
Xin Zhan lebih sensitif dalam pemikirannya sendiri. Sesuatu yang bergejolak di otaknya, hatinya menentang itu semua, sama dengan logikanya. Tapi tubuhnya melakukan hal yang berkebalikan. Tanda tanya besar terus memenuhi otaknya. Xin Zhan bahkan kehilangan konsentrasinya setiap kali memikirkan itu.
Dan dia teringat setiap gerakan Xin Fai ketika berduel lama dengannya.
"Apakah semua itu berasal dari sana?"
Mungkin suatu saat nanti dia akan hilang kendali dengan kekuatan ini, tapi bagaimanapun juga dirinya sudah tenggelam. Dan harus menyeberangi lautan berdarah tersebut untuk menggapai tujuannya.
Seseorang datang menyadarkan Xin Zhan yang kehilangan fokus usai bertarung dengan Hu xingye.
"Ada apa, Tuan Muda?"
"Tidak. Lupakan."
"Ye Long sudah membersihkan bagian bangunan samping. Dan sekarang Lao Zi sudah turun ke ruang bawah tanah, tampaknya musuh lebih menguatkan penjagaan di tempat itu dari yang lainnya."
Wajah Xin Zhan masih tak fokus. Lao Zi menatap musuh di bawah kaki Xin Zhan dan mulai mengerti situasi apa hang dihadapinya. Xin Zhan terkenal sebagai contoh teladan bagi pendekar aliran putih Kekaisaran Shang. Caranya bersikap, bahkan bernapas pun sangat tenang. Ajaran teguh yang diajarkan Ren Yuan tak pernah dilanggarnya dan sekarang, di tempat ini Xin Zhan menjadi sesosok yang tiga ratus enam puluh derajat berbeda.
Saat sibuk larut dalam lamunannya sendiri Lao Zi menepuk pundaknya pelan, dia tersenyum tipis.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, Tuan Muda..."
Laki-laki itu menoleh ke belakang diikuti Xin Zhan. "Sejak awal kita harus memilih jalan ini, hidup untuk melakukan dosa-dosa seperti ini. Aku tidak peduli jika setelah mati harus dilemparkan ke jurang neraka sekalipun, asalkan hanya kita yang merasakannya. Jika orang lain bisa hidup aman tanpa berperang lagi setelah aku mati nanti, kurasa ini adalah bayaran yang cukup."
Kata-kata itu membuat Xin Zhan tertegun.
"Ya... Kau benar," sahut Xin Zhan. "Kita hanya sekumpulan dosa yang mencari jalan untuk sesuatu yang sulit digapai. Hidup demi perdamaian dan mati bersimbah darah."
Lao Zi mengangguk pelan, dia bergerak menyusul Lan Zhuxian. Anehnya di tempat ini tak begitu banyak terlihat anggota Empat Unit Pengintai, entah Meraka menang atau kalah.
Xin Zhan mengembuskan napas
Setidaknya jika harus dilemparkan ke jurang neraka nanti dia Lao Zi, Lan Zhuxian dan Ye Long akan berada satu rombongan dengannya. Anehnya itu membuat hatinya lebih lega.
***
Lan Zhuxian telah tiba di sebuah tempat kosong beberapa menit yang lalu. Seorang laki-laki berdiri di tengah ruangan, senyum mengambang membuat kumis tebalnya terangkat.
"Hidung yang tajam. Aku benci hal itu, kau tahu. Sampai bisa datang ke sini, mengetahui ruangan bawah tanah ini. Sepertinya orang-orang seperti kalian memiliki indera yang terlampau hebat."
Tatapan mata yang tajam diberikan oleh pimpinan Empat Unit Pengintai, pria itu memelototi geram antara kesal dan khawatir. Semua bercampur aduk, hal itu terjadi selama beberapa saat sebelum akhirnya tawaan keluar dari mulutnya kemudian. Terdengar sedikit seperti tawaan terpaksa.
"Oh ... Datang dua lagi ke sini. Nyalimu besar juga, hahahaha. Mengancamku dengan berlagak membawa kawan seperti itu? Kau benar-benar ingin mati!"
Lan Zhuxian keluar, melihat ke belakang di mana Xin Zhan muncul bersama Lao Zi.
"Sayangnya di luar begitu banyak orang-orang ku yang siap membunuh naga itu. Kau tidak takut adikmu akan mengamuk jika melihat naga kesayangannya dijadikan perhiasan belaka?"
"Lao Zi, Lan Zhuxian. Pergilah keluar. Aku bisa mengatasi ini. Selamatkan Ye Long."
"Tapi di sini masih banyak musuh yang akan keluar dari tiap ruangan-"
"Pergilah."
Satu kata yang cukup memaksa. Keduanya pergi dari sana sesuai perintah Xin Zhan.
__ADS_1
Segera setelahnya pertarungan antara Xin Zhan dan Pimpinan Empat Unit Pengintai dimulai, dua senjata saling beradu mengakibatkan pusaran angin kencang. Secara bergantian muncul sebuah kekuatan aneh yang mengelilingi pimpinan Empat Unit Pengintai, dia menolehkan wajahnya ke satu titik, tak disangka baru saja melihat sebuah pedang muncul dari ruang hampa nyaris mencelakainya.
"Apa-apaan-!?" Pimpinan Empat Unit Pengintai memundurkan diri dengan panik, dia melompat jauh sembari melihat ke arah Xin Zhan berdiri sebelumnya dan tidak bisa mendapati pemuda itu di manapun.
Tidak ada yang menyangka tiga detik setelahnya kembali ruang hampa tercipta di balik punggung Pimpinan Empat Unit Pengintai membuatnya secara refleks menangkis pedang musuh, pria itu melirik kanan kiri secara cepat. Xin Zhan berpindah dengan kecepatan layaknya cahaya. Sementara musuh berusaha menebak di mana pemuda itu akan muncul berikutnya dengan merasakan hawa keberadaan.
Namun tak sedikitpun pria itu dapat merasakan kehadiran lawannya, dia menjadi sangat waspada setelah menyadari apa yang dikatakan Xin Zhan benar adanya, pemuda itu tidak membual sama sekali. Justru dirinya saja yang terlalu meremehkan kekuatan manusia.
"Kau-! Berhenti bermain-main seperti pecundang! Tunjukkan dirimu sekarang juga di depanku atau tidak aku akan membunuh semua orang-orang mu di sini!" Teriak pria itu menggertak keras, napas beratnya terdengar tak teratur.
"Bicara soal pecundang, kukira kau lebih cocok dengan sebutan itu." Pusaran angin kembali muncul dan setelahnya terlihat Xin Zhan berdiri tak jauh darinya. "Kau menyerap kekuatan lawanmu, membuatnya lemah secara pelan-pelan dan menggunakannya untuk memenangkan dirimu sendiri. Itupun kau lakukan secara diam-diam, kau dipikir lagi bukankah kau lebih pecundang?"
"Tutup mulutmu!" Lelaki itu bahkan baru tau Xin Zhan dapat mengetahui kemampuan uniknya meski mereka bertarung tak lama.
"Kenapa? Termakan omongan sendiri? sungguh memalukan iblis tua. Lihatlah jika aku memberitahu semua orang, betapa bersinarnya wajahmu itu."
Pimpinan Empat Unit Pengintai tak sanggup lagi menahan sabar, dia menancapkan pedang di lantai dengan suara dentuman begitu kuat.
Setelahnya pria itu berlari mengejar Xin Zhan, pedang dihunuskan kemudian bergerak lincah membelah tubuh lawan tapi tidak disangka usai melepaskan begitu banyak tenaga dalam demi serangan kali ini, semua itu justru tidak berguna di hadapannya lawannya. Tubuh Xin Zhan cepat menghindar. Dan jika dilihat dengan mata biasa, dia hanya seperti bayangan yang bergerak begitu cepat, membuat orang lain keheranan kapan dia benar-benar berhenti berpindah.
Sebenarnya itu semua berkat pil obat yang sempat Xin Zhan simpan di cincin ruangnya sebelum pergi berperang. Beberapa untuk penyembuhan luka telah habis digunakan, tetapi tidak dengan pil penambah kekuatan. Dengan itu dia masih tetap berdiri meski banyak kekuatannya telah habis dari pertarungan-pertarungan sebelumnya.
Tak terkecuali pimpinan Empat Unit Pengintai, dia terdiam tak menggerakkan pedangnya lagi setelah itu. Bola matanya fokus di satu arah berusaha menebak bagaimana bisa sosok pemuda di depannya ini memiliki kekuatan besar dan juga memiliki kekuatan cahaya dengan intensitas yang mengejutkan ini.
"Sepertinya mulut kalian sama-sama dibekap untuk tak mengumbar lokasi Tuan kalian. Karena itu sepertinya mempertahankan nyawamu akan sia-sia saja."
Xin Zhan berucap tenang, menyentuh bilah pedang lawan bersama aura membunuhnya.
"Tak akan ada informasi yang kau dapatkan di sini karena kau akan mati sebelum pergi-?"
Pedang pusaka muncul di tangannya secara mendadak, pimpinan Empat Unit Pengintai tak sempat menarik pedangnya dari tangan Xin Zhan. Dia menyadari sebuah kekuatan cahaya tengah bergejolak hendak memakannya hidup-hidup.
"Kau harus mati jika belum tahu bagaimana rasanya."
Kurang dari satu detik kepala pimpinan Empat Unit Pengintai terpecah saat pedang Xin Zhan, hadiah pemberian ayahnya, terlalu cepat hal itu terjadi membuat tubuhnya yang tidak memiliki kepala masih sempat bergerak-gerak. Xin Zhan mengeluarkan pisau angin, yang bergerak kencang menembus kulit pria itu dan menancap di dinding.
Tubuh pimpinan Empat Unit Pengintai mengeluarkan merah darah yang berceceran membasahi lantai dan dinding, Xin Zhan tidak menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk menatapi kematian mengenaskan pria itu. Dia segera membalikkan badan pergi menyusul dua temannya, tapi baru dia sadari Lao Zi telah kembali karena mengkhawatirkannya dan kini yang hanya bisa tercengang dalam diam. Dia tersentak saat Xin Zhan memanggilnya.
"Tampaknya musuh yang kita cari tak ada di sini. Lao Zi, sisa yang di tempat ini sementara ku serahkan padamu, aku akan mencari ke luar."
Lao Zi belum sempat mengangguk paham dan Xin Zhan telah pergi secepat kilat dari pandangannya.
Tiba di luar yang pertama kali dilihatnya adalah sebuah tempat bertarung yang sangat tragis, puluhan pendekar dari Empat Unit Pengintai tergeletak tak bernyawa di sepanjang jalan. Akibat pembantaian yang dilakukan ye Long. Panah busur dan pedang pun berserakan di menggambarkan sengitnya pertarungan di Desa SangXu. Tampaknya naga itu berkerja keras. Entah karena perkataannya kemarin, dia ingin berguna untuk membantu Xin Chen.
Xin Zhan menggenggam erat senjata di tangannya saat melihat salah satu musuh telah jatuh terkapar di tanah, dia sekarat. Tanpa berpikir jauh lagi dirinya segera menghampiri pria itu dan membunuhnya sebelum dia mengambil panah untuk membidik ye Long. Di tubuh naga itu kini penuh dengan tusukan tombak, pedang serta panah.
Sayangnya waktunya tidak cukup, belum sempat mengambil panahnya pria itu sudah mengembuskan napas terakhir, tidak bisa berbuat banyak lagi, Xin Zhan mengangsurkan tatapan pada sekumpulan pendekar yang tersisa di hadapannya.
Xin Zhan berdiri tegak mengangkat senjatanya, dalam satu hentakan kuat pemuda itu berlari hingga sampai di tempat musuh. Baru saja hendak menebas kepala salah satu dari mereka tiba-tiba sebuah pedang lainnya menangkis serangannya.
"Tuan, apa yang Anda lakukan?"
Terdengar suara yang familiar, Xin Zhan melirik ke arah pemuda itu dengan tatapan bingung.
"Kau ingin membunuh temanmu sendiri?"
__ADS_1
"Kau siapa?–"
"Saya bukan musuh anda."
Xin Zhan terdiam sejenak sambil mengenali sosok pemuda yang kini berpakaian seragam dengan musuhnya.sosok di hadapannya ini, terasa tidak asing di matanya. Menyadari tatapan itu lawan bicaranya hanya bisa membuang napas panjang.
"Anda benar-benar tidak mengenal saya?"
"Maaf, aku tidak ingat. Kau Lan Zhuxian?"
"Syukurlah ingat." Lan Zhuxian mengawasi sekitar, takut musuh datang tiba-tiba. Dia berpakaian seperti musuh karena beberapa hal. Saat Xin Zhan bertarung dengan pimpinan Empat Unit Pengintai di tempat ini, dia menemukan titik lain yang mencurigakan. Memang keberadaan Qin Yujin tak mudah ditebak. Tapi yang pasti beberapa tempat yang dijaga pasti memiliki alsan untuk diawasi.
"Oh..."
Tanggapan singkat itu membuat Lan Zhuxian sedikit heran, dia menyadari Xin Zhan tidak begitu peduli dengan penyamarannya. Padahal sejak awal tadi dia cukup yakin Xin Zhan paling tidak akan bertanya lebih lanjut tentangnya.
"Ada petunjuk tentang Qin Yujin ataupun Fu Qinshan?"
Lao Zi menghadapkan pandangannya ke arah Xin Zhan melihat, dia tampak ragu.
"Tidak ada."
Mereka kembali berpencar seperti sebelumnya. Bertarung hingga titik darah penghabisan.
Badai membuat api biru Ye Long mengobar kencang membakar rumah-rumah reyot tak berpenghuni.
Di pihaknya lawan korban berjatuhan cukup banyak berkat Ye Long, musuh telah lebih dulu tumbang, Lao Zi melayangkan tatapan pada satu titik di mana dia bisa melihat seorang pemuda lainnya berlari sambil memutarkan pandangan ke seluruh arah.
"Lan Zhuxian?" Ucapnya berhenti membuat Lan Zhuxian pun ikut menghentikan langkahnya.
"Apa kau melihat Tian Muda Xin Zhan? Ke mana dia pergi?"
"Dia baru saja pergi ke depan sana."
" Kalau begitu saya pergi dulu." Setelah mengatakannya Lan Zhuxian bergerak langsung ke arah yang ditunjukkan Lao Zi. Dia tidak memedulikan musuh yang mencoba menghalanginya sepanjang jalan dan tidak melakukan perlawanan apapun.
Tak begitu jauh di hadapannya Lan Zhuxian akhirnya bisa menemukan Xin Zhan, dia tercengang beberapa saat melihat pemuda itu tengah dikeroyok musuh yang jumlahnya hampir dua puluhan orang, tidak ada satu pendekar pun yang membiarkannya lolos dari lingkaran kematian itu.
Lan Zhuxian segera mengangkat senjata, masuk ke medan tempur di dalam pusaran musuh.
Lima pendekar terpental saat energi dahsyat keluar dari tubuh Xin Zhan, mengerubungi mereka bersama hawa yang terasa sangat mengecam.
Xin Zhan menaikkan pedangnya sejajar dengan kepala, memutar langkah kakinya hingga membentuk sebuah bulatan kemudian di detik berikutnya pedang miliknya bersinar bersama dengan sebuah mantra yang terbentuk di tanah memunculkan reaksi yang sama.
Lan Zhuxian membuka matanya lebar, dia merasa jurus itu tidak asing di matanya. Apalagi kalau bukan berasal dari Kitab Tujuh Kunci begitu terkenal. Tetapi yang kali ini dilihatnya bukan berasal dari dua kunci tersebut melainkan jurus yang berada satu tingkat di atasnya, yakni kunci langit.
Lan Zhuxian tahu tentang Kekaisaran Shang, kurang lebihnya karena memang di kedai-kedai pun kedua anak Pedang Iblis menjadi topik paling banyak diceritakan.
"... Dia sudah membuka gerbang kedua Kitab Tujuh Kunci? Bisa jadi dia juga sudah membuka gerbang ketiga... tapi bukankah di Lembah Kabut Putih dikatakan baru mencapai gerbang satu?
Kekuatannya semakin hari semakin tidak tertebak, dia berkembang jauh lebih pesat setelah perang."
Melihat betapa kuatnya jurus tersebut dia semakin kagum, memang sepertinya Kitab Tujuh Kunci berpihak pada tubuh Xin Zhan yang memiliki kekuatan besar dalam dirinya.
"Sepertinya Tuan Muda bisa menanganinya sendiri," ujarnya pelan. Lan Zhuxian berniat membalikkan badan. Secara mendadak dia dapat merasakan sebuah kapak besar tangah mengincar belakang kepalanya. Lan Zhuxian belum sempat menarik pedangnya untuk bisa menyelamatkan diri. Hingga tiba-tiba pisau angin datang membelokkan serangan lawan.
__ADS_1