
Kekuatan dalam tubuh Huo Rong seakan disedot habis. Dia tak mampu bernapas dengan stabil. Jika seperti ini caranya, Huo Rong benar-benar akan mati. Kekuatannya diambil. Sama seperti Siluman Penguasa Bumi lain yang telah dibunuh Naga Kegelapan.
Naga Kegelapan sama sekali tak melepaskannya.
Sementara Xin Chen tak menyadari bahwa Huo Rong tengah berada dalam situasi sulit. Saat ini nyawa Xin Zhan berada dalam ancaman. Keseluruhan mata hitam di tubuh Xin Fai telah lenyap dan kini laki-laki utu bertempur tanpa kendali. Menganggap kedua manusia di depannya adalah musuhnya. Nyaris tanpa perasaan.
Huo Rong tak memiliki harapan lagi. Detik itu, dia harus menerima kematian. Entah untuk yang ke berapa kalinya. Tapi sebelumnya dia beruntung karena di tolong oleh Shui. Tapi sekarang bahkan untuk bernapas saja, Shui tak mampu. Naga Air itu sudah memasuki detik-detik terakhir sekaratnya. Hanya tersisa Huo Rong yang mungkin akan lebih dulu mati daripada Shui.
"Aku minta maaf ..."
"Aku meninggalkanmu. Kau tidak apa-apa?"
Suara itu. Membuat Huo Rong kaget bukan main. Tapi sialnya matanya tak mampu menangkap jelas sesosok laki-laki berjubah dan wajah ditutupi tudung di depannya. Dia begitu mengenal suara itu, layaknya denyut nadi di tangannya. Sosok itu, sosok manusia yang paling dirindukannya selama bertahun-tahun.
Tapi apakah mungkin, setelah waktu panjang yang terlewatkan. Dia masih hidup?
Atau hanya ilusi yang Huo Rong ciptakan sendiri sebelum kematiannya?
"Aku..."
Huo Rong kehilangan suaranya. Matanya berusaha terbuka, pelan dan berulang kali mengerjap. Hingga akhirnya Huo Rong menyadari bahwa kehadiran itu adalah semu. Dia hanya terlalu merindukan sosok manusia itu di sisinya, dan di saat-saat terakhirnya seperti ini, dia benar-benar ingin manusia itu berada di sini untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan.
Karena bagi Huo Rong saat ini, temannya itu masih hidup. Entah di belahan bumi mana pun, dia masih berpikir bahwa suatu saat nanti mereka akan dipertemukan. Entah dengan cara yang tak terduga. Hal yang diyakini nya selama ini ternyata hanya kepalsuan yang diciptakannya belaka.
Kekuatan Api milik Salamander Api telah berpindah menjadi bulatan merah di mulut Naga Kegelapan. Elemen apinya telah diambil naga itu, sepenuhnya. Tapi entah bagaimana caranya Huo Rong masih bisa bernapas.
__ADS_1
Tubuh Salamander Api yang sebelumnya dipenuhi kobaran api perlahan-lahan meredup. Api tersebut berhenti berkobar dan padam menyisakan dirinya yang tergeletak nyaris tak bernyawa. Huo Rong tak merasakan lagi aliran kekuatan besar yang selama ini mengaliri dalam darahnya. Bahkan Dewi Api yang selama ini bersamanya telah menghilang. Apa yang dapat dilakukannya hanya pasrah. Tubuhnya tak mau bergerak, semangat hidupnya telah lama padam bersama api-api miliknya.
Satu hal yang disesalinya, mengapa dirinya masih tetap hidup hingga detik ini. Tanpa kekuatan yang merupakan segala-galanya baginya. Kekuatan adalah harga diri bagi Huo Rong. Saat itu lenyap, anggap saja dia telah mati.
"Huo Rong! Bangun!"
Suara memanggil itu timbul tenggelam di telinganya, Huo Rong tak lagi bisa mengenali siapakah yang sedang berteriak untuknya. Kekuatan dalam tubuhnya yang sedari tadi disedot oleh lawan kini hampir habis tak bersisa, hingga titik terakhir sebelum itu benar-benar habis. Hantaman besar datang menimbulkan kegaduhan yang tak main-main.
Timbul tenggelam. Suara pertarungan terjadi dalam beberapa detik hingga akhirnya menjauh. Huo Rong mendengus pelan, bernapas terputus-putus. Bahkan ajal yang sudah di depan matanya enggan datang mengambil nyawanya. Sesusah itu untuk beristirahat.
Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Huo Rong menggunakan itu untuk mengubah wujud menjadi bentuk manusia. Bangsa yang selama ini selalu menjadi perhatiannya. Huo Rong sempat berpikir seandainya dia terlahir sebagai manusia, apakah dia akan memiliki banyak teman? Atau keluarga yang hangat? Guru yang hebat? Dan orang-orang yang menyayanginya. Sepertinya hal itu amat menyenangkan. Dia hampir tak pernah merasakan hal itu sebelumnya.
Tetes hujan mulai berjatuhan dari awan-awan rendah, tak terasa bulir hujan deras berjatuhan membasahi tubuhnya yang babak belur. Dihancurkan habis-habisan tanpa ampun oleh Naga Kegelapan.
Keadaan tubuh manusianya tak beda jauh dengan wujud siluman nya. Kepalanya bocor dengan mata yang nyaris tak terlihat lagi akibat lebam besar di wajah. Mulutnya robek dan tulang hidungnya patah-hingga mungkin ke bagian tengkoraknya, tubuhnya terbakar hingga kulitnya mengelupas merah. Sekujur tubuhnya hanya terlihat warna merah daging yang bahkan masih berasap. Separah itu kondisinya, jika dia benar-benar manusia, Huo Rong tak akan mampu bernapas sampai detik itu.
Huo Rong tertawa meski tenggorokannya tercekat, mati rasa. Jari-jarinya mencoba bergerak, mengangkat tangannya ke atas seakan dia bisa menggenggam gumpalan awan hitam di atasnya. Lalu, Huo Rong tanpa sadar mengeluarkan air mata.
"Selalu sekarat begini, tapi tak kunjung mati."
Rasa sakit itu membuatnya ingin menjerit. Huo Rong tak peduli lagi apa yang terjadi pada sekitarnya karena semua rasa sakit di tubuhnya telah menyita isi pikirannya yang makin mengawang.
Sering kali begini. Setiap kali Huo Rong dikeroyok oleh lawannya; manusia-manusia serakah yang menginginkan kekuatannya. Dia hancur lebur setelah melewati pertarungan habis-habisan dan selalu selamat dri mereka. Lalu terbaring berhari-hari, nyaris mengeluarkan bau bangkai. Dia tak mau mati, tapi dirinya begitu ingin mati.
Dia hanya bisa berucap dalam hati. 'Mungkin seperti sebelum-sebelumnya, aku hanya perlu menunggu beberapa hari dengan mata terbuka. Tidak ada yang menolongku. Lalu aku akan bangun sendiri, menjalani hidup seperti sebelumnya. Lalu jatuh lagi seperti ini.'
__ADS_1
Senyum terukir lebar di sudut bibirnya. Huo Rong menjatuhkan tangannya ke tanah, membuat genangan air hujan terpecah. Dadanya naik turun.
Dan dia baru berpikir. Bahwa sebelumnya dia bsia selamat karena kekuatan silumannya sendiri. Yang otomatis memulihkan tubuhnya, selama napasnya masih ada. Maka tak masalah, luka sebesar apa pun. Dia masih bisa hidup walau hanya trsisa tubuhnya tanpa kaki atau pun tangan.
Tapi sekarang apakah Huo Rong bisa selamat, jika kekuatannya sudah diserap habis oleh Naga Kegelapan dan tak tersisa apa pun dari dalam dirinya. Selain wujud manusia yang lemah itu.
Asap dari tubuhnya mulai menghilang oleh derasnya air hujan. Telinganya dapat mendengar suara tapak seseorang, begitu tenang jalannya melewati derasnya hujan. Lalu sosok itu berlutut, meletakkan jari di bawah hidungnya.
"Syukurlah, kau masih hidup."
Meski sosok itu juga terlihat kesakitan, dia berusaha menggoppoh tubuh Huo Rong. Membawanya beberapa meter hingga akhirnya mereka sudah menjauh dari lokasi pertarungan yang sangat berbahaya.
"Kau ..."
"Aku Xin Zhan."
Terdiam beberapa lama. Xin Zhan segera melakukan pemulihan untuk menutup luka luar di tubuh Huo Rong, sebisanya. Huo Rong menggeleng.
"Tak usah. Kau hanya menyia-nyiakan kekuatan mu. Gunakan itu untuk bertempur dan memenangkan perang ini."
"Aku tak bisa membiarkan kau sekarat di tengah jalan. Diamlah, aku akan mengobati lukamu."
"Bagaimana jika aku menolak?"
Xin Zhan berhenti sejenak, tapi tak lama kembali terdengar jawaban darinya.
__ADS_1
"Daripada menyimpan kekuatan ku untuk bertarung sendirian. Akan lebih baik jika aku membagikan sebagian, agar kau bisa bertarung bersama kami. Hingga akhir."