
Xin Zhan tak pernah melepaskan pandangannya dari penjara cahaya yang sudah hampir setengah jam mengurung Xin Fai di dalam. Pemurnian berlangsung sangat lama sebab kekuatan kegelapan di dalam tubuh laki-laki itu sangatlah besar. Tak disangka-sangka, seluruh kutukan yang berada di dalam tubuh Xin Fai ikut terlepas bersama dengan aura hitam.
"Bertahanlah, Ayah. Ibu menanti kepulangan mu ..." suaranya kecil, matanya menatap penuh harap pada cahaya terang yang mulai meredup. Cahaya yang sekarat itu menghilang bersama debu yang terasa kering. Sementara tubuh yang sebelumnya mengapung di udara mulai turun pelan ke permukaan.
Huo Rong, Shui, Xin Chen, Fu Hua, Ye Long dan Xin Zhan berkumpul di satu titik di mana tubuh Xin Fai tergeletak. Tak ada yang berani bersuara atau pun bergerak. Satu-satunya yang mereka tunggu adalah pergerakan dari Xin Fai.
Tapi itu tak terjadi. Xin Chen memberanikan diri, berjongkok di samping ayahnya. Sekilas, Xin Chen tak mendengar suara detak jantung laki-laki itu.
Namun bisa saja perkiraannya meleset. Xin Chen mendekatkan telinganya ke dada Xin Fai agar dapat mendengar lebih jelas degup jantungnya.
Mendadak saja, Xin Chen dikejutkan bukan main ketika dada Xin Fai menubruk kepalanya. Xin Fai terbangun lalu terbatuk-batuk tanpa henti.
Kedua pemuda yang telah babak belur itu menatap tak percaya. Diam dengan mulut terbuka, tak satu pun dari mereka berani menangis di depan Sang Pedang Iblis.
"Ayah ..." Keduanya bahkan mengucapkan kalimat yang sama dengan serempak. Mata cokelat yang terlihat keemasan ketika sinar matahari memantul itu mendelik ke arah dua putranya. Mereka terlihat sangat kacau. Tapi kebahagiaan di wajah mereka sama sekali tak bisa disembunyikan.
"Xin Chen, Xin Zha-"
Sebelum Xin Fai dapat menyelesaikan kalimatnya, dua putranya itu langsung menghambur dalam pelukannya. Seperti halnya ketika dua pemuda itu masih bocah. Tanpa sadar kedua mata Xin Fai mengeluarkan air mata. Dia menangis dalam pelukan dua putranya.
"Ayah ... Ayah di sini, jangan takut ..."
"Kami berhasil menolongmu, Ayah. Kami berhasil ..." Xin Chen menyembunyikan wajahnya di bahu ayahnya. Dia tahu Shui yang matanya sedang berkaca-kaca sekarang pasti akan menjadikan peristiwa ini sebagai leluconnya.
"Maafkan ayah. Karena-"
Xin Zhan langsung memotong kalimat laki-laki itu, dia tahu ke mana Xin Fai akan membahasnya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Dengan kau kembali semuanya akan baik-baik saja."
Xin Fai menatap wajah Xin Zhan, anak pertamanya dengan sendu. "Kau menangis untukku. Aku mendengar semuanya, Zhan'er. Kau menanggung akibat perbuatan ku dan terpaksa berdiri memimpin semua orang meski dirimu belum siap."
"Aku akan selalu siap. Jika kau ada di sini."
Senyum laki-laki itu mengembang, senyuman hangat yang selama tujuh tahun ini begitu dirindukan oleh Xin Chen dan Xin Zhan. Xin Fai menepuk pundak putra keduanya yang masih senantiasa memeluk dirinya.
"Kau begitu rindu pada ayahmu, Chen'er?"
"Aish, anak itu sedang menyembunyikan muka haru birunya di depan Shui. Adikku yang sekarang sudah tahu gengsi."
Xin Fai tertawa lebar. Tak lama tawa itu kembali berganti kesedihan. Hatinya terpukul. Ruhnya memang terselamatkan tepat waktu sebelum kutukan dalam dirinya merenggut jiwanya seluruhnya.
Selamat dari maut pun Xin Fai harus memikul banyak kenyataan pahit. Lan An telah tiada.
Xin Zhan langsung beralih ke hal lain ketika melihat rombongan Lan Zhuxian datang.
Selagi Xin Zhan sibuk di kejauhan, Xin Chen berbicara setengah berbisik.
__ADS_1
"Ini bukan kesalahan mu, Ayah. Yang membunuhnya bukanlah dirimu. Dan satu hal lagi, jangan pernah katakan kau membunuhnya pada siapa pun. Lan An sudah bilang padaku, bahwa dia melakukan ini untukmu. Menurutmu, apakah dia ingin melihatmu tersiksa setelah apa yang dia korbankan untukmu?"
Mata Xin Chen menatap tanah, menyesal. "Dan maafkan kata-kataku yang sebelumnya. Aku tahu kau mendengarkannya. Itu keluar begitu saja."
"Jadi ... Kita pulang?" Xin Chen bangun dari jongkoknya. Mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Xin Fai. Baru Xin Chen memapah tubuh ayahnya, mereka berdua sama-sama huyung. Antara Xin Chen yang kehabisan tenaga dan Xin Fai yang masih tak berdaya.
"Kapal miring, Kapten!" teriak Xin Chen.
Xin Fai tergelak lucu. Menyekap kepala putranya itu di dalam ketiaknya dan enggan melepaskan sebelum Xin Chen memprotes.
"Neraka apa ini, hidungku bisa meleleh-"
"Ahahaha, sepertinya aku benar-benar merindukan ocehanmu yang sangat berisik ini." Xin Fai menertawainya.
"Tenanglah sebentar lagi Ayah akan bosan. Aku akan terus berkicau sampai kepalamu pening."
Xin Fai tertegun ketika merasakan sesuatu mendorong tubuhnya, membuat dirinya berjalan seimbang.
Naga hitam di sampingnya menatap sang Pedang Iblis takjub.
"Ah ... Jadi, kau sudah memiliki sahabat juga, ya?" Dia bertanya sembari mengelus pelan kepala Ye Long. Naga itu menyengir lebar dan langsung menubruk tubuh Xin Fai sampai hampir terjungkal. Tampaknya naga itu terlalu antusias ingin bermain dengan keluarga barunya.
"Begitulah."
"Kau mengetahui di mana Lang berada?"
Xin Chen masih memapah Xin Fai, tapi langkah ayahnya berhenti. Membuatnya bingung dan langsung memberhentikan derap kakinya.
Wajah bersalah Xin Fai menjadi peringatan berbahaya bagi Xin Chen yang mulai menebak apa yang akan terjadi. Dia merasakan firasat buruk datang.
Dan ketika Xin Chen memeriksa pedang pemberian Xin Fai, benda itu menghilang dari sampingnya.
Mata biru itu menatap penuh tanda tanya. Menerka-nerka apa maksud laki-laki itu sekarang.
"Aku akan membawa ini."
Raut wajah Xin Chen marah bercampur bingung, tak pernah disangkanya hal ini akan terjadi. Padahal semuanya telah berjalan seperti yang seharusnya. Dan sekarang, Xin Fai lagi-lagi melakukan keputusan bodoh atas dasar yang tak dapat dipahaminya.
"Apa-apaan lagi ini, Ayah. Jangan merusak apa yang sudah kami perjuangkan mati-matian-"
"Aku harus pergi. Ke tempat yang jauh. Lupakan janjimu, Chen'er. Kau sudah menepatinya. Dan sekarang saatnya untukku menepati janjiku pada Ren Yuan."
"Janji apanya?! Kau hanya membuatnya menangis dan menangis! Kau-" kalimatnya tertahan, emosi Xin Chen memuncak. Dia sudah tak sanggup lagi dengan kelakuan laki-laki itu. Ayahnya sendiri.
"Aku berjanji akan selalu melindungi Ibumu, kau dan Xin Zhan. Beserta seluruh rakyat-rakyat kita."
Xin Fai menatap pedang dalam genggaman tangannya. "pedang ini hanya akan membawa musibah pada kalian. Aku ingin memastikan keselamatan kalian. Qin Yujin akan datang kembali untuk pedang ini dan menyiapkan perang yang lebih besar lagi. Mengertilah, Chen'er."
__ADS_1
"Dengan pergi begitu saja dan meninggalkan kami semua?!"
Kini Xin Chen sudah tak peduli nadanya begitu tinggi di depan ayah yang seharusnya dia hormati.
"Ketika kau pergi, semua hal bisa saja terjadi. Semua orang membutuhkan mu. Tapi kau berpikir dengan dirimu pergi, semua orang akan selamat sepanjang hidupnya? Mereka akan selalu aman, begitu?!"
"Tujuanmu, menyatukan Tiga Kekaisaran, bukan?"
Tatapan hangat itu semakin membuat Xin Chen terpuruk. Dia sungguh tak ingin kehilangan sosok yang membuat dirinya bertarung sampai semengerikan ini.
"Jangan mengalihkan topik, jawab aku. Aku tahu kau ingin pulang, Ayah ...."
Yang dilihat Xin Fai sekarang hanya putranya yang menunduk dalam.
"Aku akan memastikan kau sampai pada tujuanmu. Dan ketika perdamaian datang, mungkin pedang ini harus dihancurkan. Dengan begitu peradaban manusia di masa mendatang tak akan mengalami yang namanya peperangan."
Air mata turun di sebelah matanya, Xin Chen sampai tak tahu lagi harus mengatakan apa agar ayahnya berhenti.
"Ayah pergi dulu. Sampaikan salam sayangku pada Ibumu dan Kakakmu."
Dan di sanalah Xin Chen berada. Melihat bayang-bayang punggung Xin Fai yang telah menjauh. Sedangkan dirinya hanya berdiri seperti orang bodoh.
Dunianya hancur. Lagi.
Shui dan yang lainnya tak percaya ketika melihat Xin Fai pergi. Mereka tak tahu apa yang baru saja terjadi sebab mereka dialihkan pada anak buah Qin Yujin yang sedang ditangkap. Sementara Qin Yujin sendiri menghilang dari persembunyiannya.
"Apanya yang berhasil ...?" Xin Chen tertawa hambar, tangannya telah berperang dan ratusan ribu nyawa tumbang. Hanya untuk sesuatu yang menyesakkan dadanya.
"Aku justru gagal dua kali."
**
Note.
Jadi siapa tokoh antagonis dalam cerita ini menurut kalian?
Qin Yujin
Naga Kegelapan
Xin Fai
Author yang suka tiba2 membalikkan alur cerita.
__ADS_1
"Buahahahhaa tidak akan kubiarkan kalian senang semudah itu!~"🌚