Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 80 - Gadis Bermata Safir


__ADS_3

"Kumohon, jangan!"


Tangis yang samar terdengar di antara berisiknya angin badai yang mulai kembali menguasai seisi Lembah Para Dewa, awan telah berkumpul di atas hendak menurunkan derasnya air hujan hingga tak sedikit pun cahaya terlihat di atas sana.


Seorang laki-laki berdiri mematung di depan seorang pemuda yang berada dalam cekikan tangannya. Dia mengangsurkan tangan, membuat pemuda yang kini telah tak bergerak itu telentang di atas tanah. Sembari itu matanya memicing, melihat target musuh baru yang harus dilenyapkannya. Gadis dalam balutan jubah hitam itu mundur ketakutan, bulir bening di matanya ikut tumpah sembari bibirnya bergetar menahan sesuatu yang ingin disampaikannya.


Rasa takutnya semakin besar saat Xin Fai berjalan mendekat, gadis itu menyimpan sebuah pisau silet yang sebelumnya telah dia gunakan untuk mencabut nyawa seseorang.


Angin besar menghempas dari arah depan, Xin Fai bersiap untuk membunuhnya. Topeng gadis itu ikut terlempar dibawa arus angin yang begitu kencang hingga terlihat jelas wajah cantik dan anggun di balik topeng tersebut, bola matanya yang seindah safir membulat sempurna ketika rantai-rantai merah bergerak.

__ADS_1


Dia mengeluarkan kipas dari balik jubahnya, menghempaskan rantai tersebut sejauh yang dia bisa sambil mengumpulkan keberaniannya. Dan juga-mengumpulkan suaranya yang entah mengapa tiba-tiba saja hilang oleh tatapan membunuh di depannya.


"Ku mohon hentikan, dia anakmu, Tuan. Aku tahu Tuan sama sekali tidak mengenalku, bahkan saat masih memiliki ingatan lama sekalipun. Semuanya baik-baik saja, Anda perlu tenangkan diri."


Kenyataannya, ketika dia mencoba mengajak lawan bicaranya berbicara, justru yang dia dapat hanya serangan lurus mematikan yang hampir saja membuat lehernya terpenggal.


"Namaku Fu Hua. Aku-"


Tak heran mengapa komplotan kakaknya, Fu Qinshan membangun markas dengan begitu banyak dana. Membuat tempat itu begitu tahan api dan ledakan.

__ADS_1


Fu Hua menelan ludah, "Aku datang ke sini untuk menolong seseorang yang pernah menolong ku dua kali."


Mata Fu Hua tertuju pada seorang pemuda yang kini tergeletak begitu saja di sana, dia tak ubahnya seperti mayat hidup. Nyawa pemuda itu sedang berada di ujung tanduk, Dimensi Hujan Darah tengah menggerogoti jiwanya dan sebentar lagi akan mematikan raganya pula.


Dulu, saat Fu Hua sedang berjalan sendirian di sebuah hutan. Dia baru saja bertengkar dengan Fu Qinshan akibat kegilaan kakaknya itu terhadap semua perintah tuannya. Entah ke berapa kalinya Fu Hua mendapatkan perlakuan tak senonoh dari lelaki itu-orang yang membuatnya sangat membenci laki-laki. Lelaki bejat, penuh ambisi dan tak peduli atas nyawa orang lain atas keegoisannya.


Fu Hua begitu menginginkan kematian laki-laki itu. Agar kakaknya bisa lepas darinya dan dirinya bisa bernapas dengan tenang. Hari itu, Fu Hua diutus untuk sebuah misi di sekte Kuil Teratai. Menyamar sebagai murid dari sekte Bunga. Mencari informasi data tentang kuil tersebut hingga ke akar-akarnya dan untuk satu misi rahasia-meracuni seseorang tanpa diberitahu alasan yang pasti.


Lalu di sanalah Fu Hua dipertemukan dengan orang itu. Seseorang yang menyelamatkannya dari seekor siluman ganas. Dia sempat mengingatkan tidak akan menyelamatkannya untuk yang kedua kali.

__ADS_1


Tapi ketika malam tiba, saat Fu Hua hendak melarikan diri dari kuil itu dan nyaris dibunuh. Xin Chen menyelamatkannya untuk kedua kali.


Untuk pertama kalinya, Fu Hua melihat kebaikan dari sosok yang biasanya amat dia benci. Bahkan ayahnya sendiri-lelaki yang hanya mau berbuat kotor dan menelantarkan anak hasil perbuatannya ke tong sampah, tak pernah sekalipun ingin dia maafkan.


__ADS_2