Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 241 - Enam Tuan Rumah XIII


__ADS_3

Satu dari 100 keturunan asli klan Lian mewarisi sebuah kekuatan turun-temurun yang amat besar. Hanya segelintir orang yang mengetahui tentang kekuatan tersebut karena dikatakan klan itu telah mengalami kemunduran, darah yang diwarisi sudah tidak murni lagi dan ditambah sering terjadi percekcokan yang mengakibatkan pertumpahan darah. Kian lama, jumlah mereka kian menipis.


Namun suatu waktu terlahir anak kembar, kedua orang tuanya meninggalkan bahkan sebelum mereka mampu berjalan dengan baik. Bertahan dari segala guncangan, mengharapkan belas kasih dan tumbuh bersama menjadi kuat.


Lian Ning.


Cahaya terang memancar hingga menyentuh awan, begitu besar hingga membuat Kera Kuning senyap beberapa saat menyaksikan kekuatan asli Lian Ning di Pilar Ketujuh. Namun sayangnya pemuda itu belum sepenuhnya mampu mengendalikan kekuatan besar dalam dirinya.


Lian Ning mengarahkan pandangan ke arah Kera Kuning, gelagatnya mulai menampakkan tanda-tanda ingin menyerang. Lantas Kera Kuning bersiaga, tahu serangan bisa masuk kapan saja dan di mana saja. Lima cahaya kuning muncul di telapak tangan Lian Ning, memancar cepat menembus tempat di mana Kera Kuning berada.


Musuh dapat menghindar cekatan, mengambil jarak yang cukup dekat dan menendang kepala Lian Ning dari samping. Lian Ning tersungkur, tapi dalam jatuhnya kaki pemuda itu mampu menopang kembali bobot tubuh dan berdiri tegap. Lima belas bola cahaya tercipta di depannya membentuk lingkaran, Lian Ning melepaskan dan langsung mengejar Kera Kuning setelahnya.


Kera Kuning berlari berliku-liku di dalam hutan, bola cahaya itu menabrak pepohonan hingga ambruk beberapa. Desir angin berembus kencang, ketika Kera Kuning berpikir dia selamat dari serangan kekuatan cahaya itu salah satu ternyata masih mengejar di balik punggungnya.


Tangan Kera Kuning berusaha menghalau, tubuhnya terdorong jauh. Cahaya itu tembus di dadanya hingga Kera Kuning jatuh terduduk menghantam batang pohon. Memuntahkan darah cukup banyak.


Bayangan hitam muncul di depan, saat Kera Kuning menengadah tangan Lian Ning mencengkram kepalanya. Memaksa laki-laki itu mendongak. Mata Lian Ning ikut bercahaya terang, Kera Kuning yakin yang berdiri di depannya bukan pemuda itu. Dia kehilangan kesadaran dan Kekuatan aslinya bangkit d alam bawah sadar.


Kekuatan cahaya melebar kencang melalui hutan rimba, menerbangkan apa pun yang dilaluinya. Burung-burung mengepakkan sayap dan terbang sejauh mungkin dari sana.


Beberapa detik Lian Ning melepaskan kepala tersebut, melihat Kera Kuning terbatuk. Kekuatan cahaya memudar dari tubuhnya, Lian Ning kembali mendapatkan kesadaran.


Namun dia tak sempat menghabisi Kera Kuning yang langsung kabur. Berlari menyelamatkan diri sementara, Lian Ning hendak mengejar tapi baru selangka berjalan kakinya tumbang.


Lian Ning memakai kekuatan secara berlebihan. Sekarang musuh bisa datang kapan saja untuk berbalik menghabisinya.


Belum begitu jauh berlari Kera Kuning dibuat kaget saat sesosok pendeta yang sudah mengangkat sebelah telapak tangan, mantra huruf tercipta dan menghantam dada Kera Kuning begitu cepat. Dia terjatuh menghantam tanah.


"Maafkan aku Lian, aku terpaksa mengambil alih musuhmu karena keadaanmu juga tak memungkinkan. Sekarang tubuhnya telah kusegel. Dia tak akan bisa bergerak ke mana pun lagi."


Lian Ning tertegun, tak salah lagi Tao Gui Xiang adalah penyelamatnya. Laki-laki itu berhasil mengunci Kera Kuning yang langsung jatuh tak berdaya, Tao Gui Xiang melompat dari dahan pohon menuju ke tempat Lian Ning berada.


"Di mana adikmu?"

__ADS_1


Lian Ning teringat pemicu kemarahannya, Zian Ning. Sama sekali tak ingat di mana terakhir kali melihat adik kembarnya itu.


Tao Gui Xiang memerhatikan sekitar seraya berkata, "Ikuti aku."


Sesampainya di tempat Zian Ning berada, Lian Ning berlutut lemas. Keadaan adiknya sekarang tak bisa dikatakan baik-baik saja, bahkan terlampau buruk lebih tepat. Tao Gui Xiang mengangkat lengan jubah putih, menoleh k samping di mana Lian Ning terpuruk melihat keadaan sang adik.


"Aku akan menyembuhkannya sebisaku. Dia aman bersamaku di sini. Pergilah cari yang lain, mereka mungkin membutuhkan pertolongan mu."


Lian Ning agak tak setuju, dia ingin menjaga Zian Ning sendiri tapi tak ada yang bisa dilakukannya untuk menyembuhkan Zian Ning. Tao Gui Xiang jauh lebih tahu keadaan adiknya dan pasti sudah mempertimbangkan yang terbaik.


Lian Ning mengangguk. Segera menuju ke sumber suara di mana sisa pertarungan masih terdengar.


Xin Chen menghentikan langkah ketika merasakan kekuatan besar Lian Ning mulai menghilang, dia juga tak merasakan hawa keberadaan lain selain milik Lian Ning di tempat itu. Satu orang telah datang, Xin Chen bisa menebak dia adalah Tao Gui Xiang. Dengan begitu dia yakin mereka menang.


Firasat buruk masih terus menghantuinya tanpa henti, Xin Chen tak bisa tenang sejak tadi. Dia mencari ke berbagai tempat. Sampai langkahnya tertahan, samar-samar dapat terlihat seseorang terbaring lemah di kejauhan.


Xin Chen bergerak secepat dia bisa menghampiri Xin Fai. Melihat bekas luka yang tak main-main, melihat sekitar yang hancur parah saja sudah menggambarkan seberapa menakutkan pertarungan yang terjadi antara Gajah Abu-abu dan Pedang Iblis.


Xin Chen terkesiap. Dalam darah Ayahnya sebuah racun mengalir. Xin Chen memeriksa teliti sambil berusaha mengajak lelaki itu berbicara.


Xin Fai memasukkan udara dalam rongga dadanya dan berakhir meringis kesakitan. Xin Chen yang telah mengamati racun itu menggelengkan kepala.


Itu adalah jenis racun baru. Dia tak memiliki penawar apa pun yang cocok untuk menghentikannya. Xin Fai bersuara pelan, "Gajah Abu-abu telah kalah, tapi di akhir pertarungan dia tak ingin mati sendirian dan memberikan racun di akhir. Hasilnya... Seperti yang kau lihat sekarang."


"Tenanglah. Aku akan mencari penawarnya"


"Mungkin tidak akan sempat. Racun ini akan membunuhku cukup dengan satu jam setelah terkena."


"Ayah terkena sejak kapan?"


"Setengah jam yang lalu."


Xin Chen seketika bangkit. Raut mukanya berubah serius, tak ada yang lebih penting daripada menyelamatkan Xin Fai sekarang. Dirinya sendiri belum memastikan Pilar Kekaisaran lain, tapi bagaimana pun juga tumbangnya Pilar Pertama di pertarungan ini akan membawa dampak buruk besar pada Kekaisaran Shang. Ditambah lagi keadaan kekaisaran memang sedang kritis dan tidak stabil.

__ADS_1


Satu-satunya yang dapat membawa mereka kembali dengan cepat ke Pulau Seizu adalah Ye Long. Xin Chen hanya harap-harap cemas. Dia mengeluarkan sebuah seruling, meniupkan alunan irama yang paling dibenci Ye Long. Entah ke mana naga itu berada, Xin Chen sendiri tak yakin apakah naga itu masih mendengarnya.


Terdengar suara pekikan kesal dari kejauhan. Xin Chen menurunkan seruling.


Di balik kabut hijau yang menghalangi pandangan, cahaya petir mulai muncul dan menghilang sesaat. Diiringi lengkingan panjang yang khas, sesosok naga hitam turun.


"Kau mendengarnya?"


Ye Long mengepakkan sayap sengaja sehingga angin bertiup kencang di sekitar.


"Sampai masuk ke dalam mimpiku! Majingan memang."


"Kau bicara apa? Majingan?"


"Majikan bajingan!"


Ye Long sebenarnya masih kesal. Pertama, Xin Chen tak memberinya makan selama tiba di Pulau Seizu, dia bahkan tak tahu apakah keluarganya yang lain selamat atau tidak. Dan kedua Xin Chen meninggalkannya begitu saja di pelabuhan kota Seizu.


"Ayah sedang membutuhkan pertolonganmu. Kau bisa membawa kami ke Pulau Seizu kurang dari setengah jam?"


"Hah? Gila, ya. Mana mungkin sampai setengah jam! Rrrahggh!"


Xin Chen mengangkut tubuh Xin Fai, mengetahui racun makin melumpuhkan laki-laki itu membuatnya makin panik.


Dia sebenarnya bisa saja membawanya sendiri, tapi waktu setengah jam terlalu singkat. Mereka bahkan butuh waktu paling tidak setengah hari untuk sampai di sini.


"Kalau cuma ke Pulau Seizu hitungan menit juga sampai, cepat naik!"


Ye Long tampak bersemangat, Xin Chen mulai curiga tapi tak punya pilihan lain selain percaya dengan naga itu. Dia telah mengukir pesan di salah satu dahan pohon yang tumbang agar dibaca oleh Pilar Kekaisaran lain nanti. Ini adalah keadaan darurat yang tak terduga. Xin Chen berharap yang lain membereskan sisanya tugas selagi dirinya membawa Xin Fai kembali ke Pulau Seizu.


Setelah Xin Fai dan Xin Chen berada di atasnya Ye Long mengambil ancang-ancang.


"Aku sering bosan kalau tidak ada kerjaan, satu-satunya yang bisa kulakukan adalah melatih sayapku untuk menaikan kecepatan terbang, kebetulan sekali aku beritahu hasilnya padamu."

__ADS_1


Xin Chen berpegangan, memastikan Xin Fai aman di atas Ye Long.


Saat Ye Long mulai beraksi Xin Chen nyaris tak melihat sekitar. Begitu cepat. Apalagi ditambah Ye Long memanfaatkan kekuatan petir di siripnya, membuat kecepatan terbangnya melesat ke tingkat tertinggi.


__ADS_2