Pendekar Pedang Iblis 3

Pendekar Pedang Iblis 3
Ch. 23 - Lelaki Misterius


__ADS_3

Tak terhitung berapa jam telah terlewati, satu per satu tumbang di tengah pusaran kematian. Shui dan Huo Rong mengamuk sejadi-jadinya, menghancurkan apa pun yang menghalangi tubuh siluman mereka.


Ribuan anak panah telah tertancap di tubuh Huo Rong, matanya yang merah menyala seketika memicing saat mendengar suara pergerakan di belakangnya, begitu cepat sehingga membuat instingnya merasakan ancaman besar.


Sesaat sebelum serangan besar muncul, Huo Rong sempat melihat siluet seorang pria dengan pakaian serba tertutup. Bahkan wajahnya ditutupi sebagian oleh kain panjang dan hanya menyisakan segaris di bagian kedua mata.


Cahaya kilat yang begitu cepat muncul, Huo Rong dengan wujud silumannya tak sempat mengelak karena tubuhnya begitu besar. Dan responnya terlalu lambat untuk menghadapi kekuatan kilat seperti itu. Terdengar suara berkecepatan tinggi, tubuh Huo Rong mendadak limbung. Mata siluman itu membelalak saat mendapati bagian tangannya telah tergores sebuah sayatan yang cukup dalam.


'Tidak mungkin ... Seharusnya kulitku tidak akan mampu ditembus dengan sebuah pedang biasa. Sebenarnya siapa orang ini?' Sebelum mendapatkan luka besar lainnya yang hanya akan memberikan pengaruh buruk terhadap tubuh silumannya, Huo Rong lantas mengganti wujud ke tubuh manusia. Setidaknya dengan tubuh itu dia dapat mengelak serangan dengan lebih cepat.

__ADS_1


Baru dapat berdiri tegak, Huo Rong lagi-lagi dihadapkan dengan serangan secepat kilat yang langsung menghantam keningnya. Tubuh Huo Rong terpental. Dia dikejar-kejar oleh sosok pria pendekar yang memegang pedang seperti seorang pembunuh yang sedang memangsa korban.


Dengan tangan setengah siluman Huo Rong berhasil menahan laju pedang yang hendak jatuh ke atas kepalanya. Kulit tebal Huo Rong mulai terkikis semakin lama pedang tersebut menekan ke bawah. Huo Rong membalikkan serangan dengan menyerang laki-laki itu menggunakan tangan lainnya.


Sayangnya serangan itu tak mengenai musuh sama sekali. Tapi beruntung dengan itu, Huo Rong dapat mundur sejenak sebelum membaca siapa lawan yang tengah dia hadapi.


Tanpa perlu melihat ekspresinya, Huo Rong tahu laki-laki itu tengah menatapnya tajam disertai dengan seringai iblis di wajahnya. Pertanyaan yang sedari tadi berputar di kepalanya berhasil ditebak laki-laki itu. Huo Rong yakin, sejak awal pertarungan orang itu benar-benar mengincar nyawanya. Bukan untuk berperang. Tapi untuk sesuatu yang lain, seperti balas dendam.


"Patungmu terukir indah di istana Kaisar Yin."

__ADS_1


Laki-laki itu memainkan pedang di tangannya, memamerkan bentuknya yang indah dengan sedikit pantulan cahaya di bilah pedangnya yang tajam.


"Cih, aku pikir orang tua itu sudah menyingkirkannya dari sana." Huo Rong mendecih sebal, tapi di sisi lain ada sedikit rasa senang dalam hatinya.


"Kaisar Yin masih mempercayaimu. Meski sudah tahu bahwa kau adalah siluman. Kau tahu sendiri di Kekaisaran kami bangsamu hanya akan dibunuh dan dibuang ke rongsokan sampah?" Tangannya berhenti bergerak, wajah laki-laki itu terangkat. Huo Rong dapat memperhatikan kilat tajam dari sepasang mata miliknya, menyiratkan kemarahan yang amat sangat.


"Kau pengkhianat. Kaisar Yin menanamkan bunga yang bermekaran di rumahmu. Kau mengotorinya dengan darah rakyatnya. Sungguh kejam. Meski hanya mendengar ceritanya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk membunuhmu."


Tak heran lagi, banyak sekali isu-isu miring yang berdatangan semenjak Huo Rong meninggalkan posisinya sebagai salah satu dari Sepuluh Terkuat. Namun kebaikan hati Kaisar Yin bukanlah sebuah kebohongan. Huo Rong tak yakin apakah kini laki-laki itu telah membencinya atau justru menerimanya seperti dulu. Tapi apa pun alasannya, mengabdi pada orang seperti Kaisar Yin hanya akan membuat dirinya hancur. Sehancur-hancurnya.

__ADS_1


__ADS_2