Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 234 - Enam Tuan Rumah VI


__ADS_3

Sabit telah menusuk dadanya, Xin Chen melepaskan benda itu. Perih merambat pelan di dalam tubuhnya, perlahan-lahan mengingatkannya pada rasa sakit.


"Mau mengulitiku?"


Lemparan datang ke arah Serigala Merah, sabit sebelumnya dilempar kembali. Bukan serangan yang sulit dihindari sebab Serigala Merah bahkan lebih dulu berpindah ke atas tiang sebelum sabit tersebut melewati tempatnya.


"Kau tak sebanding denganku. Saat kau tahu nanti kau akan sadar bahwa kau hanya membuang-buang waktu."


Xin Chen tertawa kecil, tak percaya lawannya mengatakan hal tak masuk akal itu. "Kau mengemis?"


Dia melanjutkan serius, "Aku benci musuh yang banyak mulut seperti mu!"


Sabit Setan Pengamuk berputar balik, Serigala Merah menyadari hal itu sedikit terlambat. Senjata tersebut bergerak begitu cepat dan berliku, sampai di matanya benda itu menghilang selama dua detik sampai tiba di depannya. Niat ingin menghindar sabit tersebut justru masih mengenainya, tepatnya mengenai kuping topeng miliknya


Retakan topeng jatuh di atas tanah, Serigala Merah terdiam tanpa mengeluarkan reaksi. Xin Chen berdiri tegak kembali, tak melepaskan pandangannya dari musuh.


"Trik payahmu rupanya bagus juga ya. Membuatku lengah dan meremehkan sabit itu lalu kau menggunakan kesempatan tersebut untuk menggunakan sabit dan menyerang ku."


Xin Chen terlalu pengang untuk mendengar lawannya yang kebetulan punya bakat menjadi tukang mengoceh.


'Perasaan buruk ini ...' Xin Chen tak mampu menjelaskan perasaan yang tiba-tiba membuatnya terganggu, bisa disebut sebagai firasat buruk. Dia mencoba mengingat tapi tampaknya tak ada yang perlu dikhawatirkan.


'Tidak mungkin Fu Hua.'


"Air - Naga Putih."


Mendadak Xin Chen sadar bahwa posisinya saat itu penuh dengan celah, dia segera menyingkir tepat sebelum hantaman besar datang dan meretakkan tanah yang sebelumnya dia pijak. Saat melihat naga yang seukuran dengan manusia dewasa telah bersiap menyerangnya dua kali. Xin Chen kehilangan keseimbangan, dia nyaris tak mampu melewati serangan kedua.


Kalung yang tergantung di lehernya terkena serangan Naga Putih, Xin Chen segera menangkap kalung itu dan mundur. Serigala Merah tertawa kecil, terdengar sangat senang.


Sementara itu Xin Chen berjongkok dengan menatap kalung kerang di tangan kirinya, tadi jubah pemberian Ren Yuan dan sekarang kalung hadiah ulang tahun nya. Perasaannya semakin memburuk dan membuatnya tak bisa fokus bertarung.


Terlalu terlambat untuk mundur, sekarang di tempat ini dia terpisahkan dengan kelompok. Sangat jauh.


Xin Chen menyimpan kalung itu baik-baik, menepiskan perasaan buruk sejauh mungkin. Yang harus di pikirkan sekarang adalah cara menghadapi Serigala Merah.


Tidak menguntungkan, itu yang bisa dirasakannya sekarang. Kekuatan roh nya ditembus oleh kekuatan Serigala Merah, tak terbayangkan siapa sosok yang begitu hebat mengendalikan kekuatan seperti itu. Dari aura kekuatan dan caranya bertarung Xin Chen dapat memastikan bahwa lawannya telah menghadapi banyak sekali pertarungan dan korban yang tak main-main.


Dia pintar melihat celah ataupun mengambil langkah, Xin Chen tak bisa melewatkan satu hal lagi bahwa Serigala Merah cukup lincah. Rubah Petir yang mengajarinya untuk mempelajari musuh sebelum, saat dan sesudah pertarungan tanpa melewatkan satu hal pun. Tapi tampaknya walaupun dia membaca semua hal tentang Serigala Merah, lawannya itu tetap tak memperlihatkan satu kekurangan pun.


"Tenang, tenang." Dia hanya bergumam kecil. Tak mau mengikutsertakan emosinya dan membuat hal bodoh.


"Ada apa, Pengendali Roh? Kau takut?"

__ADS_1


"Kitab Pengendali Roh - Mata Ilusi."


Malam turun begitu cepat, kabut hijau semakin pekat memenuhi seluruh penjuru. Hingga pandangan terbatas hanya beberapa puluh meter ke depan. Namun itu tak berlaku bagi para petarung sekelas Pilar Kekaisaran.


Mata Ilusi tercipta membentuk bulan putih yang pucat, membawa hawa menyeramkan, mata tersebut menengok ke bawah dan membunuh jiwa yang terperangkap oleh tipu daya. Serigala Merah sempat sedikit mencuri pandangan ke atas, tak menyangka akan melihat salah satu kekuatan yang paling ditakuti dari seorang legenda Pengendali Roh yang pernah bertarung dengannya, Zhang Ziyi.


Ilusi mata itu bisa memperangkap seseorang di dunia yang serba palsu. Bulan yang berbentuk aneh, tak ada bayangan, atau munculnya makhluk-makhluk aneh saat termakan Mata Ilusi.


"Kau tahu ini tak akan berguna, aku tak sebodoh itu masuk ke dalam jurus itu."


Xin Chen menarik seutas senyum. "Paling tidak efektif untuk membatasi gerakmu."


Serigala Merah tak memikirkan hal itu, dia hampir tertawa. Sosok Putra Kedua Pedang Iblis yang pernah didengarnya tak lebih dari pemuda bodoh dan ceroboh yang membunuh Kaisar Shi dan dikhianati. Namun saat bertarung langsung dengan orang itu, tampaknya Serigala Merah tak boleh meremehkan kecerdikannya.


"Dari sini aku tak akan segan-segan lagi." Dia bertekuk sebelah lutut dengan kedua telapak tangan menyentuh bumi, tenaga dalam di tubuhnya menyebarkan kekuatan berwarna merah dalam jumlah besar dari sebelumnya. Xin Chen bersiap-siap untuk semua kemungkinan.


"Air, Tanah, Api, Angin."


"Bangkitlah."


Tanah bergetar hebat, aliran air terdengar, embusan angin bergerak kencang dan tiba-tiba saja api berkobar di atas tanah.


"Kau tahu selain Serigala Merah aku disebut apa?"


Xin Chen menatap Serigala Merah yang seolah-olah sedang memamerkan kekuatannya.


Xin Chen sepertinya pernah mendengar dari Xin Fai tentang penguasa empat elemen tapi tak pernah melihatnya secara langsung. Dia bahkan tak percaya keempat elemen itu telah menciptakan sebuah kekuatan tingkat tinggi yang tak sembarang orang dapat melakukannya.


Perwujudan Empat Naga muncul. Menciptakan salah satunya saja membutuhkan tenaga dalam dengan jumlah besar, Xin Chen belum bergerak.


"Pertarungan ini mungkin akan memakan waktu yang lama, aku tidak bisa memboros kekuatan dengan menggunakan Garis Hitam." Meski Xin Chen tahu kekuatan itu bisa langsung menumbangkan empat naga tersebut dia memilih tak menggunakan.


Karena dia tak sebodoh itu termakan pancingan Serigala Merah. Lawannya sengaja ingin membuat dia lelah dan menggunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan kekuatan aslinya. Kalau waktu itu tiba Xin Chen tak yakin dia bisa selamat.


Di matanya sekarang kekuatan Serigala Merah seimbang atau bahkan lebih besar daripada dirinya.


"Tidak boleh gegabah," Peringatan Rubah Petir terngiang di telinganya.


"Kitab Pengendali Roh - Tarian Dua Belas Roh."


"Cih, kau menggunakan kekuatan terlemah untuk menghadapi Naga Tanah, Api, Air dan Angin ini?" Serigala Merah seperti tak terima.


Dua belas roh itu terbang melesat jauh, mengincar empat naga dengan senjata tajam yang terhubung langsung dengan tubuh dan kaki mereka. Dari sekian banyaknya roh itu tak ada yang mampu mengenai naga tersebut.

__ADS_1


Mereka melingkar dan terbang begitu cepat, bahkan sempat membalas serangan Dua Belas Roh dan membunuh satunya tapi roh itu bisa kembali muncul dan membentuk wujud baru. Xin Chen menarik kembali mereka.


"Kau meremehkan Empat Naga ku."


Tangannya kembali menyentuh tanah, Xin Chen melihat dengan teliti. Kelihatannya orang itu akan menggunakan kekuatannya lebih besar.


Dia tak tinggal diam, corak hitam mulai menyebar di wajah, tangan dan kakinya. Xin Chen menstabilkan kekuatan roh dalam tubuhnya. Di saat yang bersamaan Kekuatan Api Keabadian muncul, menjalar ke arah kedua belas Roh.


Cahaya biru menerangi seluruh tubuh roh tersebut, Xin Chen memejamkan sebelah matanya. Dari dua belas roh di depannya, dia mendapatkan satu penglihatan dari mereka. Dengan begini dia bisa mengendalikan langsung roh itu.


Dua Belas Roh bergerak, melawan arus angin yang diciptakan Naga Angin dan menerjang semburan api milik Naga Api. Empat dari mereka datang menyerbu ke arah Naga Air yang kelihatan paling lemah.


Meski sebelah matanya terpakai untuk pertarungan dari mata roh, Xin Chen tetap bisa melihat jelas apa yang terjadi di tubuhnya yang asli. Naga Tanah muncul dari belakangnya, mulutnya terbuka lebar hendak memakannya. Tujuh Roh berputar balik ke arah Xin Chen bersama satu roh yang dikendalikan Xin Chen. Berbeda dari sebelas roh lain, sebelah mata kiri roh tersebut berwarna biru terang. Dia memutar balik arah ke belakang Xin Chen, kedua tangannya berupa pedang api melibas saat tiba di depan wajah Naga Tanah. Ditambah dengan tabrakan dari enam roh lain dari segala sisi, menghancurkan tubuh tanah tersebut dalam sekali serang.


Dua belas sayatan bergerak lebih cepat dari Naga Tanah, runtuhan tanah jatuh menimbulkan bunyi gaduh. Di tempatnya Serigala Merah terlihat terkejut.


Mata kiri Xin Chen berpindah ke penglihatan satu dari empat roh yang sedang menyerang Naga Air. Xin Chen mengalirkan kekuatan petir, dengan tekanan tertinggi yang hanya beberapa tingkat di bawah Rubah Petir. Memyentrum naga itu sampai tubuh airnya pecah menjadi genangan.


Naga Api dan Naga Angin ditarik, Serigala Merah tampak dipenuhi amarah.


"Tak kusangka dengan hanya tiga jenis kekuatan kau dapat mengalahkan dua dari empat naga favorit ku."


Mata kirinya masih tertutup. Kedua naga itu berdiri di kanan dan kirinya. Serigala Merah menatap ke depan, di mana sebelas roh melindungi Xin Chen di belakangnya.


"Kau lupa sesuatu?"


Melihat Serigala Merah tampak tenang, Xin Chen mulai memberitahunya sesuatu.


"Nama jurusku tadi apa, ya?"


Serigala Merah mengingatnya, "Tarian Dua Belas Roh."


Xin Chen menyeringai kecil ,"Itu tahu."


Serigala Merah baru mengingatnya, sejak tadi empat roh menyerang Naga Air dan tujuh lainnya menghancurkan Naga Tanah.


Hanya ada sebelas roh yang bertarung. Dan Serigala Merah yang sudah membaca pola serangan Xin Chen tahu bahwa satu roh pasti sedang dikendalikan pemuda itu jika mata kirinya tertutup. Namun dari ke sebelas roh di depannya tak ada lagi roh spesial dengan sebelah mata yang berwarna biru.


Sebuah mantra peledak tertempel di balik punggungnya, Serigala Merah bahkan tak menyadari roh itu sudah menyusup di belakang. Ledakan besar terjadi, dua naganya lenyap seketika. Serigala Merah terjatuh hanya satu detik. Dia mampu berdiri begitu cepatnya


"Keparat."


"Kalau kau sadar satu hal lagi mungkin kau akan mengatakan keparat lagi."

__ADS_1


Serigala Merah melihat sekitarnya dan mengutuk.


Saat terjatuh tadi dia kehilangan keseimbangan dan melupakan bahwa Xin Chen masih memakai Jurus Mata Ilusi. Dia sempat terperangkap dan baru menyadari bahwa sekarang sedang di bawah pengaruh jurus mematikan itu.


__ADS_2