
"Jentik-jentik ini cari perkara denganku, dia suruh aku makan belut laut. Memang, binatang!" Shui membalikkan sup hingga baju Huo Rong basah kuyup.
Shui sampai muntah disuruh makan saudaranya sendiri, kali ini dia membalas dengan menampar Huo Rong-hasil setelah melihat pertengkaran para perempuan di toko baju. Emosi salamander itu naik sepuluh tingkat, wajahnya memerah padam. Sudah ketumpahan kuah panas ditambah ditampar lagi.
"Kau juga binatang!"
"Berhentilah, memalukan sekali seperti mahluk primitif." Sesosok mendengus dari belakang, mereka berhenti berseteru, Xin Chen terkejut.
"Guru?!" Dia kaget bisa bertemu dengan Rubah di tempat itu, Gurunya memalingkan muka kesal.
"Terakhir kali kau meninggalkanku di pelabuhan, selain tidak ada otak kau juga tidak ada sopan santun ya."
Dia bergidik ngeri, melanjutkan.
"Kudengar dari Ayah Guru Rubah juga membantu Pulau Seizu saat serangan datang, terima kasih untuk itu."
"Kau berterima kasih untuk apa?" judesnya.
Xin Chen tertawa kecil, dia lupa Gurunya itu masih memiliki sikap menyebalkan.
"Terima kasih karena hari itu kau mau menerimaku menjadi muridmu, mungkin ... Saat bertemu denganmu, di saat itu juga hidupku mulai berubah."
Rubah Petir tidak mengerti mengapa tiba-tiba Xin Chen berkata demikian, tidak seperti biasanya.
"Hm, kau saat itu begitu payah dan bodoh. Mungkin Guru Lembah Kabut Putih saja tak sanggup mengajarimu."
"Karena itu. Aku bersyukur memiliki Guru sepertimu."
"Kalau begitu kau harus berlatih lebih keras lagi setelah ini, ada satu hal penting yang lupa ku ajarkan padamu."
Xin Chen mengernyit, Rubah Petir tampak serius. "Apa? Jurus baru? Teknik baru?"
Rubah Petir tiba-tiba mengeluarkan ranting kayu saat berdiri, matanya memburu ganas. "Seni Sopan Santun: Tidak Meninggalkan Gurumu di Pelabuhan."
Dia mengangkat ranting tersebut, hawa gelap berada di sekitarnya.
"Ampun Guru, aku lupa waktu itu-" percuma saja, satu tebasan tipis dan tajam menggores tangannya.
__ADS_1
Huo Rong dan Shui terbahak, Xin Chen takut setengah mati pada Rubah Petir. Memang Siluman Penguasa Petir itu terkenal dengan kegarangannya. Di meja lain juga terdengar seseorang berbicara pada mereka.
"Bukankah kau Pilar Bayangan yang dibicarakan itu? Orang-orang menyebutmu apa, ya? Banyak sekali.. aku sampai lupa,"
Orang itu adalah Kepala Prajurit, Xin Chen belum sempat membalas tapi seseorang datang ke meja lain. Xin Chen baru menyadari tempat itu memang sangat ramai dan terkenal di Pulau Seizu. Bahkan usai rapat beberapa Pilar Kekaisaran berkumpul di sana untuk berbincang santai.
"Kaisar Langit, bukan begitu?"
Yue Ling'er, wanita racun itu menimbrungi. Di sana juga ada Tao Gui Xiang yang menganggukkan kepala.
Xin Chen justru baru tahu tentang itu, dia mengernyit, "Tidakkah itu berlebihan? Kaisar Langit? Yang benar saja. Aku tidak sebanding dengan itu."
"Merendahlah terus. Mungkin tak lama lagi Kaisar Qin juga akan melakukan upacara ritual untuk mengangkatmu sebagai Kaisar Langit kedua di Kekaisaran kita."
Yue Ling'er dan Tao Gui Xiang bersulang, entah sejak kapan mereka berdua akrab.
"Kau mungkin tidak menyadarinya tapi sekarang bukan hanya Kekaisaran Shang, tapi dua Kekaisaran lain telah mengakuimu. Kau sudah membantu mereka dan memperlihatkan bukti nyata sebagai Pahlawan Sejati. Kenapa kau masih terkejut seperti itu?"
Sesaat Xin Chen terdiam, "Aku tidak pernah berpikir akan seperti ini."
Huo Rong meninju pelan dadanya,"Kau bertarung dengan tulus, kawan. Mana berpikir soal penghargaan dan puji-pujian. Pertahankan itu,"
"Untuk hari ini dan seterusnya, aku mempercayakan Empat Unit Pengintai kepadamu Huo Rong."
"Sudah sok sibuk, ya, sekarang? Sudah kuduga, awalnya jadi pemimpin sementara lalu jadi selamanya." Huo Rong setengah menggerutu, Shui meledeknya. "Binatang ini kau kasih jubah? Mengancingkan baju saja dia tidak mengerti."
Mereka tertawa. Di tempat itu begitu banyak orang di kenalnya seperti Xiu Qiaofeng dan Bibinya juga datang, mereka sempat berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya Xin Chen harus kembali ketika sore menjelang.
Malam telah turun, langkah kaki Xin Chen berhenti sesaat di depan pintu.
Melihat rumahnya, Xin Chen tidak ingin membayangkan lagi rumah itu hancur. Penyesalan di dalam dadanya kembali datang. Sayup-sayup dia dapat mendengar canda tawa dari dalam rumah, begitu hangat. Dia tersenyum pelan. Tangannya menggantung di depan pintu, matanya berubah sendu.
"Aku sudah berjanji tidak akan menyesali apa pun."
Pintu rumah terbuka, ketiganya menatap tersenyum menyambutnya. Xin Zhan menutup hidungnya, "Mandi dulu sana, kambing!"
"Chen'er, cuci tangan jangan lupa. Kau belum makan dari pagi lagi ..." beritahu Ren Yuan.
__ADS_1
Xin Fai tergelak, "Cepat, cepat! Kapal sudah mau berangkat kau baru datang."
"Siap, Kapten!"
Tak lama Xin Chen kembali, dengan pakaian yang telah disediakan Ren Yuan. Warna hitam agak kebiruan kelihatan cocok untuknya, Xin Chen duduk.
"Seperti biasa, aku rindu masakan Ibu."
Ren Yuan tertawa kecil, mengelus bahu anaknya. Begitu bahagia melihat mereka kembali lengkap hingga matanya kembali berair. Tidak peduli seberat apa pun rintangannya, saat Xin Chen mengatakan akan kembali maka dia akan menepati janjinya. Terakhir kali, Ren Yuan tidak takut untuk membiarkannya pergi dengan keputusannya sendiri.
Xin Chen berpegang teguh pada janjinya.
Xin Fai menyumpit beberapa makanan laut yang direbus ke piringnya, seraya berkata, "Makan yang banyak, Zhan'er juga." Xin Zhan menjauhkan mukanya ketika Xin Fai bela-belaan ingin menyuapnya. Xin Chen tertawa terbahak-bahak.
Xin Zhan tidak terima mengelak, "Xin Chen mungkin kelelahan sampai tidak bisa menyuap diri sendiri, Ayah. Dia saja."
Xin Fai menjepit kepala Xin Chen di ketiaknya sambil memaksa memasukkan cumi-cumi ke mulut anaknya. Putranya memberontak, mereka tertawa.
Xin Zhan tersedak karena tiba-tiba Ren Yuan menyuapnya. "Senang sekali mengejek adikmu, kau juga kena."
"Ibu ..."
"Karena anak-anak Ayah sudah berkumpul habis ini kita lomba main catur. Yang menang bisa menghukum yang kalah. Bagaimana?"
Sampai larut malam mereka masih terus bermain, kali ini Xin Zhan kalah dan langsung dihadiahi taburan tepung di mukanya. Xin Chen dan Ayahnya tergelak. Muka Xin Zhan sudah melebihi hantu wanita kurang belaian.
"Muka kalian juga sama!" Xin Zhan melemparkan piring tepung ke arah Xin Chen, Xin Chen menepisnya dan malah mengenai Xin Fai. Dia lari sekencang mungkin keluar rumah. Rumah itu masih heboh sendiri.
"Hah? Bukannya itu Tuan Muda Xin kedua?" Salah satu Pejuang yang berjaga malam bertanya pada enam rekannya.
*
Pagi harinya Xin Chen berpamitan, mungkin agak lama. Setelah memastikan Fu Hua dirawat baik oleh Feng Yong dan Ren Yuan, Xin Chen beranjak pergi. Xin Fai sudah pergi dari subuh lagi sama seperti Xin Zhan.
Xin Chen teringat dengan Ye Long, saat ingin memanggil dengan seruling dia baru ingat benda itu sudah dihancurkan. Xin Chen bersiul beberapa kali, hingga beberapa menit naga itu baru datang dan parahnya terbangnya jauh lebih cepat dari terakhir kali.
"Apa apa Majikan?"
__ADS_1
"Kita ke Kota Fanlu, ada tempat yang ingin kudatangi."
"Dalam hitungan detik ..." Ye Long mengambil ancang-ancang dan di detik berikutnya Xin Chen harus menahan napas akibat angin kencang yang seolah menampar wajahnya. Tidak beruntungnya saat itu dia sedang menggunakan tubuh manusia.