Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 36 - Angin yang Membawa Firasat Buruk


__ADS_3

"Aku sangat menyayanginya, aku ingin melihatnya kuat suatu saat nanti jika aku sudah tiada ..." Terlihat sebuah pedang yang hanya sepanjang lengan di tangannya. "Kau membuatnya rapuh."


"Perlu kau tahu aku tidak terlibat apa-apa dengan orang yang kau sebut adikmu itu."


Senyum di sudut bibir wanita itu ditarik dengan kecut, dia kesal di waktu bersamaan.


"Kau sungguh manusia yang tidak memiliki hati. Karena itulah aku sangat membencimu."


Tak diduga kata itu adalah kata terakhir yang diucapkannya sebelum berlari cepat ke arah Xin Chen dan menyerangnya dengan pedang tersebut.


Xin Chen mengelak dari setiap serangan yang diberikan, tak ada serangan balasan darinya. Hingga wanita itu berhenti dengan napas terengah-engah, matanya berkilat-kilat dilalap api kemarahan.


"Apa yang ku inginkan adalah agar kau mati!"

__ADS_1


Xin Chen tidak mengerti mengapa wanita itu menangis secara tiba-tiba. Apakah sebegitu besarnya luka yang dialami wanita itu, sosok adiknya itu seperti sangat penting dalam hidupnya. Xin Chen berniat membiarkan tubuhnya ditusuk oleh wanita itu, setidaknya untuk meredakan amarah tersebut. Dia juga tak akan mati hanya karena tusukan pedang tersebut.


Namun tiba-tiba wanita itu menghentikan gerakannya, lambat laun dia mundur hingga jarak di antaranya jauh. Tapi tak sedetikpun matanya berpaling dari Xin Chen.


Di sisi lain Xin Chen merasakan keanehan itu lagi. Hawa yang selalu mengganggunya itu kembali datang dan jauh lebih intens.


Samar-samar dari kejauhan dia dapat mendengar raungan siluman, hanya sepintas. Namun cukup membuat tangannya bergetar. Trauma. Hanya itu yang ada di pikirannya.


Ketakutan. Terancam. Putus asa. Tak berdaya. Kehilangan. Semua itu berkecamuk hebat dalam pikirannya. Xin Chen kehilangan ketenangannya saat itu juga. Lalu dia merasakan seseorang menepuk pundaknya dengan pelan.


"Jangan takut."


Suara itu, sedikit menghapuskan ketakutannya.

__ADS_1


"Kakakmu akan melindungimu."


Xin Zhan tersenyum tipis. Dia mengerti situasi apa yang akan mereka hadapi saat ini. Meski berkata demikian, ketakutannya tak lebih kurang dari Xin Chen. Terlihat dari sebelah tangan Xin Zhan lainnya yang bergelantungan gemetaran.


Ratusan pasang mata menengadah ke langit, cahaya matahari yang begitu tipis karena ditutupi awan mendung perlahan menghilang. Ditutupi bayangan seekor siluman naga raksasa yang terbang di atas sana. Beberapa di antara prajurit tersebut mundur, satu dua orang dari mereka pingsan.


Semilir angin yang membawa firasat buruk kepada Xin Chen tak berbohong. Sejak awal dari semua ini, Xin Chen sudah merasakannya.


"Aku belum mempersiapkan diri untuk menghadapi hari ini."


Xin Chen seperti kembali ke dirinya saat kecil dulu. Penakut dan selalu putus asa dengan keadaannya. Kakaknya, Xin Zhan menoleh ke arahnya. Seperti tak melihat Xin Chen seperti biasanya. Dia mengerti, situasi terburuk ini akan membuat siapa pun putus asa. Namun mereka sudah sejauh ini, dia tak bisa membiarkan Xin Chen menyerah begitu saja.


"Sebelum ini mereka telah merebut ayah dari kita." Mata hitam pekat Xin Zhan bergulir ke samping. Xin Chen juga menatapnya, wajahnya pias. "Jangan sampai mereka merebut ibu dari kita."

__ADS_1


__ADS_2