Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 25 - Pedang Tanpa Harga


__ADS_3

Dedaunan kering berterbangan saat ditiup angin, menggoyangkan jubah besar Li Baixuan yang tengah berdiri menenteng pedang di depan Xin Chen.


Pantulan dari pedang Xin Chen yang telah patah memperlihatkan bayangan wajah Li Baixuan, laki-laki itu berjalan pelan. Lawannya bergeming, detik demi detik berlalu tanpa adanya suara. Bahkan angin yang berhembus tak mengeluarkan bunyi-bunyi berisik.


"Menyerahlah seperti seorang petarung terhormat." Li Baixuan menatap tajam ke arah Xin Chen. Raut wajahnya tegas dengan mata menatap lurus ke depan. Dia memasukkan pedangnya kembali ke sarung. Dengan kharisma kuat yang dimilikinya tak heran mengapa Li Baixuan tetap menduduki peringkat pertama dari Sepuluh Terkuat. Bukan hanya dari segi kekuatan, caranya berjalan yang kokoh akan memberikan kesan tersendiri pada lawannya.


Li Baixuan berhenti saat melihat tanda-tanda pergerakan. Xin Chen mulai kembali berdiri tegak. Saat itu angin pelan membuat daun-daun berguguran di tempat Xin Chen. Sebelah tangannya mengangkat pedang yang kini telah terbelah dua. Matanya masih terpejam cukup lama.


Sementara Li Baixuan mulai merasa panik.

__ADS_1


Pedang itu ... Adalah pedang yang tidak ada harganya.


Li Baixuan bisa membedakan mana pedang yang dibuat dengan bahan berkualitas dan mana yang bukan hanya dengan mata. Dan pedang yang sedang Xin Chen angkat dengan penuh rasa hormat itu mungkin bisa dibeli hanya dengan seratus perak.


'Mengerikan.'


Li Baixuan tak mau mengakui secara langsung. Tapi tidak ada goresan atau retak sama sekali di pedang itu. Bahkan setelah bertarung habis-habisan dengannya tadi. Rasa ketakutan dalam dirinya meluap perlahan, Li Baixuan tahu dirinya masih tetap unggul dibandingkan Xin Chen. Dia berusia berkali-kali lipat lebih tua dari pemuda itu.


Li Baixuan terhenyak seketika. Xin Chen menghilang dari tempatnya berdiri. Meski demikian, daun yang sebelumnya hampir jatuh di atas kepala Xin Chen bergerak tak beraturan mengikuti terpaan angin.

__ADS_1


Dengan mudahnya Li Baixuan membaca arah serangan Xin Chen, hanya dari gerakan daun yang jatuh tadi.


Xin Chen benar-benar marah. Dia yakin Li Baixuan membawanya ke tempat ini akan sesuatu hal yang sedari tadi mengacaukan pikirannya. Xin Chen hanya dapat mendengar suara-suara dari kejauhan, tapi dia sama sekali tak menemukan titik temu dari kejanggalan yang memenuhi pikirannya.


Firasat buruk.


Xin Chen mengelak, pedang Li Baixuan membelah udara yang berada persis di depan dadanya. Laki-laki itu tak memberikan ruang untuknya menyerang balik dan terus menekan hingga Xin Chen terpukul mundur.


Sekali lagi, firasat buruk itu hadir. Xin Chen tahu perasaan itu sudah beberapa hari yang lalu. Rasa was-was itu seakan menggentayangi tanpa henti.

__ADS_1


"Kau sama sekali tak melakukan kesilapan walaupun pikiranmu sedang tertuju ke hal lain?"


Ucapan Li Baixuan membuat Xin Chen tersadar, dia menangkis arah laju pedang dari samping kanan, membelokkan pedangnya sedikit saat kedua senjata bertemu. Dan balik menghantam pedang Li Baixuan. Lalu melayangkan ayunan tajam nyaris ke mata Li Baixuan. Andai laki-laki itu tak siaga, dia akan buta selamanya dibuat Xin Chen. Begitu pun dengan serangan Li Baixuan, satu kali saja Xin Chen terkena serangan fatal. Dipastikan wujud rohnya akan rusak.


__ADS_2