Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 246 - Kematian itu Mutlak


__ADS_3

"Hoi, bodoh!! Kena kepalaku, Huo Rong b*ngsat!"


"Tenanglah sedikit, kau mengundang saudara-saudara mu ke sini, Shui."


"Wajah tampanku.."


Naga Air meninggikan air tempatnya berpijak, para terinfeksi di bawah kakinya tak akan bisa menjangkau Shui dalam ketinggian itu. Berbeda dengan Huo Rong yang sudah memakai wujud asli Salamander Api, Salamander itu bisa dengan mudah menghabisi manusia yang terlihat seperti semut itu.


"Tampan tidak, burik iya. Lagipula mana ada gadis yang akan menyukaimu."


Huo Rong tak berhenti mengoceh sejak pagi tadi, membuat Shui kesal saja.


"Ada," pungkas Shui. Tapi dia sendiri berpikir. Kalau dipikir-pikir malah laki-laki yang menggodanya karena mengira Shui perempuan. Hancur sudah harga diri Shui sebagai jantan. Dia tak mau menceritakan itu pada Huo Rong, bukannya prihatin Salamander itu akan mengejeknya siang-malam.


"Nenek-nenek iyakan?"


"Mati saja kau!" Shui mengubah wujud yang setara dengan Huo Rong, niatnya ingin bertumbuk. Tapi tiba-tiba sebuah suara menghentikan alur perdebatan.


"Shui, Huo Rong. Sedang apa?"


Shui melihat ke bawah, itu Xin Chen.


"Gotong royong."


Xin Chen dengan kekuatan roh melayang di udara, melihat ke bawah di mana sebuah lubang besar tercipta. Sangat dalam, kalau terjatuh ke sana dipastikan tak akan bisa merangkak naik.


Shui menggunakan kekuatan airnya untuk menggantungkan seorang manusia yang mereka sebut 'umpan' di tengah lubang raksasa. Para terinfeksi yang mengejar bau manusia terjatuh satu per satu ke dalam.


"Singkirkan dia, mau ku bakar."


Huo Rong menarik napas, mulutnya akan menyemburkan api beberapa saat lagi.


"Kena rambutku lagi ku tampar bolak-balik mukamu yang jelek itu."


"Makanya awas, cicak! Malah mejeng di situ, entah kalau berguna."


Xin Chen memperhatikan kerja sama yang buruk di antara mereka berdua. Manusia yang diumpankan Shui adalah manusia hidup yang kebetulan sedang ditimpa nasib buruk. Dia adalah salah satu prajurit Kekaisaran Shang, tapi Shui dan Huo Rong pasti tak akan membiarkan manusia itu mati.


Beberapa kayu dan benda mati dibuang ke dalam lubang raksasa untuk sekalian dibakar bersama mayat-mayat tersebut.


Cara membasmi yang cukup cerdas itu membuat Xin Chen kagum. Shui mengatakan semua ini adalah idenya Huo Rong.


Pembakaran dimulai. Salamander Api menyemburkan api dalam jumlah besar-besaran, yang langsung memakan kayu, ranting serta barang-barang di dalam tanah berlubang. Mayat di dalamnya ikut terbakar oleh api, tapi banyak yang masih bertahan di suhu itu.


"Membutuhkan setidaknya waktu setengah hari untuk mematikan mereka dengan apiku," ujar Huo Rong pelan, memang membakar manusia-manusia itu bukanlah perkara mudah. Xin Chen sendiri kesusahan membunuh satunya saja, apalagi sekarang yang dimusnahkan Huo Rong berjumlah ribuan.


Xin Chen membantu Huo Rong, menyalurkan kekuatan api ke dalam lubang pembakaran raksasa. Api melonjak hebat, dua kekuatan bercampur membuat mayat-mayat itu semakin bergejolak.

__ADS_1


Bahkan ketika ditambah dengan kekuatannya mereka berdua masih membutuhkan waktu setidaknya tiga jam sampai mayat-mayat itu terbakar habis.


Paling tidaknya wilayah tempat mereka berada mulai bersih walaupun tidak seratus persen. Xin Chen menapak ke tanah, menopang tubuh prajurit tadi yang mulai lemas. Shui dan Huo Rong kembali ke wujud manusia.


"Kau tidak apa-apa?"


"Ti-tidak apa-apa, Tuan Muda Xin kedua." Lelaki itu bahkan belum bisa berdiri dengan tegak karena saking takutnya. Hingga akhirnya dia pingsan tak sadarkan diri.


"Oi, Shui. Kau antarkan dia kembali, di mana kau menculiknya?"


"Oh, di benteng sana. Biar Huo Rong saja."


"Sudah aku yang pancing mayat itu, aku yang bakar, dan sekarang aku lagi yang antar umpannya? Terus kau?"


"Bagian Tengok-Tengok, lah!"


Shui kabur secepat kilat, Huo Rong mau mengejar juga tak berguna. Memang naga air itu suka seenak jidat.


Xin Chen masih melihat ke bawah lubang yang begitu dalam itu. Mayat-mayat hangus terbakar. Masih terdengar bunyi api yang memakan tulang manusia di bawah sana.


"Cara ini kudapatkan saat wabah sebelumnya terjadi."


Penuturan Huo Rong menarik perhatian Xin Chen, dia membalikkan pandangan ke Huo Rong.


Siluman itu menjelaskan, "Dulu wabah ini pernah terjadi, semua manusia berada di ambang kehancuran," urainya.


"Berarti kau tahu bahwa manusia-manusia itu tak bisa diselamatkan?"


"Kau tahu cara yang dilakukan Anak Iblis itu untuk menghentikan semua ini, bukan?"


Huo Rong tak tahu dari mana Xin Chen mengetahuinya.


Huo Rong terdiam, kedua alisnya bertaut, keduanya mulai memasuki pembicaraan serius.


"Tidak, tidak tahu."


Xin Chen tahu Huo Rong mengetahui sesuatu.


"Katakan, Huo Rong. Jika kau mengetahui cara membakar mereka, kau juga tahu bagaimana cara untuk menghentikan ini semua. Feng Yong mengatakan sesuatu mengenai segel pemusnah atau apalah itu, tapi ingatannya tak begitu jelas. Aku membutuhkan penjelasan darimu."


Huo Rong bergegas pergi, "Ada banyak pekerjaan lagi, lain kali kita bahas."


"Jangan menghindari pembicaraan!" Xin Chen meninggikan suara tanpa sadar. Huo Rong berhenti dan berpaling ke arahnya.


"Tak ada yang bisa kukatakan, mengerti? Sebaiknya kau hentikan saja Qin Yujin! "


Xin Chen makin sadar bahwa Huo Rong memang menghindarinya, dia mencengkram kerah baju Huo Rong.

__ADS_1


"Katakan."


Huo Rong membalas dengan tinju, berhasil mengenai pipi Xin Chen. Api melawan api, sudah pasti keduanya akan ribut. Shui tiba-tiba saja kembali, tahu keduanya bertengkar dan melerai.


"Apa-apaan kau ini, sialan! Sudah kubilang tidak tahu, telingamu itu cuma hiasan atau bagaimana?!"


"Kau menyembunyikan sesuatu, Huo Rong. Tidak akan ada yang membunuhmu jika kau mengatakannya!"


"Masalahnya jika aku memberitahumu kau yang akan mati!"


Shui terhenyak, Xin Chen menurunkan kepalan tangan.


"Katakan saja," tandas Xin Chen. Sekali lagi Huo Rong menyangkal sudah pasti pemuda itu marah besar. Huo Rong menjelaskan dengan marah.


"Segel pemusnah yang diciptakan Sang Dosa adalah kekuatan tingkat tertinggi yang bahkan lebih hebat dari Kitab Pengendali Roh tahap ke empat."


Huo Rong menekankan.


"Membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyiapkannya dan juga wadah manusia yang memiliki kekuatan sangat besar untuk menampung kekuatannya. Bukan sembarangan orang bisa mengaktifkan segel tersebut. Saat segel pemusnah dilepaskan, semua terinfeksi akan mati."


Terdengar geraman sebelum Huo Rong meneruskan, "Tapi sebagai bayarannya, si pengguna Segel Pemusnah akan mati."


Shui buru-buru menatap Xin Chen dan tahu apa yang membuat Huo Rong mengamuk.


"Kau tidak akan mengorbankan diri, kan, Chen?" tanya Shui.


Xin Chen tak menjawab. Dia teringat dengan sebuah peti mati berisi sosok bermata merah dengan tanduk iblis di kastil tua. Sosok iblis itu bukanlah manusia biasa, kekuatan yang begitu besar di dalam dirinya mampu membuat Xin Chen gentar. Sudah pasti iblis itu jauh lebih kuat dari Xin Chen.


Tapi dia tetap mati setelah menggunakan Segel Pemusnah. Iblis itu menjadikan dirinya wadah untuk menampung kekuatan Air Mata Iblis, lalu memusnahkan jutaan para terinfeksi hingga akhir hayatnya.


"Jangan berpikir kau bisa selamat, Chen!" Huo Rong membentak keras, "Itu adalah Segel Pemusnah dengan kekuatan tingkat tertinggi. Kau paham maksudku?! Meski kau abadi, atau kau melindungi tubuh dengan kekuatan roh terhebat, atau kau melawan dengan dua pedang legendaris, tak akan ada yang bisa menyelamatkanmu. Di hadapan Segel Pemusnah Kematian adalah Mutlak! Akhir semua ini adalah kematianmu!"


"Jika kematianku dapat menyelamatkan jutaan manusia..."


Shui menatap Xin Chen, kesedihan di mata pemuda itu membuat mata Shui berair. Xin Chen adalah sahabatnya, mereka akrab satu sama lain sejak lama.


"Chen..."


Huo Rong mengepalkan tangan, sosok Xin Chen saat ini mengingatkannya pada seorang manusia yang pernah menjadi sahabatnya. Dan ketika mati pun, mayat sahabatnya itu bahkan tak dapat dilihatnya.


Semua akhir manusia selalu sama; kematian. Dan itu akan terus berulang pada setiap manusia yang Huo Rong temui.


Xin Chen menatap keduanya, tersenyum tipis. "Omong-omong aku harus pergi. Kaisar Yin pasti menungguku. Maaf sudah berteriak padamu tadi, Huo Rong. Pastikan kau menjaga Empat Unit Pengintai dengan baik setelah bencana ini."


Shui dan Huo Rong sama-sama terdiam, tak ada lagi pertengkaran di antara mereka berdua.


"Aku pergi dulu."

__ADS_1


Xin Chen pergi tanpa menunggu respon keduanya.


"Ku harap ini bukan terakhir kalinya kita bertemu," bisik Huo Rong sembari menatap kepergian Xin Chen.


__ADS_2