Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 209 - Pelayaran Dini Hari


__ADS_3

Rintik air hujan perlahan-lahan luruh ditemani badai yang datang ketika malam menjelang. Sepi dan dingin. Fu Hua mati rasa, dia tergeletak di samping ranting pohon yang menjulur ke atas, masuk di dalam lubang yang menyembunyikannya dari para penjaga.


Ratusan derap kaki berderap cepat menyisir seluruh penjuru, sering kali langkah itu makin mendekat. Fu Hua menutup mulutnya rapat-rapat, menahan rasa sakit yang terus berdenyut perih di tangan dan kakinya.


"Tidak boleh mati di sini ..." lirih Fu Hua dengan mata yang mulai berair. Bayangan Fu Qinshan terlintas di ingatannya. Wanita yang pertama kali mengajarkannya cara untuk berjuang itu selalu berhasil menariknya dari jurang keterpurukan. Fu Hua sama sekali tak menginginkan kehancuran terjadi-seperti yang telah diketahuinya, Qin Yujin sedang merencanakan kiamat. Menyeleksi para manusia untuk menciptakan dunia baru di mana dia mengambil peran sebagai 'Tuhan' di dalamnya.


Manusia busuk itu hanya bisa dihentikan oleh Xin Chen. Karena itu Fu Hua harus menyelamatkannya.


Fu Hua merobek lengan bajunya, menekan bagian yang berdarah dan mengikatnya. Berharap pendarahan berhenti dengan itu. Namun justru bertambah sakit, benda asing dan tajam menusuk dagingnya. Itu tak akan berhenti berdenyut jika tak dikeluarkan.


Fu Hua menggigit kain penuh darah tadi, lalu dengan sisa tenaganya Fu Hua menarik peluru di lengan dan kakinya. Dia hampir menjerit tapi beruntung tak ada yang mendengarnya di sana. Dalam beberapa detik setelahnya, Fu Hua pingsan.


*


"Sialan!"


Hentakan hebat disusul oleh dentuman pintu, seseorang mengamuk memecahkan kaca-kaca dan peralatan. Bunga api bermunculan, tempat itu terlihat seperti akan terbakar beberapa saat lagi.


Dia membuang pandangan pada laki-laki yang terbaring di atas brankar. Mengepalkan tangan begitu erat sehingga urat di lengan tangannya terlihat jelas.


"Seseorang baru saja menyelusup ke Laboratorium Baru kita, yang seharusnya penjagaannya sangat-sangat ketat! Tanpa celah!" Kilat merah di matanya menggebu-gebu, andai ada satu orang berdiri di sebelahnya sudah dipastikan akan dicakarnya.


Barisan penjaga Laboratorium Baru diam membisu, dari satu ruangan luas dan panjang yang dipenuhi oleh barisan tak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara.


Lelaki itu, pemegang kendali Laboratorium Baru. Tatapan matanya setajam pisau, bahkan ketika dia mulai berjalan beberapa orang mulai gemetar.


Tak lama seseorang datang dari balik pintu, berjalan setengah berlari menghampiri lelaki itu.


"Ketua Ten, kotak itu kosong. Jarum suntik di dalamnya telah diambil oleh gadis itu."


"APA?! ARGGH!" jeritnya murka besar. "Cari dia sampai ketemu, atau aku bakar seluruh orang di tempat ini!"


*


"Bagaimana? Dia masih hidup?"


"Kurasa begitu."

__ADS_1


"Hei, dia tak bergerak semenjak dua belas jam yang lalu. Denyut jantungnya juga sangat lemah ..."


"Oh tidak, darahnya kembali keluar. Cari tanaman itu lagi, kita harus menghentikannya sebelum dia kehilangan lebih banyak darah!"


"Di mana kita mendapatkan tanaman itu kalau di sekeliling kita isinya terinfeksi semua? Senjataku sudah jatuh saat kita kabur ... Ini akan menjadi lebih sulit."


"Eh, hei! Dia bergerak!"


Bulu mata lentik gadis itu bergerak, memejam erat kemudian terbuka perlahan-lahan. Bola mata yang begitu indah itu sempat membuat mereka terpana, diam dalam takjub. Fu Hua terbangun sangat cepat, nyaris menghantam kepalanya dengan kepala orang lain karena begitu paniknya.


Pandangan yang semula buram mulai jernih, Fu Hua mendapati Xe Chang, Wen dan dua orang laki-laki sedang merawat lukanya dan membalur sedikit obat. Puluhan orang dengan seragam Fraksi Militer Pusat lainnya di luar tenda tengah berjaga-jaga. Mereka berada di pesisir laut, lebih tepatnya. Agak jauh dari kerumunan, beberapa orang menciptakan tongkat dan alat apa pun untuk bertarung.


"Apa ..."


"Duduklah sebentar, kau masih belum sembuh."


"Benar kata Wen, duduklah dulu. Di luar juga pencarian tengah dilakukan, tak tahu apa yang kau buat di Laboratorium Baru sampai mereka marah besar."


Sejenak Fu Hua terdiam beberapa lama, ingatannya mulai kembali. Gadis itu buru-buru memeriksa satu kotak yang lebih kecil, tak menemukannya di sana.


"Jangan-jangan tertinggal?!" Matanya melotot, kaget. Benda itu didapatkannya setengah mati, Fu Hua berusaha mencari dan sama sekali tak ditemukannya. Tangannya membongkar di samping tempatnya berbaring dan tetap tak ketemu.


"Obat, obat untuk Xin Chen hilang!" Tangannya terlanjur dingin, panik menguasai dirinya. Fu Hua berusaha untuk tetap tenang, tapi mengingat bagaimana perjuangannya mendapatkan benda itu, dia tak rela kehilangannya.


"Oh, kami tak menemukan apa-apa saat menemukanmu di hutan ... Sepertinya barang yang cukup penting?" balas Xe Chang masih mengamati air muka Fu Hua, gadis itu menjawab. "Lebih penting dari nyawaku. Kalian tak melihat apa pun? Sungguh?"


Matanya memelas.


"Kenapa?" Seorang di luar tenda menyadari keberisikan dan mendekat.


"Kotak kecil ...! Kau melihat sebuah kotak kecil berwarna cokelat kayu, dia memiliki penutup yang dikunci dengan gembok emas."


Harap-harap cemas, Fu Hua menanti jawaban keluar dari orang tersebut. Dia berpikir sampai satu menit. Lalu setelahnya, dia berkata lempeng.


"Oh, kotak kayu yang tergeletak di bawah ranting kayu kemarin?"


"Apa pun itu. Kau membawanya bersamamu?"

__ADS_1


"Tidak, kupikir bukan barang penting."


Basah matanya kala itu, Fu Hua mengepalkan tangannya erat. Bangun dari baringnya hendak mencarinya lagi dengan tubuh yang masih terluka. Lantas Wen menahannya, gadis itu tak melirik ke belakang dan memaksa bergerak maju.


Hingga akhirnya Xe Chang menjelaskan, "Kau tidak bisa kembali di sana. Ratusan penjaga ada di sana dan hutan di mana kami menemukanmu sudah dibakar. Mereka yakin kau sudah mati dan langsung mengeksekusinya dengan membakar seluruh hutan."


"Tidak ... Tidak mungkin." Tetesan air matanya berjatuhan, padahal Fu Hua yakin dia bisa melakukannya. Dia tak pernah melakukan hal senekat ini. Sudah berkorban nyawa pun, selalu ada batu besar yang menghalangi jalannya.


"Hei, jangan menangis. Kau tidak apa-apa?"


Beberapa orang mulai prihatin saat melihat gadis itu menangis, dia sudah menahannya sejak lama. Fu Hua memilih menyendiri di belakang tenda, tempat di mana dia bisa melihat beberapa terinfeksi berlalu lalang dari kejauhan. Kecewa dengan dirinya sendiri. Tangannya menyentuh bekas perban di lengan dan kakinya, "Semua ini sia-sia ... Aku tidak bisa menyelamatkan siapa pun. Sekeras apa pun mencoba," lirihnya mulai terisak. Di tempat itu tak ada yang bisa melihatnya menangis, Fu Hua menyembunyikan wajah sambil memeluk lutut.


Ibu dan Ayahnya, Fu Qinshan, lalu sekarang Xin Chen, semua yang ingin dia selamatkan selalu berakhir dengan tragis. Selalu hanya dirinya yang tersisa. Fu Hua tak diberikan pilihan untuk mati apalagi bersama mereka saat semua menjadi lebih baik.


Gadis itu hanya takut jika tak berjuang, dia akan sendirian.


Kedua bola matanya menatap nanar pada pasir kecoklatan. Melihat bayangan di balik punggungnya, Xe Chang menyusul.


"Jangan menangis lagi, aku sudah bertanya dengan beberapa orang yang datang saat menyelamatkanmu. Mungkin kau mau berbicara dengannya?"


Wajah Fu Hua sembab, dia berjalan pincang dibantu Xe Chang. Napasnya terengah, seseorang laki-laki tanpa rambut dan tubuh kekar duduk di atas batu yang berhadapan dengan api unggun-yang hanya tersisa asap karena mereka takut cahaya api menarik musuh.


"Barang yang sangat penting, huh?" Sapanya yang membuat Fu Hua agak kesal, dia hanya menatap lama.


"Aih, kau seperti akan mencakarku. Berhenti menatapku begitu, ini barangmu."


Fu Hua mengambil kotak itu secepatnya, tak percaya benda itu masih selamat. Orang yang sempat membuatnya kesal tadi ternyata orang yang membantunya di saat-saat seperti ini, Fu Hua merasa bersalah.


"Terima kasih, aku tak tahu bagaimana aku membalas kebaikanmu ... Tapi benda ini sangat berharga untuk seseorang."


"Hahaha jangan terlalu bersemangat begitu, lihat lukamu kembali basah."


Xe Chang bergabung dengan yang lain, memberikan ruang agar Fu Hua bergabung.


"Kami berencana akan berlayar dini hari, orang-orang ku berhasil menemukan satu kapal tadi sore. Cukup mengangkut dua belas orang. Dan Nona, beritahu kami lokasi temanmu. Kita akan ke sana secepatnya."


"Baiklah. Dan terima kasih juga karena telah menyelamatkanku."

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan."


__ADS_2