
"Murid Dungu!"
Satu ucapan itu membuat Kaisar Qin dan Xin Fai saling menatap kebingungan.
"Kau kusuruh belajar mengendalikan Api Keabadian malah menjadi pengendali angin. Hukuman untukmu harus ditambah!"
"Sampai membakar pohon-pohon di sini, apaan di mukamu? Terkena tanah juga? Di belahan bumi mana aku mendapat murid yang begitu bodoh sepertimu? Sebaiknya kau meminta maaf pada orang-orang istana setelah ini ..."
Mata perak itu berkilat penuh amarah, dia beralih pada Xin Fai dan Kaisar Qin. Tertegun.
"Ah, maafkan muridku ini. Dia masih terhitung amatiran. Pakai acara latihan di halaman belakang istana."
"Tapi kenapa di sini kalau ingin latihan? Di rumah bisa." Xin Fai masih begitu yakin dengan apa yang dilihatnya tadi. Ada yang salah.
"Aku berniat mengetesnya siang nanti. Mungkin dia buru-buru latihan. Lupakan soal itu. Aku akan menghukumnya habis ini. Tidak perlu khawatir." Rubah Petir menggunakan kekuatannya, menyengat tubuh Xin Chen sampai pemuda itu terbangun dari pingsannya. Dia menarik napas panjang, seperti baru di tenggelamkan ke dasar laut yang begitu dalam.
"Dia tidak kenapa-kenapa, jangan risau begitu. Aku harus pergi membawanya berlatih. Kami pamit."
Rubah Petir memaksa Xin Chen berjalan dengan kakinya sendiri meski kesadarannya tak lebih dari satu persen. Tapi kekacauan di pikirannya reda dalam beberapa saat. Dia berusaha mengendalikan diri selagi berjalan meninggalkan istana. Beberapa orang menyapanya sepanjang jalan, tapi Xin Chen hanya diam menunduk dengan langkah sempoyongan.
Apa yang dilihatnya sekarang hanyalah punggung Rubah Petir.
Namun, itu saja sudah membuatnya merasa aman.
Ketakutan tak berdasar yang tiba-tiba meledak di permukaan sejak semalam telah membuat hatinya risau. Xin Chen sendiri tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, beruntung masih ada rubah bersamanya. Meski harus menerima ceramah panjang lebar setelah ini, Xin Chen tak merasa terancam dengan kemarahan gurunya itu.
Waktu berjalan begitu lambat, untuk mencapai pintu gerbang istana saja Xin Chen sampai sesak napas. Dia mengangkat wajah, melihat gerbang itu. Matanya terbuka lebar.
Dia melihat gerbang itu berubah menjadi sebuah pintu kaca retak dengan ratusan terinfeksi di dalamnya. Gedoran pintu kaca bercampur dengan bunyi raungan yang histeris, mendengung di telinga Xin Chen. Menciptakan irama kacau yang membuatnya pusing bukan main. Dia menutup telinga sembari melalui gerbang itu.
Dua penjaga gerbang sampai mengintip ke luar.
"Hei, ada apa dengan Tuan Muda Xin kedua?"
"Tidak tahu. Semoga dia baik-baik saja."
Xin Chen ambruk. Rubah Petir membalikkan badan. Membuang napas kesal. Pemuda itu mulai kehilangan kesadaran kembali, tapi tak seperti sebelumnya, kali ini dia tak mengamuk.
Di ujung kesadarannya, Xin Chen berucap lemah.
"Mereka memanggilku ... Para ..."
Rubah Petir berjongkok dan tak bisa mendengarkan apa yang diucapkan Xin Chen setelah itu.
"Siapa yang memanggilmu."
Rubah itu memasang muka masam ketika sekumpulan lelaki dengan pelindung kepala dan seragam zirah lengkap mendekat.
"Ada apa dengan Tuan Muda Xin kedua?"
"Aku akan menanganinya. Pergilah, kalian membuat keadaan makin ramai saja."
Rubah Petir menggunakan kekuatannya, mengubah sebelah tangannya ke ukuran tangan siluman yang lebih besar untuk mengangkat Xin Chen. Pulang ke rumahnya.
**
Rubah Petir membawa Xin Chen pulang tanpa Ren Yuan ketahui, termasuk dua siluman lainnya yang pasti langsung berisik kalau tahu Xin Chen sudah tak sadarkan diri. Kini mereka berdua berada di ruangan paling pojok kediaman, tempat yang sunyi dan diam. Di mana beberapa hari belakangan Rubah Petir selalu di sana untuk bermeditasi.
Rubah itu membuka mata ketika mendengar tarikan napas Xin Chen, begitu berat. Dia tak sanggup melihat muridnya itu, antara kasihan atau harus marah. Sebagai siluman, emosinya selalu diuji oleh makhluk di depannya itu.
"Kenapa kau tidak jujur soal ini."
Suara yang familiar timbul tenggelam di telinganya, Xin Chen hanya melihat bayangan rubah buram di depan. Hingga dapat dilihatnya Rubah Petir sedang duduk, membuang muka. Dan kekecewaan di wajahnya itu, membuat Xin Chen sadar dengan apa yang baru saja terjadi.
Luo Mei memang pernah mengatakan penyakitnya akan kambuh kapan pun, untuk itu Xin Chen harus waspada. Penyakit ini seperti halnya makhluk hidup, mereka berkembang semakin kuat dan kompleks. Terkadang terlihat mati lalu tiba-tiba menghancurkan semua jaringan sel.
__ADS_1
Satu saran dari Luo Mei yang sempat Xin Chen abaikan, laki-laki itu menyarankan dirinya sebaiknya tinggal di Kekaisaran Wei. Tapi resiko pun ada di dalamnya, karena posisinya saat itu Xin Chen sedang menjadi buruan Kekaisaran.
Hembusan napasnya terdengar gemetar.
"Maafkan aku, Guru Rubah. Aku tidak berniat menyembunyikannya darimu."
"Lalu kau membiarkan ku tahu ketika kau nyaris saja mencelakai orang lain?"
"Bukan begitu ...."
Xin Chen sampai kehabisan kata-kata demi melanjutkan kalimatnya, berpikir pun otaknya sedang buntu. Rubah menggelengkan kepala pelan. "Aku akan menghukummu setelah kau pulih. Untuk sekarang, lepaskan tubuh itu. Kau harus ke tubuh rohmu. Meski nantinya kau tidak bisa bersalaman atau menyentuh benda apa pun."
Rubah Petir menekankan dengan serius.
"Jangan gunakan lagi tubuh manusia itu, kecuali hanya hitungan detik. Paham?"
"Paham, Guru."
"Tapi-" katanya tertahan, seingatnya dia tak pernah mengatakan penyakitnya kepada Rubah, kecuali soal dirinya menjadi buronan Kekaisaran Wei. "Dari mana kau bisa tahu soal ini?"
"Kau saja tidak bisa bohong dariku. Apalagi Serigala itu."
Tentu saja Lang yang memberitahunya. Rubah Petir tahu hal itu. Ketika sesuatu berusaha disembunyikan darinya, seolah ada setan yang membisikkan hal itu pada sang rubah.
Xin Chen terbatuk-batuk, tubuhnya kembali pada wujud roh. Dia menarik napas. Melupakan sakit yang beberapa jam lalu hampir membuatnya lepas kendali.
Jika begini Xin Chen tak yakin dia bisa menghadiri rapat atau panggilan di istana. Namun daripada memusingkan hal ke depan, dia memilih untuk menenangkan diri. Mengikuti Rubah Petir yang mulai bermeditasi. Dan dalam seketika, tempat itu kembali hening seperti semula.
**
Dua hari berlalu begitu cepat, dalam kurun waktu itu kabar yang keluar dari Kekaisaran berlanjut membuat para masyarakat terkejut. Setelah kabar Jiang Cho akan lengserkan dari Pilar Kekaisaran, lalu Zing Yongxe dilengserkan dari jabatan, dan sekarang kabar bahwa dari kertas bukti yang dikumpulkan di aula Kaisar, terdapat satu bukti lain yang membawa nama besar klan Hong di dalamnya.
Hiruk-pikuk di luar sana terus saja terdengar berisik di telinga, Xin Chen memutuskan untuk mengurung diri dengan beralasan sakit. Xin Fai berulang kali pula ingin mengecek keadaan putra terakhirnya, tapi dia seolah menolak kedatangannya.
Hari ketiga, Xin Fai mengetuk tiga kali di pintu. Mengatakan bahwa Kaisar Qin meminta dirinya datang, bukan untuk rapat atau acara. Tapi untuk berbicara hanya berdua. Xin Chen yang mendengarnya hanya diam dan menunggu ayahnya pergi.
"Guru ..."
"Ada apa? Katakan apa pun tapi tidak dengan ide bodohmu."
"Aku memutuskan untuk kembali ke Kekaisaran Wei-"
"Kau gila?!"
Mata yang semula terpejam damai kini membelalak dibakar bara emosi.
"Sekali saja kau ke sana, sudah membuat masalah besar. Pertama, menjadi buronan. Dan kedua, penyakit mematikan. Kau mengharapkan berapa banyak lagi masalah, Chen?!"
Xin Chen sama sekali tidak gentar untuk hal ini. Dia telah memikirkannya baik-baik.
Semua masalahnya tak akan pernah selesai jika dia terus berada di Kekaisaran Shang. Tempat ini bukanlah penyelesaiannya.
Dan dirinya takut suatu saat penyakit di tubuhnya keluar dan melukai orang terdekatnya-atau bahkan keluarganya sendiri.
"Aku melihat seorang pembunuh di dalam diriku."
"Kau terlalu terbawa emosi akhir-akhir ini Chen, lupakan soal pertemuan dengan Kaisar. Kita bermeditasi sampai satu minggu ke depan. Mungkin seperempat otakmu sudah tak berguna sampai tidak bisa dipakai berpikir."
"Aku tak ingin hal yang sama terulang." Dia menyela, "Saat orang lain yang direnggut dariku, aku harus mengembalikannya dengan berdarah-darah. Aku tidak mau itu terjadi lagi. Jika ada yang harus pergi dari sini, itu adalah aku. Bukan Ayah, Ibu apalagi kakakku. Dan bahkan aku tak menginginkan masyarakat terlibat dalam masalah ini."
"Kau hanya akan menambah masalah, Chen. Percaya padaku."
"Lalu aku duduk diam di sini?! Menikmati teh hangat dan hangatnya matahari sementara orang di luar sana berlarian dikejar kematian?" pitamnya kembali memuncak.
"Aku berusaha mencari penyelesaian. Hanya itu."
__ADS_1
Rubah Petir menggeleng, ragu. "Bocah nakal sepertimu, kau selalu mengambil keputusan ceroboh. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi."
Xin Chen menatap lantai di bawahnya, mengepalkan tangan. Mana mungkin rubah itu menyetujuinya. Dia memejamkan mata, mendengar Rubah Petir menyahut lagi.
"Kecuali dengan membawa penetral kebodohanmu."
Wajahnya berpaling cepat. "Guru Rubah, kau-"
**
Xin Chen menerima jubah hitam baru pemberian Kaisar Qin kepadanya. Dengan jahitan lambang Pilar Bayangan resmi miliknya. Dia memakai itu, menarik tudung jubah sampai atas kepala untuk menyembunyikan wajah. Pergi ke istana Kaisar sebelum keluarganya terbangun dari tidur.
Pagi buta saat malam telah pergi. Bulan meredup, di ufuk timur langit bersemu kemerahan tanda pagi segera menjelang. Seiring bulan tenggelam, langit kian cerah dipendar semburat merah cahaya pagi. Damai di halaman belakang istana ditambah dengan sejuknya angin yang turun dari celah bukit. Xin Chen baru saja sampai, melihat Kaisar Qin telah menunggu di dekat kolam yang hanya beberapa meter dari pintu belakang istana. Terdapat gazebo di mana kini laki-laki itu duduk.
Dua cangkir teh hangat telah diletakkan di atas meja kecil di hadapan Kaisar. Kaisar Qin tersenyum saat matanya mendapati kehadiran yang telah ditunggu-tunggunya.
"Akhirnya kau datang juga, anak muda."
Xin Chen mengangguk, duduk bersila di hadapan Kaisar Qin.
"Ada apa memanggilku, Yang Mulia?"
"Ahahaha tenanglah bukan untuk membahas hal serius. Hanya mengobrol santai. Kau tahu, aku dan ayahmu sangat dekat." Kaisar Qin menghentikan ucapannya, mempelajari wajah Xin Chen.
"Apakah ada sesuatu yang mengganggumu? Seperti ancaman dari pihak klan lain, mungkin tentang Jiang Cho atau Hong Tian?"
Lagi-lagi Kaisar Qin bicara, "Aku mendengar dari ayahmu, kau mengurung diri di kamar. Setelah hari itu ... Orang-orang bertanya akan keberadaanmu. Aku mencemaskanmu. Setelah semua yang kau lakukan, kekaisaran ini sangat berterima kasih padamu."
"Tapi jika kau memiliki masalah dan beban yang tak sanggup kau pendam sendiri, beritahu aku. Mungkin otak dan kekuatan mu sudah terhitung dewasa. Tapi tidak dengan hatimu, Chen'er."
Xin Chen menunduk. Kaisar Qin sampai menyebutnya dengan nama itu.
"Yang Mulia terlalu cemas. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kelelahan."
Setelah mendapatkan jawaban itu, Kaisar Qin berusaha memaklumi.
"Baiklah, aku bersyukur jika begitu adanya. Tentang Jiang Cho dan Hong Tian, mereka akan dilengserkan dan digantikan dengan pahlawan yang lebih layak."
"Kau akan memastikannya? Mereka yang benar-benar sanggup melindungi Kekaisaran ini?"
Kaisar Qin menatap dalam mata biru itu. Ketakutan.
"Apa maksudnya?"
"Seseorang yang bisa melindungi semua masyarakat kita, jika perang terjadi, atau pembantaian merajalela dan bahkan ... Kiamat. Di mana wabah menjalar, membuat manusia menjadi gila, saling membunuh dan membenci dan Kekaisaran ini tak ubahnya neraka yang berisi bangkai yang membusuk-"
"Xin Chen?"
Xin Chen tersadar dengan apa yang baru saja dikatakannya.
Perlu waktu beberapa saat hingga Kaisar Qin memutuskan berbicara.
"Jelaskan, apa yang kau takutkan?"
"Era Kemusnahan."
Mata Kaisar Qin terbuka lebar.
"Tidak mungkin."
"Ini sangat mungkin sekarang."
Mata Xin Chen begitu yakin, membuat Kaisar Qin semakin waspada. Memang Xin Chen bertugas sebagai mata-mata di luar Kekaisaran. Dan pemuda itu memiliki banyak informasi yang tidak diketahuinya.
"Yang Mulia bertanya, apa yang aku takutkan, bukan?"
__ADS_1
Kaisar Qin menunggu Xin Chen menjelaskan.
"Aku tak ingin Yang Mulia tahu hal ini dari orang lain. Tapi aku ingin memberitahu, bahwa aku adalah pembunuh Kaisar Shi."