
"Berjanjilah satu hal. Pulang dan temui ibu. Hanya itu saja."
Suara Xin Chen satu-satunya yang terdengar di tengah kelengangan sekitar. Mata cokelat itu menatap pundak anaknya yang sudah tak berapa jauh. Xin Zhan mundur sambil berkata, "Aku tahu seberapa besar perjuangannya untuk menolongmu. Tolong kembali, Ayah. Jika ada yang kau takutkan maka kami akan membantumu."
"Ayah tahu akan itu. Dua putra ku sama-sama hebat." Tangan lelaki itu menyentuh pundak Xin Chen dan menariknya agar mereka berhadapan.
"Ayah pulang-"
Xin Fai terperangah.
Saat dirinya sedang merasa bersalah akan Xin Chen, justru putra keduanya itu sedang tertawa usil.
"Tu-tunggu, Ayah. Aku ingin tertawa dulu." Xin Chen tergelak. "Ancaman kuno ini masih mempan rupanya hahah."
Xin Fai menghembuskan napas sabar. Dia dikerjai.
"Mana mungkin aku pergi setelah sampai di titik ini? Kau telah selamat dan kita hanya perlu pulang ke rumah. Keputusan ayah sudah tepat. Kita kembali."
Xin Chen memperhatikan sekitar di mana puluhan anggota Empat Unit Pengintai menyebar, membawa antek-antek Qin Yujin yang telah diikat.
"Tentu setelah mengurus mereka lebih dulu."
"Tidak perlu, Chen. Biar aku dan Empat Unit Pengintai yang mengurusnya. Beristirahatlah sebentar dan jaga Ayah. Jangan sampai balik-balik terjadi sesuatu."
Perginya Xin Zhan diiringi grasak-grusuk di sekitar yang semakin gaduh. Xin Zhan mengambil keputusan yang membuat Xin Fai tercengang di tempat.
Para anak buah dan mata-mata Qin Yujin yang berjumlah hampir tiga puluh orang itu tengah berada pada penentuan nasib mereka. Dan nasib mereka sendiri berada di tangan Xin Zhan.
Xin Zhan memutuskan untuk menghabisi seluruh orang itu, tanpa keraguan dalam setiap baris kalimatnya.
Mata hitam kelam itu menatap tanpa belas kasih pada puluhan orang yang tengah dibunuh massal di depannya.
"Banyak yang telah berubah selama aku pergi."
Ucapan Xin Fai membuat perhatian Xin Chen teralihkan. Dia hanya menatap ke depan sembari memikirkan satu hal, " Pedang itu akan lebih baik bersamaku. Aku yang akan membawanya pergi."
__ADS_1
Ketika mengatakannya dia sama sekali tak terdengar keberatan, hal itu membuat Pedang Iblis heran.
"Kau tahu apa yang akan kau hadapi jika membawa pedang itu bersamamu."
"Aku sudah membawanya selama tujuh tahun. Dan aku baik-baik saja," sela Xin Chen. Seketika Xin Fai tersadar akan sesuatu yang membuatnya tertawa kecil. "Benar juga. Kau bahkan dapat mengalahkan Naga Kegelapan dengan tanganmu sendiri."
"Aku masih lemah."
"Jangan menundukkan kepalamu, Chen'er. Kau akan menjadi pemimpin kelak. Angkat kepalamu. Orang-orang butuh sosok yang kuat untuk melindungi mereka." Xin Fai duduk bersila di sebelah anaknya, merangkul pundak Xin Chen selayaknya temannya sendiri.
"Bukan itu. Maksudku ayah bertarung dengan Naga Es hanya satu Minggu. Sementara aku ... aku bahkan sudah tak ingat seberapa lama perang ini sejak dimulai." Dia menambahkan, "Bukan hanya aku yang mengalahkan Naga Kegelapan. Di sana ada Kakak Zhan, Shui, Huo Rong, Empat Unit Pengintai, prajurit Kekaisaran Shang dan masih banyak lagi. Aku bertarung bersama mereka, Ayah."
Senyum tipis terlihat di wajah Xin Fai. Di matanya, Xin Chen telah berubah banyak. Dulunya dia tak lebih dari seorang anak kecil usil. Dan sekarang, pemuda yang berada tepat di depannya itu telah beranjak dewasa. Cara berpikirnya, sikap dan pembawaannya. Dia sampai tak percaya orang yang berada dalam rangkulannya ini adalah si kecil Xin Chen yang keras kepala. Lebih keras kepala menandingi dirinya.
"Kita akan pikirkan itu ketika sudah di rumah. Untuk sekarang jagalah pedang ini, sekali lagi."
Xin Chen menerimanya dengan senang hati. Menyimpannya sebaik-baiknya di cincin ruang. Di tengah situasi yang kacau balau di mana jeritan dan erangan sekarat terdengar berulang-ulang, banyak dari musuh yang mencoba kabur, merangkak ke sana kemari lalu berakhir dengan kepalanya yang terpenggal dari lehernya. Beberapa dari mereka dibakar hidup-hidup.
Termasuk jasad Fu Qinshan yang dicap sebagai musuh. Adiknya menatap jasad itu tanpa berkata-kata, hatinya kosong. Air matanya kering sejak beberapa saat yang lalu.
Entah keputusan yang diambilnya adalah yang terbaik.
Hanya Fu Hua yang tahu seberapa tulus wanita itu menjaganya. Tanpa pernah berharap balas budi. Seperti yang dilakukan Fu Qinshan terhadap tuannya Qin Yujin.
Di depan makam saudarinya yang sedang dibakar oleh besarnya kobaran api, Fu Hua bersumpah atas nama kakaknya.
"Aku telah bersumpah akan membunuhmu, Qin Yujin. Sekarang aku sudah tidak memiliki alasan untuk tidak membunuhmu."
Mata melototnya basah oleh air mata, air mata tanpa suara yang lebih menyakitkan dari apa pun. "Istirahatlah, Kakak. Tunggu aku selesai dengan baj*ngan itu, aku akan menemanimu setelahnya."
Dari informasi yang diberikan Lan Zhuxian dalam pencariannya, mereka menemukan bahwa Qin Yujin telah meninggalkan markasnya ketika Fu Hua terbunuh. Tak ada jejak yang dapat diikuti lagi. Laki-laki itu menghilang bak ditelan bumi. Seujung kuku pun jejaknya tak sedikit pun didapati.
Tapi mereka tetap mengirimkan pasukan untuk melakukan pencarian. Hingga siang terik naik membakar Lembah Para Dewa. Bekas-bekas tulang dan abu dari mayat mulai terlihat, api yang membakar nya menyusut semakin kecil.
Lan Zhuxian berjongkok di depan Xin Chen, "Anda selamat, Tuan Muda."
__ADS_1
"Rencana kita berhasil, tapi kemenangan ini bukan akhir. Ini hanyalah permulaan."
Lan Zhuxian mengangguk, menatap Xin Fai beberapa detik dalam kekagumannya pada sosok Pilar Pertama. Dia adalah jantung Kekaisaran Shang. Lan Zhuxian sudah mengetahui akan perseteruan yang tadi terjadi pada Xin Chen dan Xin Fai.
Dia tak membenci Xin Fai. Justru kagum akan pengorbanan yang dilakukan Laki-laki itu. Pedang Iblis hanya tak ingin membawa malapetaka ke Kekaisaran Shang. Karena pemicu perang berupa pusaka langit itu begitu 'panas' dan sekarang sudah menjadi perebutan Tiga Kekaisaran. Tak heran Pedang Iblis begitu waspada. Beruntungnya putra keduanya dapat menahan kepergian laki-laki itu.
Lan Zhuxian telah pergi mengurus beberapa hal. Sementara Xin Chen hanya diam menikmati angin yang berhembus di punggung keduanya. Terasa damai. Hari-hari menegangkan telah berakhir. Rasanya baru saat itu Xin Chen dapat bernapas lega. Dia seperti sedang dikejar sesuatu yang menakutkan dan berhasil melewati kematiannya sendiri.
"Kau memiliki banyak teman," kata Xin Fai. Laki-laki itu sebenarnya sedang menyinggung hal lain. 'Teman' yang dimaksudnya adalah Huo Rong dan Dewi Api sang pemilik kekuatan api. Rubah Petir dan Dewa Petir, sang pemilik Kekuatan Api Keabadian, Shui, dan masih banyak lagi yang tak Xin Fai ketahui. Entah seberapa banyak hal-hal menakjubkan lagi yang akan dibawa oleh pemuda itu. Xin Fai sampai tak tahu harus mengatakannya dari mana.
"Tentang Rubah Petir ... Dia telah tiada."
Lantas Xin Fai terkejut. Bagaimana mungkin itu terjadi. Namun mengingat perang yang telah lama, Xin Fai sendiri tak mengetahui bagaimana nasib rubah perak itu.
"Apa yang terjadi?"
"Seseorang membunuhnya ketika Rubah Petir berada di titik terlemahnya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
Xin Chen menjawab. "Aku akan membunuhnya dan membalas seribu kali lipat dari apa yang telah dia perbuat."
Sinar mata penuh dendam itu mengingatkan Xin Fai pada dirinya di masa lalu. Haus akan pembalasan dendam. Dia tak ingin jika anaknya terperangkap dalam jalan yang salah.
"Membunuhnya tak akan mengubah apa-apa. Kau tidak bisa menghentikan waktu."
Xin Chen menyela, "Benar. Tapi aku bisa menghentikan waktunya. Dan ada kemungkinan jika dia masih menyimpan permata siluman milik Rubah Petir."
"Maksudmu seseorang mengambilnya lagi?"
"Setelah Naga Es, dan sekarang manusia?" sambung Xin Fai menatap lawan bicaranya dari samping. Xin Chen menoleh. "Lebih sulit mencarinya di tangan manusia daripada siluman. Manusia bisa mengopernya ke sana kemari. Sementara siluman, kita hanya perlu bertarung satu lawan satu," tuturnya.
Kekhawatiran di wajah Xin Fai tampak kentara. Xin Chen tahu benar apa yang ada di kepala laki-laki itu dan segera mengutarakannya
"Aku tak akan berpaling ke arah yang salah, Ayah. Aku telah berjanji pada banyak orang akan hal ini."
__ADS_1
"Pegang janjimu."
"Pasti."