Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 165 - Disaksikan Derasnya Hujan


__ADS_3

Lagi, sesak di dada dan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya kembali datang. Xin Chen mulai mendapatkan kesadarannya kembali setelah dua hari, hidungnya dapat mencium aroma minuman obat herbal yang hangat. Lalu sebuah tangan dengan lembut menyentuh dahinya. Menempelkan sebuah daun sambil membacakan doa.


"Apa ..."


"Oh, kau bangun. Minumlah obat ini selagi hangat." Luo Mei meletakkan cangkir hangat itu di meja pendek sebelah Xin Chen.


"Serigala bernama Lang telah menjelaskan semuanya padaku. Aku turut prihatin mendengarnya, tapi tak perlu takut. Aku sudah memberikan penawar terbaik yang kami punya, walau hanya bekerja beberapa hari. Darahmu belum bersih sepenuhnya. Jangan melepaskan kewaspadaan dari penyakit ini."


Sembari melanjutkan obrolan Luo Mei melepaskan daun yang ditempelkan di dahinya.


"Kau yakin akan ke sana?"


"Iya."


"Kalau begitu kau hanya punya waktu dua hari. Segeralah kembali, atau kemungkinan terburuknya kau akan kehilangan kendali lagi dan mulai membunuh diri sendiri."


Peringatan Luo Mei diiringi oleh tatapan seriusnya, dia membereskan barang-barang.


"Aku mendoakan keselamatanmu. Berhati-hatilah di sana."


Xin Chen bangun dibantu Luo Mei, menarik napas sedalam-dalamnya. Entah mengapa semenjak menggunakan tubuh roh Xin Chen merasa dia menjadi sangat lemah. Dia tak pernah mengharap ini terjadi, andai bisa memakai tubuh roh Xin Chen tak perlu mempedulikan virus, wabah, kelaparan luka dan banyak hal meresahkan lainnya. Ini sama saja, tubuhnya abadi tapi penyakit masih dapat menggerogoti dirinya.


"Kau bisa berjalan? Atau mau beristirahat satu hari lagi sebelum pergi?"

__ADS_1


"Aku harus segera berangkat." Xin Chen mendapati Lang telah berada di halaman, melihat Xin Chen telah bangun dia langsung bergegas masuk membawa tas yang diikatkan di lehernya.


Luo Mei meletakkan sesuatu di tangannya. Sebuah serbuk obat yang dibungkus dengan daun kering. Tak banyak, tapi Xin Chen cukup berterima kasih lelaki itu berbaik hati memberikannya. "Baiklah. Jangan lupa dengan apa yang kukatakan. Pakai obat ini ketika kau merasa akan kehilangan kendali."


Xin Chen mengangguk, diikuti Lang keduanya segera berjalan menuju pintu gerbang. Memulai perjalanan menuju Laboratorium A-3.


**


Sebuah palang kayu berisi petunjuk jalan berderak ketika angin badai datang, kain lusuh robek yang dipancang dengan bambu berkibar tak karuan mengikuti deru angin yang amat kencang. Xin Chen dan Lang menyusuri jalan berbatu yang bersebelahan dengan sebuah parit besar. Tak ada sesiapapun di sana.


Sesekali perhatian mereka tertuju pada air kotor yang mengalir di sana, seperti mengeluarkan asap racun dan warnanya merah pekat layaknya darah yang telah membusuk. Bau yang dikeluarkannya pun amis tak kira-kira, siapa pun yang menciumnya akan merasakan isi perutnya seperti diaduk-aduk.


Dan kini mereka telah tiba di tempat yang dikatakan Luo Mei, awal mula kehancuran Kekaisaran Wei. Hanya mencium udara di tempat itu, Xin Chen dapat membayangkan begitu banyaknya mayat di desa tersebut. Sampai-sampai dia terbatuk, bau itu masih tercium pekat.


"Kita sudah sampai."


Xin Chen tak bisa mengatakan bahwa mereka benar-benar sendiri, dia dapat merasakan hawa kehadiran terinfeksi dan juga bunyi samar dari kejauhan. Lang memeriksa berbagai tempat, mencium sisa darah. Bulu ekornya kadang naik, merasa terancam oleh sekawanan tikus besar keluar dari rumah yang hampir ambruk.


Tikus itu ukurannya nyaris menyamai tubuh balita, matanya merah dan cakar yang lebih runcing dari biasanya. Mereka bergerak awas ketika mendapati Xin Chen dan Lang memasuki wilayah mereka.


Sebelum tikus tersebut menyerang, Xin Chen membakar mereka habis-habisan. Dia mendekati rumah tersebut, melihat sisa tikus lainnya masih berada di dalam. Sedang memakan mayat manusia yang masih utuh.


"Masih ada orang tinggal di sini?"

__ADS_1


Dari tubuh mayat itu, seharusnya dia mati belum sampai empat bulan. Xin Chen tertegun, melihat tikus besar itu jumlahnya bukan hanya puluhan. Mereka menguasai loteng rumah dan memakan mayat yang tersisa. Agaknya bangkai-bangkai itu membuat perut mereka selalu kenyang sampai ukuran mereka sudah jauh melebihi batas.


Meladeni mereka takutnya tikus itu membawa masalah, Xin Chen memilih mengabaikan. Dia mengikuti Lang yang sudah berjalan jauh di depan. Tapi serigala itu segera mundur cepat, menggigit baju lengan Xin Chen dan memaksanya bersembunyi di balik dinding rumah.


Xin Chen dapat merasakannya, Terinfeksi Tipe A, dia harus membunuh terinfeksi itu. Mau bersembunyi pun terinfeksi itu semakin dekat dan mulai membaui aroma tubuh mereka.


Lang juga berpikir untuk menyerang langsung terinfeksi itu, tapi melihat Xin Chen sudah bersiap dengan panah Api Keabadian dia mengurungkan niat. Menyaksikan Xin Chen keluar dari persembunyian dan langsung membidik terinfeksi tepat di kepala.


Kepala itu bocor mengeluarkan darah kental yang sama persis seperti air parit yang mereka temui. Xin Chen menancapkan sampai lebih dari belasan anak panah, mahluk itu tidak tumbang dan mulai bereaksi.


Petaka. Xin Chen tak bisa mengontrol makhluk itu dari berteriak dan memancing perhatian terinfeksi yang tersebar di seluruh penjuru desa tersebut. Teriakannya menggema sangat keras, lebih seperti raungan. Sudah membakarnya sekaligus dengan Penjara Neraka pun mahluk itu masih mampu menjerit-jerit.


Xin Chen tak mengharapkan itu akan terjadi. Terinfeksi itu mungkin adalah tipe tang paling dibencinya, sekarang dia mulai dikerubungi di seluruh penjuru. Tak ada jalan untuk lari.


Keadaan semakin gawat saat suara-suara mayat kelaparan itu mendekat, langkah mereka bergerak cepat sekali. Xin Chen sudah melihat ke segala tempat, tak ada jalan keluar lagi. Mereka sudah telanjur masuk ke dalam.


Lang melihat ke salah satu menara tinggi di antara perumahan kumuh itu, berbisik cepat. "Kita naik ke sana."


Xin Chen hanya melihat dua terinfeksi biasa berada di atap menara. Dia mengiyakan tanpa berpikir dua kali, mulai memanjati atap-atap rumah warga.


Mengerikannya, apa yang mengejar Xin Chen di belakang membuat jantungnya berpacu lebih cepat.


Itu terinfeksi paling berbahaya, api pun tak akan mempan membakarnya. Dia merangkak dan melompat seperti katak, mengejar Xin Chen dan Lang yang hendak menuju ke menara. Lang menyadari mereka sedang dikejar-kejar, tak sudi meladeni terinfeksi itu. Satu gigitan saja bisa membuatnya mampus seketika. Sementara kegaduhan kian menjadi di desa itu, terinfeksi yang berteriak tadi ikut mengejar mereka. Seperti menggiring ribuan mayat hidup lain ke tempat Xin Chen dan Lang kabur.

__ADS_1


Belum lama mereka berlari, awan hitam yang sedari tadi menggantung di langit mulai menjatuhkan rintik air dalam jumlah banyak. Kesialan bagi Lang, dia tidak bisa melompat di antara atap-atap itu dengan benar karena licin.


Serigala itu menapak di salah satu seng yang ternyata tak memiliki pegangan, Lang berusaha berpegangan pada kayu tapi air membuat tangan dan kakinya licin. Xin Chen tertinggal jauh di belakang dan tak sempat menyelamatkan Lang. Serigala itu jatuh ke dalam sebuah rumah yang dipenuhi tikus dan dari arah pintu, para terinfeksi mulai mendesak masuk demi menggerogoti tubuhnya.


__ADS_2