
Sangat berubah. Mungkin itu yang dapat Rubah Petir lihat dari gadis itu, mereka memang tidak bisa dikatakan saling mengenal tapi dia tahu siapa Fu Hua. Seorang mata-mata Qin Yujin yang dulu bekerja di bawah perintahnya. Kakaknya, Fu Qinshan adalah salah seorang bawahan yang membantu laki-laki itu menjalani semua rencana jahatnya.
Namun sekarang, tanpa sepengetahuannya Fu Hua telah berpihak pada mereka.
"Takut ketinggalan, heh? " kata Xin Chen.
"Perhatikan saja dari belakang ku. Aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku."
Xin Chen tak bisa menyalahkan Fu Hua atas apa yang telah terjadi pada dirinya. Kehilangan seseorang bisa meninggalkan luka sangat mendalam, cara Fu Hua melampiaskan kesedihannya adalah dengan membalaskan dendam akan kematian kakaknya.
Fu Hua sendiri selalu menyesali atas apa yang terjadi, jika bukan karena Qin Yujin, dia dan kakaknya akan hidup bahagia berdua. Kakaknya itu masih tetap ada, memeluknya dan bercanda riang seperti yang selalu dilakukannya sebelum Qin Yujin masuk ke dalam kehidupan mereka.
Gadis itu tak menginginkan kehidupan mewah atau pakaian indah yang selalu diberikan Qin Yujin. Apa yang dibutuhkannya sudah ada pada diri kakaknya. Dia hanya butuh Fu Qinshan.
Tapi tidak dengan Qin Yujin. Laki-laki itu merenggut banyak hal darinya. Fu Hua masih ingat detik-detik terakhir sebelum kakaknya menghembuskan napas terakhir. Tatapan bersalah yang selalu menghantui siang dan malamnya setelah perang.
Saat Fu Hua masih sibuk dengan isi kepalanya, Xin Chen menyelutuk di belakang.
"Baiklah, yang katanya akan membunuh Qin Yujin dan menyuruh kami memperhatikan dari belakang. Sekarang kita ke mana?"
Fu Hua mematung, mata safirnya berkedip dengan tampang lugu. "Ehm ... Ke sana?" Tunjuknya ke salah satu jalan besar yang dihalang dengan kawat besi tinggi.
Xin Chen hampir menepuk jidatnya, Rubah Petir menjelaskan datar. "Kau mau bergabung dengan para terinfeksi itu? Kiramu kau bisa melewati mereka seperti melewati para pendekar?"
Fu Hua baru menyadari orang-orang yang berlalu lalang di sana bukan penduduk biasa, mereka dipenuhi darah dan beberapa bagian dari tubuh mereka telah terkoyak. Membuat gadis merinding di tempat, nyalinya yang tadi membara seketika ciut. Tak terbayangkan kalau bergabung dengan ratusan mayat itu, mungkin dia langsung dikerubuti seperti lalat mengerubungi bangkai.
"Baiklah, kita ke sana seperti katamu. Kalau takut lebih baik kau di barisan belakang, Nona Penakut."
Alis Fu Hua menyatu, tak terima disebut seperti itu tapi dia sendiri belum pernah menghadapi langsung apa yang ada di depan mereka sekarang selain mengetahuinya dari omongan orang-orang.
Rubah Petir tiba di penghujung jalan, di mana di depan mereka kini ratusan terinfeksi sedang berusaha merusak pagar kawat, sisanya memanjat pagar walaupun tak satu pun dari mereka mampu mencapai ujung pagar tersebut. Tampaknya sudah bertahun-tahun semenjak penghalang itu dipasang sehingga beberapa bagian rusak. Xin Chen yang menyadari itu segera berbicara, "Kita harus pergi sebelum mereka bertambah banyak dan menghancurkan pagar ini."
"Ke mana?"
Rubah itu mengamati gerak Xin Chen yang justru memanjati pagar.
"Hei, kau mau terjun ke lautan mayat?"
Xin Chen menengok, "Bukan ke sana, tapi ke atas rumah itu."
Dia sempat melihat ke bawah kakinya di mana puluhan dari mayat itu mencoba menjangkaunya. Xin Chen melompat secepat mungkin ke atas atap rumah terdekat. Lalu memanjat lagi hingga dia tiba di tempat paling atas. Rubah Petir mengikuti dengan cepat. Sementara Fu Hua agak ragu.
"Cih, ayolah. Kau datang kemari bukan untuk menambah beban, bukan?" sindir Rubah Petir kesal. Greget menyaksikan gadis itu diam di depan pagar kawat, Fu Hua menjawabnya panik.
"Bagaimana kalau mereka menangkapku?"
"Mati tinggal tanam." Jawaban yang keluar dari mulut Xin Chen makin membuatnya panik. Menunggu bantuan pun baik dari Xin Chen atau rubah petir tak ada yang berinisiatif turun untuk membantunya. Dia baru memegang kawat pagar dan tiga tangan terinfeksi langsung menyentuh tangan hingga ke lengannya.
__ADS_1
"Aaaa lepaskan!"
"Sudah kuduga menambah beban," gerutu Rubah. Mengeluarkan ranting kayu ajaibnya-yang mungkin sudah menjadi senjata favoritnya semenjak bangkit dari kematian. "Cepat kau panjat pagar itu, semakin lama kau ke sini hukumanmu akan bertambah."
"Hukuman apa-?" Fu Hua menepak-nepak tangannya, berusaha menyingkirkan darah dan cairan kotor yang menempel dari tangan terinfeksi itu.
"Seperti ini!"
Xin Chen yang sedang adem ayem terkejut ketika sengatan menyakitkan menyerbu kakinya.
"Aduh! Salah apa aku?!"
Rubah Petir baru saja mencontohkan hukuman itu ke tubuhnya. Fu Hua masih tetap diam di tempat, sudah khawatir duluan mayat itu akan mencabik tubuhnya.
"Ayolah cepat saja. Beberapa orang akan melihat kita kalau berlama-lama. Fokus dengan pagarnya, jangan lihat yang lain."
"Aku tidak bisa ..."
Suara jeritan masih meraung-raung memenuhi kepalanya, Fu Hua masih mencoba memanjat dan satu Terinfeksi langsung mendobrak pagar. Nyaris membuatnya jatuh ke sisi Fu Hua.
"Kalau begitu kami akan meninggalkanmu," ancam Rubah. Gadis itu tak berpikir lagi, daripada ditinggalkan sendirian lebih baik dia mencoba naik. Tangannya buru-buru mencengkram pagar kawat yang mulai oleng, hingga kakinya berpijak di atasnya besi itu semakin terguncang dari bawah.
Fu Hua mengambil ancang-ancang, melompat ketika pagar itu jatuh menimbulkan bunyi nyaring. Keseimbangannya kacau, tapi beruntung Fu Hua bisa berpijak pada atap di dekatnya.
Namun karena salah melompat kaki Fu Hua malah mendarat di atap yang rapuh. Dia tak sempat menghindar dan kakinya masuk ke dalam lubang yang bocor. Di bawahnya tepatnya di dalam rumah itu beberapa terinfeksi siap menggigit kapan saja.
Dia memejamkan mata, berpikir sudah ditelan oleh mayat menakutkan. Tangannya bisa merasakan seseorang masih menyelamatkannya sebelum jatuh ke bawah.
Dia membuka mata perlahan-lahan.
Fu Hua merinding ketika melihat ke bawah. Andai dia jatuh ke sana tak akan ada kesempatan untuk menyelamatkan diri. Dia menengadah, Xin Chen lagi-lagi menyelamatkannya.
"Terima kasih."
"Simpan terima kasihmu sampai aku menolongmu untuk yang ke seratus kali."
Kaki gadis itu kini berpijak di atap yang lebih kokoh, menarik napas sedalam-dalamnya sebab daritadi jantungnya seperti akan copot menghadapi para terinfeksi itu.
"Kita harus cepat sebelum malam turun, cari tempat untuk beristirahat."
"Aku melihatnya," sambut Rubah Petir, matanya mengarah pada satu tempat persembunyian di atas bangunan tinggi yang mungkin sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Memang siang baru saja turun, satu hari berlalu begitu cepat ketika mereka sibuk menghadapi musuh yang begitu banyak.
"Kita ke sana."
Ketiganya bergerak, menuju tempat itu dengan memanjati nya. Tidak ada pilihan lain, karena turun ke jalanan tak ubahnya mengantarkan diri sebagai umpan untuk makhluk beringas di bawah mereka. Ketika itu sore masih menemani, cahaya matahari tertutup oleh kabut asap tebal di langit. Xin Chen memerhatikan dari kejauhan.
Perkemahan Tenggara mungkin masih agak jauh dari tempatnya berada, mereka berada di sebuah kota tak bertuan. Nyaris tak ada manusia yang tinggal karena melihatnya saja sudah berbahaya. Tak memungkinkan hidup di sana, beberapa toko makanan terbengkalai sudah digeledah sampai habis. Termasuk persediaan lainnya untuk menyambung hidup.
__ADS_1
Ditambah lagi jumlah terinfeksi di dalamnya sangat besar dari Perkemahan Tenggara. Xin Chen berniat kembali ke tempat istirahat di mana Rubah Petir dan Fu Hua berada sebelum sesuatu mencuri perhatiannya.
Dia menyadari di bawah sana seseorang sedang berteriak meminta pertolongan, suaranya sangat kecil. Sekarat sedang memanggil sang maut untuk mencabut nyawa laki-laki itu.
Dengan tiang besi yang terhubung langsung ke bawah sana, Xin Chen turun cepat sambil berpegangan. Dia menghabisi beberapa terinfeksi yang bergerak ke arah laki-laki tersebut hingga tak bersisa. Membawanya ke salah satu rumah kecil dan menguncinya agar mereka tak bisa masuk.
Dia membaringkan laki-laki yang sudah tergigit di bahu dan perutnya itu, sedikit kasihan dengan nasib yang menimpanya.
"Sekarang kau aman."
"Ah... Akh, uhuk uhuk!" Dia mencoba bangkit, membuat darah di perutnya merembes banyak. "Syukurlah, aku kira aku akan mati mengenaskan di tumpukan mayat itu-"
Matanya yang sedikit putih berkaca-kaca, "Bo-boleh minta tolong satu hal lagi ...?"
"Sebisaku."
"Penggal leherku."
Permintaan yang menyakitkan. Xin Chen tak tahu siapa keluarga laki-laki itu, entah sedang mencarinya yang sekarang sekarat di kota ini.
Dia berusaha memahami keadaan laki-laki itu, andai Xin Chen tak membunuhnya sekarang nasibnya lebih tragis dari terbunuh. Dia tak akan tenang dan akan terus berjalan sebagai mayat hidup.
"Aku akan melakukannya."
Senyum lemah terbit di wajah laki-laki itu, tetesan air mata turun ke samping wajahnya. "Setidaknya ... Ini lebih baik."
Matanya masih terbuka, pelan-pelan kesadarannya hilang.
"Kenapa kau sampai ke sini? Seharusnya tak ada orang di sini."
"Itu ..." Dia berusaha menjelaskan sambil mempertahankan kesadaran. "Kami dari Tenggara kehilangan tempat tinggal, prajurit Kekaisaran membantai kami ... Beberapa anak kecil dibawa oleh peneliti untuk dijadikan bahan percobaan." Tangis turun dari matanya saat dia sedang menjelaskan, Xin Chen khawatir laki-laki itu memaksakan diri untuk berbicara. Membuat darah dari lukanya keluar kian banyak.
"Kekaisaran berkhianat lagi kepada rakyatnya yang terbuang. Kami tak lebih dari binatang ternak, diambil untuk dibunuh dan dijual. Ini sudah kelewatan ... Tapi apa yang kami lakukan ... Hanya mengemis ... Berharap seseorang penuh harapan datang dan tak pernah ..." Napasnya hanya tersisa beberapa.
"... Mengkhianati kami."
Sebelum kematiannya laki-laki itu bergumam sangat kecil. "Sepertinya aku pernah melihatmu ...." Tangannya mencoba meraih wajah Xin Chen, hingga akhirnya jatuh tergeletak di atas tanah.
Kepalanya berpaling ke samping, matanya masih terbuka. Tapi Xin Chen tahu laki-laki itu sudah tak bernyawa. Sebelum tubuh itu bereaksi dan mulai mengganas Xin Chen mengeluarkan Pedang Baja Phoenix. Memenggal kepala tersebut di tangannya.
"Seperti dugaanku. Bajingan pengkhianat ... Kau akan merasakan akibat perbuatan mu, Shi Long Xu."
Xin Chen meletakkan tubuh itu, mendoakan yang terbaik untuknya. Menyesali mengapa dia membantu Shi Long Xu menjadi seorang pemimpin. Yang awalnya hanya neraka biasa, sekarang Kekaisaran Wei menjadi neraka jahanam. Dari omongannya, Xin Chen yakin laki-laki ini berasal dari Perkemahan Tenggara.
Dia tak tahu apa yang terjadi pada Yu, Tiga, Shuo dan lainnya. Ada begitu banyak nyawa di Perkemahan Tenggara. Dan anak-anak dibawa untuk diuji coba kembali, kemungkinan untuk mengembangkan virus yang diteliti Qin Yujin. Semua tebakan itu selalu menjurus ke hal yang buruk. Xin Chen keluar dari rumah kecil serupa gudang itu.
Melihat tulisan besar di coret di dinding, satu kata 'kedamaian' yang dicoret oleh darah. Di bawahnya diganti lagi dengan kata 'kehancuran'.
__ADS_1
Dia memejamkan mata. Semua tampak sama seperti yang sudah pernah dilihatnya.
Orang-orang ini telah kehilangan harapan.