Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 121 - Pengangkatan Pilar


__ADS_3

Sebelum meneruskan pengangkatan Pilar selanjutnya, Kaisar Qin memberi istirahat sejenak. Memberikan waktu kepada lima Pilar Kekaisaran baru yang sudah dipanggil menyapa seluruh masyarakat. Sontak detik-detik itu tak luput dari keramaian. Kelopak bunga berhamburan, terompet dibunyikan menggiring jalannya acara.


Jiang Cho berkumpul bersama keluarganya, merayakan pengangkatan dirinya. Begitupun dengan Xiu Qiaofeng bersama bibinya dan klan Xiu lainnya, mereka bersukacita. Yue Huanran sendiri didampingi saudara tiri dan kedua orang tuanya.


Hanya Zian Ning dan Lian Ning yang masih berada di atas panggung walaupun waktu istirahat telah berjalan satu jam. Kaisar Qin mungkin membutuhkan istirahat. Mereka memaklumi itu. Di sisi lain di tempat ini mereka tak punya keluarga untuk merayakan pencapaian tersebut, selain keduanya sendiri. Saling diam melihat gegap gempita di sekitar.


"Sudahlah, jangan bersedih." Lian Ning mengusap punggung adiknya yang memasang muka batu seperti biasa. Tapi gerak-gerik Zian Ning tak bisa berbohong, Lian Ning tahu adiknya sedih. Mereka sudah belasan tahun hidup bersama dengan mengandalkan satu sama lainnya. Hanya saja di momen-momen seperti ini, tetap saja kesedihan itu masih ada.


Tanpa mereka sadari, seseorang merangkul pundak keduanya dari belakang, tertawa kecil. "Hai, mau sampai kiamat kalian berdiri di sini? Duduk dan minum dulu, istirahat masih lama. Beberapa calon Pilar Kekaisaran baru belum datang."


Mata Lian dan Zian Ning melebar, merasakan hawa tak biasa. Begitu besar dan hebat, tapi sama sekali tak ada ancaman ketika berada di dekatnya.


Benar saja, ketika mereka menengok ke belakang, orang itu adalah Pedang Iblis. Rangkulannya tak kunjung lepas selagi keduanya terpaku, terkejut tak kira-kira.


"Kalian sedang latihan menjadi patung?"


"Tu-tuan Pedang Iblis-!" Seketika sadar keduanya langsung membungkuk cepat. Lian Ning tak pernah sepanik ini seumur hidupnya, begitu juga dengan adiknya. Mereka kembali membatu beberapa detik.


"Ayolah, tidak perlu sungkan. Ikutlah bersama kami, ada beberapa kursi kosong untuk kalian berdua."


Zian Ning dan Lian Ning berjalan di belakang Pedang Iblis, percaya tak percaya kini kedua menjadi pusat perhatian. Saat memasuki bagian menara, mereka dihujani puluhan tatapan.


Mereka-orang elit Kekaisaran menatap sinis pada dua orang tersebut. Sebesar apa pun pencapaian dan kedudukan mereka, itu tak akan menghapus identitas mereka sebagai kaum kasta terbawah. Berbeda dengan mereka yang terlahir dari keluarga terpandang. Tapi meski demikian tak ada yang berani memprotes.


Zian Ning dan kakaknya berdiri di depan kursi yang di depannya terdapat meja yang diisi oleh beragam makanan. Lian Ning mengedipkan mata tak percaya. Xin Fai menyuruh keduanya duduk, tapi tak kunjung mereka lakukan.


"Maaf mengundang kalian tiba-tiba, hanya saja aku baru tahu kabar tentang kalian. Dan penasaran seperti apa kalian." Xin Fai langsung berterus terang. Menuangkan minuman pada dua empat cangkir gelas.


Zian Ning heran, dua kursi selain di depan mereka masih kosong. Sampai dia terkejut melihat seorang pemuda lainnya muncul dari pintu. Wajahnya lebih tampan dari yang diceritakan orang-orang, dengan alis tebal dan mata hitam pekat. Tatapannya terkesan tajam, tapi di sisi lain dia tampak tenang seperti air.


"Ayah," panggil pemuda itu pada Xin Fai yang langsung menoleh pelan. "Ada apa?"

__ADS_1


Xin Zhan. Pemuda yang Zian Ning lihat itu adalah Xin Zhan, anak tertua Pedang Iblis. Dia menarik satu kursi, sempat melihat ke arah keduanya tapi tak terlalu tergubris. "Kaisar Qin ingin menemui Ayah nanti malam."


"Baiklah, duduk dan makan dulu." Xin Fai mendecak, "Habis mematung di panggung kalian lanjut mematung di depanku? Duduklah dulu," protes Xin Fai. Dia memang tak bersikap formal pada keduanya agar dua saudara itu tak canggung padanya. Tapi tetap saja, sulit mengajak keduanya berbicara.


"Ayah pasang muka seperti aparat belum digaji saja, bagaimana mereka tidak takut." Seseorang lainnya menarik kursi untuk Lian dan Zian Ning.


"Salam kenal juga," ucapnya sambil menyalami tangan Lian Ning. Seketika pemuda itu terguncang. "Tuan Muda Xin kedua? Anda tahu saya?"


"Panggil Xin Chen saja. Tadi aku mendengarmu, hanya saja saat aku melihatmu kau sudah berpaling." Xin Chen menyeret minuman yang telah diisi kepada Lian Ning. Lalu tersenyum pada adik perempuan Lian Ning, tampaknya gadis itu tak begitu senang berbasa-basi.


Zian Ning sedikit berkecil hati saat melihat hanya kakaknya yang disalami. Wajahnya sedikit pundung.


"Aku sempat mendengar soal kalian berdua," kata Xin Zhan membuka percakapan. "Kalian yang berasal dari Taring Singa, 'kan?"


"Taring Singa, ya? Perguruan itu sangat tertutup sampai-sampai tak pernah terdata di dalam data perguruan. Tapi melihat dari segi bibit yang mereka hasilkan, tempat itu memang ladang calon petarung terbaik."


"Tuan terlalu berlebihan, kami tidak sekuat itu."


Selagi Xin Zhan, Xin Fai dan Zian Ning berbasa-basi, dua orang bodoh yang baru saja dipertemukan rupanya sudah akrab satu sama lain.


"Belum apa-apa sudah keterlaluan." Xin Zhan mencibirnya, adiknya itu tertawa puas. "Saudara Lian, kau lebih hebat dari yang aku perkirakan. Mungkin cara bertarung kita bisa saja sama."


"Kalau demikian aku yakin Saudara Chen merasa tersaingi."


"Bisa saja. Hei, aku akan melihatmu. Pastikan kau bertambah kuat, kapan-kapan kita berduel." Xin Chen melepaskan tatapannya dari Lian Ning. "Yang kalah harus berlari bertelanjang dada di Jalan utama Kota Fanlu."


"Menarik! Aku sebenarnya tak keberatan jika kita berduel sekarang."


"Kita tak punya banyak waktu."


Penolakan Xin Chen sedikit membuat Lian Ning sedih.

__ADS_1


Xin Chen melihat sekitarnya. Tersenyum jahil ketika otak jahatnya kembali bangkit. Rasanya kembali ke Kota Fanlu tanpa mengacaukan hidup orang lain kurang lengkap.


"Kita main batu gunting kertas, yang kalah harus menuruti yang menang. Bagaimana?" bisik Xin Chen. Bodohnya Lian Ning langsung mengiyakan. Xin Fai mengerutkan dahi, tak mendengar begitu jelas. Xin Zhan menggeleng-gelengkan kepala, tahu tabiat adiknya memang tidak ada obat. Pasti dia sedang merencanakan sesuatu.


Keduanya adu suit. Lian Ning tak begitu panik ketika dia kalah.


Xin Chen berbisik-bisik, "Bawa minuman ini, tumpahkan ke baju Jiang Cho. Kau bisa?"


"Bisa!"


Sontak suaranya menarik banyak tatapan. Xin Chen ikutan panik. Dari mukanya, sepertinya Lian Ning juga mempunyai dendam pribadi dengan orang itu. Satu keuntungan yang bagus untuknya.


Lian Ning benar-benar membawa minuman itu ke meja yang diisi oleh bangsawan klan Jiang. Dia terpeleset dan antara sengaja atau tidak menumpahkan minuman di tangannya ke Jiang Cho yang sedang berbicara pada saudaranya.


Dua orang laki-laki klan Jiang berdiri, emosi terlihat sudah di wajah keduanya. Sama halnya seperti Jiang Cho yang langsung mencengkram kerah baju Lian Ning.


"Orang miskin tidak tahu adab!"


Tinju melayang hendak mendarat di wajah Lian Ning. Xin Chen menangkap tangan tersebut.


"Sudah menjadi Pilar Kekaisaran bukankah kau tahu bahwa kau harus memperlakukan semua orang sama? Tidak ada orang miskin atau kaya. Percuma kau karya harta, adabmu nol besar."


Jiang Cho mundur, api kemarahannya padam ketika Xin Chen menatapnya sama marahnya. "Aku yang menyuruhnya melakukan ini, rupanya benar dugaanku. Kalian masih memegang pemikiran kolot itu. Orang kaya adalah orang paling suci di Kekaisaran ini. Begitu, kan?"


Xin Chen tersenyum bangga. "Kalau begitu kami akan menjadi seorang pembelot. Yang merubuhkan istana megah kalian. Benar begitu, kawan?"


Lian Ning betul-betul beruntung pernah menjadikan pemuda itu sebagai panutannya. Meski terlahir di keluarga yang serba berkecukupan dia tetap merasakan apa yang dirasakan oleh orang sepertinya. Keadilan terhadap semua orang tanpa memandang identitasnya.


"Benar sekali, Saudara Chen."


Xin Fai sengaja tak menahan anak keduanya itu, antara senang atau khawatir tindakan Xin Chen justru memulai perang dengan klan Jiang.

__ADS_1


"Yang satu bodoh dan penurut, yang satunya lagi usil dan keras kepala. Cocok sekali menjadi sahabat."


Zian Ning tersenyum geli melihat Lian Ning dan Xin Chen kembali sambil tertawa diam-diam.


__ADS_2