Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 35 - Melepas Topeng


__ADS_3

Helai kain hitam melambai kencang melawan arus angin, seorang wanita menapak di atas tanah dikelilingi pusaran angin di bawah kakinya. Entah dari mana wanita bertopeng gagak itu muncul, yang jelas tidak ada satu pun yang menyadari kedatangannya. Kecuali Xin Chen.


Tatapannya terkunci pada wanita tersebut. Keduanya saling berhadapan, menatap satu sama lain dalam diam yang menusuk hingga akhirnya wanita bertopeng membuka suara.


"Tak lama lagi kau akan bertemu dengan sosok yang kau cari selama ini. Inilah yang kau inginkan. Bukankah begitu?"


Tak ada jawaban dari Xin Chen selain diam membisu. Dugaannya masih begitu abu-abu, dia tak bisa mengambil kemungkinan terburuk itu untuk muncul saat ini-lebih tepatnya, Xin Chen tak yakin bisa menghadapi situasi tersebut jika benar seperti apa yang diduganya.


"Mengapa kau begitu keras kepala? Padahal kau memiliki pilihan untuk menyerah. Memberikan apa yang Tuan kami butuhkan, dengan begitu kau tak akan merasa tersiksa seperti ini."


Ocehan tersebut sama sekali tidak digubrisnya, Xin Chen justru mengalihkan pembicaraan.


"Sebenarnya apa tujuan kalian? Aku yakin ini bukan lagi tentang memperebutkan Pusaka Langit itu."


"Bukan urusanmu. Lebih baik kau berpikir untuk bersiap menghadapi lawan terbesarmu dengan sisa kekuatan yang tak seberapa itu."


Di balik topengnya wanita itu tersenyum. Menatap wajah lawannya pekat. Ada rasa marah yang menyeruak di dalam dadanya. Tentang gadis kecil yang menangis padanya, luka-luka yang dia alami selama ini dan keinginannya untuk membunuh Xin Chen.


"Hei ..." Tiba-tiba wanita bertopeng itu memanggilnya, dan lebih aneh lagi nada bicaranya berubah. Sarat akan dendam dan kemarahan, geraman kesal terdengar samar dari mulutnya. Gelagat wanita itu, Xin Chen yakin ada sesuatu yang tidak beres darinya.


"Aku sangat-sangat membencimu."


"Untuk alasan apa?"


Akhirnya pertanyaan itu keluar, wanita itu sedikit senang. Marah nya pun ikut menjadi-jadi, apa yang dipikirkannya saat itu hanya mengutarakan kebenciannya.


"Karena kau telah merebut satu-satunya cinta yang ku punya."


Kerutan di dahi Xin Chen menandakan dia benar-benar tak tahu masalah apa yang sedang di bicarakan wanita tersebut. Dia merasa tak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Yang Xin Chen tahu, wanita bertopeng gagak itu adalah orang yang sama dengan orang yang melindungi Qin Yujin saat tangan lelaki tersebut dipotong. Wanita itu adalah tangan kanan Qin Yujin, dalang di balik perang yang berkecamuk.

__ADS_1


Xin Chen tak berpikir melenyapkan wanita itu, tak ada yang berubah jika dia melakukannya. Tapi, entah mengapa hawa pembunuh dari sosok tersebut amat-amat pekat. Seolah-olah dia menanggung kekesalan yang telah membusuk dalam dagingnya.


Tanpa diduga, wanita bertopeng gagak itu membuka topeng yang sedari dulu menutupi wajah cantiknya. Terlihat matanya yang lentik dengan alis tebal dan tajam, wajahnya terdapat beberapa luka gores-menggambarkan seberapa keras hidup yang dilaluinya selama ini.


"Aku memiliki seorang adik, dia sangat cantik. Bahkan tak ada satupun lelaki yang mau berpaling saat melihatnya lewat. Kujaga adikku dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri. Kau tahu, menjadi seorang kakak itu sulit." Akhirnya kedua mata mereka saling bertemu. Terlihat jelas rupa wanita itu, dan entah mengapa di detik yang sama Xin Chen merasa familiar dengannya.


"Aku bisa melindunginya dari apapun. Tapi aku tak bisa melindunginya dari perintah Tuanku." Perlahan nada bicaranya terdengar pelan. "Dia diperintahkan untuk sebuah misi di sebuah sekte yang dipenuhi oleh para pendeta. Untuk mengumpulkan informasi dan meracuni seseorang yang akan menjadi dalang besar dalam rencana yang Tuan punya."


Xin Chen hampir tak percaya. Apakah wanita itu sedang membicarakan gadis dari sekte Bunga itu. Dan benar saja, dugaannya terbukti saat wanita itu memperkenalkan diri.


"Namaku Fu Qinshan. Kau pasti mengingat siapa aku."


Ingatan Fu Qinshan kembali pada misi di sebuah sekte, di mana adiknya terlibat dalam misi tersebut. Dan menjadi penyebab mengapa adiknya menghilang setelah hari itu.


"Berikan ramuan ini padanya. Ingat, kau harus memberikan ini tanpa menimbulkan satu kecurigaan pun. Paham?"


Gadis itu menunduk dalam.


"Ya?" Fu Qinshan menoleh pada adiknya lamat-lamat, dia merasa kasihan melihat adiknya seperti ingin menangis. Di halaman belakang sebuah kuil tempat keduanya bertemu secara diam-diam, adiknya itu berbicara dengan suara bergetar.


"Apa bisa aku menolak perintah Tuan?"


"Yang mana?"


"Semuanya."


Fu Qinshan tanpa sadar melepaskan tamparan ke pipi kiri adiknya, yang semula putih berubah merah membentuk bekas jari-jarinya. Fu Qinshan menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tak percaya dengan apa yang baru saja diperbuatnya. Dia melihat sang adik pergi sambil memegang pipi seperti ingin menangis.


"Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan-"

__ADS_1


"Aku tidak mau mengikuti perintahnya. Kakak! Kau tahu dia sudah terlalu jauh memanfaatkan kita? Jika ini semua tentang berhutang nyawa yang selalu kau bilang, bukankah kau sudah melunasinya dengan pengabdian mu selama ini? Apa kah itu belum cukup? Berapa kali kau hampir kehilangan nyawa? Berapa kali kau kritis? Dan berapa kali ... Aku harus menangis karena takut kehilangan kakak ..."


Air mata tumpah membasahi pipinya yang seputih salju, adiknya yang malang itu adalah satu-satunya yang Fu Qinshan miliki. Wanita itu tak ingin membuatnya terluka tapi pada akhirnya dirinyalah sumber luka itu sendiri.


"Kau harus melakukannya, adikku. Tuan menyuruhmu melakukan ini, ikuti saja. Kau hanya perlu memberikan racun. Setelah itu tidak apa-apa."


"Orang itu sudah menyelamatkan nyawaku, Kakak. Dia menyelamatkan ku saat tadi di hutan. Dia ... Dia-" suaranya tercekat di kerongkongan, gadis kecil itu bergetar.


"Aku tidak ingin menikah dengan Tuan. Suatu saat nanti, aku ingin menikah dengan orang yang benar-benar ku cintai. Tapi mengapa sesuatu yang benar-benar aku ingin selalu dipatahkan dengan kata 'Perintah dari Tuan?' itu membuatku muak. Dan aku mulai membenci kakak yang begitu terobsesi dengan kata balas budi itu."


Fu Qinshan terdiam membisu. Pundaknya merosot. Kata benci itu, tak pernah keluar dari bibir manis adiknya.


"Lakukan saja apa yang diperintahkan padamu, adik bodoh!" Naik pitamnya semakin meninggi. "aku sudah melakukan apa pun untuk membuatmu tetap hidup! Aku mencarikan kau makanan, memastikan kau tidur di tempat yang hangat dan menjamin kau hidup nyaman tanpa ketakutan! Tapi apa yang kau balas padaku-"


Setelah sekian lama, air mata Fu Qinshan jatuh di depan adiknya. Dia telah berusaha untuk terus kuat selama ini, tak ingin membuat adiknya khawatir.


Satu hal yang tak bisa Fu Qinshan katakan pada adiknya. Berkat tuan mereka, keduanya bisa makan dan hidup tanpa perlu cemas. Kehidupan mereka terjamin. Melanggar perintah Tuan berarti mereka harus siap kehilangan tempat tinggal dan sumber pencaharian.


Andaipun ingin lepas dari Tuan mereka. Fu Qinshan tak yakin mereka bisa hidup lebih lama. Ancaman 'dibunuh' demi menghancurkan informasi yang telah mereka miliki membayang-bayangi pikiran Fu Qinshan.


Wanita itu mencengkram erat kedua pundak adiknya.


"Aku ada di sini. Kau hanya perlu melakukan apa yang aku perintah. Kau tidak ingin aku pergi meninggalkan mu, bukan?"


Binar mata adiknya berkaca-kaca penuh air mata, tak lama adiknya mengangguk pelan.


"Ikuti rencana ini seperti yang seharusnya. Dan untuk rencana pernikahan mu itu ... Aku akan mencari cara agar Tuan melepaskan mu. Kau mengerti?"


Gadis dalam balutan jubah milik Sekte Bunga itu mengangguk paham.

__ADS_1


"Sekarang temui target kita dan berikan dia racun ini."


__ADS_2