
Xin Zhan memacu kudanya lebih cepat di depan gerombolan orang-orang berjubah hitam dengan ukiran bulan merah darah. Mereka adalah Empat Unit Pengintai, kelompok yang dibangkitkan oleh Xin Chen setelah pertarungan berdarah melawan seluruh petinggi Empat Unit Pengintai lama.
Bayangan hitam melintas di langit bersama lengkingan tinggi, petir muncul di balik awan-awan bersamaan dengan datangnya Naga Hitam ke Lembah Para Dewa. Di depan sana, debu dan hawa panas sudah terlihat membara di tanah yang tak ubahnya tempat kremasi raksasa itu. Tempat di mana jasad ratusan ribu prajurit mati terbakar tanpa tersisa.
Bola mata hitam itu berusaha menangkap sesuatu di depan sana, dan betapa terkejutnya dirinya ketika melihat Xin Chen berhasil menaklukkan Xin Fai yang saat itu terperangkap dalam sebuah penjara cahaya. Hanya melihat dua detik saja, Xin Zhan tahu apa yang terjadi di sana.
Kekuatan hitam hancur oleh penjara cahaya tersebut, sudah pasti ini berhubungan dengan mantra sebab dia melihat ukiran asing yang tercipta dari cahaya di depan Xin Chen.
"Berhenti!" Xin Zhan memutar balik kudanya agar dapat menghadap pada keempat puluh rombongan Empat Unit Pengintai.
Di sana, Lan Zhuxian ditunjuk secara cepat untuk mengkoordinir pasukan yang mereka bawa.
Kuda milik Xin Zhan berjalan pelan di depan kawan-kawannya, pemuda itu menyampaikan pesan singkat. Melihat mata-mata para lelaki yang sama sekali tidak takut mati di depannya.
Mereka semua berbeda. Xin Zhan sudah menghabiskan belasan tahunnya di Kekaisaran dan hampir setiap hari dia berurusan dengan prajurit ataupun pejuang. Tapi tatapan para Empat Unit Pengintai yang dilihatnya kala itu tak pernah di dapatinya selama di Kota Renwu.
Xin Zhan teringat akan prinsip milik Aliansi Pedang Suci. Dia ingin menggunakan kata-kata milik ayahnya, setidaknya untuk para jiwa-jiwa yang berkobar akan peperangan di depannya.
"Semenjak kita menapakkan kaki di tempat ini, kita telah mati. Maka bertarunglah dengan hanya satu napas tersisa. Kita adalah iblis, iblis yang memakan dosa-dosa di muka bumi ini."
"Untuk Kekaisaran Shang!" Sorak salah satu di antara mereka yang serentak memicu semangat temannya yang lain. "Jika kita menang, kita akan berpesta di neraka!"
Teriakan kompak terdengar keras.
"Lan Zhuxian, sisanya ku serahkan padamu. Hancurkan markas-markas musuh yang berada di bukit Lembah Para Dewa. Putuskan komunikasi mereka dan hanguskan apa pun yang ada."
"Saya mengerti Tuan Muda. Tapi rasanya Anda terlihat sedikit berbeda dari terakhir kali saya melihat Anda. Apakah terjadi sesuatu?" Lan Zhuxian bertanya demikian sebab perubahan di diri Xin Zhan memang sebegitu drastis.
"Apakah pertanyaan itu penting?"
"Tidak, Tuan Muda. Saya khawatir dengan keadaan Tuan Muda saja. Hanya itu." Lan Zhuxian menunduk hormat. Xin Zhan membuang pandangannya pada pertempuran di sana.
__ADS_1
Tentu saja 40 orang yang dibawa Lan Zhuxian datang dengan membawa persiapan matang. Mulai dari armor yang tahan api, senjata lengkap dan juga beserta peta berisi markas antek-antek Qin Yujin yang mereka dapat setelah mengambil kepala salah satu orang penting di Empat Unit Pengintai. Tepatnya, ketika Xin Zhan menghabisi markas mereka bersama Ye Long beberapa hari lalu.
Selama di Kekaisaran Shang, Lan Zhuxian tak tinggal diam dan membiarkan Ketua Empat Unit Pengintai bertarung sendirian. Dia mencari segala cara untuk menemukan informasi tentang para orang-orang Qin Yujin. Tak mudah mendapatkannya, Lan Zhuxian sampai-sampai harus mengeluarkan seluruh uangnya dan sejumlah dana kelompok untuk menyewa mata-mata.
Dan usahanya beberapa hari ini membuahkan hasil, ditambah lagi dengan kedatangan Xin Zhan yang tiba-tiba saja ke kota pusat. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan dan segera memberitahukan rencananya pada Xin Zhan.
Pada akhirnya mereka berdiri di tanah itu. Lan Zhuxian telah mengambil alih pasukan dan bergerak di tepi-tepi bukit Lembah Para Dewa, menyusuri sungai dangkal dan goa-goa tersembunyi. Mencari letak markas yang dibuat menyatu dengan tanah. 40 orang itu dibagi menjadi 8 regu.
Delapan orang dengan dua pemanah, empat penyerang jarak dekat, satu dari mereka 'pelacak' yang bertugas menemukan markas tersembunyi, lalu seorang pengguna kekuatan roh.
Xin Zhan memacu kudanya sejauh yang dia bisa, hingga kuda dengan sebagian dadanya ditutup armor besi itu berhenti.
Xin Zhan turun sembari menepuk kepala kuda tersebut. "Sampai sini saja kau terlibat, kembalilah. Biarkan manusia yang bertarung."
Seperti mengerti maksud Xin Zhan, kuda itu segera berbalik badan dan pergi sejauh mungkin dari sana.
Padahal dirinya baru berlari beberapa ratus meter dan Xin Chen pun hanya tersisa beberapa langkah di depannya. Namun Xin Zhan sudah dikagetkan akan sebuah pemandangan mengerikan yang seumur-umur tak pernah diharapkannya.
Lan An telah gugur. Lalu bagaimana dengan istrinya Xin Xia, bibi mereka sendiri? Anak mereka akan kehilangan sosok ayah sebelum dirinya beranjak dewasa. Lebih dari itu, kematian Lan An membuat semua orang terpukul.
Kakinya berlari cepat dan segera memangku kepala Lan An, tubuhnya bisa terbakar kapan saja di sana tapi anehnya jasadnya masih utuh. Karena Xin Chen menyisakan sedikit kekuatan rohnya untuk tetap tinggal bersama jasad Lan An.
"Ti-tidak mungkin ..."
Yang dirinya tahu, Lan An telah kembali dengan selamat ke Kekaisaran Shang. Bagaimana bisa laki-laki itu kembali ke Lembah Para Dewa dan berakhir mengenaskan. Erangan Xin Zhan samar-samar terdengar, dia terpukul. Meski sudah menahan kesedihan mati-matian yang mendesak matanya untuk menangis, tangan pemuda itu masih bergetar hebat.
Bagaimana dia bisa menjelaskan kematian laki-laki baik ini kepada bibinya?
"Xin Chen, apa yang terjadi padanya?" tanya Xin Zhan dengan suara yang sengaja dia keraskan. Tak mungkin Xin Chen tak mendengar karena jarak mereka terbilang dekat.
Adiknya itu hanya menunduk, mantra di tangannya mulai menyusut. Dan kini hanya tersisa penjara cahaya yang masih terus menyerap kekuatan kegelapan dan kutukan di dalam tubuh Xin Fai.
__ADS_1
"Aku yang gagal ..."
"Gagal apanya?!" Penyesalan di air muka Xin Chen makin memperkeruh suasana. Xin Zhan sedikit pun tak tahu apa yang telah terjadi selama dirinya pergi. Tapi kini wajah Xin Chen, seolah-olah mengatakan bahwa adiknya itu telah membiarkan Lan An mati sia-sia di tangan musuh.
"Apa yang telah terjadi, Xin Chen?! Jawab aku!" Xin Zhan mencengkram kerah jubah Adiknya. Keras sekali.
"Kau bahkan bisa menyelamatkan aku yang sudah mati di tangan Ayah! Lalu mengapa-" tenggorokannya tercekat, napasnya tak stabil. Dia marah. Marah besar dicampur kecewa yang tak kira-kira.
Xin Chen pun hanya diam, membiarkan pikiran buruk semakin tertuju padanya.
"Mengapa kau biarkan Paman Lan tewas begitu saja?!"
Berulang kali Xin Zhan mendorong dadanya dan memaksa Xin Chen buka suara, hingga akhirnya adiknya itu membuka mulut.
"Paman Lan berusaha menyelamatkan ku dari tikaman mematikan, semua itu berjalan begitu cepat. Aku diam seperti orang bodoh. Dan membiarkannya mati. Begitulah."
Xin Zhan berusaha mencari kebohongan di mata Xin Chen tapi adiknya itu menghindari tatapannya. Jika itu yang benar-benar terjadi maka seharusnya Xin Zhan tak usah mempertanyakan lagi.
"Kau membiarkannya terbunuh?"
"Benar."
Tinju melayang mengenai pipi Xin Chen telak. Tubuh itu menerima pukulan tersebut hingga terjatuh.
"Kau bukan adikku."
Roh Dewa Perang sekilas mendengar perseteruan kakak beradik itu dan merasa ada yang salah.
Mengapa Xin Chen membuat seakan-akan dirinya yang bertanggungjawab akan kematian Lan An? Padahal Lan An tewas di tangan Xin Fai dan bersikeras untuk tidak ingin diselamatkan oleh Xin Chen.
Tapi akhirnya Roh Dewa Perang mengerti jalan pikir anak muda itu.
__ADS_1
Dia hanya tak ingin Xin Zhan semakin membenci Ayahnya. Meski saat ini dirinya sendiri yang harus dibenci oleh Xin Zhan.