Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 193 - Demi Sang Kakak


__ADS_3

"Aku tak akan memaafkan orang itu ... Akan kubuat dia menyesal setelah apa yang dilakukannya."


Gumaman tersebut mengalihkan perhatian Rubah Petir yang tengah sibuk memantau situasi di depan. Mereka telah berada jauh dari kastil dan benteng menara pertahanan di dekat gerbang samping. Sekarang menjauh sejauh mungkin menghindari para prajurit di sekitar.


"Kau membencinya?"


"Bukan hanya itu, aku ingin mengulitinya hidup-hidup." Amarah di wajah Xin Chen sudah tak terbendung lagi. Namun hal itu membuat Rubah Petir heran, biasanya Xin Chen tak begitu peduli dengan persoalan seperti ini.


"Bertambah tua juga membuatmu bertambah sensitif, heh?"


Xin Chen berhenti ketika melihat sekumpulan prajurit tengah berkumpul membentuk lingkaran, hanya melewati mereka keduanya bisa langsung masuk ke dalam hutan yang di mana jauh lebih aman daripada di luar.


"Jika ini hanya pengkhianatan antara aku dan dia, aku tak begitu merisaukannya ..."


"Tapi aku khawatir, jika dia bisa mengkhianatiku maka dia bisa saja mengkhianati kepercayaan yang diberikan pada penduduk Luar Sentral. Mereka berharap banyak padanya, agar bisa membawa perdamaian dan menghapus kesengsaraan di tanah Kekaisaran ini. Jika dia sampai melakukan itu, kurasa sejengkal pun tanah di Kekaisaran ini tak akan sudi menerima mayatnya."


Xin Chen maju duluan, tiba di dalam hutan yang sedikit aman dari para terinfeksi, mungkin sudah lebih dulu dibersihkan oleh prajurit. Rubah ternyata tertinggal di belakangnya, ketika Xin Chen menyadari rubah itu malah ketahuan.


"Hei, aku melihat sesuatu di sana!"


Satu dari mereka berjalan cepat ke arah Rubah Petir yang tengah berlindung di balik tembok rendah. Xin Chen bertindak cepat, melemparkan peledak ke salah satu pojokan.


Orang tersebut berhenti dan berbelok arah, memeriksa ke tempat ledakan kecil berasal tapi tak menemukan apa-apa.


"Ah, mungkin bukan apa-apa," sahutnya sambil menggaruk-garuk telinga keheranan. Kawannya yang masih berbaris dalam lingkaran menimpali.


"Tidak fokus bekerja, eh? Mungkin kau merindukan pelukan istrimu di rumah."

__ADS_1


"Hahaha, bujang lapuk seperti dia mana punya istri. Paling-paling peluk jerami di kandang kuda," ejek yang lainnya, dibalasnya dengan mata melotot.


Xin Chen tahu dia tidak boleh langsung menghadapi para laki-laki itu, apala membunuh mereka. Prioritasnya saat ini adalah memastikan dia dan Rubah Petir masuk tanpa dicurigai. Rubah itu segera bergerak cepat, menyusul Xin Chen.


"Kemari adik kecilku, hampir saja tertangkap." Xin Chen menggerakkan tangan menyuruh Rubah Petir berdiri di sampingnya. Rubah itu mengeluarkan ranting pohon dan langsung mengibaskan benda itu ke tangan muridnya.


"Sopan sedikit dengan gurumu."


Xin Chen mengutuk dalam hati, lupa tubuhnya sekarang bisa merasakan sakitnya ranting di tangan rubah petir. Rubah Petir sudah berjalan lebih dulu, menyusuri jalan-jalan hutan yang panjang hingga mengantarkan mereka pada satu tempat dengan pemandangan yang cukup jelas.


Rubah itu kembali diam menatap ke depan, mengolah seluruh hal yang baru saja ditemukannya di Kekaisaran Wei.


"Tempat ini dulunya adalah tempat yang damai," paparnya. "Tempat yang diimpikan para orang jenius dari seluruh bagian dunia. Tempat yang maju. Penuh pengetahuan. Mereka dulunya adalah orang dengan prinsip teguh, untuk mengubah dunia ini menjadi dunia yang lebih baik. Dengan ilmu yang telah diberikan turun-temurun."


Kepala sang rubah menggeleng, miris. "Namun ketamakan memakan hati nurani mereka. Menciptakan senjata-senjata berbahaya dengan ilmu itu untuk menang dari musuh. Aku yakin pemimpin lama mereka menginginkan sebuah senjata tangguh untuk menghancurkan wilayah lain. Namun dia mendatangkan bala untuk tempatnya sendiri. Saat semuanya terjadi ...."


Mata rubah menatap jauh ke sebuah bangunan yang sangat tidak biasa. Berbentuk lingkaran raksasa ditutup dengan atap datar, mungkin tempat itu saja sudah memakan sepuluh persen wilayah Kekaisaran Wei-yang bisa dikatakan sangat-sangat luas. Sampai ratusan hektare. Rubah Petir tak bisa memperhitungkan seberapa luas tempat itu. Tapi jika dikira-kira, mungkin satu Kota Fanlu setara tengah tempat raksasa itu.


Kabut asap dari awan di atas langit membuat pemandangan kota dan bangunan lainnya sedikit buram. Rubah Petir menunjuk apa yang dilihatnya.


"Aku mendengar suara yang begitu kuat dari tempat itu, kau mau melihatnya?"


Xin Chen mengikuti arah tunjuknya dan seketika melotot, wajahnya berubah gelisah. Kilasan yang menampilkan sebuah lorong kematian berisi ratusan ribu mayat kembali menguasai pikirannya. Pemuda itu menggeleng cepat, trauma dengan tempat itu.


"Itu adalah Labirin Kematian yang waktu itu aku ceritakan. Tempat di mana pertama kali aku melihat para terinfeksi. Itu adalah tempat paling tragis yang pernah kulihat." Dia menambahkan getir, "Dan takkan mau lagi aku kunjungi lagi."


Wajah Rubah berubah, melihat dari kejauhan di mana dia mendengar suara itu bercampur aduk. Merintih, meraung, menjerit. Mereka tak lebih dari para mayat yang sedang disiksa di dalam neraka.

__ADS_1


"Jadi di sana mereka membuang para manusia itu?"


"Sebagian dari mereka adalah kelinci percobaan yang gagal. Sisanya adalah siluman yang bernasib sama. Lalu para manusia yang terkena wabah itu. Mungkin mereka menciptakan labirin itu untuk mengunci para terinfeksi."


"Mereka belum punya senjata untuk memerangi Terinfeksi ini?"


"Mungkin, punya. Seperti senjata dengan sebuah peluru yang bisa meledakkan otak mereka. Mungkin dari sana juga aku menciptakan jurus peledak itu."


Xin Chen teringat akan sesuatu yang belum diberi tahu pada Rubah Petir. "Jangan lupakan soal ini. Terinfeksi itu memiliki tingkat bahaya tersendiri. Dari tipe S sampai tipe D yang paling lemah. Namun aku pernah bertemu dengan tipe yang lebih berbahaya dari itu. Tipe baru yang sedang dikembangkan Qin Yujin, tipe SSS."


Rubah itu mengerutkan dahinya. "Aku bisa membayangkannya. Yang biasa terlihat berbahaya. Apalagi yang dibuat manusia itu. Kita harus menghentikannya."


Xin Chen tertegun mendapati satu hawa kehadiran yang tak berapa jauh. Benar saja seorang laki-laki muncul. Dia tampaknya sudah menguntit mereka dari kejauhan.


"Kau? Menghentikan siapa?" prajurit dengan helm berwarna emas dan zirah berwarna merah muncul. Kelihatan seperti seorang prajurit senior.


Seluruh bagian tubuhnya di lapisi besi. Dia tak akan bisa diserang oleh pedang atau ledakan. Xin Chen waspada, begitu juga dengan Rubah Petir. Mereka bertambah panik lagi ketika melihat pria itu hendak memanggil kawannya.


"Ada penyusup!!! Ada penyusup-arggh! Apa-apaan ini?!"


Laki-laki itu tak menyadari sesuatu ditumpahkan ke belakang lehernya yang sedikit terbuka. Tubuhnya gatal-gatal sekaligus perih, seperti sebuah cairan racun yang bekerja di luar tubuh. Ketika sibuk dengan rasa gatal itu, seseorang menendang kepala laki-laki itu sampai pelindung kepalanya terlempar jauh.


Prajurit tersebut menoleh ke samping, melihat seorang gadis dengan kain yang menutup dari hidung sampai lehernya tengah menarik pedangnya dari belakang dan langsung membelah dahinya hingga ke tulang tengkorak.


Xin Chen dan Rubah Petir hanya diam melihat gadis itu menendang kepala korbannya yang sudah terlentang, mencopot pedang yang tertancap di tulangnya.


"Kau kira aku akan diam saja membiarkanmu membunuh bajingan itu? Akulah orang yang akan membunuhnya, demi kakakku."

__ADS_1


__ADS_2