
Mata merah menyala menatap ganas padanya, disertai seringai lebar dengan deretan gigi-gigi tajam di dalam mulut iblis-iblis di depannya.
Xin Chen merapatkan giginya, merasakan bahwa kendali Xin Fai pada ruang bawah sadarnya telah melemah untuk alasan yang tidak diketahuinya. Pemuda itu menggeram keras. Melihat langsung bagaimana salah satu iblis mencoba memasukkan tangan ke dalam dadanya, dengan kuku-kuku tajam dan berusaha merebut jantungnya.
Serangan jatuh bertubi-tubi, darah mencuat dari segala arah. Xin Chen babak belur dalam dimensi yang seumur hidup tak akan mau dia temui lagi. Tak heran mengapa Xin Zhan bisa tewas akibat Hujan Darah meski akhirnya dia masih bisa diselamatkan.
Saat Xin Chen membuka mulutnya, darah keluar. Dia menggigit tangan iblis di depannya hingga lengan iblis itu terkoyak ke dalam daging. Tak hanya sampai di situ, Xin Chen mengerahkan kekuatannya untuk bisa melepaskan salah satu tangannya yang terikat. Berhasil melepaskan tangan kiri, dia segera mencekik yang lain hingga tumbang.
Saat itu, Xin Chen merasakan sesuatu yang hampir tak pernah dia rasakan seumur hidup. Keinginan keras untuk bertahan hidup.
Padahal terkadang di kepalanya, dia memiliki seribu alasan untuk mati. Tapi seribu alasan itu lenyap di hadapan seribu iblis di hadapannya. Hanya ada satu yang tersisa di kepalanya. Hidup.
__ADS_1
Keluar dari Dimensi Hujan Darah dan melanjutkan apa yang belum dia selesaikan. Dia yakin Xin Zhan akan pulang. Dia yakin semua akan berakhir seperti yang diharapkannya.
Dan senyuman Ren Yuan yang selalu membuatnya merasa hangat. Pelukan ayahnya yang membuatnya bangga pada dirinya sendiri. Dan kepedulian kakaknya yang membuat dirinya selalu aman.
"Aku tak butuh alasan untuk hidup. Aku sudah punya banyak hal. Setan apa yang masuk ke otakku sampai selalu pesimis begini."
Di sisi lain, jauh di dalam dirinya Roh Dewa Perang tertegun. Merasa seperti dirinya terpanggil dan menghiraukan firasatnya barusan.
Tanpa diduga bahkan Dimensi Hujan Darah memiliki badai. Tepatnya seperti sebuah topan yang menggulung ke atas langit, persis seperti sebuah luncuran darah yang berputar-putar kencang. Xin Chen menengadah sebentar lalu berlari ke arah topan tersebut.
Memasuki topan yang begitu besar itu, seluruh tubuh Xin Chen tergores begitu banyak. Kenekatannya membuat iblis lain tak berpikir panjang untuk mengikuti dirinya.
__ADS_1
Ribuan iblis tersedot di dalam topan tersebut, termasuk dirinya sendiri. Xin Chen merebut salah satu tombak besar dari mereka. Membunuh di dalam angin yang terus berputar kencang.
Kekacauan terjadi begitu cepat. Xin Chen melawan arus angin, membuat dirinya terlepas dari putaran tersebut. Meski tak mudah dan dia nyaris benar-benar terpotong akibat topan tersebut.
Musuhnya bisa muncul kapan saja. Xin Chen merasakan akar tanaman mulai melilit kakinya kembali. Tanpa pikir panjang dia langsung menarik benda itu, dengan sekuat tenaga. Saat akar tanaman darah itu hendak mengikatnya, Xin Chen selalu berhasil memotongnya.
"Bawa aku pada inti dimensi ini," ucapnya sembari terus mengikuti ujung dari akar tanaman tersebut. Memotongnya hingga bangkainya menyebar di sepanjang jalan. Hingga dia tiba di sebuah tempat tertutup di mana sebuah goa dengan inti merah menyala terlihat. Lalu di sana terlihat wujud sesosok laki-laki menyerupai ayahya, bukan seorang manusia utuh. Melainkan sebuah tubuh berwarna merah yang tengah menggenggam sebuah cahaya.
Xin Chen mengulurkan tangannya, menggenggam cahaya dari tangan patung tersebut dan menghancurkannya dengan sebelah tangan.
Mata biru pucat terbuka lebar, napasnya berderu tak beraturan. Xin Chen terbangun dalam kebingungannya. Dan melihat sesosok gadis di bawah ratusan ribu pisau cahaya, bertangkup tangan dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
Mengingatkannya pada seorang gadis dengan jubah dengan penuh ukiran bunga. Ketakutan oleh seekor naga yang hendak membakarnya.
Serangan beruntun jatuh ke bumi, dalam kecepatan yang tak kira-kira disertai kerusakan yang semakin membuat Lembah Para Dewa hancur lebur.