Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 212 - Melawan Kaisar II


__ADS_3

"Kami tak menemukan jalan! Seluruh akses diblokir!"


Seruan Yu menggema dari ujung jalan, Rubah Petir berbicara pada Xin Chen.


"Kita cari jalan lain, berpencar lebih baik. Mereka punya orang-orang kuat yang mampu melindungi yang lain."


Xin Chen berpikir sejenak, "Aku tak yakin."


"Tak ada banyak waktu. Kau sendiri yang bilang mereka bertempur sampai mati, ada atau tidaknya kau tak akan mengubah pikiran yang telah kau tanamkan ke mereka. Mereka akan mati atau musuh yang mati."


Tak ada celah untuk mendebat Rubah Petir, sementara waktu kian mendesak. Xin Chen akhirnya memutuskan.


"Kita berpencar! Kami ke Utara dan kalian ke Barat! Temukan jalan masuk dan kita akan bertemu di dalam pusat Sentral!"


Tanpa banyak tanya Yu mengiyakannya, cukup yakin dengan dirinya sendiri mampu memimpin kelompok bersama Xe Chang. Meski kini Qiu telah tiada.


Yu menunjuk jauh ke dalam sentral, ke sebuah menara jam tinggi dengan lonceng besar.


"Kita akan bertemu di Menara Jam itu sebelum besok pagi!"


Mereka bertolak ke arah yang berbeda, Yu dan Xe Chang yang diikuti ratusan orang yang tak gentar mati di belakang mereka lalu Xin Chen bersama Rubah Petir menuju jalan di mana gelombang terinfeksi tumpah ruah memenuhi setiap ruas jalan.


Mereka melaluinya dengan meninggalkan banyak mayat tergeletak di jalan serta kehancuran pada fasilitas kota. Ada satu jalan lagi yang bisa dimasuki tapi mereka harus berhadapan dengan ribuan terinfeksi di luar sentral. Sebelum Xin Chen melangkah ke sana, rubah lebih dulu mencegat.


Di tangannya menggantung sebuah kertas.


"Kau tahu soal ini?"


Xin Chen nyaris tak bisa membaca tulisan itu tapi dia begitu familiar dengan bentuknya, sesaat dia langsung mengeluarkan sebuah kertas memastikan masih bersamanya atau tidak. Dan nyatanya kertas itu masih di simpannya rapi. Dia menatap Rubah Petir penuh tanda tanya, "Dari mana guru mendapatkan itu?"


"Hu Yaongi, Teluk Barat, 206 mil." Rubah itu membacanya dengan enteng. "ini adalah sebuah petunjuk yang penting dan kau melewatkannya?"


"Aku berniat mencarinya setelah ini semua selesai, termasuk permasalahan dengan Shi Long Xu. Aku harus membunuhnya lebih dulu."


"Bagaimana jika si pembuat petunjuk ini mati sebelum kau datang ke sana?"


Xin Chen tak pernah berpikir sampai ke sana, dia mengutarakan maksudnya. "Aku berpikir tempat itu adalah awal mula lahirnya wabah ini. Lalu siapa orang yang kau maksud? Saat aku menemukan kertas itu di antara lipatan buku, ada seorang mayat dan tetesan darah di atas kertasnya. Pemiliknya sudah mati, itu bisa saja mungkin."


Rubah petir tak mengiyakan tak juga menyangkal. "Aku punya insting yang kuat soal ini, kita harus mencari Teluk Barat itu."


"Tapi bagaimana dengan orang-orang yang bersama Yu dan Xe Chang? Mereka akan mati jika kita berlama-lama."


"Lalu pergilah, aku akan mencarinya."


Xin Chen kembali dibuat kebingungan, tak bisa melepaskan tim yang dibawa Yu dan juga tak mau membiarkan Rubah Petir pergi sendirian. Dia tak tahu bahaya apa yang akan mendatangi Rubah itu karena ada beberapa hal yang gurunya tak tahu soal Kekaisaran Wei.


"Kita akan pergi ke sana dan kembali ke sini sebelum pagi, jika begitu aku setuju." Xin Chen akhirnya mengalah, kalau urusan berdebat dengan Rubah Petir dia pasti kalah telak. Xin Chen mulai merasa durhaka, dengan ayahnya dia membangkang dengan gurunya mau menyahut pun tak bisa.


Rubah itu tak berpaling tapi terdengar suara darinya, "Kalau begitu sebaiknya siapkan kaki dan jantungmu. Aku tahu di mana Teluk Barat itu, pastikan kau tidak ..."


Xin Chen tak mendengar kata-kata Rubah Petir sampai akhir karena gurunya itu sudah jauh di depannya dalam hitungan satu detik.


Tanpa banyak basa-basi Xin Chen mengejarnya, kejar-kejaran yang memicu adrenalin itu menjadi semakin menegangkan karena Rubah Petir memilih jalur berbahaya yaitu di atas jalanan. Di mana terinfeksi mulai mengejar, mereka yang berada di atas bangunan melompat. Xin Chen tak sempat menghindari salah satunya yang jatuh menimpa bahunya. Sangat berat sampai di hampir limbung. Beruntung tangannya cepat menyingkirkan.


Rubah semakin jauh di depan, dia melompat di antara bangunan tinggi, bahkan tanpa banyak bergerak dan hanya berlari dan melompat.


Dua jam kejar-kejaran tanpa henti Xin Chen mengumpat dalam hati, tubuh nya yang sekarang jelas akan kelelahan dan memiliki batas stamina. Apalagi kecepatan Rubah Petir jauh di atas rata-rata, mengimbangi langkahnya agar tak ketinggalan dan sambil bertahan di lautan terinfeksi membuat Xin Chen mulai jera. Gurunya itu paling tahu cara menyiksanya.

__ADS_1


Kakinya sampai kebas dan tak bisa berhenti berlari, Xin Chen memaksa dirinya berhenti. Menarik napas yang mulai berantakan dan menatap rubah petir yang seketika itu menatapnya remeh.


"Tubuh roh membuat mu jarang berolahraga, sekarang ingat rasanya ketika kakimu mau putus karena berlari."


"Pelajaran dengan praktek yang berharga, Guru. Tidak membuat simulasi mati gara-gara berlari menabrak terinfeksi?"


"Hampir." Rubah Petir menunjuk ke sebuah pegunungan yang dari kejauhan nampak deretan kastil dan menara kuno dijalari tanaman merambat.


"Dulu aku pernah ke sana, tempat para alkemis membuat ramuan aneh yang mengubah banyak hal di dunia ini. Mereka menciptakan obat dari segala penyakit. Dulunya Kekaisaran ini sangat disegani." Rubah Petir tampak kecewa saat mengatakannya, dia memilih tak melanjutkan.


"Sepertinya di sana kita tak akan bertemu dengan terinfeksi. Ikut denganku."


**


Satu kata yang menggambarkan apa yang dilihatnya saat itu; luar biasa.


Xin Chen nyaris tak percaya bagaimana manusia jaman dulu bisa membuat sebuah ruangan bawah tanah raksasa yang memiliki luas dan tinggi sampai ratusan meter.


Tempat itu begitu diam dengan hawa pekat, selayaknya tempat tua yang telah ditinggalkan ribuan tahun lamanya. Bunyi tapak kaki menggema setiap kali menginjak tanah. Terdapat lima simbol besar di permukaan tanah, terbuat dari baja tebal diukir lukisan binatang. Ular, Naga, Rubah, Beruang dan Phoenix.


Tempat yang begitu gelap itu membatasi penglihatan mereka. Xin Chen berniat menyalakan salah satu obor yang tergantung di dinding tanah dengan Api Keabadian.


Ketika api itu membakar obor yang telah membusuk lama itu, tak disangka api itu menjalar melalui aliran arang yang terhubung di dinding hingga ke lantai di mana kelima simbol tersebut berada. Patung yang melingkar di seluruh ruangan tampak bergerak, pedang yang digenggam mereka terangkat ke atas. Waspada, Rubah Petir mengawasi sejenak.


Xin Chen melihat satu lukisan anak laki-laki kecil dengan kedua mata merah dan tanduk yang terpotong sebagian. Tak bisa memastikan apakah itu manusia atau makhluk sejenis hantu, tapi kedua mata itu tampak bersinar terang. Menatap tajam kepadanya. Terasa aneh, tapi Xin Chen melihat kekuatan yang amat besar dari anak kecil itu. Seolah-olah dia berhadapan dengan sosoknya. Lukisan besar lainnya itu diukir dengan permata yang memantulkan cahaya berwarna-warni di dinding, menggambarkan sebuah pegunungan dan sebuah jembatan. Seperti lukisan pada umumnya.


Tapi ada kejanggalan yang tak dapat dibacanya.


"Anak itu adalah satu-satunya yang tersisa setelah kepunahan Bangsa Iblis," celutuk Rubah yang segera menarik perhatian Xin Chen. "Iblis? Mereka benar-benar hidup?"


Rubah telah lama hidup di dunia ini, Xin Chen paham betul Rubah itu lebih tahu tentang apa yang telah terjadi di masa lalu.


"Tapi apa hubungannya dengan wabah ini?"


"Kita akan mencari tahunya nanti-"


Xin Chen tiba-tiba pergi menuju ruang tertutup yang pintunya dibuka begitu saja. Melihat sebuah tempat yang dipenuhi dengan rantai, lalu di atas mejanya berjejeran puluhan botol kecil. Xin Chen berjongkok, menemukan satu botol yang masij utuh dan tak percaya dengan apa yang didapatkannya.


"Apa ini sungguh-sungguh bangunan yang ditinggalkan ribuan tahun?"


"Mengapa?" Rubah mendekat.


"Darah di dalam botol ini masih begitu segar. Warnanya masih merah, tidak pekat atau menghitam."


"Berhati-hatilah," peringat Rubah Petir saat dalam seketika mereka mendengar suara menggema dari ujung lorong yang entah dari mana asalnya. Seperti suara angin dari kedalaman.


Rubah petir segera mengambil buku yang tergeletak di atas meja. Membaca secara cepat dan menemukan jawaban.


"Ini adalah tempat penelitian alkemis terdahulu ... Di sini dituliskan bahwa darah ini adalah milik ..." Rubah Petir mulai kesusahan membaca abjad itu. Karena memang tulisannya saling bersambung dan beberapa pudar karena air.


"Campuran manusia dan iblis?"


Xin Chen mengernyitkan dahi. Getaran dahsyat seketika membuyarkan konsentrasi Rubah Petir, lalu kemudian gempa dadakan terjadi. Terdengar dari ujung kastil paling dalam.


"Dia mengamuk,"


"Anak kecil di lukisan itu?"

__ADS_1


Rubah Petir membaca kata di bawah kertas. "Dosa."


Lalu teriakan menggema, suasana berubah kelam. "Darah ini adalah wujud dari sebuah dosa. Wabah yang berasal dari manusia dan diciptakan oleh manusia ..."


"Guru, sudah cukup! Kita harus pergi!"


Rubah Petir masih mencoba memahami baris demi baris di lembaran berikutnya, meski Xin Chen tak lagi tenang karena satu per satu reruntuhan raksasa mulai menimpa tanah.


Darah milik anak kecil itu menjadi bahan penelitian alkemis yang menginginkan kehancuran dunia. Lalu, wabah lahir oleh campur tangannya. Menciptakan manusia yang memiliki ketahanan tubuh tinggi dan abadi, tak memiliki akal tapi juga beringas.


"Guru, awas!" Xin Chen membakar habis batu besar yang hampir mengenai rubah. Gurunya itu anteng bukan main, padahal dia saja sudah melihat jalan keluar mulai tertutup.


"Dan darah ini adalah satu-satunya penawarnya?"


Rubah Petir menatap Xin Chen, mengingat ketika Xin Chen masih tak terbangun Fu Hua menceritakan percakapan orang di Laboratorium Baru. Jarum suntik itu berisikan darah dari terinfeksi yang bisa membunuh virus itu. Hanya satu-satunya di antara jutaan terinfeksi. Rubah Petir mulai memahami sesuatu.


"Wabah ini pernah terjadi di masa lalu, tapi kenapa aku tak begitu mengingat soal ini ...."


Xin Chen terlanjur menyeretnya pergi sebelum bangunan itu benar-benar runtuh. Mereka berhasil keluar hidup-hidup, Xin Chen membalikkan badan ke belakang. Melihat sepasang mata merah tengah menatapnya dari dalam kegelapan yang begitu bising.


"Siapa kau?"


"Kau tak punya pilihan lain selain membunuh mereka."


Xin Chen berusaha mendekat, dia tak melihat wujud apa pun dengan matanya selain cahaya merah yang bersinar dan perlahan memudar. Di sebelahnya rubah petir juga melihat hal yang sama, dia tak sedang berhalusinasi.


"Penawar virus ini hanya satu, dan itu adalah darah yang kau pegang di tanganmu."


Xin Chen menatap botol kaca itu, mengerutkan dahi, berusaha membaca maksud Rubah Petir. "Jika begitu artinya semua orang yang tergigit atau menjadi terinfeksi tak bisa diselamatkan? Sama sekali?"


"Cara kau menyelamatkannya adalah dengan membunuh mereka."


Mata Xin Chen kembali ke arah sebelumnya, di mana sepasang mata bercahaya merah tadi telah lenyap. Pesan yang disampaikannya cukup menakutkan. Rubah Petir menjelaskan apa yang diketahuinya kepada muridnya itu. Ada sejarah besar yang disimpan dalam kastil tua itu.


"Tapi tadi saat semua bangunan runtuh, aku melihat sesuatu mengerikan dari dalam ruangan yang telah ambruk."


"Apa itu?"


"Sebuah makam yang dibuat berdiri. Lalu seorang pemuda dengan pedang yang berwarna merah, aku kira dia adalah sosok yang sama dengan tadi."


"Menurutmu pemuda itu sama dengan anak kecil yang kuceritakan?"


"Aku justru berpikir, dia adalah orang yang sama dengan sosok yang memberikan petunjuk itu ke kita." Xin Chen memandangi kastil itu lamat-lamat. Banyak teka-teki yang tak terjawab.


"Aku hanya menebak, terjadi pernikahan antara bangsa iblis dan manusia lalu bala datang. Dan itu mungkin mendatangkan berbagai musibah, banyak orang menentangnya dan banyak pula yang memanfaatkan itu untuk hal buruk."


Rubah petir melanjutkan. "Darah anak itu menyimpan banyak hal mengerikan. Menciptakan wabah besar-besaran. Tempat itu mungkin menjadi tempat di mana wabah itu diciptakan dan menjadi akhir dari anak campuran manusia dan iblis."


Xin Chen diam sejenak, "Aku melihat ribuan tengkorak dan tulang belulang di tanah yang kita pijak tadi. Orang itu membunuh semua manusia yang terjangkit. Dan kita telah memasuki pemakamannya tanpa izin, dia pasti marah."


Namun sesaat setelah mengetahui beberapa hal, Xin Chen menjadi semakin khawatir. Jika virus ini kembali menyebar dan menginfeksi banyak manusia, maka semakin banyak pula nyawa yang harus melayang. Selagi memikirkan soal itu, Xin Chen tertegun saat melihat sebuah tusuk rambut dengan ukiran lambang khas klan Ren.


Dia tahu barang itu milik siapa dan kemungkinan besar terlepas dari rambut pemiliknya, seolah sedang berlari dari sesuatu. Xin Chen mengambilnya, mencengkeramnya kuat.


"Dia selangkah lebih cepat dari kita, tapi setidaknya aku sudah tahu dengan siapa dia bersekongkol."


Xin Chen mengingat wajah penuh tipu muslihat wanita itu dan tak ingin memaafkannya. Bahkan sekalipun dianggap saudara oleh ibunya, tangannya tak akan segan untuk mengambil kepala Ren Su.

__ADS_1


__ADS_2