Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 142 - Harapan yang Terkubur


__ADS_3

Bunyi ranting yang dimakan api menjadi satu-satunya sumber suara di tengah malam yang begitu sepi, angin dingin datang menyapa, membelai lembut pipi seorang pemuda yang duduk di atas batu sambil merenung. Banyak hal tak dia pahami semenjak menginjakkan kaki di Kekaisaran Wei. Semuanya berkecamuk di kepalanya. Dan tujuan-tujuan yang sempat memenuhi seisi kepalanya seakan-akan dipaksa untuk menepi, oleh keadaan yang begitu kacau di Kekaisaran ini.


Dalam diamnya, seseorang datang membawa daging rusa yang baru selesai dibakarnya di tempat lain, menyodorkannya pada pemuda itu. Dia sedikit menunduk demi melihat wajah Xin Chen.


"Kau baik-baik saja?"


Xin Chen sudah mengetahui kehadiran Yu sejak tadi, tanpa menoleh dia menjawab.


"Sepertinya."


"Baiklah," pungkasnya. Lalu Yu kembali bicara, "aku berterima kasih karena kau sumber air kita masih dapat kita amankan. Menghadapi mereka semua sendirian, aku tak yakin bagaimana kau melakukannya."


Tidak ada jawaban. Benar dugaannya, Xin Chen sedang kalut dengan pikirannya sendiri. Wanita itu mendengus, sedikit tertawa. "Ada masalah yang menggangumu?"


"Aku kehilangan seseorang, orang yang membawaku ke sini." Xin Chen mulai berpikir untuk jujur, karena pada akhirnya dia membutuhkan alasan agar bisa sampai ke tujuannya.


"Kau bukan orang Kekaisaran ini?"


Terjadi hening sejenak, tapi Yu seperti tak terkejut lagi, dia langsung berkata pelan. "Tak perlu ragu, ceritakanlah. Kau sekarang adalah keluargaku, aku akan membantumu ketika kau sulit dan begitu pun sebaliknya."


Yu menekankan sekali lagi, "Aku tak akan menceritakan soal ini kepada siapa pun."


Dia menenggak minuman di dalam botol, membuang pandangannya pada api unggun sambil menunggu Xin Chen berbicara. Tak lama terdengar suara, begitu kecil di sampingnya.


"Aku datang ke sini untuk mencari obat, untuk penyakit ibuku. Kristal Merah. Seorang tabib muda mengatakan bahwa gurunya di Kekaisaran ini bisa menciptakan obat untuknya. Tapi dia sudah tiada, dan aku kehilangan arah."


"Tabib ... Hm, tampaknya jika dia sangat percaya gurunya dapat menyembuhkan Kristal Merah sudah dipastikan gurunya bukan orang sembarangan. Delapan puluh persen, orang seperti gurunya pasti dibawa ke sentral pusat dan diberdayakan oleh pemerintah."

__ADS_1


Xin Chen menoleh padanya, satu pemikiran seperti yang Tiga katakan. Xin Chen memperlihatkan tatahan kayu yang diberikan Luo Li untuk terakhir kalinya.


Yu melihat lamat-lamat, "Aku pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi percaya padaku, jika ada satu tempat paling aman untuk menyimpan orang-orang berguna seperti gurunya, pasti tempatnya adalah di Sentral Pusat."


Tapi Yu ragu ketika menjawab selebihnya. "Bukan perkara mudah untuk masuk ke sana. Aku sempat ingin ke sana, tapi akses jalan benar-benar dijaga ketat. Terakhir kali orang-orang ku nekat maju, mereka ditembak mati tanpa peringatan. Sekejam itu."


Kecewa sudah pasti. Xin Chen menyimpan kembali ukiran tersebut. Napas berat terdengar setelahnya.


"Tapi Tiga mengatakan dia juga akan ke sana."


Yu tersenyum pahit. Dia bangun secara tiba-tiba, berusaha terlihat biasa saja.


"Pria yang kau maksud itu mungkin sedang berada dalam haru dan hancur. Ikuti aku."


Wanita itu pergi tanpa membiarkan Xin Chen bertanya, mau tak mau dia ikut. Yu tak mengatakan apa-apa soal Tiga. Sampai mereka keluar dari Perkemahan Tenggara dan memasuki jalan hutan pinus. Xin Chen merasakan kehadiran lain di hutan ini, sekitar lima orang.


Derai air mata menyusul diselingi teriakan putus asa yang begitu menyakitkan, bukan hanya sekali dua kali, bahkan sampai berpuluh-puluh kali. Seorang laki-laki yang terpukul akan kenyataan yang nampak di depan matanya. Lelaki itu, Tiga.


Xin Chen menatap tak percaya. Dua terinfeksi di depan Tiga sedang diikat di sebuah tonggak besar, meraung-raung kesetanan hendak menggigit Tiga. Tapi apa yang membuat diam terpaku bukanlah itu, melainkan dugaannya.


Seorang wanita dengan kulit seputih awan dan anak berkulit gelap dan rambut keriting. Mereka tak ubahnya mayat hidup kelaparan yang berusaha menginfeksi Tiga. Raungan anak istrinya tenggelam oleh teriakan Tiga, dia benar-benar hancur. Sampai melempar batang kayu dan apa pun di sekitarnya.


"Militer anj1ng! Mereka bahkan tak menjaga anak istriku, mereka sudah mengatakan akan menjaga mereka sebelum aku berhenti bekerja, selama ini aku mengabdikan diri untuk hal yang sia-sia dan sekarang mati pun tak berguna?! Persetan, Fraksi Militer Pusat bia*ab!" Tiga terus memaki, matanya merah dan air mata sedihnya telah berubah menjadi air mata kemarahan.


"Tak akan kubiarkan setan-setan itu hidup tenang, aku bersumpah akan membunuh mereka! Termasuk siapa pun yang berpihak pada mereka!"


Xin Chen terdiam beribu bahasa. Menundukkan kepala. Tak begitu lama dua orang di sebelah Tiga memaksa laki-laki itu mengakhiri penderitaan anak istrinya, Tiga menangis ketika memenggal keduanya. Darah mencuat membasahi pepohonan dan daun-daun rumput.

__ADS_1


Tiga menenteng kapak besar di tangannya, sempat terhenti ketika melihat Xin Chen baru saja melihat apa yang terjadi. Tatapan matanya begitu sendu disertai amarah yang diredam hebat. Dia menepuk pundak Xin Chen, memegangnya erat.


"Maafkan aku, Kawan. Sepertinya aku tak akan bersamamu untuk ke Sentral Pusat. Aku akan membalaskan dendam ku terhadap Fraksi Militer Pusat. Aku akan tetap di sini sampai bertemu dengan rekan lamaku yang membuang anak dan istriku ke lautan terinfeksi."


Tiga berlalu tanpa menatapnya sekali lagi. Membiarkan Xin Chen berdiri mematung. Menyadari saat ini keadaan di depannya semakin tak memungkinkan. Senyum pahit muncul di wajahnya.


"Bagaimana?"


Yu melipat kedua tangannya, menunggu respon pemuda itu.


"Aku sudah terbiasa berdiri di atas kaki ku sendiri. Tak perlu khawatir."


Tengah malam yang begitu larut itu membuat situasi begitu hening. Yu dan yang lain sudah kembali lebih dulu ke perkemahan, tapi Xin Chen memutuskan untuk pergi paling terakhir. Sambil memikirkan segala hal yang timbul tenggelam di pikirannya.


Daun di jalanan setapak yang berembun akibat hujan bekas tadi sore layu ketika diinjak olehnya, Xin Chen menyalakan Api Keabadian dan membakar satu terinfeksi yang berkeliaran di tengah hutan. Seharusnya tempat itu aman, tak begitu banyak ancaman. Xin Chen sedang memastikan seberapa lama Api Keabadian membakar satu terinfeksi dan berusaha meningkatkan suhu api tersebut. Agar dia dapat membunuh mereka secara cepat.


Sedang sibuk dengan percobaannya, Xin Chen sampai tak menyadari sebuah ancaman sedang mengintai di belakangnya.


Yu kembali tergopoh-gopoh ketika hampir seperempat jalan, dia belum memberitahu Xin Chen sesuatu. Tentang terinfeksi tingkat atas yang merupakan manusia siluman yang berkeliaran di hutan pinus, dia tak meninggalkan jejak dan bergerak dalam diamnya malam. Gerakannya cepat. Dan beda dari terinfeksi kebanyakan yang bergerak hanya berdasarkan insting lemah, mereka memiliki perilaku abnormal yang sulit dijelaskan.


Detik ketika Yu mendapati Xin Chen di tengah hutan, dia terkejut bukan main. Mahkluk itu telah mengintai pemuda itu dan menyerangnya tepat di bahu, Xin Chen tersentak kaget. Dia tak merasakan hawa kehadiran ataupun suara, keterkejutan luar biasa itu disambut oleh gigitan menyakitkan yang menembus sampai ke tulang bahunya.


"Cepat LARI!!!"


Yu menebas ke segala arah, melawan mahkluk beringas itu dan tercakar di bagian wajahnya. Xin Chen menahan darah yang terus merembes keluar dari bahunya, napasnya berantakan.


"Cepat lari!" teriak Yu sampai suaranya hampir hilang.

__ADS_1


Yu berhasil melepaskan diri dari makhluk itu, melemparkan sebuah petasan yang mengganggu indera pendengarannya. Menarik Xin Chen secepat mungkin agar mereka segera sampai ke Perkemahan Tenggara.


__ADS_2