Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 38 - Di Balik Wajahnya


__ADS_3

Satu hantaman besar jatuh ke permukaan bumi, menimbulkan gema keras yang meledak di gendang telinga. Gelombang udara berbentuk pusaran muncul dan menjauh ke segala arah, disertai bunyi retakan tanah hingga beratus-ratus meter ke dalam bumi.


Pembukaan dari musuh terberat mereka yang cukup mengerikan. Xin Zhan tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Melihat laki-laki itu tak memandang mereka dengan penuh kasih sayang seperti sebelumnya. Tatapannya dingin dan penuh keinginan untuk membunuh.


"Kalian sangat ketakutan? Hahahaha!!"


Suara wanita itu muncul tepat di belakang mereka. Sebelum keduanya sempat menoleh sosoknya berpindah tempat dan muncul di depan mereka melalui dimensi ruang hampa.


"Anak-anak seperti kalian sudah bermain terlalu jauh. Lihat, ayah kalian sudah marah besar. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri hanyalah membunuhnya."


Mata Xin Chen membelalak. Dia bergerak tanpa berpikir panjang dan menusukkan pedangnya ke arah wanita itu dengan gegabah.


Xin Zhan terkejut. Tak biasanya Xin Chen bersikap demikian gegabah. Serangan tak beralasan itu justru membuat dirinya terluka. Wanita itu lebih dulu menusuknya sebelum Xin Chen mengenainya.


Wujud roh Xin Chen mulai tampak memudar. Bekas tusukan di perutnya akibat wanita itu membentuk sebuah lubang hitam yang tak mau menutup sama sekali. Regenerasinya melambat akibat kekuatannya yang mulai terkuras. Jurus milik Dewa Petir tadi seharusnya membuat dirinya yang dulu langsung tumbang. Bahkan saat dirinya sudah beranjak dewasa, Xin Chen nyaris kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


Wanita itu mundur. Tampaknya dia tidak benar-benar ingin membunuh Xin Chen.


"Daripada aku menghabisi mu lebih dulu ... Akan lebih baik melihatmu tersiksa oleh sosok yang benar-benar kau sayangi. Bukan begitu?"


Lalu wanita itu menghilang. Datang hanya untuk membuat pikiran Xin Chen semakin kacau.


Saat ini Xin Fai masih belum melihat keberadaan mereka akibat dampak dari serangan sebelumnya yang begitu besar. Abu-abu dari tanah perlahan turun kembali ke bumi. Xin Chen dan Xin Zhan kini bersembunyi di tengah hutan dengan beberapa bangunan kuno bekas peninggalan dulu.


"Apa yang harus kita lakukan ...?"


Lalu Xin Zhan tersadar akan satu hal. Dia tidak memiliki apa yang dimiliki Xin Chen.


Kekuatan dan keberanian.


"Apa yang aku tahu ..." Xin Zhan berucap walau tampak jelas bibirnya gemetar, mendengar satu serangan besar lainnya dari Xin Fai yang membunuh semangat dalam dirinya.

__ADS_1


"Kita harus memenangkan perang ini. Chen, kau tahu?" Xin Zhan berusaha menatap mata adiknya yang kini sedang menengok ke arahnya.


"Kau belum kalah."


"Aku sudah kalah jauh sebelum mereka mengambil ayah."


"Semua itu hanya ketakutan mu." Sanggahnya. "Kau lihat, ayah ada di sini. Ini satu-satunya kesempatan kita bisa melihatnya. Bukankah itu artinya kita juga memiliki kesempatan untuk membawanya kembali?"


Xin Chen terdiam.


"Ini mungkin akan sulit. Kita tidak akan tahu apakah berhasil apa tidak. Setidaknya, andai kita berdua tiada akibat perang ini. Dan suatu saat ayah kembali sadar. Dia pasti akan mengingat bagaimana kedua anaknya berjuang mati-matian untuk dirinya. Setidaknya kita sudah berusaha untuk menolongnya, bukan?"


"Kau benar ...." Xin Chen kembali melemparkan pandangannya ke atas, melihat sesosok dengan penuh kekuatan hitam berhasil melacak keberadaan mereka dan bersiap melepaskan kekuatan berskala besar.


"Aku bisa melihat di balik wajah yang dingin itu, seseorang di dalamnya juga berusaha mati-matian untuk kita."

__ADS_1


__ADS_2