Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 228 - Enam Tuan Rumah


__ADS_3

Misi penyelamatan berhasil dilakukan, jauh lebih mudah dari yang Xin Fai sangka karena dari laporan misi ini mungkin bisa termasuk ke dalam misi berbahaya. Tiga orang prajurit yang bersama mereka menuntun anak-anak kecil dan dua orang wanita tersebut menuju tempat yang aman agar bisa dipindahkan ke Perlindungan Awan.


Xin Fai mengangkat kepalanya saat merasakan kehadiran seekor burung di dekat mereka, benar saja burung itu terbang dan mendarat gesit di tangan Xin Fai. Laki-laki itu bergumam kaget, "Ini adalah burung kiriman Hong Tian. Apakah dia sudah menemukan markas musuh?"


"Ada apa?"


Xin Chen mencoba melihat tulisan berupa sandi dan simbol yang seharusnya hanya dapat dipahami oleh para petarung khusus Kekaisaran Shang.


Di sana Tao Gui Xiang menjelaskan singkat dan padat, lokasi musuh dan beberapa informasi yang didapatnya. Dia berencana mengadakan rapat rahasia terlebih dahulu. Namun keadaan yang tak memungkinkan memaksa mereka untuk segera bergerak.


"Jika tidak sekarang maka mereka akan berganti markas sebelum besok petang." Xin Chen membaca kalimat terakhir.


"Serigala Malam ... Akhirnya kita mendapatkan mereka."


Xin Fai tahu benar seberapa berbahayanya Serigala Malam, kelompok itu bahkan sempat menargetkan keluarga-keluarga besar di Kekaisaran Shang. Keluarga petarung bahkan keturunan petinggi ikut terkena imbasnya. Beruntung Kaisar Qin berada dalam penjagaan yang ekstra sehingga penyusupan sulit dilakukan.


"Membunuh mereka bisa menghentikan ribuan masalah besar yang akan muncul di depan. Chen'er, apa kau siap?"


Xin Chen tersenyum. Mengeluarkan sebuah ikat kepala dan mengikatnya erat di kepalanya.


Ikat kepala Nomor Satu. Sudah lama sejak terakhir kali Xin Fai melihat ikat kepala yang begitu berharga baginya itu dan ternyata Xin Chen masih menyimpannya sampai detik ini.


"Aku siap kapan saja."


"Ini baru anak ayah, kita akan bertemu mereka di bawah jembatan kota Tang."


"Kakak Zhan akan ke sana juga?"


"Mengingat ada banyak urusan yang harus diselesaikannya di Perlindungan Awan kemungkinan besar dia tak akan ke sini. Dan juga Kaisar Qin membutuhkan Pilar yang tinggal di sana untuk berjaga-jaga."


"Aku mengerti."


Dengan menenteng Pedang Baja Phoenix di kirinya, Xin Chen menaiki sebuah gundukan tanah tinggi. Xin Fai tertawa kecil melihat anak itu.


Teringat dulu saat dia melatih anak kecil yang bahkan tak sampai selututnya itu, Xin Chen juga berdiri di atas batu tinggi dan berteriak, "aku akan menjadi Pilar Kekaisaran seperti ayah!"


Xin Fai menunggu apa yang akan dikatakan Xin Chen sekarang.

__ADS_1


"Aku ..."


Masih menunggu, Xin Fai dapat melihat bocah kecil yang kemarin bermimpi menjadi seorang Pilar Kekaisaran telah berubah banyak. Rasanya begitu cepat waktu berlalu, semuanya berubah sangat cepat.


"Aku hanya ingin mengembalikan perdamaian di dunia ini dan mempertahankannya selama mungkin."


Jubah hitam dengan jahitan lambang klan Xin di belakangnya berkibar di sapu angin, Xin Fai tahu Ren Yuan membuatnya dengan sepenuh hati. Anak itu langsung memakainya. Ikat kepalanya berterbangan mengikuti arus angin.


Dia dapat melihat dirinya di dalam tubuh Xin Chen.


"Semangat yang bagus. Ayo pergi."


*


Sebuah markas berdiri di tempat paling tersembunyi, terletak di bawah perbukitan yang menghadap langsung ke arah pantai. Cuaca di sana sangatlah ganjil, udara membawa racun mematikan yang dapat membunuh kapan pun. Langit bercorak kehijauan, bahkan ketika air hujan menetes air itu juga membawa kandungan racun. Membasahi jalanan, benda mati dan pepohonan yang mulai layu.


Tong-tong besi berat berjejeran penuh sepanjang markas, jumlahnya mungkin mencapai 800 unit, hampir lima bangunan besar dibangun, di bawah tanah pun masih banyak stok yang akan didistribusikan hingga ke luar Kekaisaran. Tempat itu sama sekali tak dijaga oleh kroco-kroco atau bahkan dibangun pagar kawat besi.


Murni terbuka dan bisa masuki siapa saja.


"Bagaimana jika kita semua berakhir di sini?"


Secara tak langsung Yue Huanran menyakiti hati Pilar Kekaisaran lainnya, dia memang terkenal dengan mulutnya yang ceplas-ceplos. Yue Ling'er yang umurnya telah mencapai 350 tahun menyeletuk, "Kau meremehkan kekuatan kita?"


"Kita berbicara tentang kemungkinan terburuknya," tambah Tao Gui Xiang memperkuat argumen Yue Huanran. "Jika kita semua berakhir di sini maka Kaisar Qin dan Kekaisaran Shang akan berada di dalam bahaya. Saat ini yang berada di Perlindungan Awan hanyalah Pilar Kedua, Xin Zhan. Sisanya hanya jenderal dan Kepala Prajurit."


Xin Chen teringat percakapannya dengan Kaisar Qin.


"Tentunya aku telah mengukur seberapa besar kekuatan mereka dan menimbang keputusan ini matang-matang, aku tahu ini beresiko tapi ..."


Saat itu wajah Kaisar Qin tampak sangat rumit. Dia mengambil keputusan terberat, mengirimkan Pilar Kekaisaran untuk menghabisi Serigala Malam karena tahu sumber penyebaran virus ini kebanyakan diperankan oleh kelompok tersebut.


"Aku mempunyai beberapa informasi tentang mereka. Ini akan sangat berguna untuk kalian. Meski ini seperti pertaruhan namun aku sangat percaya kepada kalian, Pilar-pilar Kekaisaran. Seandainya situasi yang tak diharapkan terjadi maka aku akan mencari kandidat untuk dijadikan Pilar Kekaisaran sementara."


Kaisar Qin menukikkan alisnya, menatap Xin Chen dalam-dalam. Xin Chen bahkan masih mengingat jelas wajah Kaisar Qin saat mengatakannya.


"Bunuh mereka dan pastikan markas itu terbakar hingga ke inti bumi."

__ADS_1


Tao Gui Xiang selaku Guru Besar Kuil Teratai pastinya telah melalui banyak situasi kritis yang serupa, dia mengeluarkan pendapatnya kembali, membuat Xin Chen tersadar dari lamunannya.


"Dan pertarungan ini mungkin akan memakan waktu lama. Dari informasi yang diberikan Kaisar Qin, seharusnya kalian telah mengukur sendiri kekuatan mereka. Satu orang saja setara dengan kekuatan dua Pilar Kekaisaran kita. Dan mereka berenam.. Ini akan menjadi pertarungan yang sulit." Lelaki yang bertugas menyelediki informasi Serigala Malam saja sampai pesimis seperti itu.


Selang beberapa menit berdiskusi dan merancang strategi, akhirnya dua saudara Lian datang bersama seorang perempuan yang wajahnya begitu garang menatap Xin Chen.


Xiu Qiaofeng, siapa lagi. Tangannya terkepal seperti hendak meninju, dia sempat bertanya sambil berlalu di depan Xin Chen, "Kau meninggalkan seorang gadis di ruang perawatan dan Nyonya Ren yang mengambil tanggung jawab untuk mengobatinya. Boleh aku tahu siapa dia?"


Xin Chen tak mengerti arti tatapan itu, dia menjawab sekenanya. "Bukan musuh. Tenang saja."


Gadis itu tampak tak suka. "Bagiku sekarang dia adalah musuhku," gumamnya sangat kecil. Xin Chen tak sempat mendengarnya karena fokus dengan penuturan Tao Gui Xiang. Lian Ning begitu semangat ketika melihat Xin Chen di sana.


"Yoo! Apa kabar kawan?"


"Oh, Lian Ning. Sebaiknya kau dengarkan arahan Tao Gui Xiang, markas musuh tak jauh dari sini, kita tak boleh gegabah."


"Apa yang perlu dirundingkan, bukankah kita hanya perlu menyerang mereka?"


Lian Ning tiba-tiba mengambil tindakan sendiri dengan berjalan di markas depan musuh. Tao Gui Xiang menutup matanya, sakit kepala tiba-tiba.


Lian Ning memang terkenal akan kecerobohannya. Sekarang saja, dia sudah menginjak ranjau yang dari kejauhan melepaskan sekat di atas perbukitan tinggi. Beberapa batu besar menggelinding cepat ke arahnya, pemuda itu lari pontang-panting panik setengah mati.


"Aaaaaaa sial baruu juga beberapa detik sampai!"


Terlepasnya jebakan pertama mengundang keributan. Ledakan demi ledakan terdengar, Lian Ning berada dalam bahaya. Xin Fai segera melangkah dan menghindari berbagai jebakan yang nyaris dipijaknya. Dia menyeret Lian Ning segera ke tempat aman hingga ledakan terakhir meletus. Puluhan pisau kecil terlempar dan menancap di tanah tempat Lian Ning terduduk.


"Bagaimana bisa orang seperti dia ditempatkan dalam misi seperti ini." Xin Chen tanpa sadar bergumam, memang Lian Ning memiliki potensi dalam segi kekuatan. Tapi dalam segi lain Xin Chen meragukan apakah otak pemuda itu masih terpasang dengan baik atau kadang sudah bergeser ke dengkulnya.


"Dia memang Pilar paling ceroboh, tapi juga Pilar paling beruntung." Zian Ning di sampingnya menambahkan meski dia sendiri malu melihat kelakuan saudaranya.


"Dia telah menyelesaikan puluhan misi berbahaya dengan caranya sendiri. Jangan meremehkan kakak Lian."


"Aku tak meremehkannya," ucap Xin Chen dengan seringai penuh arti.


Xin Fai kaget saat satu bocah lagi keluar dari semak-semak dan mulai melakukan hal bodoh seperti yang Lian Ning lakukan. Zian Ning tertegun melihat Xin Chen keluar dari persembunyian sambil berkata, "Justru aku suka dengan caranya! Tapi jangan tanggung-tanggung seperti itu!"


***

__ADS_1


__ADS_2