
Kaget, dia berenang mundur. Tapi terinfeksi tersebut tak lagi bergerak, telah mati. Xin Chen hanya bisa membatin, mungkin karena dirinya terlalu panik sedikit guncangan bisa mengagetkannya.
Air telah bercampur darah, obat-obatan dan lumpur, membuat pandangannya terbatas. Tubuh-tubuh yang telah membusuk dalam air mengapung, bergerak ketika Xin Chen lewat. Dia menyelam lebih dalam, menuju kunci besi dan menariknya ke atas.
Benda itu sangat susah bergeser, tapi sekalinya pintu itu terbuka genangan air di dalam ruangan itu langsung membanjiri sebuah kamar mayat di sebelahnya.
Xin Chen teringat dengan isi peta, seharusnya setelah ini kamar mayat.
Di sampingnya rak-rak berisi mayat berjejer, terdapat banyak yang telah membusuk dan hanya ditutupi kain berbercak darah. Brankar terseret jauh oleh air, mengeluarkan bunyi derit yang cukup panjang.
Tidak sempat mencari tempat aman, Xin Chen langsung didatangi oleh terinfeksi. Kedua bola matanya telah hilang, tubuhnya serupa tulang dilapisi kulit dengan sisa helaian rambut saja di kepala. Dia mengenakan pakaian jas biru muda.
Bahkan di tangannya masih terdapat sarung tangan putih. Langkahnya mulai mengejar Xin Chen, berteriak sejadi-jadinya membawa terinfeksi lain. Genangan air sendiri telah menyebar jauh, menyisakan sisa-sisa mayat di dalam ruangan itu yang mungkin bisa berdiri kapanpun.
Xin Chen mengambil rantai di sebuah kursi, mengikatkan ke leher terinfeksi itu dan memutuskannya hingga kepalanya menggelinding ke lantai. Dia sudah tak bisa lagi bergerak diam-diam. Waktu terus berjalan.
Tanpa berpikir panjang, langkahnya segera bergerak ke luar ruangan. Mencari titik di mana terinfeksi tak terlalu banyak.
Sesuatu yang besar mengejarnya dari jarak jauh, Xin Chen tak bisa berbuat apa-apa selain terus berlari meski langkahnya terkejar. Dia memanjati tangga, melompati gorong-gorong dan berakhir di sebuah ruangan luas dengan puluhan pintu. Langkahnya berhenti di pintu yang hanya diikat dengan rantai. Puluhan tangan keluar dari celah pintu yang terbuka. Di dalam sana, hampir enam puluh terinfeksi terjebak. Mereka adalah manusia yang dulunya ditahan untuk percobaan tapi ketika wabah menyebar mereka tak sempat dikeluarkan dan pada akhirnya menjadi mayat hidup.
Dingin. Tengkuknya mulai merasakan hawa dingin yang menjadi-jadi. Dia berpaling ke belakang. Melihat manusia setinggi lima meter. Kepalanya lima, tiga wanita dua laki-laki. Selayaknya kepala mayat yang hanya ditempel begitu saja di sebuah badan, meringis ketakutan. Tangannya menyerupai tangan binatang dengan lidah panjang. Mereka memiliki lendir beracun. Di dalam lendir tersebut terdapat parasit yang mampu membunuh.
"Terinfeksi Tipe S."
Lidah itu menjulur sangat tajam, Xin Chen langsung menghindar, dia tak boleh sembarangan menangkis atau cipratan lendir itu mengenai kulitnya. Di samping itu, lidah tersebut baru saja menghantam rantai besi, membuat pintu semakin mudah dijebol hingga akhirnya puluhan terinfeksi itu keluar.
__ADS_1
Xin Chen tak langsung selamat, dia dikejar-kejar. Langkah mahluk itu terbilang amat cepat, itulah yang membuatnya dimasukkan sebagai tipe paling berbahaya. Dia bergerak agresif dan otaknya jauh lebih manipulatif. Terlihat dari pergerakannya yang sengaja membuka pintu berisi terinfeksi. Ratusan dari mereka menghambur ke luar, berjatuhan dan mulai ikut mengejar ke mana Xin Chen berlari.
Sepuluh menit pertama yang begitu rapi hancur hanya karena satu terinfeksi. Xin Chen hanya bisa merutuki dalam hati. Membakar mereka dengan Api Keabadian tak begitu efektif.
Xin Chen terpojokkan di antara ratusan terinfeksi. Dirinya berada di tengah-tengah ruangan, berdiri di atas satu patung di tempat itu yang kini akan roboh. Terinfeksi Tipe S mampu menjangkau tempat itu dengan mudah. Cakarnya berhasil mengenai Xin Chen, membuka luka sobekan yang cukup besar.
Lendir dari mulut terinfeksi itu kembali keluar. Patung telah roboh. Dan lautan terinfeksi mulai mengerubungi Xin Chen yang terjatuh ke lantai.
**
Hitam.
Semuanya gelap, tak ada cahaya. Tapi rasa sakit yang dideranya begitu nyata. Xin Chen tahu tubuhnya sedang digerogoti oleh para terinfeksi. Matanya sama sekali tak mau terbuka. Debar di jantungnya mulai melemah.
Dia sampai bertanya-tanya akan hal itu. biasanya selama ini maut enggan menjemputnya. Tapi entah mengapa di sini dia merasa begitu dekat dengan kematian. Atau memang malaikat pencabut nyawa bersemayam di tempat ini.
Api Keabadian di sekitar ruangan mulai melemah, pertanda pemilik kekuatan akan tumbang sebentar lagi. Tidak ada pengharapan di sana. Mustahil mengharap manusia datang menyelamatkannya.
"Aku ... Gagal?"
Dia bahkan bisa merasakan tangan-tangan itu berusaha melepaskan kepala, kaki dan tangannya. Sakitnya begitu nyata.
"Sepertinya begitu."
Kelopak matanya sama sekali tak bergerak lagi. Tangannya membatu. Terinfeksi Tipe S telah pergi menyisakan sisanya yang sibuk mengerubungi Xin Chen.
__ADS_1
Mereka tak benar-benar menggerogotinya sebab bau di tubuh pemuda itu berbeda. Atau bahkan sama seperti mereka sendiri. Para terinfeksi itu berhenti secara bergilir. Tapi masih tetap berada di dekat Xin Chen yang terluka sangat parah. Tertarik dengan bau hidup yang samar-samar dan berhenti karena bau yang sama seperti mereka.
Lima belas menit. Jari kelingking Xin Chen bergerak. Matanya terbuka beringas. Tanpa aba-aba dia berdiri, mulai mencekik satu per satu terinfeksi sampai lehernya remuk dan terlepas dari tempatnya. Dia mengepalkan tangannya, menghantam begitu keras tubuh-tubuh tersebut. Sebuah kekuatan tercipta di tangannya, Api Keabadian yang menyerupai gasing tiga kali manusia. Bergerak ke segala arah memotong kepala-kepala terinfeksi.
Cipratan darah terus menodai dinding dan lantai. Xin Chen kehilangan kesadaran. Tubuhnya bergerak mengikuti perintah dari otaknya.
Dia mengejar Terinfeksi Tipe S yang tadi sempat mencakarnya, menghantamkan lengannya ke kaki terinfeksi itu sampai pecah. Kekuatan itu berkali-kali lipat lebih menyeramkan dari Terinfeksi Tipe A yang ditemuinya di hutan.
Xin Chen tak kunjung sadarkan diri, dia terus menyikat habis terinfeksi di sepanjang jalan. Yang bahkan membawanya kembali mundur ke belakang.
Dua puluh lima menit. Keadaan semakin memburuk. Xin Chen tak sengaja membuka kandang para siluman buas yang telah bermutasi. Bertarung melawan mereka menciptakan kegaduhan yang begitu besar. Bahkan Wen dan yang lain sampai bisa mendengarnya dari luar, bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Komandan Fraksi Militer Pusat sudah berpesan dan menekankan baik-baik, Xin Chen seharusnya menyelusup diam-diam.
Jika begini, manusia terkuat pun tak akan mampu selamat dari Laboratorium B-1.
Dua puluh delapan menit.
Wen memasang wajah putus asa. Ketika menengok ke belakang, yang lain juga masih berharap Xin Chen kembali. Kegaduhan masih terdengar, mereka berasumsi Xin Chen telah berubah menjadi terinfeksi.
"Aku merasa bersalah melihatnya berada di posisi ini. Anak muda itu ... Aku benar-benar ingin bertanya, hal sebesar apa yang diinginkannya sampai rela berkorban masuk ke dalam laboratorium mengerikan ini?" bisik Wen tak percaya.
"Apa pun itu, pasti sangat berarti bagimu, ya? Aku yakin, kau orang yang rela berkorban banyak demi orang yang kau sayangi. Aku pasti akan menceritakan tentangmu ke keluargaku, kawan. Kalau aku berhasil menemukan mereka. Beristirahatlah. Sebentar lagi kau bisa tenang dengan damai."
Wen membuang pandangan jauh ke belakang, instruksi telah diberikan maka mereka diperintahkan untuk mundur dari Laboratorium. Alat-alat peledak telah dipasang di seluruh sudut luar Laboratorium B-1. Waktu terus menghitung mundur. Satu menit lima puluh delapan detik lagi benda itu akan meledak memorak-porandakan seisi Laboratorium B-1. Mereka berlari sejauh mungkin, bahkan sangat jauh hingga jangkauan ledakan tak akan mengenai mereka.
***
__ADS_1