
Saat Xin Zhan menyusul, jarak menuju Markas cukup jauh dan memakan waktu. Mungkin Qiu Qi sudah meninggalkan tempat ini kurang dari setengah jam yang lalu. Xin Zhan tidak bisa menebaknya.
Jalur hutan yang menghubungkan dengan beberapa bangunan lainnya telah dipenuhi jejak darah, dua mayat tergeletak tak bernyawa. Xin Zhan mendekat dan mendapati satu dari orang tersebut adalah musuh yang kemungkinan dibunuh Qiu Qi.
Bekas luka tusukan secara diam-diam, orang ini terbunuh tiba-tiba tanpa tahu siapa yang membunuhnya. Belum apa-apa dia sudah melihat orang mati. Itu artinya Qiu Qi bisa saja gegabah, mereka seharusnya tak bergerak terlalu agresif. Berbahaya jika semua orang markas mengira mereka ancaman besar.
Xin Zhan meneruskan perjalanan dan melihat keadaan Markas sudah kacau. Tidak mungkin lagi meneruskan strategi yang sudah disusunnya.
Penjagaan ketat dan ratusan penjaga keluar, siap membunuh siapa pun musuh yang berkeliaran. Xin Zhan memasuki tempat tersebut dan terhenti saat melihat seorang pria tergeletak berdarah-darah di antara para kaki musuhnya. Qiu Qi tak bernyawa lagi dan dia ditertawai oleh musuhnya.
Babak belur dan dihabisi tanpa ampun, Qiu Qi lebih dari disiksa oleh mereka. Xin Zhan tak bisa menerimanya, dia ingin marah dan tapi emosinya lebih dulu lenyap ketika logikanya berkata bahwa di situasi seperti ini dia tak boleh mengambil keputusan salah. Namun tubuhnya membatu, segaris bekas tebasa nmuncul di antara tawa orang Markas. Satu dari mereka tertegun saat mendapati sosok berjubah putih penuh darah tanpa diundang menimbrung di antara mereka.
"Sedang menertawai kematian seseorang dan puas setelah memperlakukan manusia yang sama derajatnya seperti kalian seperti sampah?"
Penjaga markas mundur, anggota Penjaga memainkan cambuk di tangannya. Cambuk api yang memiliki jangkauan luas, senyum merekah lebar di bibir pria itu.
"Ho ... Kebetulan kami kekurangan seseorang yang bisa dijadikan objek untuk melaksanakan Pesta Berdarah ini? Kau tidak berkeberatan?" Raut wajah menantang itu semakin menertawai Xin Zhan yang telah kehabisan kesabarannya saat melihat jasad Qiu Qi tak terselamatkan lagi. Sudah tak ada harapan lagi untuk menyelamatkan kehidupannya. Dia telah mati utuh, baik raga maupun jiwanya.
"Kau berkata akan mengantarkan ke kota tapi justru kau kehilangan nyawamu karena ingin menbantuku..."
Mereka tak mengerti ucapan itu ditujukan untuk siapa, dia melihat Qiu Qi di bawah kakinya. Menyeringai tiba-tiba dan membenamkan kepala mayat itu dengan sebelah kaki.
"Apakah nyawanya begitu berharga bagimu?" Meskipun kakinya menginjak-injak, tatap mata Lelaki itu tak lepas dari Xin Zhan.
"Perhatikan langkahmu."
Kata-kata Xin Zhan membuat Lelaki itu memelototkan matanya lebar-lebar, merasa semakin dipanas-panasi oleh perintah yang diiringi dengan gerakan menarik pedang dari Xin Zhan, lantas mulutnya berseru keras.
"Kau yang meminta kematianmu sendiri!"
Xin Zhan hendak bergerak namun sekitarnya berubah gaduh, seseorang memanggil pendekar Penjaga lain. Jumlah mereka melebihi angka dua puluh dan sekarang telah berkerumun mengelilingi Xin Zhan. Siap dengan senjata masing-masing. Seru-seruan perang terdengar membumbung melawan badai yang semakin mengganas. Lelaki itu tersenyum miring, cukup dengan hal itu saja dia yakin akan membuat nyali pemuda itu ciut.
Menghadapi dua penyusup kelas teri memang bukan pekerjaan yang menyenangkan bagi Lelaki itu, dia bahkan nyaris mengumpati atasannya setelah menerima misi tersebut. Tapi jika dibiarkan maka hal itu pasti akan berdampak pada masyarakat desa seberang. Mereka tak bisa memasok pil karena terjadi kendala dalam markas produksi.
Untuk itulah Lelaki itu di sini, menghabisi para penyusup tanpa bersisa.
"Hhahha sepertinya kami terlalu antusias menyambut kedatangan kalian." Tawanya menggelegar, bersama guntur yang ikut menambah kesan ngeri terhadap laki-laki itu.
Xin Zhan yang semula berdiri tepat di depannya bergerak cepat. Lelaki itu memasang sikap waspada. Membaca pergerakan lawan dalam ributnya deras air hujan. Lelaki itu merasakan sesuatu akan datang padanya, bersegera melayangkan serangan.
Cambuk tersebut menggantung di udara, napas Lelaki itu tertahan. Dia tidak bisa melihat apa-apa. Ditariknya benda itu. Tarik ulur terjadi.
"Aku datang ke sini untuk satu orang bernama Yan She."
Tengkuk Lelaki itu menjadi sedingin es, dia merebut kembali cambuknya. Xin Zhan melikut cambuk tersebut dengan pedangnya.
__ADS_1
"Apakah dia ada sini?”
Lelaki itu tak tahu mengapa sekitarnya menjadi begitu berat, pria itu tetap tak terganggu sekali pun anak buahnya mulai berbisik-bisik satu sama lain. Ada yang aneh kata mereka. Lelaki itu memutuskan untuk tak mempercayai itu, Xin Zhan hanya menggetarkan mereka.
"Kotori tanganmu pada pembalasan tanpa ampun."
Hujan mendadak berhenti, tak ada yang menganggapnya aneh dan lebih memilih mencari sumber suara yang seakan-akan menggema di mana pun. Tidak jelas sumbernya dari mana.
"Hah-ha! Aku mengerti, aku mengerti!" Lelaki itu meludah setelahnya, "Kau mencoba menakuti kami karena sadar dirimu terpojokkan, kami menang jumlah dan kekuatan dibandingkan kau yang sendirian! Kau pengecut tidak tahu malu, berani memakai trik busuk itu padaku!"
Geraman Lelaki itu sejenak terhenti saat bulan yang seharusnya tertutup oleh awan tampak terang di langit.
Keheningan mencekik Lelaki itu, pria itu kembali menatap lurus dan mendapati Xin Zhan telah berdiri menunduk di hadapannya. "Kalau tak bisa mendapatkan informasi darimu aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Mungkin memaksamu berbicara."
Terdengar Xin Zhan merapal sesuatu. Kitab Tujuh Kunci mengambang di udara.
Bulan putih pucat memudar, sisa-sisa awan menutupi sebagian bulan tersebut hingga akhirnya badai membawa awan menduhg tanpa menurunkan rintik hujan.
“Hadapi aku, kalian semua!”
Kata-kata Xin Zhan disambut dengan serangan pedang yang beruntun tajam mencoba merenggut nyawanya dari berbagai sisi. Dalam pertarungan cepat Xin Zhan menebaskan pedangnya yang terasa semakin tajam. Menghadapi orang-orang sekelas mereka berbeda rasanya ketika menghadapi Pedang Iblis. Dalam waktu cepat dua puluh orang mundur, beberapa tewas dengan tubuh kehilangan kepala.
Lelaki tadi yang berbicara padanya cukup tangguh memainkan pedang, Lelaki itu mencebik. Xin Zhan tak melebarkan jarak dan terus memojokkannya sedemikian rupa.
"Kau tidak pantas mati dikubur." Xin Zhan menaikkan alur serangannya, pedang saling bertabrak. Adu tangkis terjadi, Lelaki itu menangkis serangan Xin Zhan dan dalam langkah seribu melarikan diri.
Lelaki itu merasa tubuhnya hingga organ dalamnya bocor. Pedang tersebut membunuhnya.
"Kau lebih pantas mati dengan cara seperti mereka yang sudah kau bunuh."
***
Pertarungan yang terjadi di Markas diiringi teriakan-teriakan menggema, musuh yang jatuh di tangan Xin Zhan tewas berdarah-darah. Bertempur untuk darah penghabisan.
Kini Xin Zhan merasa seperti kehilangan dirinya sendiri dan mulai bertanya-tanya apakah Xin Chen juga merasakan hal yang sama saat pertama kalinya dia memutuskan untuk meninggalkan Lembah Kabut Putih? Rasa asing dan aneh, dia takut akan dirinya yang sekarang.
Xin Zhan selalu diajarkan untuk pertarungan adil. Yang selalu dipraktekkan nya di perguruan tampaknya tak sama ketika dia turun ke Medan perang.
Hanya tersisa Xin Zhan yang dikerubungi puluhan penjaga, berebutan menghajarnya di tengah hujan yang semakin deras. Xin Zhan membuka matanya, mengeluarkan pedang dengan tiba-tiba. Mereka sempat terhenti sejenak sebelum akhirnya berbalik menyerbu semakin ganas.
Sudah begitu lama semenjak dirinya membunuh dan tangannya penuh nole darah. Xin Zhan tak dapat merasakan apa pun lagi, termasuk saat melawan anggota Penjaga sebelumnya.
'Aku merasa seperti ada yang hilang, ku harap bukan kewarasan ku...' batinnya. Dia terengah-engah. ‘Mengapa aku harus begini, apakah ayah akan memarahiku?Atau- justru jalan seperti ini yang selalu ditempuhnya?'
Sementara tangannya terus menebas kawanan musuh di depannya, saat menghindar satu pukulan telak menghantam perutnya. Xin Zhan mundur beberapa langkah, dia terpojokkan oleh pendekar di depannya.
__ADS_1
Pertarungan melawan puluhan pendekar yang kian bertambah mulai berakhir tak imbang, Xin Zhan semakin termundur beberapa langkah. Dia terkepung, di belakangnya hanya ada pagar pembatas yang tinggi dan sulit dilewati. Sementara itu pendekar di hadapannya masih mengikuti, siap membunuhnya bergerombolan.
Langkah-langkah pria itu mendekati Xin Zhan, hanya tersisa sepuluh meter dari tempat pemuda itu berdiri saat ini. Mereka waspada sebelum menggencarkan senjata, memperhatikan gerak-gerik Xin Zhan dan bertindak saat jarak mereka semakin menipis.
Dua puluh dari mereka terjebak dalam lingkaran kekuatan Kitab Tujuh Kunci, pisah-pisau cahaya yang tiba-tiba saja muncul di atas permukaan tanah. Mengurung mereka dalam pusaran angin berisi pisau cahaya sehingga teman mereka yang lain tidak bisa membantu. Xin Zhan mengakui puluhan orang yang menjadi lawannya ini bukanlah orang sembarangan. Mereka telah dilatih dan ditempa untuk menjadi bawahan yang kuat. Melindungi markas yang kini memproduksi barang ilegal dengan harga jual tinggi, tentu bukanlah tugas mudah.
Dua puluh orang itu tidak terlihat gentar, namun panasnya cepatnya gerakan pisau cahaya membuat kulit mereka perlahan terkelupas tiap bergerak sembarangan. Xin Zhan muncul di tengah-tengah bayangan, tak menyadari seseorang tengah berada di belakang mereka, para pendekar itu justru mencari cara untuk bisa keluar hidup-hidup dari sana.
Para pendekar lain yang berada di luar pusaran pisau cahaya saling bertanya-tanya, tidak ada yang berani menerobos ke dalam. Dari jarak yang cukup jauh saja mereka sudah mengetahui mendekat hanya akan membunuh nyawa.
Muncul sosok Xin Zhan yang telah berdiri di belakang mereka dengan menenteng pedang. Salah satu dari mereka menyadari kehadiran tersebut, membuat yang lainnya ikut teralihkan ke arah pandangannya.
"Langsung habisi dia!!!"
Xin Zhan memulai tarungnya yang kian lincah, membuat sekawan pendekar itu bubar saat dirinya menerjang masuk. Adu pedang berat terjadi, Xin Zhan memperlebar jarak dan menyerang lawan yang terpisah oleh temannya.
Tiga orang tumbang, Xin Zhan hendak menyerang musuh yang lain hanya saja satu dari mereka menahan kaki Xin Zhan dan hampir menancapkan senjata tajam ke kakinya. Beruntung dia segera lepas sebelum terkepung.
Xin Zhan terkesiap saat pria yang hendak menyerangnya datang, dia segera meniup jarum beracun yang langsung menancap ditubuh lawan, mata laki-laki itu melotot dan mulutnya memuntahkan darah hingga pria itu menelungkup tak bernyawa.
"Sepertinya tidak bisa mendapatkan informasi dengan damai. Mereka memang harus dihabisi sampai ke akar-akarnya. Orang bernama Yan She pasti ditahan di tempat ini dan tak bisa kabur. Asalkan mereka tak membunuhnya sebelum aku menyelamatkannya.”
Xin Zhan yang kini membalikkan badan menghadap para musuh yang mengepung dari segala sisi. Xin Zhan mengamati sekitarnya dan sadar tidak ada jalan keluar selain pertumpahan darah.
Tanpa mengurangi konsentrasi, dia memperhatikan langkah musuh yang makin lama makin menghimpit.
Xin Zhan bersiap dengan pedangnya yang meneteskan aliran darah, tanpa ragu menggunakan pedang menghabisi lawannya yang seolah tak ada habisnya.
"Perang ada untuk melindungi orang-orang yang kita sayangi. Dan kadang untuk melindungi mereka kita harus mengorbankan nyawa orang lain."
Kata-kata itu berasal dari ayahnya. Xin Zhan ingat betul akan itu dan tak sepenuhnya paham karena dia belum melihat langsung di masa kecilnya. Tapi sekarang semuanya jelas. Xin Zhan tahu arti kehilangan yang sebenarnya. Dan perang yang begitu menakutkan tengah dihadapi adiknya sendirian di Lembah Para Dewa. Membuat kakinya ingin segera kembali, tapi dirinya masih belum menemukan Yan She di mana pun.
Detik itu Xin Zhan masih tak mengerti apa-apa tentang pengorbanan dan peperangan. Yang diketahuinya adalah semua itu sama sekali tidak baik untuk dilakukan.
Manusia melakukannya, bahkan di Kekaisaran Qing, perebutan kekuasaan para pemimpin sering kali menciptakan perang saudara. Untuk hal seperti uang, kehormatan dan kedudukan.
Dalam waktu sebentar lagi dia akan berbondong-bondong dikepung oleh musuh.
Xin Zhan mengeluarkan pedangnya, menangkis serangan yang masuk hendak menancap di dadanya. Tangkisan dan elakan sontak terjadi, Xin Zhan mengayunkan pedang di kaki musuh. Membuat mereka mundur ketakutan lalu kembali maju menyerang.
"Sudah kehilangan banyak penjaga tapi Mereka masih begitu semangat untuk melanjutkan pertarungan." Xin Zhan bercelutuk di sela-sela pertarungan, dia mulai memisahkan diri karena rasa sakit di dadanya kembali kambuh. Nyeri dan sakit selalu menghalangi pergerakannya.
Angin kencang berdatangan, begitu tajam hingga membuat rambutnya beterbangan. Malam panjang berlalu begitu lama hingga Xin Zhan baru menyadari musuh-musuhnya telah jatuh dan tak bersisa sedikit pun.
Tangannya terus bergerak membunuh tanpa berpikir lagi.
__ADS_1
Sisa Penjaga mulai gentar, hanya tersisa beberapa orang yang berdiri dan tak lagi maju seperti sebelum-sebelumnya dengan semangat bertarung yang tinggi. Meski begitu masih ada juga yang maju melawan dan beberapa malah mulai kabur melarikan diri.