Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 86 - Berita untuk Tuan


__ADS_3

"Saya membawa berita untuk Tuan."


Hantaman kuat menimbulkan bunyi keras, retakan dinding menjalar bercabang-cabang di sebuah ruangan temaram dengan hanya satu lilin menyala di tengah meja dipenuhi oleh berbagai kertas dan laporan bawahannya.


"Ini tak seharusnya terjadi!!"


Kali ini meja menjadi sasaran pelampiasan, gelas dan alat-alat di atasnya jatuh berhamburan ke lantai. Berisik dalam beberapa detik hingga akhirnya sunyi mencekam kembali hadir di tengah-tengah ruangan.


Tak ingin ikut andil dalam kemarahan Tuan mereka, semua bawahan di ruangan tersebut hanya diam bisu. Bahkan lebih terlihat seperti puluhan patung yang tak bergerak sama sekali, untuk bernapas saja mereka sangat segan.


Selepas dirinya berhasil pergi dari markas di mana pertempuran sedang terjadi, Qin Yujin kembali dikejutkan oleh berita yang membuat senyumnya kembali merenggang. Hatinya seperti terbakar oleh api yang begitu panas, sampai-sampai ubun-ubun kepalanya akan pecah hanya karena memikirkan masalah di depannya.


"Fu Qinshan j*lang! Seharusnya aku tak mempercayai anak haram itu-dia membuat rencanaku hancur berantakan! Arrrghhh! Perempuan b**dab! Tak akan ku lepaskan dia. Lihat akan aku cabik-cabik daging berserta tulangnya!"


Laki-laki yang berlutut di bawah kaki sosok 'Tuan' itu tak bergeming ketika beberapa benda melayang dari tangan tuannya. Selagi itu, lelaki di depannya masih mengumpat serapah dengan nada melengking tinggi. Sebelah tangannya yang terbuat dari besi melemparkan satu-satunya lilin di tempat itu ke dinding dan seketika kain di sekitarnya membakar seluruh ruangan.


Panik, seluruh bawahannya segera mematikan api tersebut. Sedangkan sosok yang membawa laporan terhadap sang Tuan masih diam membisu di tempat dengan kepala menunduk.


"Kau datang ke sini untuk membawa berita buruk lainnya, bukan?" Mata melotot laki-laki itu seperti akan keluar dari lubang mata.


Jubah hitam miliknya dicengkeram sedemikian rupa hingga membuat tubuhnya terangkat, kaki bergantungan di udara.


"Maafkan saya, Tu-tuan ..."


Tubuhnya dilempar hingga terpental di dinding, mulut laki-laki itu mengeluarkan darah yang cukup banyak. Meski demikian kesadarannya masih utuh sehingga masih dapat mendengar apa yang tuannya katakan.


"Beritahu aku, apa lagi masalah yang diperbuat j*lang itu?!"


Sesaat sosok laki-laki itu menelan ludah. Takut jika dia menyampaikan lehernya akan terpenggal di tempat. Tangan besi tuannya bisa saja langsung meremukkan tulang lehernya dalam satu cekikan.

__ADS_1


"Ampun Tuanku. Adik Fu Qinshan, berkhianat pada kelompok. Dia menyelinap dalam misi yang Tuan berikan untuk membunuh Yan She di Ahli Obat. Bukan hanya itu, dia berhasil mendapatkan obat yang mereka inginkan."


"Sialan!" Tak terlihat lagi laki-laki itu melemparkan barang. Kapak yang dipajang di dinding diambilnya secara kasar, lalu terbang melesat menembus dada salah satu anak buahnya dan seketika membunuh orang itu dengan tubuh menempel pada dinding.


"Bunuh ... Bunuh siapa pun yang menggagalkan rencanaku! Panggilkan Du Rong!"


"Lapor, Tuanku. Kami menemukan mayat Du Rong di markasnya sudah tak bernyawa. Orang terakhir yang bersamanya telah kabur, dugaan yang paling besar dia adalah adik Fu Qinshan. Yaitu Fu Hua."


Geramnya laki-laki itu sudah mencapai batas, kepalan tangannya berurat-urat biru. Tak mampu lagi berkata-kata, sebenarnya sampai sejauh mana Fu Hua menghancurkan perang yang seharusnya berada dalam genggaman tangannya.


Dipikir seribu kali pun. Seharusnya mereka berada di atas awan-awan. Tiga ratus ribu prajurit, disertai dengan kekuatan dari Pedang Iblis dan kehebatan sang Naga Kegelapan. Bahkan satu-satunya pemilik Mata Terkutuk berada di pihak mereka telah dikalahkan. Semuanya, berbanding terbalik dari perhitungannya sendiri.


Hanya karena sosok yang tetap berdiri di tengah Medan tempur itu. Xin Chen. Bahkan jika malaikat maut menggeretnya ke neraka jahanam, dia akan tetap merangkak untuk menghancurkan mereka.


Dari kejauhan, Qin Yujin baru mengerti seberapa mengerikan mata biru yang terus menyala itu. seharusnya dia tak bermain-main sejak awal.


"Benar. Sang pemilik Api Keabadian yang sejati tak akan padam bersama apinya."


"Cih." Qin Yujin masih dapat tersenyum m ski keberuntungan tak berpihak pada dirinya.


"Rebut adik Fu Qinshan j*lang itu. Aku yakin si Mata Biru itu akan mundur. Cinta akan menghancurkan siapa pun, bukan?"


"Aku takutnya monster biru yang kau sebut itu bahkan belum tahu apa itu cinta." gumam bawahannya berbisik.


"Kau menggumam apa?!"


"Ti-tidak Tuanku, saya izin pamit."


Beberapa bawahannya segera bergerak sementara Qin Yujin menatap nyalang di balik jendela kecil di mana dia dapat melihat sisa pertempuran di tanah Lembah Para Dewa.

__ADS_1


Akhir akan datang. Membawa pesan; Antara Kemenangan atau Kekalahan. Bagi kedua pihak.


Sebelah telapak tangannya dingin tanpa sebab, Qin Yujin berbalik badan ketika seseorang datang. Matanya melotot kuat dan langsung saja tangannya menyambar kapak yang sebelumnya telah membunuh salah satu bawahannya.


Wanita itu huyung lalu ambruk ke sudut ruangan, meski demikian dia berusaha untuk tetap berlutut sebelah kaki serta kepala menunduk takut.


Fu Qinshan sudah mendengar apa yang sudah terjadi. Dia tak percaya atas apa yang dilakukan adiknya, ingin sekali dia menampar adik satu-satunya itu. Qin Yujin telah berbaik hati menawarkan kehidupan agar keduanya aman. Namun apa yang dibalas adiknya kepada Tuannya sangat kurang ajar. Untuk itulah, Fu Qinshan ingin meminta maaf bagaimana pun caranya. Agar dirinya bisa mengabdi setia lebih lama lagi pada Qin Yujin dan memperlihatkan kesetiaannya.


"Kau mengkhianati ku! Kemenangan sudah berada di depan mata kita! Dan semudah itu, keadaan berbalik dan membuat kita terpojokkan?! Kau tahu sudah seberapa banyak pengorbanan ku demi hari ini!?"


Kakinya menendang kepala Fu Qinshan di dinding, menahannya lama hingga kepala itu menodai dinding dengan darah. Topeng gagak yang dikenakan wanita itu retak. Satu tendangan keras menghantam tulang pipi Fu Qinshan.


Fu Qinshan menarik napas berat. Dia akan mati jika satu tendangan yang sama mengenai tulang kepalanya. Tapi yang dilakukan Qin Yujin justru mengambil belati dengan ukiran permata hijau.


Benda itu bergerak cepat ke arah Fu Qinshan, refleks matanya terpejam rapat. Beberapa detik tak merasakan apa-apa, Fu Qinshan kembali membuka mata dan menatapi Qin Yujin kini telah mendekatkan wajah dengan tatapan membunuh.


Dia menyodorkan belati itu. Mata tajamnya berada tepat di leher Fu Qinshan. Sedikit menggores kulit dan mengeluarkan darah tipis.


"Bunuh adikmu dengan tanganmu sendiri. Dengan begitu aku akan memaafkan mu."


Mata Fu Qinshan membesar, tak percaya dengan perintah yang paling ditakutinya benar-benar datang. Dia tak bisa mengabaikan Tuannya. Dan tak ingin kehilangan Fu Hua dalam waktu bersamaan.


Satu menit berpikir. Mata belati semakin dalam menusuk lehernya.


"Kau juga ingin mengkhianati ku? Setelah apa yang kuberikan padamu?"


Tetesan air mata menggenangi wanita keras kepala itu. Bibirnya bergetar hebat. "Tidak akan, Tuanku."


Suara seraknya cukup menjelaskan bahwa wanita itu sedang menahan air matanya.

__ADS_1


"Lalu lakukan perintahku."


"Baik, Tuanku."


__ADS_2