
Angin kehancuran berhembus dalam politik Kekaisaran Wei yang seperti sebuah pohon baru tersambar petir. Politisi, elit, dan para pejabat lainnya mengecam sang pembunuh yang telah tega menghabisi nyawa sosok pemimpin mereka.
Duka mewarnai seisi istana kekaisaran. Istri Kaisar ditanyakan pingsan dan belum bangun sejak pembantaian dilakukan.
Dan lebih mengejutkan lagi, dikabarkan selain ratusan orang di Sungai Fangzu terdapat puluhan mayat di jalan setapak menuju ke sungai. Dan juga terjadi pembunuhan besar-besaran di asrama pengawal. Bahkan kepala pengawal juga ditemukan telah tewas di kamar tidurnya. Terlihat jelas, penyerangan itu dilakukan secara berencana. Memang telah banyak dugaan yang mengarah ke arah Shi Long Xu.
Tapi kemungkinannya masih kecil. Karena Shi Long Xu selama riwayat hidupnya tak pernah berurusan dengan pembunuh haus darah. Bahkan tak ada yang mampu menebak siapa gerangan yang telah menghabisi dua ratus orang dalam hitungan jam. Pembantaian itu dilakukan pagi hari. Bahkan sebelum ritual selesai. Dari pihak Shi Long Xu yang diselidiki pun, Ying Xue mengatakan tak ada satu pun bukti yang mengarah ke mereka.
Asumsi lain datang. Pembunuh berasal dari luar sentral yang melakukan pemberontakan. Dari tahun-tahun belakang juga telah diketahui banyak masyarakat memberontak atas kebijakan Kaisar. Mungkin baru sekaranglah apinya terlihat. Asap telah berubah menjadi kobaran api. Pada akhirnya, duka tetaplah duka. Kekaisaran Wei kehilangan pemimpin. Dan secara tidak langsung, satu-satunya yang berhak naik sebagai pemimpin berikutnya hanyalah putra Shi Yong Gu. Yaitu Shi Long Xu.
Shi Long Xu dinyatakan bersih dari pembunuhan tersebut. Dan terdapat satu dugaan kuat yang tengah diselidiki.
Di Sentral Pusat sendiri, Shi Yong Gu dikenal karena kebaikan hatinya terhadap orang-orang pusat. Dia mengutamakan kenyamanan, kemajuan dan perkembangan untuk Sentral Pusat.
Tapi melupakan orang di luar sentral.
Meski demikian, di mata orang-orang berpengaruh sosoknya adalah pemimpin yang diidam-idamkan. Maka dari itu hanya lepas satu hari semenjak kematiannya, puluhan dari elitis mengadakan sayembara dengan tawaran harga yang tak main-main.
Siapa pun yang memberitahu, menangkap atau membunuh sosok berjubah hitam berlambang bunga api dan petir dengan bermata biru akan diberikan bayaran sembilan ratus juta keping emas. Bahkan pengumuman itu disebarkan sampai ke pelosok luar sentral. Ribuan prajurit dikerahkan menyusuri daerah Sungai Fangzu bahkan sampai ke pelosok Kekaisaran Wei demi menemukan jejak sang pelaku.
**
Di sebuah rumah terbuang, Xin Chen sedang membakar ikan yang ditangkapnya di sungai Fangzhu. Menunggu waktu tiga hari setelah kematian Shi Yong Gu dan menunggu keadaan di luar sana membaik. Dia telah membakar jubah hitam miliknya. Memakai seragam Serikat Sentral Pusat. Dan yang menjadi masalahnya sekarang adalah matanya.
Bukannya tidak tahu, Xin Chen sudah lebih dulu mendengar sayembara pencarian dirinya. Sebab itu dia telah mengantisipasi semua kemungkinan yang akan membahayakannya. Xin Chen sadar, perbuatannya sekarang mungkin akan membawa masalah besar. Apalagi jika identitasnya terbongkar dan nama Pedang Iblis dibawa-bawa.
Bisa jadi Kekaisaran Shang dan Kekaisaran Wei perang akibat perbuatannya. Itu mungkin saja terjadi.
Sambil menikmati ikan bakarnya, Xin Chen sesekali menatap sisa tengkorak dan tulang manusia yang telah mengering di antara rerumputan di dalam rumah terbuang ini. Tempat yang menyeramkan untuk bersembunyi. Tapi mau ke mana lagi, di luar sana para petugas dan orang suruhan sedang berpatroli besar-besaran.
Seseorang datang dan langsung masuk.
Ying Xue bersama Shi Long Xu datang memakai pakaian serba tertutup, air muka mereka tampak tak percaya dengan apa yang terjadi di luar sana. Kekacauan besar-besaran tengah merajalela. Dan di sini adalah tempat perjanjian mereka bertemu dengan sosok 'Chen' yang tanpa sengaja mereka temui.
Kini sosok pembunuh yang sedang gencar-gencaran dicari sedang santai-santainya menyantap ikan di antara mayat manusia yang telah membusuk. Mukanya tak terbeban. Sepertinya membunuh ratusan ribu manusia pun tak akan membuat nyalinya gentar.
Mata biru itu mulai terlihat menakutkan ketika Shi Long Xu mengingat dua ratus orang telah tewas di tangannya. Dia teringat ucapan pemuda itu tempo hari. Seribu orang pun akan dibunuhnya asalkan dia mendapatkan kotak itu.
__ADS_1
Ying Xue berlutut, melepaskan sebuah kayu kotak yang dipikulnya di punggung. Xin Chen masih duduk bersila memerhatikan gerak-gerik Ying Xue yang tampak canggung.
"Saudara Chen, apakah anda sadar dengan yang terjadi di luar sana?"
"Aku akan menunggu lima hari lalu keluar dari sini. Dan kotak itu ... Kalian berhasil mendapatkannya? Semuanya?"
"Kami tak memeriksa apa pun di dalamnya karena mengira ini privasi. Tapi aku sudah menyewa mata-mata terhebatku untuk mencuri barang ini, silakan diperiksa jika kau ragu."
Dan selagi Xin Chen memeriksa Ying Xue menyodorkan kain besar lainnya berisi permata dan uang dalam jumlah besar. Xin Chen menyipitkan mata, benda di depannya salah satunya adalah barang lelang yang dilihatnya tempo hari lalu. Harganya menyentuh miliaran.
Entah dia harus merasa bahagia karena tak jadi jatuh miskin. Padahal kalau di Kekaisaran Shang uang di tangannya cukup membuatnya menjadi saudagar kaya. Tapi kalau di Kekaisaran ini, biaya hidup satu bulan saja tak cukup. Xin Chen menyimpan permata bernilai besar itu sekaligus koin emas. Dia sudah memastikan dengan teliti. Kunci, kertas dan beberapa kotak masih tersusun rapi. Tampaknya belum pernah dibuka sebab dia tak melihat bekas jejak tangan baru di benda itu.
"Kesepakatan kita telah selesai. Tapi kuharap aku masih bisa berteman denganmu sampai akhir hayatku." Shi Long Xu tersenyum, tak dapat Xin Chen artikan tapi sendu terlihat jelas di matanya.
Dia pasti juga bersedih atas kematian ayahnya. Tapi ini adalah jalan terbaik untuk Kekaisaran Wei.
"Aku akan memastikan keselamatanmu, tapi kau juga harus bisa menjaga diri. Panggil aku jika kau kesusahan mendapatkan izin keluar dari Kekaisaran ini. Aku akan menolongmu bagaimana pun caranya. Tetap hati-hati, kawanku." Shi Long Xu memanggilnya dengan akrab.
"Tanpa orang sepertimu, aku yakin rencana ini akan jadi rencana terakhir sebelum kematianku. Dalam beberapa bulan lagi aku akan diangkat menjadi Kaisar baru. Meski belum pasti, tapi aku benar-benar berterima kasih padamu."
Shi Long Xu membungkuk, Xin Chen memaksanya berdiri tegak.
"Kau bukan pembunuh, kau kawanku. Satu-satunya orang yang berdiri di sebelah kami saat semuanya mundur. Tapi ... Boleh lah aku bertanya sesuatu?"
Xin Chen mengiyakan. Tak menyangka pertanyaan yang keluar sedikit membuat hatinya berat.
"Nama depanmu? Apakah aku boleh mengetahuinya?"
Dirinya bukannya tak percaya kepada Shi Long Xu, tapi laki-laki itu memiliki status yang tinggi dalam Kekaisaran. Xin Chen tak mau membawa nama klan Ayahnya, ini terlalu serius.
"Kau sudah mengenalku sebagai Chen. Aku rasa itu sudah cukup untuk mengenalku sebagai kawanmu."
Xin Chen menunjuk pintu dengan dagunya.
"Bergegaslah, orang-orang akan mempertanyakan keberadaan kalian jika terlalu lama. Aku akan menjaga diri usai ini dan menyelesaikan sisa urusanku."
Sekali lagi, Shi Long Xu berterima kasih dengan tulus. Bahkan Ying Xue turut membungkuk sebelum benar-benar berangkat pulang. Betul apa kata Xin Chen, saat ini keduanya mungkin masih diawasi. Takutnya orang-orang akan curiga bahwa keduanya terlibat dalam pembunuhan Shi Yong Gu.
__ADS_1
Di luar sentral, para Pembelot merayakan kematian Yang Mulia dengan berpesta pora. Mereka memenuhi perbatasan Sentral Pusat dan mulai membuat kegaduhan di daerah yang dilindungi Fraksi Militer Pusat. Tertawa terbahak-bahak merayakan kematian paling mereka tunggu-tunggu.
Perut kelaparan itu mungkin akan mendapat sedikit keadilan. Mereka menuliskan nama Shi Long Xu di dinding markas besar yang telah hancur semenjak pemberontakan yang dilakukan Pelindung Malam.
Pertarungan sengit itu menjatuhkan korban jiwa di kdua belah pihak. Belasan anggota Pelindung Malam tumbang, puluhan laki-laki dari Fraksi Militer Pusat tewas. Sementara itu pembelot memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Perkemahan Tenggara.
Semenjak kabar kematian Shi Yong Gu, perselisihan seolah-olah ditunda sementara.
Pelindung Malam melakukan rapat darurat setelah mendengar kabar sayembara itu.
Karena mereka tahu, siapa sosok yang paling mirip dengan ciri-ciri tersebut.
**
Semuanya berjalan begitu lambat. Xin Chen tak bisa melakukan apa-apa selain duduk menunggu hari berlalu. Sambil bertanya apa yang Lang lakukan di luar sana, kadang ketika sepi datang dia teringat akan ibunya di Kekaisaran Shang. Bagaimana keadaan wanita itu, dia sendiri tak tahu. Hanya berharap Ren Yuan selalu baik-baik saja, agar kepulangannya tak sia-sia.
Malam keempat, hanya terdengar suara lalu lalang di luar rumah. Xin Chen menatap ke arah jendela yang kayunya telah rusak. Terdengar suara kepakan sayap, seekor burung merpati masuk. Burung itu bukanlah burung biasa, cahaya di tubuhnya adalah perwujudan dari kekuatan milik Xin Zhan.
Merpati itu bertengger di lengan Xin Chen. Setelah dia membuka gulungan kertas di kaki sang merpati, burung itu menghilang. Membuat rumah itu kembali gelap seperti semula.
Xin Chen membaca surat itu, meski gelap matanya mampu menangkap isi yang disampaikan Xin Zhan.
Senyum di wajahnya terukir.
Kabar baik. Ren Yuan bisa bekerja seperti biasanya, Ayahnya menjalankan tugas sebagai Pilar. Dan Xin Zhan sendiri sudah memiliki kesibukan sambilan menjaga Ren Yuan di rumah. Hanya ada satu dua permasalahan di Kekaisaran, tak jauh-jauh dari para Pilar yang membeli kursi.
Xin Zhan menyampaikan bahwa setelah Xin Chen pulang nanti, dia ingin adiknya itu menjalankan fungsi khususnya dalam memantau kerja para Pilar dan menjatuhkan mereka yang hanya ongkang-ongkang kaki saja.
Rasanya Xin Chen sendiri tak sabar menggulingkan para elit beban berkedok pilar itu dari singgasananya. Tapi urusannya di Kekaisaran Wei juga belum selesai.
Akhir surat, Xin Chen diam beribu bahasa.
Rupanya kabar kematian Kaisar Shi telah sampai di Kekaisaran Shang. Sayembara telah disebar, ini adalah kabar terbesar yang tak disangka-sangka akan sampai ke sana.
Padahal saat Kekaisaran Wei jatuh dalam wabah mengerikan, tak sekalipun beritanya terdengar ke luar.
Xin Chen makin sadar, bahwa permasalahan ini sangat serius.
__ADS_1
Di akhir surat, Xin Zhan seperti memberi isyarat bahwa dia juga mencurigai Xin Chen melakukannya dan berharap bahwa dirinya tak terlibat apa pun di sana.
'Kita akan perang jika sampai kau terlibat. Kembalilah tanpa membawa masalah. Atau aku akan mencekik nagamu.'