Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 179 - Aku adalah Pembunuhnya


__ADS_3

Megahnya istana Kaisar dengan deretan patung pilar di kanan halaman menjadi satu pemandangan yang tak bisa terlewatkan ketika tiba di Kota Fanlu. Tempat itu berubah banyak semenjak beberapa tahun terakhir, Xin Chen sepintas memperhatikan patung miliknya. Berdiri sendiri di antara sembilan patung lain.


"Lupakan yang lain. Tugasku sekarang adalah membereskan kecoa pemerintahan."


Xin Fai sudah berangkat lebih dulu dibandingkannya, jadi Xin Chen pergi sendiri ke sana. Masih sedang melihat patungnya sendiri, seseorang menyapa ramah kepadanya.


"Aih, Tuan Muda Xin Kedua ternyata hadir dalam pertemuan ini. Hoho, kau pasti masih mengenalku, bukan?"


Dia segera menoleh ke belakang mendapati sesosok pria tambun disertai baju yang dirajut dengan bahan mahal, tak kira-kira harga pakaian yang menempel dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Kalau ada perampok yang mencuri sudah pasti akan hidup dalam hura-hura setahun.


Hong Tian, siapa lagi kalau bukan Pilar Kekaisaran keempat. Xin Chen meringis melihat aliran kekuatan yang begitu lemah dalam diri laki-laki itu, sangat menyedihkan. Andaikan nanti siluman cicak menyerang kekaisaran sudah pasti dia mati duluan.


Xin Chen tak banyak merespon, memalingkan muka dengan muak. Jauh dalam dirinya, dia memilik kebencian terhadap orang-orang yang kaya turun temurun seperti Hong Tian. Meski tak semua jahat, tapi selama hidupnya orang seperti mereka selalu mendapatkan perlakuan istimewa. Kursi Pilar Kekaisaran keempat tak akan mungkin didapatkan laki-laki itu jika bukan dengan jalan kotor.


Xin Chen hafal betul kecerdikan orang-orang seperti mereka. Dan rasa muaknya makin menjadi kala Hong Tian terus mengajaknya berbicara.


"Bagaimana denganmu, aku dengar kau pergi ke suatu tempat. Kau menjalankan sebuah misi rahasia?"


Hong Tian makan hati dibuat pemuda itu. Dia lebih memilih menatap patung daripada menanggapinya. Pertama kali dicueki sampai wajahnya berkerut masam. Hong Tian menarik napas diam-diam, berusaha mengumbar senyum ramah.


"Acara akan dimulai, Anda tak berniat ke dalam?"


Xin Chen malah memilih bicara dengan patung daripada dengannya.


"Patung ini membuat hidungku jadi miring saja. Sudah serupa goa hantu kulihat."


Hong Tian tak menyerah, masih menyahut. "Tuan Muda?"


"Kau ngomong dengan siapa?" Xin Chen menanggapi datar. Hong Tian tertawa kecil, "Dengan Anda, Tuan Muda Xin kedua."


"Kalau mau bicara dengan batu sana. Dan jangan memanggil nama sebutanku lagi."


Dia berlalu begitu saja meninggalkan Hong Tian, paham betul maksud laki-laki itu mendekatinya untuk apa.


Sebagai Pilar Bayangan, sudah pasti posisi orang seperti Hong Tian dan Jiang Cho terancam. Dia bisa menguak banyak perbuatan mereka yang melanggar kode etik Pilar Kekaisaran. Andai mendapatkan bukti yang kuat, orang itu bisa dilengserkan dari jabatannya.


Tentu dengan cara yang tak terhormat. Dan mencoreng nama baik mereka di dalam masyarakat. Hong Tian mencari muka dengannya, berharap dengan mengakrabkan diri Xin Chen menghapusnya dalam daftar incarannya.


Pemuda itu menapakkan kaki ke istana, para penjaga istana mempersilakan masuk.


Belum apa-apa seseorang sudah menyenggol bahunya, membuat dia kesal hampir mengumpat.

__ADS_1


"Maaf sengaja."


Orang yang menabraknya melengos pergi sambil tertawa puas. Xiu Qiaofeng menyibakkan rambutnya, semakin gerah Xin Chen melihatnya.


Dia menepuk bagian yang disentuh Xiu Qiaofeng sambil berucap. "Biasa, Gorila Betina. Terlalu besar badannya sampai satu pintu sebesar ini tak muat."


Mata gadis itu melotot kesal. "Kau bilang apa?"


"Kau. Besar. Seperti. Monster." Xin Chen sampai mengeja sejelas-jelasnya agar gadis itu paham, mata lentik itu makin melotot geram. Dia ingin meninju Xin Chen tapi melihat ramainya istana dan banyak orang penting gadis itu mengurungkan niatnya. Menahan dongkol setengah mati sambil mendengkus kesal.


Xin Fai dari kejauhan melihat mereka bertengkar hanya bisa membuang napas. Dia melambaikan tangan ke arah anaknya, menyuruhnya bergabung dengan cepat sebelum Kaisar Qin datang ke perjamuan.


Pilar Kekaisaran tak sepenuhnya hadir, karena beberapa dari mereka masih ditugaskan di luar kota. Kaisar Qin duduk di paling depan, beberapa wanita datang menuangkan minuman dalam cangkir kecil. Begitupun di tempat duduk para Pilar lain. Rapat dibuka dengan penyambutan Kaisar Qin.


Dua jam berlangsung, Kaisar Qin menyampaikan bahwa tugas untuk Xin Chen telah dimulai. Ada pun Lian Ning dan Zian Ning mulai beberapa hari ke depan akan ditugaskan untuk menuntaskan sebuah bencana di pelosok Desa.


Yue Ling'er satu-satunya yang paling diam di ruang rapat. Hawa mengerikan darinya tetap menyatu dlaam dirinya seperti terakhir kali Xin Chen melihatnya dalam pengangkatan Pilar. Semua Pilar ditugaskan untuk beberapa misi penting, termasuk Xin Fai yang dalam dua bulan ke depan akan berurusan dengan sekelompok pembunuh misterius yang mulai menjadi teror di kota yang amat jauh dari Kota Fanlu.


Rapat ditutup dengan salam dari Kaisar Qin. Mereka bubar. Namun ayahnya masih betah mengobrol dengan Kaisar Qin. Pemandangan yang biasa terlihat di Kekaisaran jika kedua bapak-bapak itu sudah bertemu. Pasti mereka akan duduk mengobrol sampai berjam-jam. Mulai dari membahas politik sampai membahas penyakit masing-masing. Xin Chen terpaksa bergabung karena Ayahnya memanggil.


Setengah hati dia duduk, melihat wajah penuh ketenangan Kaisar Qin menyambut. Laki-laki itu tak melunturkan senyumnya, menganggap Xin Chen seperti anaknya sendiri.


"Habis berpetualang di mana, aku tidak melihatmu selama hampir sebulan."


Kaisar Qin tampak senang mendengarnya. "baguslah, tapi aku mendengar dari mata-mata yang kukirimkan untuk memerhatikanmu. Kau pergi ke Kekaisaran Wei. Tempat itu berbahaya, aku bahkan tak mendengar kabar dari mereka lagi sejak beberapa hri kau pergi ke sana ..."


Xin Chen menelan ludah. Topik pembicaraan yang paling dihindarinya benar-benar diusik oleh Kaisar Qin.


"Aku tak kenapa-kenapa di sana. Hanya sedang mencari penawar untuk penyakit Ibu."


"Dia berhasil mendapatkan penawarnya," Xin Fai menimbrungi dengan bangga.


"Berhasil? Syukurlah." Kaisar Qin ikut senang. "Lain kali berhati-hatilah, di sana sangat berbahaya. Aku mendengar kabar duka atas kematian Kaisar Shi. Ini berita yang sungguh mengejutkan. Ratusan orang dibantai di sana tanpa ampun. Orang itu pasti sangat berbahaya, beruntung kau cepat kembali ke sini."


Xin Chen memejamkan mata. Orang itu memang berbahaya, tapi yang dimaksud adalah dirinya sendiri.


"Tapi kemarin sekelompok prajurit dari Kekaisaran Wei datang memeriksa rumah-rumah." Xin Fai menyela, "Apa itu artinya pembunuhnya sudah berkeliaran di tempat kita?"


"Tak ada yang tahu pasti. Sebab mereka tak menemukannya di sana, dan jalur perbatasan baru ditutup total satu hari sejak pembantaian. Masih ada kemungkinan orang itu kabur, entah di Kekaisaran Qing atau Kekaisaran Shang. Sebaiknya berhati-hati, kita tidak tahu malang apa yang dibawanya jika sampai ke sini."


"Aku sedikit khawatir pada Yang Mulia." Xin Fai menanggapi, jelas dia khawatir. Motif pembunuh itu belum jelas dari kabar yang beredar, bisa jadi tujuannya adalah membunuh para pemimpin kekaisaran. Jika itu benar maka nyawa Kaisar Qin berada dalam bahaya. Tapi segera laki-laki itu meyakinkan.

__ADS_1


"Tenanglah aku sudah menyiapkan banyak pengamanan di Istana. Dalam dua bulan ke depan tempat ini akan dilindungi total untuk mengantisipasi hal-hal buruk."


"Syukurlah kalau begitu. Jika terjadi sesuatu kabarkan, Yang Mulia tahu aku akan pergi ke tempat yang jauh. Sulit untuk mengetahui kabar di sini bagaimana."


Kaisar Qin mengangguk, mereka terus berbincang tak kenal waktu sampai akhirnya Kaisar Qin mulai menyadari Xin Chen hanya diam. Dia berbicara pelan, "Mungkin anakmu kelelahan, pulanglah. Kasihan dia."


Xin Chen mengangkat wajah, dia sebenarnya hanya termenung. "Bukan begitu, Yang Mulia. Tapi aku juga sepertinya ingin kembali ke rumah."


"Aish, baru satu menit duduk sudah lelah." Xin Fai bangun dari duduknya.


Xin Chen menggerutu. Ini sudah siang semenjak mereka terus bicara panjang lebar. Mungkin terhitung tiga jam setelah rapat selesai. Memang orang tua, kalau sudah mengobrol siang dan malam sama saja. Dia sampai pusing mendengar cerita keduanya. Akhirnya Xin Fai pamit bersama anaknya.


Mereka tak langsung pulang, Xin Fai ingin duduk mengobrol sebentar dengannya. Bukan di kedai yang mewah, hanya kedai biasa tempat Xin Fai biasa duduk untuk minum. Ditambah lagi siang itu kedai tersebut sangat sepi.


Sang pemilik yang akhirnya baru mendapatkan pelanggan menyambut senang.


Segera membawa pesanan keduanya sambil sedikit berbasa-basi.


Panasnya siang yang tak wajar ternyata pertanda bahwa hujan akan datang. Hujan yang semula hanya gerimis mulai menjadi lebat, turun deras membasahi Kota Fanlu. Jalan-jalan mulai tergenang air, beberapa orang menepi sambil mencari payung.


Diam. Xin Chen tak tahu harus mengatakan apa karena pikirannya juga sedang carut-marut. Bunyi hujan yang jatuh di atas genteng kedai menjadi satu-satunya suara di antara mereka. Xin Fai hanya memandangi tetesan air hujan lewat jendela, sekadar menarik napas sebelum nanti akan berkutat lagi dengan misinya.


Dia memalingkan muka, melihat kerumitan di wajah anaknya. Tampak berat dan penuh tekanan, alisnya turun dan hatinya tak tega membiarkan putra keduanya itu diliputi ketakutan. Dia membuka mulut, berbicara lembut.


"Katakanlah, ayah tidak akan memakanmu."


Mau berpura-pura tak tahu pun Xin Fai sudah mengetahui jelas apa yang membuatnya risau. Xin Chen diam beberapa menit, mempertimbangkan kata-kata yang hendak dikeluarkannya. Ayahnya menanti dengan sabar, membiarkan anaknya itu siap untuk berbicara.


"Aku adalah Pembunuhnya." Dia berbisik kecil.


"Tempat itu tak lebih dari sebuah neraka yang dipenuhi oleh kesengsaraan, kemalangan dan bangkai-bangkai busuk. Aku ingin menyelamatkan mereka dari semua itu. Tapi tindakan kecil saja tak akan membantu mereka.


"Lalu karena ingin menyelamatkan semua orang itu kau mempertaruhkan tempat asalmu sebagai ganjaran?"


Xin Chen mengerti apa yang dimaksudkan. Kekaisaran Shang terancam berperang jika kebenaran ini diungkap. Matanya penuh oleh rasa bersalah.


"Aku tak akan melibatkan Kekaisaran Shang di dalamnya."


"Chen, dari mana kau bisa menjamin itu? Keadaan bisa saja bergerak di luar kendali mu."


"Lalu? Membiarkan para manusia itu menderita selama-lamanya dan akhirnya musnah tanpa ada yang menolong? Ini bukan tentang orang Kekaisaran Shang dan Orang Kekaisaran Wei. Kita sama dengan mereka. Kita semua layak untuk hidup."

__ADS_1


"Aku mengerti perasaanmu," sela Xin Fai, tak berniat menyalahkan anaknya tapi tiap kata yang keluar darinya pasti akan membuat putranya itu tertekan.


"Tapi ada pertanggungjawaban besar dalam keputusan yang kau ambil. Siap tidak siap, kau harus menghadapinya. Dan bisa saja melibatkan banyak hal besar di dalamnya."


__ADS_2