
Awan gelap telah lama membekas di langit, sesekali terdengar dentuman samar di balik awan-awan hitam yang mengapung rendah. Yian menggigil bukan main, ketakutan menjalari seluruh tubuhnya sampai-sampai langkah kaki remaja itu gemetar sepanjang jalan. Di sisinya Shuo berjalan meniru gerakan para terinfeksi. Tak kalah takutnya ketika satu per satu terinfeksi mendekat dan membaui tubuhnya.
Mereka berdua sama-sama menahan napas. Membiarkan terinfeksi itu lewat.
"Demi apa pun, ini lebih menyeramkan daripada disuruh berjalan di kuburan tengah malam."
"Jangan berisik. Mereka bisa mendengarmu." Xin Chen memperhatikan situasi di depannya sangat waspada, dia harus memikirkan cara agar mereka tiba di pagar depan, waktu hanya tersisa enam menit. Sementara itu kerumunan besar telah menghambur di seisi jalan depan. Sulit untuk melewatinya.
Yian menunjukkan satu jalan yang diapit dengan pembatas setinggi dada. Jalan satu arah itu kosong. Mereka bisa mengambil jalan tersebut agar lebih cepat sampai. Tanpa pikir panjang semuanya langsung berjalan ke sana, cepat dan semakin dekat dengan pagar pembatas.
Mata biru Xin Chen menengadah ke atas, alisnya turun seolah-olah tak mempercayai cuaca bahkan bisa mengkhianatinya di saat-saat seperti ini.
Hujan deras turun. Mereka masih terlampau jauh. Baik Yian, Shuo, Lang, Tiga ataupun dirinya sendiri tak bisa berbuat apa-apa selain melanjutkan perjalanan. Darah dan daging mayat yang menutupi seluruh pakaian kini mulai luruh bersama air hujan yang membawanya ke dalam selokan.
"Mampus." Shuo menelan ludah, menyadari satu demi satu raungan mulai terdengar. Para terinfeksi itu mencari-cari sumber bau, Xin Chen mulai menghitung.
"Tiga ..."
Mata-mata tersebut mulai terpusat ke arah mereka.
"Dua ..."
"LARI!"
Teriakan kompak itu diiringi kejar-kejaran yang menggemparkan, ratusan terinfeksi mengekori mereka sepanjang jalan. Lebih sial lagi mahkluk yang jauh lebih kuat dari mereka juga ikut mengejar. Langkah Tiga yang sedikit lamban terkejar, Xin Chen mundur secepatnya dan melibas kawanan tersebut. Membiarkan yang lain maju duluan.
"Chen!"
Lang berpaling ke belakang, matanya melebar saat melihat sebuah misil melesat ke arah bangunan lantai lima yang agak dekat dari mereka. Pemuda itu segera menoleh, jubahnya ditarik. Beberapa kali melepaskan diri, dia nyaris tergigit.
Tak berpikir panjang Lang segera kembali mengejar Xin Chen, menggunakan kakinya untuk menendang kawanan terinfeksi. Dia menggigit, mencakar dan membanting begitu kuat.
"Naik ke atasku!"
Tiga, Yian dan Shuo telah berada di tempat yang aman sementara keduanya masih berlari ke pagar pembatas.
__ADS_1
Xin Chen segera naik, Lang berlari sekencang mungkin sebelum benda itu meledak. Tak memiliki waktu banyak, dia masuk ke dalam selokan yang cukup dalam. Hingga akhirnya ledakan hebat tak terhindarkan. Beberapa organ tubuh jatuh ke dalam selokan. Xin Chen dan Lang berlindung, melihat api disertai asap lewat di atas mereka.
Beberapa menit sampai keadaan mulai mereda, Xin Chen dan Lang langsung keluar. Melihat Yian telah berada di atas, memberikan isyarat agar mereka cepat waspada.
"Mereka sudah berada di sini."
Yian mengulurkan tangan kepada Xin Chen, Lang naik ke atas. Matanya mengelilingi seisi kota yang telah hancur lebur. Reruntuhan berserakan bersama mayat-mayat, beberapa masih hidup meski terbakar.
"Siapa?"
"Peneliti itu."
Yian sekalian menunjuk ke arah kawanan manusia berseragam serba tertutup dan topeng yang menutupi mulut. Xin Chen terpaku sejenak. Mereka sempat bertemu di terowongan bawah tanah saat hendak memasuki Kekaisaran Wei. Dan menjadi dalang mengapa dirinya, Luo Li dan Lang terjebak di dalam Labirin Kematian.
Gawat, baginya. Karena sejak menginjakkan kaki di Kekaisaran Wei sudah ada musuh yang membuntutinya. Ini bukan berita baik baginya.
Tanpa mengulur waktu, ketiganya segera berlari. Menerobos kawanan terinfeksi yang semakin mendekat hingga mereka sampai di daerah pepohonan yang sedikit lengang.
Tiga berlutut, napasnya hanya tinggal beberapa. Yian pun sama, di antara mereka tubuhnya yang paling lemah adalah dia. Sementara Shuo mencari kayu di sekitar, sepertinya mereka akan membutuhkan tombak untuk menghadapi beberapa spesies baru di depan sana.
"Sekitar dua kilometer dari sini, aku pernah mendengar tentang sebuah perkemahan yang dikelilingi pohon Pinus."
"Tapi tempat itu bersebelahan langsung dengan Fraksi Militer Pusat dan juga para pembelot."
"Fraksi Militer Pusat? Pembelot?"
Tiga berbalik badan agar bisa berhadapan langsung dengan Xin Chen, tampaknya teman barunya itu tak begitu mengetahui segala sesuatu tentang Kekaisaran Wei.
"Biar aku jelaskan padamu."
Tiga mulai menjabarkan, "Fraksi Militer Pusat, mereka adalah militer yang berada di bawah kendali Kaisar secara langsung. Mereka banyak membunuh, atasan mereka bahkan tidak ada yang tahu. Tapi aku dengar akhir-akhir ini terjadi goncangan di kelompok mereka. Mereka menguasai sebagian besar wilayah Kekaisaran. Dan juga bekerja sama dengan para peneliti. Ah, urusan politik kalau aku jelaskan bisa sampai malam kau mendengarnya. Intinya, jangan sekali-kali terikat kerjasama dengan mereka." Tiga mengangkat jari telunjuknya, menatap Xin Chen dalam-dalam.
"Mereka bukan bagian dari kita," tegasnya kemudian.
"Dan pembelot. Mereka cuma sekawanan sampah yang merampok, mencuri dan menghancurkan para masyarakat. Paling sering bersinggungan dengan Fraksi Militer Pusat. Terakhir kali markas mereka dihancurkan, tapi mereka masih bergerak sampai sekarang."
__ADS_1
Shuo menambahkan, "Jangan lupakan Pelindung Malam. Mereka biasanya bergerak pada malam hari untuk mencari makanan dan alat-alat yang dibutuhkan. Mereka adalah pihak kita. Orang-orang yang bertahan dari bencana besar di Kekaisaran ini dan membentuk sebuah pasukan bersenjata yang memerangi terinfeksi, Fraksi Militer Pusat atau bahkan Pembelot."
Sedikitnya Xin Chen sudah memahami gambaran kelompok di dalam Kekaisaran Wei selagi mereka berjalan melewati hutan-hutan. Tiga masih melanjutkan semua penjelasan sampai dua jam kemudian mereka sampai di sebuah tempat yang dihuni puluhan hingga ratusan orang.
Tiga mengangkat tangan. Dia mengenal beberapa yang menjaga di pintu depan. Dua lelaki berkulit putih mengajaknya bicara.
"Hei, Tiga! Apa kabarmu? Aku kira kau sudah tenggelam bersama mayat-mayat itu." Dia tertawa lebar. "Masih mencari anak istrimu?"
"Tentu saja. Aku membawa rekan-rekan baru kita. Bisa panggilkan Pemimpin kalian?"
"Dia sedang tidak ada di sini semenjak dua hari lalu. Kalau memang terdesak tunggu saja di sini. Ah, aku pergi dulu."
Tak ada yang memasang wajah curiga terhadap mereka berlima, hanya saja keberadaan Lang cukup membuat mereka terkejut. Selebihnya, mereka dipersilakan masuk ke dalam sebuah perumahan yang dikelilingi pagar dan pelindung. Terdapat permukiman yang tak begitu luas tapi cukup untuk dihuni oleh seratus orang lebih.
Xin Chen berhenti ketika melihat kerumunan di depan sebuah rumah. Puluhan orang saling menyahut emosi.
"Dia sudah tergigit, kepala batu! Segera buang dia keluar atau aku yang akan membacokmu?" Pria berusia hampir kepala empat naik pitam, di depannya seorang anak perempuan terbaring dipangku ibunya yang menangis terisak. Di sekitarnya puluhan orang memaksa wanita itu untuk membunuh anaknya sendiri yang diyakini telah tergigit saat mencari sayur di luar.
"Tidak mungkin, anakku baik-baik saja. Dia yang bilang sendiri, dia tergores besi kawat saat terpeleset."
"Tapi suhu tubuhnya tinggi!"
"Percayalah, dia demam. Hanya itu ... Ku mohon." Wanita itu memegang kaki pria di depannya yang paling menyolot.
"Jangan bunuh anakku, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dia."
Parang telah diangkat, sebentar lagi akan membelah kepala anak wanita itu.
Xin Chen menghadang. Tiga dan lainnya keheranan. Pemuda itu meletakkan tangannya di atas mulut anak perempuan itu.
"Lihat, jika dia adalah terinfeksi, dia akan langsung memakan tanganku. Bukankah mereka paling sensitif terhadap bau?"
Terjadi diam, suara Xin Chen kembali terdengar. "Tidak ada yang aneh di kepalanya. Dia masih manusia. Dan bekas robekan di kulitnya bukanlah bekas gigitan. Robekan itu lurus, pasti disebabkan goresan benda tajam."
Terdengar suara tepuk tangan dari belakang punggungnya, seorang wanita dengan tiga jenis senjata berbeda di samping pinggangnya tersenyum lebar.
__ADS_1
"Analisa yang hebat. Dia benar. Anak gadis yang malang ini tidak salah apa-apa, lantas kalian ingin membuangnya? Kita saat ini membutuhkan lebih banyak rekan agar bisa bertarung bersama. Turunkan senjatamu."