
Di pertengahan malam yang sunyi Xin Chen terbangun dari tidurnya. Lilin di dinding kamarnya mati tanpa sebab. Dia duduk di tepi ranjang, menyalakan kembali api di lilin dengan Api Keabadian. Biru mewarnai seisi kamarnya.
Cahaya biru itu menampakkan wujud seekor siluman yang sedang tertidur dengan melipat tubuhnya, awalnya Xin Chen mengira itu adalah Ye Long tapi bulu-bulu emas di sekujur tubuh siluman itu membuat keningnya berkerut. Di tambah lagi, dia melihat ekor Ye Long menggantung dari atas lemari. Naga perut karet itu semalam berpesta daging sampai perutnya buncit. Seingatnya Ye Long tidur di lantai sebelahnya, tapi sekarang justru siluman lain telah mengambil tempat Ye Long sampai naga itu tidur di atas lemari yang hendak roboh.
Xin Chen menyalakan lebih banyak api biru, melihat sangat jelas seekor serigala sedang tidur pulas di kamarnya. Dan seekor naga yang ketakutan di atas lemari.
"Ye Long ...?" Saat Xin Chen berbicara naga itu seperti ingin menangis. Semalaman dia tidak tidur gara-gara siluman lain yang masuk tanpa izin ke kamar Xin Chen.
Xin Chen bangun, mendekati serigala tersebut pelan-pelan. Telinga serigala itu bergerak. Membuat langkah Xin Chen berhenti. Siluman itu sudah bangun. Dia tak ingin mendekat sebelum memastikan dugaannya benar.
"Lang?"
"Rrrhh ..." Siluman itu melipat ekornya, lebih terlihat seperti kaki seribu.
"Hei, dari mana saja kau tak pernah nampak. Ayah mencarimu-"
"Dia sebentar lagi akan datang-"
Suara gebrakan pintu membuat jantung Xin Chen melompat. Bisa-bisanya tengah malam ayahnya membuat keributan.
"Lang? Kau kah itu?"
Serigala itu menggumam. Tak ada yang tahu dari mana dan apa saja yang dilakukan Serigala Berbulu Emas itu. Dia menghilang. Sempat terpikir bahwa Serigala itu telah tiada. Namun bekas luka yang bertambah banyak di sekujur tubuh Lang cukup menjelaskan bahwa serigala itu telah melewati banyak pertarungan mengerikan di luar sana.
"Lang, apa yang terjadi? Kenapa kau terluka. Hei serigala ini, mulutmu sudah pindah ke pantat sampai tidak bisa menjawab ku?" kesal Xin Fai, tiap kali bertemu Lang bawaannya darahnya naik terus. Padahal dia sangat merindukan serigala itu, tapi Lang tak begitu peduli justru memilih tidur.
"Oh, sekarang kau mengacuhkan ku?"
"Berhenti mengoceh, aku mau menyembuhkan lukaku."
"Yang di hutan tadi kau, kan?" Xin Fai langsung melemparkan pertanyaan, Lang menggerutu. Malam sudah sangat larut. Seharusnya Xin Fai tahu lebih baik membicarakannya pagi nanti.
__ADS_1
"Xin Chen, kau mungkin bisa jelaskan apa yang terjadi di sini. Aku senang dia pulang, tapi kenapa dia lebih cuek dari sebelumnya?"
"Kau bahkan tak peduli kalau tubuhku terluka." Lang mengomel kesal.
"Nah, baru menjawab." Xin Fai heboh sendiri.
"Lebih baik kita bicarakan besok, Ayah. Lang mungkin kelelahan, dia butuh istirahat." Xin Chen menengahi, dia menatap ke atas lemari di mana naganya sudah berkaca-kaca ingin turun.
"Ah iya, mungkin Lang bisa tidur di tempat ayah."
"Tidak ada tempat lagi di kamar. Kamarmu yang paling luas, Chen'er."
Xin Chen menunjuk Ye Long yang sekarang menatap Xin Fai ketakutan.
"Naga itu suruh tidur di atap saja. Menyebalkan," gerutu Lang. Xin Chen hampir saja tertawa melihat wajah memelas peliharaannya itu. Lang memang lebih kuat daripada Ye Long, membuat naga itu takut pada serigala tersebut.
"Kalian berdua berbagi tempat sana. Lang, kita bicarakan ini besok pagi. Aku juga ingin merayakan kepulangan mu."
"Katakan pada ayah aku akan kembali lusa. Setelah itu, kamar ini akan menjadi milikmu."
Lang terbangun.
"Kau baru saja pulang, ingin pergi lagi?"
"Iya." Xin Chen melanjutkan. "Aku akan pergi ke Kota Renwu, mungkin sedikit lama. Malam ini aku tak merasakan angin badai dari sana, jika aku pergi besok takutnya cuaca tak mendukung."
"Padahal ada yang ingin aku bicarakan." Lang kembali melipat ekornya, tertidur.
"Apa?"
"Lupakan. Kita bicarakan saat kau kembali."
__ADS_1
Xin Chen mengerutkan alis. Mengangguk setuju setelah itu. Xin Chen dan Ye Long keluar dari rumah diam-diam, terbang tinggi di atas langit. Lengkingan suara Ye Long terdengar nyaring.
"Akhirnya kita pulang, tapi majikan sepertinya juga tak ingin berlama-lama bersama keluarga." Ye Long membuka suara. "Padahal lebih seru bersama keluarga."
Xin Chen tahu apa yang Ye Long rasakan. Keinginan untuk hidup di tempat yang hangat dan nyaman, bersama keluarga dan saling berbagi cerita. Ren Yuan memperlakukan Ye Long seperti anaknya sendiri, membuat naga itu semakin betah berada di rumah. Tempat yang begitu dia inginkan sejak dulu.
Benar saja, membahasnya hanya membuat Ye Long murung.
"Kebahagiaan itu bisa saja direnggut dalam satu malam." Xin Chen mengucapkannya sambil mengingat saat-saat di mana rumahnya dihancurkan dalam sebuah perang.
"Aku lebih memilih bertarung untuk memastikan rumah itu aman, sehingga saat aku memiliki waktu aku bisa kembali ke sana dan berbagi semua petualangan yang kulalui pada ibu. Daripada terus berada di sana, sedangkan bencana akan datang menyapu rumah tersebut sampai rata dengan tanah."
Ye Long tak begitu menangkap apa yang Xin Chen katakan. "Maksudmu petualangan lebih menyenangkan?"
"Petualangan selalu menyenangkan. Daripada duduk di kursi dan menerima misi, kembali dan mendapatkan upah. Lalu setiap hari aku harus mengulanginya sampai jengah."
Xin Chen tertawa hambar. Tak bisa membayangkan kehidupan seperti itu. Menjadi Pilar Kekaisaran bukanlah pekerjaan yang cocok untuk mahkluk sepertinya.
Dari kejauhan Xin Chen dapat melihat sebuah cahaya perkotaan yang sangat berbeda dari apa yang ditemuinya. Tempat itu, Kota Renwu telah berubah hitam pekat. Api Keabadian yang menyelimutinya telah padam bersama Naga Kegelapan. Ye Long mendarat ke tanah, tempat itu sama sekali tak layak untuk ditinggali lagi.
Xin Chen sempat meragukan apa benar masih ada tumbuhan yang hidup di tempat seperti ini. Jamur Api yang dikatakan Luo Li tak terlihat di mana-mana.
Jika namanya Jamur Api, pasti tumbuhan itu memiliki warna menyala. Tapi tak ditemukannya tanaman itu di mana pun. Dua jam mencari, Ye Long yang memantau dari atas pun sudah mengatakan dia juga tak melihat apa-apa.
Awal fajar langit mulai menampakkan warna biru kelam. Ye Long kelelahan, Xin Chen tak tahu lagi harus mencari ke mana. Keduanya duduk di sebuah patung yang masih utuh di Kota Renwu. Patung Pilar Kekaisaran pertama yang telah kehilangan kepalanya.
Pemandangan di hadapan mereka hanyalah satu-satunya hiburan. Lautan di depan tampak berkilau-kilau indah layaknya berlian, membuat tempat di ujung kota terlihat terang meski tak ada pencahayaan.
Xin Chen membaringkan tubuhnya, melihat ke atas langit yang nyaris tak berbintang.
"Tak ada bintang?" Xin Chen kembali terbangun, merasakan keganjalan saat menatap ke depan sana.
__ADS_1