Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 100 - Kembalinya Pedang Iblis


__ADS_3

Perjalanan kembali ke pusat kota ternyata disambut meriah oleh para masyarakat yang telah mengetahui kabar kemenangan tersebut. Sepanjang jalan gegap gempita dan haru bahagia bercampur aduk, hingga akhirnya kuda yang mereka tunggangi telah sampai di pelabuhan Kota Fanlu.


Tak perlu menunggu lama pagi, bahkan sebelum kapal benar-benar bersender di jembatan ratusan hingga ribuan orang telah memenuhi tempat tersebut. hanya untuk melihat siapa yang kembali membawa kemenangan.


"Dua putra klan Xin telah berhasil mengalahkan Naga Kegelapan dan membawa Sang Pedang Iblis kembali ke tanah kita!!"


Sorakan tersebut mengundang teriakan yang lebih heboh lagi, Xin Zhan telah berdiri di pelabuhan bersama ayahnya. Dari semua rombongan hanya tersisa Xin Chen yang masih berada di kapal-dan tak kunjung keluar sejak dua menit yang lalu. Semua orang menunggunya dengan harap-harap cemas.


Karena di antara seluruh penduduk, tak ada yang pernah melihat wajah Xin Chen semenjak dia menghilang dalam peperangan tujuh tahun lalu.


Suara langkah kaki terdengar berat melangkah, derit papan kapal bercampur suara dengusan menjadi satu-satunya suara saat itu.


Mengharapkan putra kedua klan Xin keluar, justru yang mereka lihat adalah seseorang dengan penampilan nyentrik dan rambut biru terang sedang memasang gaya di depan pintu kapal.


"Ah, berhenti memujiku. Kalian terlalu antusias menyambut diriku yang bukan siapa-siapa ini-"


Suara nan gemulai itu disambut dengan tendangan dari belakang, selanjutnya yang keluar justru orang nyentrik lainnya bertampang sangar dan berambut merah. Semua penduduk Kota Fanlu saling menatap dan mulai berbisik-bisik.


"Jangan-jangan dia adalah Naga Air dan Salamander Api? Banyak yang bilang dua siluman itu memiliki kemampuan khusus untuk menggunakan wujud manusia."


Pria yang lainnya menambahkan, "Kemungkinan besar, karena yang kutahu Naga Air juga memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan Pedang Iblis."

__ADS_1


"Tapi dari mana datangnya si rambut merah itu? Apakah seseorang di antara dua putra Pedang Iblis yang membawanya ke sini? Tampangnya tak cukup meyakinkan, takut-takut dia marah dan menyembur apinya ke kota ini."


"Hoi! Berhenti menggosip! Lebih baik kalian cari si bocah mata biru itu ke mana! Tadi di kapal, berkedip mata sekali langsung hilang dia!" bentak Huo Rong sampai urat-urat di dahinya menonjol. Dia sebenarnya tidak marah, hanya saja mulutnya terasa asam kalau tidak marah-marah.


Peringatan Huo Rong membuat yang lain panik. Yang benar saja Xin Chen menghilang. Lagi pula mereka melalui transportasi laut, sangat kecil kemungkinan bahwa pemuda itu diculik-atau bahkan tidak mungkin. Xin Fai berjalan kembali ke dalam kapal, tak mendapati anaknya di mana-mana seperti kata Huo Rong.


Kemeriahan tertunda beberapa saat dalam tanda tanya, orang-orang berpencar sebagian dan saling mendebat entah ke mana perginya Xin Chen.


Tampaknya Xin Zhan yang tidak bergerak untuk mencari adiknya sendiri. Dia teringat akan percakapan mereka berdua semalam dan mungkin saja, membuat adiknya tersinggung.


Benar, kematian Lan An adalah duka terbesar usai peperangan ini. Semua orang berduka cita merayakan kemenangan mereka. Namun tidak dengan Xin Chen, nyawa semua orang yang dia bawa dalam perang harus ditanggungnya dalam penyesalan. Dan Xin Chen sama sekali tak punya muka untuk menghadapi wajah bibinya Xin Xia.


Hati Xin Zhan semakin teriris saat melihat seorang wanita anggun dan cantik tengah berlari dengan wajah bahagia menuju pelabuhan, semua orang membuka jalan untuknya. Wanita itu pasti berpikir bahwa kakak dan suaminya kembali dengan utuh. Namun, setelah kehilangan salah satu, kini dia harus kehilangan satunya lagi. Suaminya, Lan An tidak kembali.


"Kakak kembali, aku benar-benar menunggu kepulanganmu." Air matanya masih tumpah, Xin Xia melepaskan pelukannya. Di belakangnya beberapa pelayan setia menunggui nyonya mereka. Salah satu di antaranya sendiri mengendong anak dari Xin Xia dan Lan An. Kabar tentang anak mereka adalah satu-satunya berita baik yang terdengar selama perang berlangsung.


Kebahagiaan di wajah Xin Xia kontras terlihat dengan wajah penuh penyesalan Xin Fai. Laki-laki itu mengepalkan tangan, tak dapat menatap langsung bola mata adiknya yang begitu berharap jawaban darinya.


Air mata kebahagiaan Xin Xia mulai berubah menjadi tangisan duka, ketika salah satu dari Empat Unit Pengintai mengatakan akan nasib Lan An di medan perang.


"Maafkan aku, Xiaxia. Aku-" nada bicara Xin Fai melemah, tak sanggup melihat adiknya menerima kenyataan ini.

__ADS_1


Seluruh tulang Xin Xia seakan-akan luruh, jatuh berserakan. Hingga dia sendiri tak sadar dirinya terduduk di atas tanah, gaun indahnya kotor oleh tanah. Beberapa pelayan berusaha menyadarkannya.


Namun wanita itu hanya menangis dalam diam. Matanya kosong. Masih tak percaya akan apa yang orang lain katakan tentang suaminya.


Hari itu, ketika Lan An telah kembali dari perang dengan penuh luka besar, dia dirawat berhari-hari. Xin Xia menjaganya dengan sepenuh hati. Namun di hari berikutnya suaminya itu menghilang dengan hanya meninggalkan satu surat.


Surat yang berisi tentang janjinya pada Xin Xia. Untuk membawa pulang Kakaknya ke Kota Fanlu.


Kini Xin Xia menyesali janji yang dibuatnya sendiri. Yang membuatnya kehilangan sosok yang amat dia cintai.


Mata Xin Xia memburam, huru-hara di sekitarnya hanya terdengar sayup-sayup, timbul tenggelam. Hingga kesadaran Xin Xia perlahan menghilang. Semua gelap. Namun masih dapat didengarnya suara Xin Fai memanggilnya panik.


Wanita itu pingsan.


Baru kembali saja keadaan kacau sudah, beberapa orang penting Kekaisaran datang termasuk Pilar Kekaisaran baru yang telah menjabat semenjak kepergian Pilar Kekaisaran lama. Kehadiran mereka membawa begitu banyak rombongan pelayanan klan bangsawan terlihat amat mencolok. Dibandingkan itu, kekhawatiran akan menghilangkannya Xin Chen mulai teredam. Banyak dari mereka membantu Xin Xia untuk dipulangkan ke rumahnya. Sementara sisanya berbincang-bincang dengan anggota kelompok Empat Unit Pengintai dan Xin Zhan yang tak peduli apapun lagi dengan apa yang mereka katakan.


Jelas sudah. Para bangsawan itu sedang mencari muka terhadapnya dan Xin Fai. Bahkan lelaki bangsawan elit dengan kumis tebal mulai berani memprotes Kaisar Qin di depan orang banyak atas perintah yang dia anggap keliru; menghapuskan nama Pedang Iblis yang saat itu dinilai berbahaya bagi Kekaisaran Shang.


Xin Fai sendiri hanya membalas sekedarnya sapaan mereka. Tanpa terlihat sedikitpun dendam pada orang-orang yang sempat mengkhianatinya.


Baginya, satu-satunya yang tak akan mengkhianati dirinya adalah rakyat-rakyat Kekaisaran Shang. Kepulangannya membawa tangis bahagia di mana-mana, baru di Kota Fanlu saja sudah seramai dan seheboh ini. Beberapa mengatakan di kota-kota lain mereka sedang merayakan kepulangannya dengan cara yang berbeda. Ada rasa lega di hatinya sekaligus bangga pada kedua putranya.

__ADS_1


Jika tanpa mereka, dirinya masih berada di bawah genggaman tangan Qin Yujin. Tersiksa oleh jeratan rantai yang membunuhnya pelan-pelan.


Sekarang saatnya menemui Ren Yuan. Salah satu ketakutan lain di hati Xin Fai. Selagi Xin Xia dibawa ke kamarnya untuk diistirahatkan.


__ADS_2