki yang selalu terlihat penuh tipu muslihat dan dibaluri oleh kejahatan itu melunak.
"Aku ingin menciptakan sebuah dunia di mana kita bisa saling menerima. Tanpa adanya pembatas, status sosial, harta, dan semua aturan yang mereka ciptakan sendiri. Kita adalah aturan itu. Kau mau ikut denganku, sekali lagi? Aku akan menyediakan rumah untukmu. Rumah hangat di mana kau bisa diterima... Orang-orang jahat itu tak akan menyakitimu. Aku akan melindungimu, Hua'er. Kau adalah putriku."
Tangannya berusaha menyentuh pipi putih gadis itu, tepisan kasar membuatnya kaget. Fu Hua mundur dan kembali mengarahkan mata pedang ke arahnya.
"Kau tak perlu menjadi rumah untukku. Kau bilang aku sudah menjadi iblis, bukan? Maka aku akan selamanya begitu," tekannya dengan suara yang tersirat kebencian.
"Kau begitu kesepian setelah kehilangan kakakmu. Ke mana kau akan pulang kalau bukan bersamaku, Hua'er? Ada begitu banyak orang jahat, dan setelah wabah itu menyebar kau mungkin tak akan selamat. Ikutlah denganku, kau akan baik-baik saja."
"Setidaknya aku memiliki satu teman yang sudi bertarung bersamaku."
"Pemuda itu? Xin Chen maksudmu?" Qin Yujin tiba-tiba berubah, yang semula begitu lembut menjadi kasar kembali. Alisnya menukik, kerut di wajahnya menunjukkan ketidaksukaannya.
"Dia telah melindungiku berkali-kali bahkan saat kau sendiri yang membuatku hampir terbunuh."
Dia menambahkan, "Dan satu hal lagi. Kau bukan ayahku, dan aku bukan putrimu. Camkan itu."
Detik itu Qin Yujin sadar bahwa pemikiran gadis polos itu telah berubah, banyak hal dilaluinya. Dia bukanlah Fu Hua yang dulu.
"Orang itu adalah musuhku. Keputusanmu untuk berada di pihaknya membuatku terpaksa harus membunuhmu."
Qin Yujin mulai serius, dia menarik pedang yang terselip di pinggangnya.
"Latihan pedang terakhir kita."
Fu Hua tak ingin mengingat saat-saat di mana lelaki itu mengajarinya cara menggunakan pedang. Hingga dirinya terluka parah dan nyaris tak sehari pun terlewat tanpa menangis.
"Antara kau atau aku yang mati." Fu Hua mengakhiri percakapan mereka. Dan pertarungan sengit mulai terjadi di atas jembatan tersebut.
__ADS_1