
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga mereka tak menyadari keramaian mulai terdengar lagi di luar sana. Zian Ning buru-buru berbicara sebelum ketiga orang di depannya pergi.
"Sebelum itu, terima kasih atas makanan dan minumannya. Terima kasih sudah peduli pada kami," lidah Zian Ning terbelit-belit. Padahal dia tahu jelas apa yang ingin dikatakannya, kegugupannya tak begitu dipikirkan ketiga orang itu.
"Mulai besar kalian adalah keluarga besar Pilar Kekaisaran. Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan." Xin Fai menutup kalimatnya, "Sudah saatnya pergi. Kembalilah ke panggung, anak-anak. Tegapkan punggung kalian, ada banyak beban yang diberikan di pundak kalian."
Xin Chen tersenyum. Melihat Xin Zhan dan dua bersaudara itu. Bibit-bibit yang amat menjanjikan untuk menjaga Kekaisaran ini. Setidaknya dia tak melihat lagi wajah-wajah elit menyebalkan di wajah Patung Pilar nanti.
Kaisar Qin telah berada di tempatnya semula. Menyambut seluruh masyarakatnya yang masih tetap berada di sana setelah sebelumnya mereka dihibur dengan berbagai pertunjukan seni. Tarian perang, alat musik dan lakon yang menghibur. Kini tiba saatnya menyambut para pahlawan yang berdiri di kursi tertinggi. Dimulai dari Pilar Kelima.
Setelah berbicara agak panjang, Kaisar Qin kembali membuka kertas yang akan dibacakannya. Tapi tampaknya, kini Kaisar Qin tak membutuhkan kertas itu lagi. Dia sudah ingat di luar kepala siapa-siapa saja yang akan berdiri di barisan paling depan Pilar Kekaisaran.
"Pilar Kelima, Guru Besar Kuil Teratai. Memiliki jasa besar dan peran penting dalam Kekaisaran kita. Tao GuiXiang."
Seorang pria menaiki panggung, dia berjalan dengan mata yang tertutup. Manik di tangannya tak berhenti bergerak. Siapa pun yang baru melihatnya akan mendapatkan kesan religius dari Tao GuiXiang. Memang begitu adanya. Dia adalah orang yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kepercayaan dan kekuatan. Umurnya memang sudah hampir kepala empat tapi dedikasinya pada Kekaisaran Shang patut diacungi jempol.
Pendekar Senior sekalipun menaruh hormat besar pada lelaki itu karena dia pantas menerimanya. Tao GuiXiang mengangguk takzim mendengar tepuk tangan meriah di depannya.
"Sebuah kehormatan untukku, Yang Mulia. Aku akan menjalani tugas mulia ini dengan sepenuh hati."
Kaisar Qin menarik napas. Semakin kecil angka Pilar Kekaisaran yang dia sebutkan, semakin tinggi pula antusias orang-orang di hadapannya. Banyak yang menunggu nama-nama yang mereka dukung. Lelaki itu menunggu keadaan mereda. Didampingi oleh istrinya, Lin Yun, keduanya melihat ke ribuan orang sekali lagi.
"Selanjutnya, Pilar Keempat. Hong Tian."
Begitu singkat. Itulah yang ditangkap Xin Chen, Kaisar Qin tak mau berbasa-basi menyebutkan nama tersebut. Dia mulai penasaran seperti apa orang yang baru saja dipanggil. Dan yang dilihatnya adalah seorang lelaki tambun, penampilannya hampir sama seperti Tao GuiXiang. Hanya saja pakaiannya benar-tidaknya berada dalam level teratas.
Di dalam rajutan jubah putih itu terdapat ukiran daun indah yang dibuat dengan bahan mahal. Tak main-main, aksesoris yang menggantung dari ujung kaki sampai ujung rambutnya mungkin bisa menyentuh angka ratusan juta keping emas.
__ADS_1
Hong Tian bukan orang sembarangan dalam segi harta. Detik itu Xin Chen mengukur kemampuan Hong Tian, tapi dia hampir tak percaya saat melihat aliran kekuatan di tubuh laki-laki tambun itu bahkan lebih lemah dari penjaga istana.
"Apa-apaan ini ...."
Xin Chen membatin dibuatnya. Melihat Kaisar Qin dengan tatapan protes, sama seperti yang dilakukan kakaknya Xin Zhan. Tapi tampaknya Kaisar Qin yang berdiri di atas mereka enggan melihat.
Hong Tian membalas sapaan semua orang dengan lambaian tangan, wajahnya begitu ramah. Dia pengguna tombak. Tapi caranya memegang tombak saja sudah memperlihatkan banyak celah, apalagi di dalam sebuah pertarungan sengit bisa-bisa dia mati konyol hanya dalam tiga detik.
"Dua sampah di antara Pilar Kekaisaran. Bisa-bisanya dia berada di posisi keempat dengan kekuatan seperti itu." Xin Chen mulai meragukan apakah Kaisar Qin bersungguh-sungguh dengan ucapannya tempo malam. Atau memang keadaan sudah di luar kendali sehingga lelaki itu terpaksa mengambil keputusan ini.
Xin Zhan di sebelahnya memberikan perintah, "Bergegas, ayah bilang mungkin nama kita selanjutnya dipanggil."
Xin Chen yang tadinya sibuk memikirkan masa depan Kekaisaran Shang langsung tersentak.
"Ha?"
"Ha ho ha ho. Sebentar lagi kita akan dipanggil, cepat."
"Dan selanjutnya ...!" Nada bicara Kaisar Qin meninggi, air mukanya yang sebelumnya keruh kembali bercahaya. Sumringah di wajahnya membangkitkan semangat di seluruh penjuru.
"Pengangkatan Pilar Ketiga yang paling kita nantikan. Salah satu keluarga Xin yang merupakan keluarga petarung yang paling dihormati di Kekaisaran Shang. Telah mengabdikan dirinya sejak usia sepuluh tahun dan bekerja untuk Kekaisaran ini di bawah naungan Lembah Kabut Putih. Menjaga Kekaisaran dan pernah menjadi Pilar Kekaisaran pertama di tengah situasi genting kekaisaran ini ..."
Xin Chen menyimaknya dengan muka tak percaya. Apa ini dia tidak salah dengar, entah memang sekarang masih diumumkan Pilar Ketiga. Tapi rasanya kakaknya itu tak pantas disandingkan bersebelahan dengan Hong Tian. Kakaknya itu lebih pantas untuk menjadi Pilar Kedua setelah ayahnya. Itu tak bisa dipungkiri lagi.
"Pilar Ketiga, Xin Zhan! Majulah dengan gagah berani, pahlawan yang bertarung melawan Naga Kegelapan dan Ayahnya sendiri, Pedang Iblis!"
Tepuk tangan semakin heboh, menggema keras sampai-sampai tak bisa mendengar apa yang mereka semua teriakkan. Xin Zhan maju dengan wajah bangga. Seakan-akan tak terganggu dengan posisinya yang berada di kursi ke tiga.
__ADS_1
Xin Chen mulai khawatir. Jangan-jangan ada orang seperti Jiang Cho atau Hong Tian lagi yang 'membeli' kursi Pilar Kekaisaran. Jika itu benar dia tak bisa menerimanya sama sekali, atau berpikir pindah ke planet lain jika perlu. Mana bisa dia meminta perlindungan pada orang yang bahkan tak tahu cara menyalakan api di hutan.
Kemeriahan penyambutan Xin Zhan memakan waktu lima menit sampai keadaan benar-benar mereda. Pemuda itu telah mengambil hati banyak masyarakatnya. Saat Xin Chen melihat kakaknya itu, dia tampak sama sekali tidak berubah. Dia tersenyum formal, sopan dan berdiri dengan tenang. Berbeda dengan kakaknya jika di rumah. Sudah serupa ibu-ibu kompleks. Tiap hari mengomel, tiap hari memprotes.
Xin Chen terlalu terlarut dengan rasa bangganya terhadap Xin Zhan sampai tak sadar Pilar Kedua sedang dipanggil oleh Kaisar Qin.
"Kita tiba pada nama yang paling kalian tunggu. Nama yang dikabarkan telah menghilang tujuh tahun di dalam api Keabadian yang menjadikan Kota Renwu sebagai lautan api. Nama yang muncul dalam perang tujuh tahun lalu kini kembali muncul sebagai tokoh penting dalam perang di Lembah Para Dewa. Menghabisi kepala Naga Kegelapan dengan tangannya dan membawa kembali Pedang Iblis ke sisi Kekaisaran Shang."
Kaisar Qin terlalu antusias mengatakannya sampai-sampai dia hampir tersedak, istrinya mengelus pundak lelaki itu pelan.
"Pilar Kedua, yang diyakini sebagai salah satu Pendekar Tanpa Batas Kekaisaran Shang, Xin Chen!"
Seperti sebuah bom ledakan, sorak-sorai di sekitar tiba-tiba memuncak. Jauh lebih hebat dari delapan pilar yang telah disebutkan. Hal itu membuat Xin Chen yang sedang melamun terkejut, melihat yang lain bertepuk tangan dia pun ikut tepuk tangan sambil menengok ke arah panggung. Siapa gerangan yang maju.
Xin Fai di tempat lain menepuk jidat. "Anak itu, kebiasaan."
Lain halnya dengan Xin Zhan yang memelototinya. Xin Chen mengerutkan alis ketika Kakaknya memberikan kode. Seperti menyuruhnya maju.
"Sepertinya Pilar Kedua kita tidak mendengarnya." Kaisar Qin tersenyum, "Aku akan mengulanginya. Dengan seluruh hormat, aku memanggilmu, Pilar Kedua yang akan melindungi Kekaisaran ini, Xin Chen!"
Xin Chen sampai tak fokus sebab telinga penuh dengan tepuk tangan dan suara ribuan orang yang menyerukan namanya. Dia melihat ke belakang, maju ke panggung perlahan.
Kemeriahan seakan tak pernah surut sejak namanya disebut. Melihat punggung seorang pemuda dengan jubah hitam beserta ukiran bulan darah di belakangnya. Tepuk tangan mulai mereda ketika Xin Chen berada di atas panggung. Tapi dia hanya berdiri di tengah. Bukan di barisan para Pilar lainnya.
"Jika Yang Mulia mengizinkan, aku ingin mengatakan sesuatu," suara Xin Chen dengan tegas.
"Katakanlah."
__ADS_1
"Aku menolak menjadi Pilar Kekaisaran."
Satu kalimat itu mampu membuat seisi Kota Fanlu hening. Dan membuat ayah serta kakaknya sakit kepala. Jalan pemikiran Xin Chen memang tidak bisa ditebak. Ditambah lagi, dia tak pernah membiarkan siapa pun menentukan jalannya.