
Jauh di Kota Fanlu yang tentram dan damai, anak-anak kecil berlarian di sepanjang jalan yang ramai. Pedagang sibuk menarik pelanggan, suara-suara bising mendominasi kota yang makmur tersebut. Hanya dalam kurun waktu beberapa bulan saja, Kota Fanlu kembali hidup seperti dulu.
Keceriaan di Kota yang serba damai itu tak sekalipun menyejukkan hati seorang pemuda di bawah pohon rindang. Lelah akibat ditugaskan sebagai Pilar tak mengganggunya, pemuda dengan alis hitam tebal dan mata hitam pekat itu merasa cemas yang berlebihan belakangan.
Suratnya tak dibalas oleh adiknya. Lalu bagaimana Xin Zhan dapat memastikan bahwa adiknya itu baik-baik saja?
Xin Fai sudah mencari tahu dan tak menemukan hasil yang mampu membuat hatinya tenang.
Para gadis-gadis cantik mengintip Xin Zhan sambil cekikikan, melihat pemuda itu sedang merenung seperti galau oleh cinta. Padahal di pikirannya sedang terlintas bayangan ketika menampar pipi adiknya karena tak kunjung memberi kabar.
"Selalu begini, Ayah dan Ibu sudah ada di sini dan sekarang giliran kau yang tidak ada." Xin Zhan bahkan sampai tak fokus dalam pekerjaannya, dia memerhatikan gelang kerang di pergelangan tangannya. Hadiah ulang tahun untuknya dan Xin Chen dari sang ibu.
Sejak kecil mereka memiliki ikatan batin yang kuat, saat Xin Chen kenapa-kenapa dia selalu merasakan kecemasan yang luar biasa. Seperti saat ini.
Terbersit keinginan untuk menyusul adiknya ke Kekaisaran Wei. Xin Zhan bangun dari duduknya, berjalan tergesa-gesa sebelum satu panggilan menahan langkahnya.
Orang itu adalah temannya yang dia tugaskan untuk mencari tahu keberadaan Xin Chen.
"Aku tak mau berbasa-basi. Satu informasi yang kudapat, dua mata-mata Kekaisaran yang ditugaskan untuk mengawasi kinerja Pilar Bayangan tak pernah mengirimkan laporan semenjak tiga pekan terakhir. Kemungkinan terbesar, mereka telah mati."
Tanpa sadar tangan Xin Zhan terkepal. Dia memejamkan mata, menerima berita buruk yang membuat hatinya kian gelisah.
"Jangan pernah kau katakan kau akan ke sana," ucap temannya disertai peringatan yang tampak jelas di wajah. "Daripada itu, lebih baik kau memikirkan tentang satu hal mengejutkan yang ditemukan Nona Xiu."
"Tentang apa?"
"Obat yang mungkin akan membuatmu benci setengah mati dengan wanita bernama Ren Su."
Xin Zhan mengikuti temannya secepat mungkin, menuju satu tempat yang di halamannya tampak indah. Beragam tanaman obat dan bunga ber khasiat dipajang di depan toko. Tempat itu adalah tempat biasanya Xiu Qiaofeng bekerja. Untuk mengembangkan kemampuan mengobatinya.
__ADS_1
Mereka menemui seorang kakek-kakek yang usianya mungkin hampir menyentuh angka 80 tahun, mata tuanya yang sipit nyaris tak terlihat lagi. Dia menyambut dengan senyum.
"Ada apa Tuan-tuan datang kemari?"
"Aih, aku baru saja datang tadi dan kakek sudah lupa denganku?"
"Oh ... Kau pasti yang tadi membeli bunga untuk pasanganmu, ya?" tebaknya sambil tertawa. Teman Xin Zhan mencebik,
"Aku mana punya kekasih. Kambing saja langsung memalingkan muka saat melihatku."
"Haha, duduklah dulu. Aku akan panggilkan Xiu Qiaofeng ..."
"Aku ada pekerjaan, Xin Zhan sisanya kau tanyakan pada Xiu Qiaofeng."
Pemuda itu hengkang dari sana tepat saat Xiu Qiaofeng keluar dari pintu dalam toko. Mengenali Xin Zhan dan langsung mengetahui apa yang membawa pemuda itu ke tempatnya.
"Tentu saja. Aku sempat mengetahui kabar ini dari saudara jauh. Tapi belum mendapatkan kabar lainnya sejak hari itu," jelas Xin Zhan. Xiu Qiaofeng menarik tempat duduk, mempersilakan tamunya duduk di depannya sambil menarik beberapa catatan dan hasil racikan obat yang ditelitinya.
"Kau tahu siapa yang paling pertama mengetahui soal ini?"
Xin Zhan menggeleng sebagai jawaban tidak. Xiu Qiaofeng menjentikkan jarinya, "Adikmu, Xin Chen si bocah kurus itu."
Xin Zhan tak heran lagi gadis itu menamai adiknya yang aneh-aneh, sepertinya memang ada dendam kesumat di antara keduanya. Di sisi lain dia tak tahu kalau memang Xin Chen yang mengetahui soal masalah ini, adiknya itu tak mengatakan apa pun soal Ren Su. Mungkin karena saat itu dugaannya masih samar-samar, atau memang karena adiknya tak mau merusak ikatan persaudaraan antara ibunya dan Ren Su.
"Dan aku mendapatkan banyak jenis obat-obatan terlarang yang kandungannya mirip dengan yang diberikan Nyonya Ren Su."
Xiu Qiaofeng mengambil satu kotak berisi obat-obatan berbahaya, "Hati-hati, jangan menyentuhnya."
Xin Zhan melihat isi di dalamnya, sebelum Xiu Qiaofeng menjelaskan lebih banyak lagi.
__ADS_1
"Belum ada informasi tentang bagaimana Nyonya Ren Su membuat atau mendapatkan obat ini. Tapi pada kenyataannya, obat ini membawa sejenis penyakit yang dapat menyerang tubuh secara berkala. Semakin lama penderita meminum obat ini, maka keadaannya akan semakin buruk. Bisa berakibat fatal, tidak bisa disembuhkan."
"Kau yakin soal itu?"
Xin Zhan hampir tak percaya dengan perkataan Xiu Qiaofeng. Kakek yang sibuk menjaga toko menimbrungi, masih sambil membereskan bunga-bunganya.
"Kami sudah melakukan beberapa uji coba dengan binatang. Memakai kandungan obat itu dalam jumlah tinggi. Dan hasilnya keadaannya sangat-sangat parah," ucapnya sambil menggelengkan kepala, tak menunjukkan pengharapan.
"Aku berniat melaporkan hal ini dengan bukti-bukti yang ada. Tapi malam kemarin, sekelompok pencuri masuk ke dalam toko ini. Coba kau pikir ... Di sebuah toko obat-obatan, apa yang mau dicuri? Kecuali toko perhiasan, itu bisa saja terjadi."
"Dan semua buktimu dirampas?" Xin Zhan dapat membaca apa yang terjadi berikutnya.
"Sekarang aku harus memulai semuanya dari awal lagi. Kau harus berhati-hati soal Ren Su, aku tak tahu apa motifnya melakukan ini semua. Mungkin dendam, atau masalah yang belum selesai."
Xin Zhan bahkan tak bisa mengingat, perbuatan jahat mana yang membuat wanita itu sampai tega mencelakai ibunya dan bahkan Xin Xia-yang mungkin sudah meminum obat pemberian darinya. Padahal ibunya selalu berbuat baik kepada mereka, tak terlewat kunjungan setiap bulan dengan membawa buah tangan ke rumah wanita itu. Xin Zhan akan menyelediki hal ini, tak bisa dibiarkan.
Jika benar Ren Su melakukannya dan tak mengakui perbuatannya, maka Xin Zhan akan mengambil tindakan serius soal ini.
"Tuan Muda! Tuan Muda Xin Pertama!"
Seruan di luar toko terdengar nyaring, panik dari nadanya terasa amat kentara. Xin Zhan bergegas bangun untuk melihat di luar jalan, mendapati seorang laki-laki yang memanggilnya, orang itu tinggal hanya selang beberapa rumah darinya.
"Ada apa?" Xin Zhan mendekat sigap, membaca kepanikan di wajah itu sebagai pertanda buruk.
"Nyonya Ren tak sadarkan diri di kamarnya ... Aku melihat seorang wanita keluar dari rumah Anda, sayangnya aku telat dan hanya melihat mulut Nyonya penuh darah. Cepat, Tuan. Nyonya membutuhkan Anda!"
Xin Zhan merasakan tubuhnya dingin seketika, berlari sekencang yang dia bisa tanpa mempedulikan orang-orang yang ditabraknya. Xin Zhan sampai ke rumah dalam hitungan menit, melihat rumahya kembali ramai. Beberapa mendekat dan menjelaskan, Xin Zhan memaksa masuk.
Mendapati satu-satunya pelayan yang dipekerjakan di rumahnya sudah tak bernyawa.
__ADS_1