
Keadaan tak langsung aman begitu saja. Kali ini, setelah lepas dari kandang buaya mereka justru terjerumus ke kandang harimau. Keberisikan di bagian tengah labirin memancing perhatian mayat hidup lainnnya, mereka datang dari lorong lain dan berjalan ke arah di mana Xin Chen dan yang lainnya berdiri. Tak ada jalan untuk mundur, pintu raksasa telah tertutup. Sementara itu puluhan mayat hidup yang dirasuki kekuatan roh mulai bereaksi.
Jeritan mereka adalah jeritan yang paling keras, mengundang seluruh mayat hidup dari lorong-lorong yang jauh.
"Kita akan mati jika terus berdiam di sini."
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Berdoa dan lari!"
Xin Chen tak mau berpikir lebih lama lagi sebab lautan mayat hidup di depan mereka makin bertambah tiap detiknya. Ketika mereka melihat Xin Chen semuanya langsung mengejar pemuda itu. Xin Chen mengeluarkan kekuatan Api Keabadian. Labirin yang semula gelap gulita seketika terang akan cahaya biru menyala.
Mata birunya ikut menyala ketika api tersebut membakar ribuan manusia, hanya dalam hitungan detik. Celakanya cahaya tersebut mengundang lebih banyak dari mereka, Xin Chen tak menemukan satu pun celah agar dirinya bisa pergi dari sana. Sementara Luo Li dan Lang pun hampir sama; menunggu momentum agar bisa melewati lorong labirin ini.
"Jangan sekali-kali melepaskan kekuatan rohmu lagi. Jika puluhan ribu mayat ini dimasuki oleh roh, kau tak akan sanggup untuk membakar mereka."
Lang memperhatikan satu-satunya mayat hidup yang dimasuki roh di depan mereka. Tubuhnya tak langsung terbakar. Kekuatan hitam keluar dari seluruh badannya, dia berjalan seakan-akan api yang menghanguskannya tak berarti. Berlari kian cepat ke arah mereka.
Lang melompat, menerjangnya dan langsung merobek-robek usus mayat hidup itu. Menghabisinya sampai seluruh bagian tubuhnya tercecer.
"Tunggu apa lagi? Bergerak!"
Xin Chen menapakkan langkahnya ragu-ragu. Dia berlari, hampir terjatuh andaikan Luo Li tak menahan tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Luo Li, Lang terus mendesak mereka maju sebelum kesempatan habis.
"Tubuhku melemah," jawabnya sembari menoleh ke belakang. "Api Keabadian itu terus-menerus membakar mayat, dia tak akan berhenti sampai semua mayat di sini hangus."
Luo Li menepis keraguan tersebut. "Kita harus segera mencari jalan."
Xin Chen bisa berjalan sendiri. Dia mengeluarkan beberapa senjata simpanannya yang selama ini dia anggap tak berguna. Barang jarahan yang dia ambil dari musuh bertahun-tahun lalu tak disangka akan berguna di saat seperti ini.
Satu per satu kepala terlepas, tapi tubuh mayat itu masih bergerak sampai beberapa menit. Xin Chen mengikuti Luo Li yang langsung membunuh mereka tepat di kepala.
Mata biru itu mengamati cukup lama pada salah satu mayat yang telah dibunuhnya.
Terdapat cahaya merah, bercabang-cabang di jaringan otak mereka. Dia tak bisa melihat begitu jelas karena penglihatannya terbatas.
Perhatian Xin Chen terpecah sampai tak menyadari salah satu mayat yang dirasuki roh melompat dari atas dinding. Menerkamnya, mereka terjatuh berguling di tanah.
__ADS_1
Xin Chen segera bangun dalam keterkejutan. Melihat Luo Li dan Lang sibuk bertarung sendirian, dia melemparkan cakram kecil tepat di kening musuhnya.
Tapi mayat itu masih berdiri tegak. Malah dia menyerang lebih ganas lagi.
Xin Chen mengeluarkan pedang, memotong tubuh tersebut menyilang.
"Ini berbahaya, menghadapi ratusan ribu dari mereka dengan kekuatan manusia ..."
Pedang saja tak cukup untuk mematikannya, Xin Chen meninju bagian kepalanya sampai terpental di dinding. Otak mahkluk tersebut langsung berhamburan di tanah. Bekas jejak darah di dinding tercetak jelas.
Pemuda itu menelan ludah. Mengangkat pedangnya, menciptakan kekuatan petir.
"Lang, bawa Luo Li bersamamu. Aku akan berlari, jangan sampai tertinggal."
Lang mengangguk, langsung mengangkat Luo Li di atas punggungnya.
Xin Chen menatap lurus ke depan. Dia harus fokus memecah kerumunan tersebut dan menemukan jalan keluar.
Kakinya mundur dua langkah, di hadapannya lautan mayat sudah tak bisa dihindarkan lagi.
"Satu ..."
"Tiga!" teriak Xin Chen tiba-tiba, Lang jantungan saat pemuda itu berlari sangat amat cepat. Dia mengejar sekuat tenaga, tak memikirkan sekitarnya. Dlaam hati serigala itu mengumpat kesetanan.
"Entah di mana dia belajar setelah satu langsung tiga."
Luo Li tak tinggal diam, di atas Lang dia membunuh mayat-mayat yang berlalu. Lang melebarkan matanya ketika di kedua tangan Xin Chen muncul dua pedang petir. Cahaya terangnya membuat kehadiran mereka disadari lebih cepat oleh kawanan mereka.
Sontak saja mereka langsung dikerumuni dari kejauhan. Namun tak disangka, dalam satu sentakan Xin Chen mengeluarkan kekuatan petir dengan tekanan tertinggi yang dia punya. Seketika ribuan mayat itu tersengat, beberapa tumbang sementara. Tapi paling tidak cukup efektif membukakan untuk mereka lewat.
Wajah Xin Chen terus menoleh kanan kiri, frustrasi tak menemukan satu pun harapan di labirin kematian.
Mereka telah mengelilingi labirin tersebut hampir setengah jam dan masih tak menemukan petunjuk. Mayat hidup bertambah kian banyak bukan berkurang. Sementara kekuatan Xin Chen terkuras banyak, dia tak bisa beristirahat untuk memulihkannya. Nyawa Luo Li dan Lang bergantung padanya saat ini.
Dua jam berlalu. Peluh membasahi wajah Xin Chen. Malam panjang itu mereka lalui dengan keputusasaan. Sesekali Xin Chen membayangkan apa yang dipikirkan ayahnya jika melihat dirinya berada dalam situasi terburuk ini. Dia segera menepisnya.
Sudah tiga jam semenjak mereka berkeliling di lorong tersebut. Apa yang mereka dapatkan adalah mereka kembali di titik semula. Di mana sebuah pintu raksasa dibangun.
Kesialan kembali datang. Para siluman berhasil membuat pintu tersebut terbuka. Mereka menginjak sesuatu di dalam sana. Xin Chen segera menarik Luo Li yang justru terpaku di tempat.
__ADS_1
Lang kehabisan banyak tenaga. Sekujur tubuh berdarah-darah, bahkan luka lama yang telah tertutup kembali melebar. Serigala itu bergerak lebih lamban.
Sementara siluman lipan di belakang mereka sedang merayap, mengejar ketiganya dengan suara desisan yang terdengar makin dekat.
"Lang!"
Lang terpental saat tubuh lipan tersebut menghentakkannya cukup jauh. Dia berusaha bangun, tapi tubuhnya mulai tak berdaya. Mulut siluman itu terbuka lebar-lebar.
Xin Chen melemparkan pedang petirnya, menyengat siluman tersebut. Lang mengambil kesempatan untuk kabur.
Hanya ada satu lorong yang jauh lebih sepi dan sunyi. Mereka berhenti di sana.
Xin Chen mengkhawatirkan Lang, tubuh serigala itu ambruk. Dia baru menyadari goresan luka cukup dalam kembali mengeluarkan darah di tubuh Lang.
"Sebaiknya menunggu pagi, keadaan Lang sangat buruk saat ini."
Luo Li yang merupakan tabib mengerti situasi siluman itu. Dia hampir sekarat. Xin Chen menolaknya.
"Jangankan sampai pagi, lima menit lagi mereka akan kembali memenuhi jalan ini. Kita akan terjebak dalam keadaan sulit lagi."
"Xin Chen benar. Kita harus bergerak."
Lang memaksa kakinya untuk berdiri, tapi yang terjadi dia kembali ambruk.
"Kau tidak bisa masuk ke dalam tubuhku saja?"
Lang tertawa kesakitan. "Aku sudah memiliki majikanku."
"Aku akan mencari jalan yang aman. Kalian duduk sebentar."
Lang berpikir sebentar, dia sadar keadaannya saat ini hanya akan menambah beban Xin Chen.
"Aku bisa berlari. Setidaknya satu atau dua jam lagi. Jangan pikirkan lukaku. Kita pikirkan setelah keluar dari sini."
Xin Chen semula ragu. Tapi apa boleh buat. Lang langsung berlari di depannya.
"Xin Chen," Panggil Luo Li.
"Jika anda bisa membuat bunyi yang begitu besar di labirin ini, mungkin aku bisa memprediksikan di mana jalan keluar itu."
__ADS_1